
"aku akan tidur disini Zi, kamu tidurlah dikamar" lepas Hoodie Aga meletakkannya diatas sofa, Zivannya mengangguk dan meraih Hoodie Aga untuk dirapikan seraya berjalan ke arah kamar tidur Aga untuk segera istirahat karena waktu sudah semakin larut.
"aku akan mengambil alas untuk tidur dan bantal dulu" kecup Aga diubun-ubun rambut Zivannya yang seketika menghentikan langkahnya membiarkan Aga mengambil perlengkapan tidur dikamarnya, Aga tertawa lebar melihat Zivannya yang menunggunya di pintu kamar.
"jika tidak khilaf ato tidur berjalan, aku akan tetap tidur didepan TV. jangan salahkan aku jika nanti tiba-tiba memelukmu saat tidur. karena aroma tubuhmu membuat candu untukku" bisik Aga ditelinga Zivannya.
"silahkan, jangan salahkan aku jika nanti barang berhargamu akan tidak bisa digunakan lagi" lirik Zivannya menatap tubuh bagian bawah Aga. Aga tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Zivannya yang berani mengancamnya.
"berarti kamu yang akan rugi jika asetku kamu bekukan, kamu tidak akan merasakan kenikmatan dunia dan akhirat" goda Aga menaik turunkan alis mendekati wajah Zivannya hingga hanya beberapa centi jaraknya.
"hemmm... tinggal cari yang lain jika begitu" tatap balik Zivannya, membuat Aga seketika ******* bibir Zivannya sebelum selesai bicara.
"coba saja jika berani, maka aku akan membekukan aset mereka juga" kata Aga mengusap bibir Zivannya lembut. Zivannya segera berbalik dan menutup pintu dengan sedikit kencang. Aga tersenyum lebar menyadari tingkah Zivannya yang sedang malu.
pagi hari
"kak, waktunya kewajiban pagi" tepuk kaki Zivannya pelan, Aga menggeliat.
"jam berapa" kerjap mata Aga. "jam lima, sudah terlambat" anjak Zivannya menuju pantry untuk mengambilkan air putih hangat untuk Aga yang meminum dengan cepat, beranjak menuju kamar untuk melakukan kewajibannya.
"Zi, kamu sudah menunaikan kewajiban" longok kepala Aga. "udah kak" angguk Zivannya yang sedang merapikan alas tidur Aga tadi.
"ikutan jalan pagi Zi" keluar Aga yang sudah memakai celana pendek untuk lari. Zivannya menoleh, "aku nggak bawa sepatu lari kak" geleng Zivannya.
"tuh dikotak sepatu warna hitam" isyarat dagu Aga. Zivannya melangkah dari pantry menuju sudut ruangan dimana Aga meletakkan sepatu-sepatunya. Zivannya membuka kotak hitam, melihat sepatu ukuran kakinya, segera memakainya.
"dari mana kakak tau ukuran sepatuku" kerut Zivannya tidak sadar.
"saat kamu diperiksa di klinik" jawab Aga melakukan pemanasan. Zivannya mengikat rambutnya ekor kuda.
"kita hanya keliling taman depan, banyak orang yang olahraga pagi juga" kunci pintu Aga. Zivannya merentangkan tangannya keatas.
"badanku kaku semua" putar bahu Zivannya. Aga meraih jemari tangan Zivannya keluar rumah.
"jangan terlalu ramah sama cowok lain" toleh Aga membuat Zivannya mengerucutkan mulutnya.
"aku aja belum memberi jawaban, main larang aja" jalan Zivannya agak cepat.
"ngasih jawaban iya kan" imbangi langkah Aga.
"sebenarnya jawabanku masih sama kak, aku pingin sendiri dulu" geleng Zivannya, Aga tertawa kecil.
"kamu memang sendiri jika tidur atau dikamar mandi itupun hanya akan berlangsung sebentar lagi, kuliah, kerja yang akan segera kamu tinggalkan. selebihnya harus bersamaku" senyum smirk Aga, Zivannya berlari kecil keluar dari pagar. Aga melakukan lari dan lompat kecil diluar pagar sebelum berlari menyusul Zivannya yang berlari kecil mengitari jalan kompleks beberapa rumah tetangganya.
"hai" sapa seseorang mengimbangi lari Zivannya yang sedang sendirian, Zivannya menoleh sebentar, tidak memperdulikannya dan hanya berlari kecil. Aga hanya mengamati dari kejauhan, tersenyum melihat Zivannya yang bersikap cuek terhadap cowok lain.
"apakah dia mengganggumu" tawa Aga setelah beberapa saat, Zivannya menggeleng.
__ADS_1
"hanya menanyakan apakah aku bisa menemaninya lari karena dia hanya sendiri saja" jawab Zivannya.
"trus kamu jawab apa" tanya Aga penasaran akan jawaban Zivannya.
"aku jawab iya, boleh saja. tapi aku minta untuk terus berlari bersama selama kurang lebih satu jam, karena aku baru saja mulai lari, aku mau berlari selama itu" senyum Zivannya. Aga tergelak mendengar alasan Zivannya yang diluar dugaan.
"nggak sekalian bilang, boleh jika dia bisa ijin sama bodyguardmu dibelakang" senyum Aga.
"aahhh... aku tidak suka melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalah" geleng Zivannya, Aga tertawa kecil.
"tentu saja Zi" angguk-angguk Aga. Zivannya melanjutkan lari kecilnya mengitari taman beberapa kali.
"lanjut aja jika masih mau lari, aku sudah cukup hampir sejam berlari. mau jalan aja sebentar" kibas tangan Zivannya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, Aga mengerti dan berlari kecil mengitari taman kembali sembari memperhatikan dimana Zivannya berjalan pelan mengitari taman.
Zivannya berjalan pelan menyelesaikan lari kecilnya selama lebih kurang satu jam agar stamina tubuhnya terjaga kemudian melakukan pendinginan seraya menunggu Aga menyelesaikan putaran larinya.
"hai, apa kamu saudaranya Bagaskara" duduk seorang wanita disamping Zivannya. Zivannya menoleh menatap wanita tadi.
"benar, ada yang bisa saya sampaikan" angguk Zivannya. wanita itu tersenyum mendengar jawaban Zivannya.
"sebenarnya aku hanya mengamatinya dari jauh, tidak berani menyapanya walau hanya sekedar berbasa-basi. sudah lumayan lama melihat dia saat secara tidak sengaja berpapasan keluar masuk gedung apartement, kami tinggal di gedung apartement yang sama. orangnya sangat dingin gitu kan, cool banget, terlihat jantan" ceritanya panjang. Zivannya mengangguk pelan mendengarkan wanita itu berbicara.
"namaku Stevia, tinggal dilantai 4, dua lantai diatas Bagaskara. kami sengaja tidak berjumpa saat sama-sama didalam box ajaib yang membawa kami turun dan naik setiap hari" tawa wanita itu, Zivannya tersenyum kecil. "kebetulan aku ke taman ini bersama mereka, ternyata Bagaskara berada disini juga" lanjut Stevia.
"aku jarang melihat dia membawa atau berinteraksi dengan orang lain bahkan saudaranya datang kemari, apalagi seorang gadis kecil sepertimu. makanya aku sempat heran melihatmu menemani Bagaskara jogging pagi ini, bukan bermaksud apa-apa, tapi hanya penasaran aja. karena setidaknya kami saling mengetahui satu sama lain yang tinggal didalam gedung yang sama. hanya 4 lantai kan, jadi tidak banyak penghuni apartement yang ada" cerita Stevia. Zivannya mengangguk, diam mendengarkan.
"itu karena kami tidak berani bertanya langsung kepadanya, akan terasa aneh jika kita tiba-tiba menanyakan hal yang pribadi begitu kepadanya kan, untuk sekedar menyapanya aja udah sungkan, jadi... makanya kita pingin tau lebih dalam melalui kamu saudaranya" kata Stevia menggebu-gebu.
"jadi apa yang ingin anda ketahui dari saya" tanya Zivannya akhirnya. Stevia tersenyum lebar merasa senang.
"apakah dia punya kekasih saat ini" tanya Stevia semangat. Zivannya menggeleng, "belum" jawab Zivannya.
"dia masih suka perempuan kan, masih lurus kan" tanya Stevia kembali memastikan. Zivannya mengangguk mengiyakan.
"setahu saya sih masih suka dengan lawan jenis" jawab Zivannya.
"aahhh, lega mendengar itu. karena orangnya yang cenderung dingin." ujar Stevia merasa plong hatinya.
"apakah kamu adik sepupunya, terlihat masih seperti anak sekolahan" pandang Stevia.
"saya sudah kuliah semester 4" senyum Zivannya malu. Stevia membulatkan bola matanya tidak percaya kalo Zivannya sudah kuliah lumayan lama.
"benarkah, maafkan aku. aku kira masih sekolah karena terlihat begitu" kata Stevia merasa tidak enak. Zivannya menggelengkan kepalanya tersenyum.
"tidak apa-apa kak, banyak orang yang mengira begitu juga" jawab Zivannya mengerti.
"Zi" dekati Aga setelah menyelesaikan larinya, berdiri disebelah Zivannya yang mengangguk.
__ADS_1
"udah kak, ini kak Stevia tinggal dilantai 4 di gedung apartement yang sama dengan kakak, kebetulan dia disini. sering berpapasan dengan kakak saat pulang dan berangkat kerja, karena kakak terlalu cuek jadi tidak berani untuk menyapa duluan. tadi melihat Zi bersama kak Aga jadi ngajak ngobrol" jelas Zivannya. Aga hanya menatap Zivannya memberi isyarat untuk segera pergi dari situ.
"hai" lambai tangan Stevia, Aga mengangguk pelan.
"kita harus bergegas sekarang" isyarat dagu Aga seraya berjalan pelan meninggalkan mereka berdua.
"aku pergi dulu kak, maaf sebelumnya" pamit Zivannya. Stevia tersenyum dan mengangguk mengerti.
"dia tadi menanyakan apa kakak punya pacar atau belum. suka perempuan ato laki-laki karena hampir tidak pernah melihatmu membawa seseorang yang istimewa selama ini" susul Zivannya.
"kamu jawab apa" tanya Aga menatap Zivannya. "aku bilang kalo kamu belum punya kekasih, suka dengan perempuan. mengira aku adik sepupumu dan masih sekolah" senyum Zivannya. Aga tersenyum lebar mendengar ucapan Zivannya.
"kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu perempuan istimewa buatku, agar dia tahu untuk menjaga jarak denganku" tanya Aga.
"nggak. jika dia peka maka akan mengetahui jawabannya sendiri" geleng Zivannya tidak mau menanggapi hal yang sama sekali tidak penting baginya. Aga mengelus rambut Zivannya.
"aku merasa tidak nyaman jika dekat dengan perempuan selain kamu Zi, hanya dengan keluargaku saja" jawab Aga membuka pintu pagar rumah.
"cobalah untuk berbasa-basi dengan tetangga apartement mu kak, jika ada apa-apa mereka juga yang akan membantumu nanti" masuk Zivannya setelah Aga membuka pintu rumah.
"besuk akan aku bawa kamu ke apartement, kita akan pindah jika mereka terlalu banyak tanya" kata Aga menutup pintu rumah setelah mereka masuk.
"tuh, banyak pemuja rahasia yang mulai tampak kak" minum Zivannya. Aga bergidik ngeri. "jadi perempuan kok gitu amat sih Zi" duduk Aga.
"biasa aja kak, dia masih tergolong sopan" sodor air mineral Zivannya. Aga segera meminumnya.
"aku tidak suka Zi" tukas Aga. Zivannya hanya mengangkat bahu tanda tidak mau adu argument pagi-pagi.
"kita akan pergi kesuatu tempat Zi, bersih badan dulu sana, diwalk closet ada beberapa pakaianmu" tatap Aga.
"bentar lagi, nggak disuruh juga udah mau mandi" kata Zivannya mengerucutkan mulutnya.
"ishh... anak ini lama-lama aku makan itu bibir" geram Aga. Zivannya menjulurkan lidahnya seraya berlari dari duduknya menuju kamar.
"Zivannya" seru Aga. Zivannya tertawa mengejek Aga yang semakin kesal.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1