Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 154


__ADS_3

Valerie menatap Zivannya lekat "kayaknya ada yang mau main-main dengan kita dek" senyum smirk Valerie berdiri. Zivannya menatap kakaknya yang sudah dalam mode singa. "bund, disini bentar. biar Zi temani kak Val dulu takutnya malah mereka yang kalah" pandang Zivannya, "yang" panggil Langit saat Zivannya beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti langkah Valerie menuju meja kedua orang yang membelakangi mereka. "bentar mereka akan segera kembali" senyum bunda melihat kedua putrinya yang mendekati meja itu, Langit menghembuskan nafasnya menanti dengan was-was keselamatan istrinya, mana baru dapat periode nya lagi, mode singa nya bertambah menjadi menyerang.


bunda terlihat mencicipi makanan kedua anaknya dan manggut-manggut merasakan masakannya pas di lidah. Valerie kembali dengan Dirgantara dan Arka yang mengobrol dengan Zivannya selama berjalan. "nih bund, laki-laki iseng yang ngirim dessert tadi" duduk Valerie, bunda tersenyum menerima salam dari Arka dan pelukan hangat dari anak laki-laki nya Dirgantara. "apa baru keluar kak" tanya bunda, "lewat bund, lihat mobilnya Val trus belok lagi" angguk Dirgantara, Langit menatap Zivannya yang sedang terlihat asyik mengobrol dengan Arka. "dek, gantian makanannya ya, punyamu udah bunda habiskan tadi pas nunggu kalian disana" senyum bunda, Zivannya mengangguk tersenyum. "bunda mau nambah makan apa" tanya Zivannya, bunda menggeleng. Zivannya tersenyum mengangguk dan menatap layar ponselnya dimana Langit sedang menatapnya tersenyum, "tadi kak Dirgantara dan Arka yang mengirim dessert ke meja, by. tuh dimakan kak Dirgantara juga" perlihatkan Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya memakan sedikit makanan bunda, "makan yang" kata Langit melihat istrinya yang tidak mau makan, "perutku nggak nyaman kak" geleng Zivannya meminum jeruk hangatnya, Arka melihat Zivannya sedang berbicara dengan suaminya hanya terdiam dan menghela nafas panjang melihat kearah lain agar tidak merasakan nyeri di dadanya lebih banyak lagi.


"nak Arka sudah makan siang" tanya bunda, "ah iya, belum bund. pesenin lagi ma" toleh Dirgantara. Valerie mengangguk dan memesan makanan untuk Arka. "dek, makanannya bawa sini" pandang Dirgantara, Arka mengambilnya segera sebelum tangan Zivannya meraihnya dan menyerahkannya kepada Dirgantara.


"makasih Ka, seharusnya aku saja tadi" pandang Zivannya tidak enak. Arka tersenyum menggeleng. "jumat sore aku sudah sampai Surabaya, yang. bang Matahari akan bersamaku nanti" kata Langit, Zivannya tersenyum.


"baiklah, aku belum tahu jadwal selanjutnya kemana kak" pandang Zivannya, "habis ini mau kemana" tanya Langit. "riding" seru Dirgantara memakan makanan Zivannya sambil melihat layar ponsel adek bungsunya. Langit tertawa pelan melihat paras Dirgantara yang sedang serius mengunyah makanan. "abis dari Malang aja kak, kita riding di Surabaya" kata Langit. "ishhh.... emang bisa acaranya sabtu sore hingga malam. minggu kamu harus balik ke Jakarta, bang Matahari juga sama" pandang Dirgantara lesu. Langit tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi anak pertama keluarga Triastomo itu. "atau mau riding di Malang aja kak, sewa motor" tawar Langit.


"aaahhh..... ide bagus tuh Lang, abang dikabari dulu jadi jangan sampai dia kecapekan sebelum kesini" kata Dirgantara, "siap ndan" senyum Langit. "aissshh.... lupa.... anak laki-laki ayah dan bunda semuanya komandan di kesatuannya masing-masing" tawa Dirgantara, bunda tertawa melihat mereka.

__ADS_1


"ketemu besuk jumat sore, yang" lihat Langit. Zivannya mengangguk dan mematikan panggilan video dari suaminya. "kamu terlihat lebih cantik setelah menikah Zi" senyum Arka, Zivannya tersenyum tipis. "benarkah, aku kira biasa saja. apalagi baru lagi lemes-lemesnya dapat tamu bulanan" hembus nafas Zivannya melihat keluar. Arka menatap Zivannya lekat "kenapa" tanya Arka, Zivannya menoleh sesaat dan kembali melihat jalanan yang sedang ramai lalu lalang kendaraan bermotor yang saling berpacu seperti ingin segera sampai tujuan. "pingin tidur dikamar" topang dagu Zivannya, "jenuh" tanya Arka, "tidak. sangat menyenangkan ketemu dengan ibu-ibu kesatuan lainnya, mengenal orang-orang baru dan rata-rata umurnya lebih dariku. berasa kayak anak kemarin sore ngliat mereka begitu sabar dan tabah ditinggal suaminya saat bertugas berbulan-bulan" gumam Zivannya.


Dirgantara menggoyang kepala Zivannya berulangkali "kamu jauh lebih hebat, dibandingkan Val pun kamu jauh lebih sabar. ketika kamu ditinggal tugas Aga berbulan-bulan dan pada akhirnya harus ditinggal selamanya. kamu sudah sangat-sangat jauh lebih hebat" senyum Dirgantara. Zivannya menatap kakak lelaki suami pertamanya dengan senyuman. "dan kamu jauh lebih hebat masih bisa bertahan dengan hati yang hancur menemani kami dengan ikhlas yang awalnya bukan siapa-siapa bagimu. menemani ayah dan bunda berdiri tegak hingga sekarang, itu hebatnya dirimu" senyum Dirgantara. Zivannya tersenyum memeluk kakak laki-laki yang dulu tidak dia punya dan sekarang malah memiliki dua kakak laki-laki dan suami yang hebat.


"terimakasih kak, sudah menaikkan mood booster Zi dengan elegan" senyum Zivannya. "makasih aja nih.... nggak beliin minum atau makanan lagi" goda Dirgantara menatap Zivannya lekat. Valerie menepuk bahu suaminya pelan. "gendut nanti pa" pandang Valerie. "gimana mau gendut, orang tiap malam kita olahraga bareng" goda Langit memeluk istrinya erat, Arka dan Zivannya tersedak berbarengan mendengar ucapan Dirgantara yang nggak ada remnya. "isshh..... pa" pukul Valerie dipunggung suaminya pelan, Dirgantara tertawa lebar mengguncang tubuh Valerie ke kanan dan ke kiri.


"pulang yuk kak, dek. dengerin anak laki-laki Triastomo kalo ngomong suka pada nggak ada rem nya, Langit juga udah ketularan kayaknya" pandang bunda. Dirgantara tersenyum mengelus punggung bundanya gemas, "berarti ayah didikannya bener bund, bikin istri nya bahagia adalah amalan yang besar pahalanya" kata Dirgantara, mereka memutar bola matanya malas mendengar sanggahan Dirgantara, akhirnya tertawa melihat kekonyolan perbincangan mereka yang absurd.


"berarti abang sama kakak besuk sampai sini sore bund" pandang Zivannya. "iya, kita nunggu mereka dulu aja trus langsung ke Malang aja gimana dek, kita nginap di hotel biasanya. nggak mungkin kalo semua nginap tempat ibu kan" pandang bunda, Zivannya mengangguk. "kalau Zivannya kesana duluan aja gimana bund, kasian ibu sendirian jika nanti butuh pertimbangan apa-apa ada Zi disana jadi ketika nanti hari nya tiba ibu ada orang yang mendampingi" pandang Zivannya. "kamu nggak capek dek" tanya bunda, Zi malah lebih capek kalo liat bunda dan ibu kecapekan nanti mengurus semuanya, Zi udah terimakasih kak Val mbantuin banyak banget, udah nyari EO dan sebagainya bantuin ibu di Malang" kata Zivannya, "baiklah dek, ibu juga sendirian disana bunda masih ada ayah dan kakak disini" angguk bunda mengiyakan perkataan Zivannya.


"jadi kamu mau berangkat kapan dek" tanya ayah memeluk Raka. "kalo bisa sore ini aja yah, naik motor biar lebih cepat kalo naik kendaraan lain kemana-mana nanti susah juga sore berangkat paling sekitar jam 6 juga udah sampai rumah ibu. jika naik kereta takutnya dari stasiun sampai rumah tidak ada angkot lagi atau naik travel lebih lama..... kan sekalian riding tipis-tipis yah....." senyum smirk Zivannya. ayah memajukan bibirnya memandang bunda mengode sambil melihat Zivannya. bunda menghela nafasnya, "kamu yakin nggak papa dek, capek lho nanti" kata bunda, Zivannya memeluk bahu bundanya. "Zi kan anak ayah dan bunda yang kuat dan tangguh. masih bisa kalo begini mah, asal restu bunda sama ayah menyertai langkah Zi aja. itu udah cukup" senyum lebar Zivannya.

__ADS_1


"bilang Langit udah belum" tanya ayah. "hhhmmmm....... itu dia yah yang agak sulit dan jadi dilema. ijinin ya.... yah.... yaa..... bilang kasihan ibu" cengir Zivannya. ayah tertawa, "pada akhirnya mentok di Langit lagi... ngomong aja dulu dek, ntar ayah ada disamping mu deh saat minta ijinnya" kata ayah. "mepet aja yah saat minta ijinnya nggak mungkin kalo nggak di ijinin saat udah mau berangkat" pandang Zivannya meminta persetujuan. ayah menghela nafasnya panjang. "hhhmmmm..... gini ini..... gini ini...... masak ada jenderal yang dikadalin anak perempuannya" pandang ayah akhirnya. Zivannya dan bunda tergelak. "makasih, yah..... ayah selalu yang terbaik" peluk Zivannya. ayah tersenyum mengusap punggung anak perempuan yang didapatnya dari anaknya Aga yang telah lebih dulu pergi selama-lamanya.


"istirahat dulu dek, nanti bunda kasih tau kalo udah mau berangkat" pandang bunda, Zivannya mengangguk dan segera beranjak dari duduknya. "hubungi Langit, yah. bunda nggak mau adek kenapa-kenapa nanti" kata bunda. ayah mengangguk mengerti dan meletakkan Raka di pangkuan istrinya agar bias mengambil ponselnya. ayah segera menghubungi Langit untuk memberi kabar keinginan anak perempuannya untuk ke rumah Malang nanti sore.


"dek, jadi ke Malang nggak" usap-usap punggung ayah, Zivannya menggeliat membuka matanya menatap ayahnya yang duduk disamping tempat tidur. "jam berapa sekarang, yah" tanya Zivannya. "jam 4 lebih dikit" senyum ayah. Zivannya memejamkan matanya sebentar dan membukanya kembali, ayah keluar untuk memberikan Zivannya kesempatan untuk membersihkan dirinya. "dek, jahe hangatnya" sodor bunda saat melihat Zivannya sudah siap untuk pergi. Zivannya tersenyum dan meminum jahe hangatnya. "pada kemana bund" tanya Zivannya, "tuh diteras depan, masih sore dek, jadi pada ngumpul didepan" kata bunda. Zivannya mengangguk dan segera menghabiskan jahe hangat buatan bundanya. Zivannya keluar dan terkejut saat mendapati suaminya sudah ada di Surabaya. "lho udah disini aja kak" pandang Zivannya menatap Langit dari pintu depan, Langit menoleh. "hhhmmm..... sempat ditanyain tadi sama penjaga gerbang karena memakai pakaian dinas" senyum Langit, Zivannya mencium punggung tangan suaminya dan memeluknya erat. "kenapa udah sampai sini" tanya Zivannya penasaran, "karena ada yang mau riding tipis-tipis duluan" acak rambut Langit, Zivannya mengerucutkan bibirnya merapikan kembali rambutnya. Langit tergelak mencubit kedua pipi istrinya "kenapa tau" pandang Zivannya, Langit memberi isyarat ke arah ayah. "isshhh... ayah" Rajuk Zivannya, ayah tertawa lebar.


"kalo sendirian bunda takut kamu kenapa-kenapa dek, biarin ada suamimu yang menemani. bunda lebih tenang" jawab bunda mengelus bahu Zivannya, Zivannya mengangguk dan tersenyum. Langit memakaikan jaket safety riding ke istrinya setelah dia memakai sneakers hitamnya. "kita berangkat sekarang, yang" pamit Langit, Zivannya berpamitan kepada semua orang. Langit menunggu istrinya untuk naik dibelakangnya. motor segera meninggalkan rumah dinas Dirgantara, Langit menyentuh jemari istrinya yang melingkar erat di pinggangnya. "yang" panggil Langit, "apa" buka visor helmet Zivannya, "mau muter-muter dulu nggak" tanya Langit. "kamu make seragam gini kak, ntar aja kalo udah sampai rumah ibu" pandang Zivannya. "sampai sana malah nggak bisa kemana-mana lho, yang. bawaannya pingin tidur aja" kata Langit. "enak tuh.... tidur dengan tenang" senang Zivannya. "nggak bisa ngapa-ngapain kamu, yang kalo tidur" jawab Langit, Zivannya memukul punggung suaminya kesal dan menutup visornya cepat, Langit tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan istrinya.


hai.... hai...... hai...... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku.


luv....... luv.......luv...... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2