Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 57


__ADS_3

Aga tersenyum lebar melihat mobil Zivannya yang masuk parkir basement apartement, "besuk lagi pake motor aja by" kata Zivannya, Aga tergelak menatap Zivannya.


"mau motor yang kayak apa" tanya Aga, Zivannya menggeleng. "dua itu sudah cukup bagiku, aku tidak lama memakainya semester ini, jika boleh pake dua ini aja by" pandang Zivannya, Aga terdiam sesaat.


Zivannya meraih jemari Aga dan membawanya kebox ajaib.


"nggak usah mikir berlebihan by, aku akan jauh lebih baik jika memakai motor sesekali, mobil lebih ribet. atau nanti ojek online, lebih praktis" kata Zivannya. Aga menghembuskan nafasnya menatap Zivannya. Zivannya tertawa terbahak bahak melihat ekspresi suaminya.


"by, mau pesen makan apa, kita dirumah aja ya" masuk Zivannya menaruh sneakers dirak sepatu. Aga melakukan hal yang sama, Zivannya masuk kedalam dan membersihkan dirinya, "dah kewajiban yang" tanya Aga sebelum masuk kamar, "udah by" angguk Zivannya. Aga kedalam dan membersihkan dirinya dan segera melakukan kewajiban sore.


Zivannya membuat jeruk dingin dan kopi hitam, sambil menonton TV dan menunggu makanan online datang. Zivannya merebahkan tubuhnya disofa, menutup matanya dan tertidur. Aga melihat Zivannya tertidur di sofa, bel berbunyi. makanan diantar oleh ojek online, Aga melihat kopi dan jeruk dingin di meja pantry, meminumnya dan memakan makanan yang dipesan Zivannya tadi.


pagi hari, Zivannya membuka matanya, teringat bahwa tadi dia tidur disofa menunggu suaminya mandi, Zivannya menoleh dan melihat Aga tertidur, Zivannya melihat ponselnya disamping.


"jam 7" Zivannya menutup matanya dengan kedua tangannya.


"by, jam 7 pagi" usap wajah Zivannya, Aga bergerak pelan dan menatap Zivannya, duduk sebentar dan segera bangun untuk membersihkan dirinya, Zivannya merapikan ranjang, menyiapkan pakaian Aga, menuju dapur dan melihat meja pantry yang tetap bersih, Zivannya melihat cangkir sudah tersusun rapi, Zivannya menyeduh kopi panas buat Aga. kembali kekamar untuk melihat Aga apakah sudah selesai. membantu merapikan pakaian Aga, "yang aku naik motor, nanti jemput aku kalo sudah selesai packing nya. pake mobil yang agak tinggi, biar sedikit nyaman diperjalanan" kata Aga, Zivannya mengangguk dan menyodorkan kopi buat Aga, "tadi malam udah makan by" duduk Zivannya disamping Aga, Aga mengangguk dan meminum kopi.


"maafkan aku tidak menemanimu makan" kata Zivannya, Aga tersenyum mengelus kepala Zivannya. "nggak papa yang, kamu lelah, jadi aku maklum" angguk Aga, Zivannya tertawa pelan, Aga pamit untuk berangkat, Zivannya mengantar sampai pintu rumah.


jam 10 siang, Zivannya menarik tas jinjing yang agak besar untuk dibawa kedalam mobil, Zivannya berpapasan dengan Stevia. "hallo kak, nggak kerja" senyum Zivannya, "nggak, cuti" geleng Stevia. "mau kemana nih bawa tas besar gini" tanya Stevia menatap tas Zivannya.


"pulang kak" senyum Zivannya, "lho nggak disini lagi, sama Bagaskara" toleh Stevia.


"masih kak, ini pulang bareng kak Bagaskara. mau jemput dia dulu" senyum Zivannya. Stevia tersenyum mengangguk.


"ngomong-ngomong Bagaskara punya kekasih nggak" tanya Stevia, pemuda tegap itu masuk dalam box ajaib. Zivannya bergeser sedikit.


"kalo kekasih nggak punya kak, tapi kalo istri sudah ada" angguk Zivannya.


"benarkah, siapa.. kok aku nggak tau" kata Stevia terkejut. box ajaib berhenti dibasement parkiran. Zivannya tersenyum dan menarik tas jinjing nya. Zivannya menaikkan bag kekursi belakang, menutup pintu, melajukan mobil keluar apartement


"ya yang" lihat Aga dilayar ponselnya.


"otewe ke kesatuan by" kata Zivannya, Aga melihat Zivannya yang sedang didalam mobil.


"baiklah yang, aku tunggu" senyum Aga. "luv U by" tutup Zivannya.

__ADS_1


Zivannya agak berhati-hati membawa mobil yang bagi dia lebih gede. tiba di kesatuan, mobil Zivannya segera diberi akses untuk masuk. Zivannya turun dan melapor dipos jaga depan. Zivannya segera masuk setelah diberi ijin untuk ke ruangan Aga. sambil menenteng paperbag berisi t-shirt dan celana Aga, Zivannya mengetuk pintu dan mendengar suara Aga untuk mempersilahkan dia masuk.


"by" longok Zivannya, Aga menoleh.


"masuk yang, tunggu sebentar. aku menyelesaikan urusan paper sebentar" angguk Aga, Zivannya mengangguk dan duduk di sofa. menatap Aga yang terlihat serius saat meneliti kertas-kertas yang ada didepannya, Zivannya melingkarkan tangannya dari belakang, Aga menoleh dan mengecup bibir Zivannya pelan.


"hmmm.... yang, jangan membuat bangun macan yang baru tidur" kata Aga, Zivannya tergelak dan memeluk semakin erat, mencium ubun-ubun kepala Aga. Aga tertawa dan meneruskan meneliti kertas-kertas yang ada di mejanya.


"Zivannya berjalan melihat ruangan Aga yang saat pertama kali datang dirinya tertidur cukup lama.


"ngapain yang" lihat Aga sambil merapikan kertas-kertas yang sudah ditelitinya, Zivannya menoleh dan menggeleng, mendekat.


"kita berangkat sekarang" tanya Aga.


"tapi by, seragam dinasmu gimana" lihat Zivannya. Aga tersenyum, "bawa baju ganti kan yang, disini aja gantinya, baju seragam aku gantung disini" tunjuk Aga, Zivannya mengangguk dan menyerahkan paperbag baju Aga, Aga segera menukar baju dinasnya dengan baju sipil, mereka keluar dari bangunan kesatuan Aga. aku yang duluan aja by, nggak lama kan nanti kamu kewajiban Jum'at" pandang Zivannya, Aga mengangguk dan duduk dikursi penumpang disamping Zivannya, dengan gesit Zivannya segera melajukan mobil menghindari jalan yang rawan dengan kemacetan. Aga tersenyum melihat kemampuan Zivannya, keluar dari kota Zivannya menepikan mobil disebuah masjid yang memiliki halaman luas untuk kendaraan parkir.


"aku tunggu disini by, itu alasnya" tunjuk Zivannya kekursi belakang. Aga meraihnya dan mencium pipi kiri Zivannya, "ishhh, yang kanan belum by" Rajuk Zivannya, Aga tersenyum dan mencium pipi kanan Zivannya sebelum turun.


Aga melangkahkan kaki menuju bangunan semi terbuka untuk melakukan kewajiban Jum'at nya.


Zivannya keluar mobil untuk melihat sekitar, terdapat saung untuk sekedar duduk. Zivannya menghampiri dan duduk disana menunggu suaminya, beberapa orang perempuan juga duduk disana menunggu pasangan mereka untuk kewajiban Jum'at.


Aga berjalan mendekat kearah Zivannya, Zivannya segera beranjak dari tempat duduknya dan pamitan untuk duluan melanjutkan perjalanan, mereka memandang Aga yang terlihat menawan, Zivannya mencium punggung tangan Aga yang segera mencium kening Zivannya, mobil meninggalkan pelataran parkir, Zivannya melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.


"by kita sudah sampai" bangunkan Zivannya pelan mengelus bahu Aga, Aga mengerjapkan matanya dan melihat sekitar yang terasa tidak asing. "ini rumah om Hadi kan" tanya Aga melihat dengan jelas. Zivannya mengangguk melepas seat belt nya. Aga, membuka pintu dan mengeluarkan tas dari kursi belakang. Zivannya belum mengetik pintu, nenek sudah keluar untuk menyambut mereka. memeluk Aga dan Zivannya bergantian.


"kalian pasti lelah, ini baru jam 4 sore kalian bisa mandi dulu dikamar tamu dan istirahat" senyum nenek mengelus punggung Zivannya yang mencium punggung tangannya.


Zivannya dan Aga segera masuk, menemui kakek dan keluarga om Hadi yang berkumpul dan beberapa tetangga yang membantu untuk acara nanti malam. Zivannya tersenyum memberi salam kepada mereka semua. Farhan membawa Zivannya dan Aga kekamar tamu yang sudah dibersihkan untuk mereka istirahat, Zivannya membuka bag dan mengeluarkan baju untuknya dan Aga berganti setelah mandi. Aga keluar dari kamar mandi setelah bergantian dengan Zivannya, tidak mendapati Zivannya dalam kamar, baju ganti sudah disiapkan Zivannya diatas ranjang. Aga keluar untuk bergabung bersama kakek dan om Hadi diruang tengah. Zivannya terlihat berada didekat ibu-ibu yang menata makanan.


Zivannya terlibat obrolan yang seru dengan ibu-ibu yang lain, Zivannya menyodorkan kopi hitam pada Aga sesaat kemudian dan duduk disampingnya sambil tersenyum mendengar obrolan kakek dan om Hadi. "kamu baru balik dari Jakarta Zi" tanya kakek.


"iya kek, Rabu malam baru pulang. ayah dan bunda titip salam hormat untuk kakek, nenek dan keluarga om Hadi. minta maaf karena tidak bisa hadir karena ada acara dikesatuannya Ayah" angguk Zhivannya. kakek mengangguk mengerti.


"kalian malam ini menginap disini aja, besuk pagi baru melihat rumah kalian, tidak ada penolakan. kakek tau Zivannya pasti akan menolaknya dengan halus, tapi kakek minta agar Aga mau menginap di sini" pandang kakek. Zivannya dan Aga saling berpandangan dan mengangguk. kakek tersenyum lebar menepuk pundak Aga.


"nah... kan kakek jadi tenang, kita bisa ngobrol setelah acara selesai" kata kakek kemudian.

__ADS_1


Zivannya merebahkan kepalanya kebelakang, dari pintu masuk dilihatnya Aisya dan Sony tunangannya. "udah datang Zi" lihat Aisya. Zivannya tersenyum dan mengangguk. Aisya duduk disebelah ibunya dan Sony disebelah Aga.


"pake yang didepan ga" toleh Sony. Aga mengerutkan keningnya sesaat. Zivannya mengangguk. Sony manggut-manggut. Zivannya berbisik pelan bahwa Sony menanyakan kendaraan yang mereka bawa tadi, Aga mengerti. Farhan menatap Aisya dan memperlihatkan ponselnya, Aisya membelalakkan matanya menatap Farhan yang mengangkat bahunya.


"acara 100 hari mama akan diadakan kapan kek" tanya Zivannya.


"ini sebenarnya sekalian dengan acara 100 harinya Zi, karena jaraknya dekat dan kalian juga ngga mungkin bolak-balik dalam rentang waktu yang singkat, kemarin kakek dan om Hadi meminta pertimbangan pak Kiai bagaimana jika sekalian saja hari ini. nanti ada 1tahun dan yang terakhir 1000 harinya, pak Kiai bilang tidak apa-apa karena memang waktu" kata Kakek, Zivannya dan Aga mendengarkan dengan seksama.


"karena juga kakakmu Aisya akan melaksanakan pernikahannya selang beberapa hari dari 100 hari kepergian mamamu, kami juga meminta pendapat pak Kiai" kata kakek, Zivannya mengangguk.


"Zi paham kek, terimakasih sebelumnya sudah memikirkan kondisi Zi yang juga harus belajar diluar kota dan kak Aga yang dinasnya sedikit lebih ketat untuk meminta ijin sering-sering. kami berdua akan menurut pada kakek gimana baiknya" jawab Zivannya mengangguk.


"ini undangan pernikahan kami Zi, semoga kamu bisa hadir saat itu. dan ini ada kebaya yang didesain untuk keluarga kita" serah paperbag Aisya ke Zivannya.


Zivannya mengambilnya dan mengucapkan terimakasih. "untuk kak Aga, nanti akan memakai baju adat seperti Farhan, karena kalian adalah saudara laki-laki dari pihak pempelai wanita" pandang Aisya. Zivannya mengangguk.


acara kepergian mama Zivannya berlangsung dengan lancar dan terkendali, banyak orang yang menghadiri acara tersebut dari tetangga rumah Zivannya hingga tetangga om Hadi, semuanya berkumpul diruang tengah dan ruang tamu.


para ibu-ibu tetangga membantu untuk kelancaran acara, Zivannya terlihat anggun dan Aga terlihat tampan, pasangan muda yang serasi. Zivannya memberikan salam dan terimakasih kepada para kaum Adam yang mau hadir diacara peringatan kepergian mamanya, Aga selalu tersenyum lebar saat menyapa para kaum Adam itu.


selama itu pula beberapa ibu yang membantu acara mulai membersihkan tempat dan peralatan yang digunakan dalam acara tadi. Zivannya segera masuk dan meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah kepergian bapak-bapak yang ikut acara, Aga duduk didepan Zivannya dan mulai mengurut kakinya. "aaahhh... by, nyaman banget" pejam mata Zivannya merasakan pijatan Aga. kakek yang melihatnya tertawa, "kamu seperti mamamu saat minta pijat papamu ketika mengandung kamu Zi, papamu dengan telaten mengurut kaki mamamu karena mulai bengkak hamil besar. untung papamu sudah dirumah. jadi bisa memanjakan istrinya" kata Kakek, Zivannya membuka matanya, tersenyum mendengar ucapan kakeknya.


"tadi Zivannya yang membawa mobilnya, saya tidur selama perjalanan" senyum Aga,


"oh ya.... hebat dong Zi, sekarang berani bawa mobil keluar kota" senyum Tante, Zivannya tersenyum menanggapi sindiran tantenya.


nenek membawakan minyak urut untuk Aga agar mudah memijit kaki Zivannya. "terimakasih kasih nek, ini terlalu berlebihan. kak Aga hanya sebentar"tatap Zivannya, nenek menepuk pundak Zivannya mengatakan tidak apa-apa.


"kalian akan mengadakan resepsi pernikahan kapan Zi" tanya nenek.


"rencananya kemarin bunda mau mengadakannya di Jakarta nek, dengan beberapa alasan. jadi nanti kakek dan nenek, om Hadi sekeluarga diboyong kesana untuk menghadiri acara itu, kakek dan nenek serta om Hadi akan naik pesawat dari sini ke Jakarta dan akan dijemput orang dibandara nantinya. begitu rencana bunda kemarin" jawab Zivannya.


moga segera ya readers biar mereka tau bagaimana keluarga Aga memperlakukan Zivannya...


dukung terus karya ini ya readers... dukungan kalian sangat berarti...


luv...luv...luv untuk para readers...

__ADS_1


terimakasih atas dukungan kalian.


__ADS_2