Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 127


__ADS_3

Zivannya menyentuh ujung kaki Langit agar segera bangun, "kewajiban pagi, yang" kata Zivannya. Langit mengangguk, duduk dan berdiri kemudian untuk melakukan kewajiban bersama keluarga Zivannya. "mau berangkat sekarang dek" pandang bunda merapikan pakaian Zivannya. pake sneakers boleh nggak sih bund, jalannya susah" rajuk Zivannya, "aisshhh .... sampai sana pake sepatu ini" letakkan bunda, Zivannya mengangguk tersenyum mencium punggung tangan bunda dan ayah, "no pelukan. kusut bajunya" lerai bunda saat ayah akan memeluk Zivannya, ayah nyengir mengangguk. Zivannya tertawa kecil melambaikan tangan sebelum masuk mobil. "kebiasaan, kalo anak perempuan pergi pasti dipegangin" tepuk dada bunda, ayah tertawa memeluk istrinya dan mengecup rambutnya. "nggak terasa waktu cepat berlalu bund, anak-anak udah gede aja. belum ada cucu perempuan" pandang ayah. bunda mengangguk melangkah masuk bersama ayah.


"kamu tampak cantik, yang" kata Langit, Zivannya menggigiti kuku ibu jarinya tersenyum. "hentikan, jangan sentuh tubuhmu" pandang Langit, Zivannya segera menghentikan gigitannya menggenggam jemari tangan kiri langit erat. "kita pulang aja, yang" kata Zivannya, Langit tertawa mendengar Zivannya. "udah dibilang aku akan selalu ada menemani" senyum Langit, Zivannya menatap cemas Langit, tangannya dingin basah. "ayo, yang keluar. sepatumu mana" tanya Langit membukakan pintu untuk Zivannya, Zivannya membuka sneakers nya dan memakai sepatu hitam ber hak rendah.


Zivannya meraih tangan Langit yang membantunya keluar dari dalam mobil mereka berjalan bersama menuju bangunan tempat kesatuan Langit, bangunan disisi kiri tempat pelaksanaan sidang pra nikah abdi negara kesatuan Langit bersama dengan abdi negara yang lain dan pasangannya yang juga akan melakukan sidang pra nikah.


Langit melapor sebentar setelah menemani Zivannya mencari tempat duduk. Zivannya memegang tangan Langit sesaat saat Langit akan beranjak untuk melapor, "aku hanya melapor sebentar, yang" senyum Langit, Zivannya mengangguk. setelah tiba gilirannya, Zivannya mendapat beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan Langit dan kesatuan tempat Langit dinas, Zivannya terlihat tegang saat melakukan pertemuan tatap muka, Langit menyentuh punggung tangan Zivannya agar tenang dan mengatakan tidak apa-apa, Zivannya tersenyum mengangguk membuang nafasnya berkali-kali agar dirinya tenang. Langit menatap Zivannya sesekali memastikan kekasihnya baik-baik saja. terkadang Langit digoda oleh petugas sidang karena telah mengenal Langit. Zivannya sesekali tersenyum mendengar Langit yang hanya bereaksi datar menanggapi mereka, mengangguk dan menggeleng saat mengiyakan perkataan.


"kak, aku haus" pandang Zivannya, Langit mengangguk dan berjalan keluar untuk mengambil air minum, Zivannya melihat abdi negara lain dan pasangannya yang juga ikut melakukan sidang. mereka berkenalan satu dengan yang lainnya, mengobrol banyak hal yang berkaitan dengan pengalaman mereka. Langit datang membawakan sebotol air mineral untuk Zivannya, membuka tutupnya dan menyerahkannya pada Zivannya. Zivannya meneguk dengan cepat separuh air mineralnya. "kita nunggu apalagi kak" dongak Zivannya menatap Langit yang berdiri menjulang disampingnya. "nunggu pengarahan" jawab Langit mengusap kepala Zivannya.


"aahhh...." hembus nafas Zivannya lega setelah menyelesaikan rangkaian acara yang sudah dilaluinya. "gimana, yang" tanya Langit, Zivannya nyengir. "good" angguk Zivannya melepas sepatu dan menggerakkan kakinya perlahan. Langit melepas topinya, "mau makan dulu" toleh Langit, Zivannya menggeleng. "pulang" jawab Zivannya, Langit tersenyum "kita kekesatuan dulu. aku nggak bisa meninggalkan tanggung jawabku" pandang Langit, "aku pulang sendiri atau ntar kakak naik ojol" senyum Zivannya, Langit menggeleng. "aku antar kerumah dinas aja baru aku ke kesatuan" pandang Langit.


"komandan Langit diminta datang keruangan sidang" hormat seorang prajurit dihadapan Langit, "baik" berdiri Langit membalas salam. "dengan ibu ketua" katanya kembali. Langit mengangguk dan meraih jemari Zivannya untuk berdiri dan melangkah kembali keruangan sidang. Langit menyampaikan hormatnya dan menanyakan keperluan memanggilnya kembali, Zivannya berdiri disamping Langit mendengarkan pembicaraan mereka. sesekali Langit mengangguk mengerti. "udah, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk mengikuti langkah Langit keluar dari ruangan, "yang, tadi aku ditanya kapan kita akan mengadakan acara pernikahan" kata Langit menoleh, Zivannya berjalan dengan pelan.


"kita kemana kak" pandang Zivannya melihat sekitar. "ke kesatuan bentar untuk menaruh berkas ini" perlihatkan Langit berbelok menuju parkiran, Langit membunyikan alarm mobil untuk membuka pintu, "katanya ke rumah dinas" tanya Zivannya, Langit mengangguk menaruh tangannya dikepala Zivannya agar tidak terantuk atap mobil, "let me finish this then I drive U home" kata Langit, Zivannya menukar sepatu dengan sneakers nya. mobil berpindah gedung yang masih dalam lingkungan kesatuan. "turun nggak, yang" tanya Langit. Zivannya menggeleng, "aku tunggu didalam mobil aja kak sambil tiduran" kata Zivannya, "ayolah, yang" pandang Langit melarang Zivannya dimobil sendirian, Zivannya membuka pintu dan meraih jaket untuk menutupi seragam dinasnya.

__ADS_1


Langit meraih jemari Zivannya berjalan bersama menuju bangunan kesatuannya. "yang, mau makan nggak" tanya Langit, "nggak, tidur" geleng Zivannya menoleh. "kenapa kalo sama aku kamu kebanyakan tidur" tanya Langit, "nggak tau kak, kalo ada kamu perasaannya tenang dan nyaman" geleng Zivannya pelan. "kalo pas aku nggak ada disampingmu" tanya Langit lagi. "lebih banyak waspada" senyum Zivannya, Langit tertawa kecil. "berarti kamu yang sebenarnya tidak bisa jauh-jauh dari ku" goda Langit, Zivannya menggeleng. "jika boleh aku ingin pergi menjauh dari mu dan tidak akan mendekat, karena aku ingin sendiri" jawab Zivannya, "tapi kamu tetap bersamaku kan" senyum Langit, Zivannya mengangguk "benar" jawabnya.


"sore komandan" salam seorang anggota, Langit mengangguk terus berjalan masuk. "om bas, masuk" berhenti Langit melihat Baskara yang ada didalam sebuah ruangan, Baskara memberi hormat. Zivannya mengangkat tangannya memberi salam. Baskara tersenyum membalas salam Zivannya. Langit menutupi tubuh kekasihnya agar tidak menatap Baskara terlalu lama, Zivannya menepuk punggung Langit pelan sambil berdecak, Baskara memutar kepalanya melihat keposesifan Langit. Baskara mengikuti langkah mereka berdua, Zivannya lebih banyak diam mengikuti langkah Langit yang lebar dan mantap sambil membahas beberapa hal dengan Baskara dengan tangan yang masih menggenggam jemarinya erat.


"nggak usah pamer kemesraan juga ndan, kasian kita yang jomblo" pandang Baskara, "makanya nyari, om. nyari tante-tante genit" celutuk Zivannya. Langit tersenyum tipis sedangkan Baskara berdehem pelan. "cariin Zi..." kata Baskara. "aku nggak punya kenalan tante-tante genit om, adanya yang masih muda dan energik" jawab Zivannya kalem, Langit tertawa lebar melihat Baskara yang mati kutu mendengar jawaban kekasihnya. Baskara mendengus pelan melihat mereka yang sebelas dua belas jika berhadapan dengannya. "marah, om.. maafin deh... tapi bener lho... aku nggak punya teman yang jauh lebih tua untuk saat ini" pandang Zivannya melalui bahu Langit, Baskara berdehem. "duduk disitu dulu, yang. aku akan memeriksa beberapa berkas untuk dibawa om Baskara" isyarat dagu Langit. "semangat om, kerja keras biar dapat gadis muda" semangati Zivannya dari jauh, Baskara mengangguk pasrah melihat Zivannya yang selalu menggodanya, dibandingkan rekan-rekan Langit yang lain, Zivannya terlihat nyaman dan santai saat mengobrol dan bersamanya. jadi dia melihat Zivannya seperti adik kecil yang harus dijaga.


Zivannya meraih ponsel Langit dan memainkan game yang disukainya, "aishhh...." frustasi Zivannya karena kalah beberapa kali. "jangan lari kesana, ish... bandel banget dibilangin juga" gerutu Zivannya menekan layar ponsel Langit kesal, Langit dan Baskara menoleh menatap Zivannya yang sedang bermain game. "dia akhir-akhir ini keseringan main game itu" kata Langit, "ajak jalan-jalan aja" kata Baskara, "nah itu dia bas, anak itu susah kalo diajak keluar. kalo cewek lain pasti nggak akan melewatkan kesempatan itu kan, nah dia malah milih tidur ato dirumah aja" kata Langit. Baskara tersenyum. "kalo tidur bisa diapa-apain dong ndan" kata Baskara tanpa berpikir panjang. "maunya sih gitu, tapi aku jadi ikutan tidur om..." kata Langit mengusap wajahnya kesal, Baskara tertawa lebar mendengarnya, Langit malah menatap Zivannya yang tidak terganggu mendengar obrolan mereka. "benar-benar gadis yang unik ndan, gimana nanti kalo kalian punya anak perempuan dan kembar. sifatnya sedingin kalian nggak" kata Baskara, "hmmm... yang pasti akan jadi rebutan banyak pemuda" kata Langit. Baskara mengangguk.


"yang" kecup kening Langit, Zivannya membuka matanya pelan menatap paras Langit yang hanya berjarak beberapa centi darinya. "pulang" senyum Langit, Zivannya hanya menatap Langit belum sadar sepenuhnya. Langit duduk disamping Zivannya menanti gadisnya yang sedang dalam posisi belum sadar sepenuhnya. Zivannya meraih tangan Langit untuk segera pulang. "jam berapa" berdiri Zivannya dibantu langit. "6 sore" raih bahu Langit mengajak Zivannya berjalan keluar ruangannya. "kita kerumah dinas dulu, baru nanti aku antar pulang. biar nggak kelamaan di jalan" pandang Langit, Zivannya mengangguk mengikuti Langit. mobil berhenti digarasi, mereka keluar dan masuk kedalam rumah, "bersihkan dulu badanmu, yang" pandang Langit menyerahkan handuk kepada Zivannya yang segera kebelakang. "yang" ketuk Langit. "apa" teriak Zivannya dari dalam, "aku beli makanan bentar" pamit Langit, "ya" jawab Zivannya cepat. Langit segera keluar menggunakan motor kedepan kompleks. Zivannya melaksanakan kewajibannya sebelum Langit datang, mengecek ponselnya sambil tiduran di ranjang Langit.


"baru beli makan. tadi ke kesatuannya baru aja pulang, Zi nunggu disana tertidur" jawab Zivannya lagi.


"nggak tau, udah dari tadi beli nya tapi belum kembali. nanti mungkin malam pulangnya. baik. makasih bund" tutup Zivannya.


"siapa yang" tanya Langit datang. "bunda, nanyain kapan pulang" jawab Zivannya menoleh. Langit mengambil pakaian ganti setelah membersihkan dirinya, melaksanakan kewajibannya.

__ADS_1


"mau makan sekarang" tanya Langit melipat alas kewajibannya "hmmm..." gumam Zivannya, Langit mendekati Zivannya yang sedang sibuk dengan ponselnya, "yang" duduk Langit disamping tubuh Zivannya, "iya, bentar lagi. aku balas chat dari teman" jawab Zivannya tersenyum. "teman siapa" kerut Langit melihat sekilas ponsel Zivannya, "komunitas gunung" toleh Zivannya, Langit mencium bibir Zivannya lembut, meraih ponsel Zivannya dan menjauhkannya dari mereka, "ayo makan kak" pandang Zivannya membuka matanya menatap Langit yang berada diatasnya. "hmmmm.... biarkan aku memakanmu dulu, yang" senyum Langit mengusap bibir Zivannya yang semakin memerah dan basah, Zivannya menekan kepala Langit agar bergerak turun, Langit kembali mengabsen setiap inci mulut kekasihnya yang juga membalasnya dengan intens. "yang" desah Langit merasa terbakar dan panas. Zivannya membuka matanya perlahan menatap Langit, "jangan terlalu banyak, yang" pandang Zivannya sayu, Langit tersenyum tidak bisa berkata apa-apa lagi. hanya tubuhnya yang bereaksi, meraba setiap bagian tubuh Zivannya yang didambakannya, mengabsen setiap lekuk tubuh yang ada dihadapannya.


"aaa...." pejam mata Zivannya saat Langit menyentuhnya dengan penuh kelembutan, Langit memberikan kecupan disetiap inci tubuh gadisnya, saling memberikan sentuhan satu sama lain, Zivannya menggigit bibirnya menahan sentuhan Langit yang memabukkan. Zivannya mencengkeram punggung Langit saat Langit menyesap benda kenyalnya. "aahhh.... *****.... aku udah nggak kuat, yang" geram Langit menahan tubuhnya dengan bertumpu dikedua tangan agar tidak membebani tubuh Zivannya. "aku memberi banyak, yang" cengir Langit mengusap bibir kekasihnya yang penuh dengan jejak mereka. Zivannya mendesah pelan tidak bisa berkata apa-apa, Langit meraih t-shirt Zivannya dan menutupi badan bagian atasnya. "aku nggak sanggup begini terus, yang. semoga kita segera menikah jadi aku dapat dengan tuntas melakukan semuanya" hembus nafas Langit, Zivannya mengusap punggung Langit. "yang, jangan memancingku lagi" kata Langit mengusap perut Zivannya yang terbuka, Zivannya tertawa pelan.


"emang masih bisa" goda Zivannya menaikkan t-shirt nya, "yang" geram Langit menahan pergerakan Zivannya. Zivannya tertawa lebar mendorong tubuh Langit agar membersihkan dirinya kembali. Langit beranjak keluar untuk membersihkan dirinya kembali, Zivannya memakai kembali pakaiannya yang berantakan menuju keluar kamar untuk mengambil air minum dan menyiapkan makanan yang telah dibeli Langit tadi. "kebiasaan hanya beli satu dengan porsi yang banyak" lihat Zivannya.


Langit kembali dari kamar mandi, menghampiri gadisnya yang telah menunggunya untuk makan bersama, "apa besuk kita akan sidang lagi kak" tanya Zivannya menerima suapan Langit, "tidak" kunyah makanan Langit pelan. "trus langkah selanjutnya ngapain" tanya Zivannya, "menikah" senyum Langit, Zivannya mengangguk. "berapa lama jangka waktunya setelah sidang" tanya Zivannya mengunyah makanannya. "paling lama 6 bulan" jawab Langit.


"hmmm...." gumam Zivannya manggut-manggut. "itu terlalu lama, yang. jangan berharap selama itu" kata Langit. "terus, kita aja belum ngapa-ngapain, merencanakan pesta pernikahan seperti apa aja belum tau" pandang Zivannya. "kita mulai dari sekarang" suapi Langit, Zivannya mendengus pelan mengangguk. Langit mengelus pipi kekasihnya yang menggembung karena makanan.


"yang" panggil Langit teringat sesuatu, "apa" pake sneakers Zivannya bersiap untuk pulang. "beberapa hari, aku agak sibuk. jadi mungkin tidak bisa memberi kabar agak lama. bukan apa-apa, terkadang ponsel tidak aku gunakan" kata Langit. Zivannya mengangguk dan berdiri. "tidak apa-apa kan, yang" tanya Langit mengusap pipi dan memeluk tubuhnya erat. "hmmmm" peluk Zivannya kemudian berjalan masuk mobil.


hai... hai....hai..... all readers terimakasih telah mampir ke karyaku. terima kasih semuanya.


luv...luv...luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2