Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 92


__ADS_3

Langit berjalan pelan menuju ketiga perempuan yang sedang asyik mengobrol dengan dua pria yang terlihat tertarik pada salah satu dari mereka. "yang, ayo pulang. anak kita sedang nunggu dirumah" senyum Langit. mereka menoleh, kedua pria itu segera meninggalkan ketiga perempuan yang saling berpandangan.


Valerie dan mentari tertawa ngakak. "yuk dek udah. yang dua disana udah langsung berdiri, nggak berkedip liat kita" kata Valerie. Zivannya dan mentari menoleh melihat kedua laki-laki itu. Langit membantu Zivannya untuk turun.


"dari mana kak" tanya Zivannya memegang kedua bahu Langit ketika Langit menurunkannya dari panggung yang tingginya hanya dua anak tangga dari lantai.


"membelikan mu ponsel baru" jawab Langit menahan tubuh Zivannya dalam rengkuhannya. "ishhh, ngapain dibeliin. nggak penting banget ponsel untukku saat ini kak" kata Zivannya turun.


"aku nggak bisa menghubungi mu saat jauh, yang" ikuti Langit.


"makanya jangan jauh dariku" kata Zivannya pelan. Langit berhenti seketika. "apa maksudmu, yang. kamu ingin aku berhenti mengabdi" kerut Langit. "jika perlu" tantang Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang.


"jika itu pilihanmu aku tidak bisa memaksamu. seperti juga kamu yang tidak bisa memaksaku untuk meninggalkan panggilan jiwaku" pandang Langit tajam. Zivannya menghela nafas panjang. "terserah apa yang kamu pikirkan kak" angguk Zivannya. "kita pulang sekarang kak, waktu udah terlalu malam. besuk kalian akan berangkat" kata Zivannya menjauhi Langit segera.


"aku antar" raih tangan Langit menarik tangan Zivannya erat. Zivannya hanya mengikuti langkah Langit yang lebar. memakaikan helmet Zivannya dan melajukan motornya lebih cepat. Zivannya memejamkan matanya, menghirup udara malam yang sangat khas, tanpa peduli pada sekitarnya. Langit menghentikan motor tepat disamping motor Matahari.


"aissshhh, alamat disiksa lagi aku, yang" lihat Matahari melihat kelakuan Langit dan Zivannya.


"makanya jangan ngenalin adek ke teman-teman mu, yang" senyum Mentari. "ishhh, dia udah jatuh hati saat melihat Zhivannya. nggak aku kenalin juga dia udah nyari alasan untuk mengenalnya" turun motor Matahari.


"Zi masih mengenang Aga, bukan salahnya juga kalo dia masih belum move on dari suaminya. tidak segampang itu, yang. melupakan apapun tentang seorang yang pernah ada dihati apalagi itu dipisahkan oleh kematian sangatlah sulit" jawab Mentari menatap Zivannya. Zivannya membersihkan dirinya dan tidur dengan kedua keponakannya.


pagi hari


keadaan rumah sudah tampak sibuk, bunda memasak dengan Valerie untuk sarapan pagi. "siang banget dek bangunnya. sampai nggak bangun saat mereka berangkat" senyum Valerie menata makanan dimeja makan, Zivannya mengangguk dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"abang dan kakak sudah berangkat bund" minum air putih Zivannya, bunda mengangguk. "bahkan dua keponakanmu udah berangkat sekolah" kata bunda duduk disisi Zivannya. "hanya tinggal kita berempat, nih" duduk ayah memakan sarapan yang disediakan bunda.


"biar Zi yang jemput Raka dan Riki sekolah" makan Zivannya.


"nggak dek, biar bunda dan ayah aja. sama keliling kompleks. kamu dirumah aja dulu biar lukamu kering dan tidak berbekas" pandang bunda, Zivannya mengangguk. "oh iya, Langit tadi menitipkan ponsel ini untukmu, tinggal make" sodor Valerie. Zivannya mengangguk memakan dengan cepat makanan yang bunda berikan.


"jangan terlalu menghukum hati dan ragamu, dek. biarkan seiring waktu" tepuk bahu bunda, Zivannya mengangguk.


selama dua minggu Zivannya berada di Surabaya, lukanya segera sembuh setelah beberapa hari, melakukan perawatan seperti biasanya jika dia berada dirumah Dirgantara di Surabaya. tubuh dan kulitnya sudah kembali seperti semula. ia sering bertemu dengan Arka, bahkan pergi bersama teman-teman baru yang diperkenalkan Arka dan juga mencoba mencari pekerjaan di kota itu.


4 bulan berlalu sejak terakhir kali dirinya bertemu dengan Langit, selama itu pula Zivannya tidak mendengar kabar atau mencari tahu tentang Langit. waktunya dihabiskannya menikmati hidup dengan naik gunung, traveling dan bermain.


"tidak pernah menghubungi komandan Langit, Zi" tanya Rara tiba-tiba setelah mendekat, Zivannya menoleh dan menggeleng. "bagaimana dengan Arka" tanya Rara. "kita semua berteman Ra, nothing happen between us" geleng Zivannya.


Rara mengangguk, "karena hatimu sudah menentukan pilihan hanya untuk Langit bukan" terawang Rara melihat bulan dan bintang yang bersinar terang. Zivannya menatap langit yang cerah.


ponsel Zivannya berdering namun Zivannya membiarkannya saja, Rara melihat panggilan dari Mentari.


"kenapa nggak diangkat" tanya Rara, "kakak sedang dalam perjalanan bersama bang Matahari ke labuhan Bajo, mereka honeymoon lagi" senyum Zivannya, Rara tertawa. "semoga mereka segera mendapat momongan. agar semakin lengkap cinta mereka" kata Rara, Zivannya mengamini ucapan Rara.


"bunda dan ayah baru traveling ke Singapura bersama dengan teman-temannya" hembus nafas Zivannya. "dan kamu langsung kesini karena sendirian" tepuk bahu Rara.

__ADS_1


Zhivannya tersenyum menggeleng, "aku akan naik gunung minggu depan Ra, bersama anak-anak baru kampus" toleh Zivannya. "apa" toleh Rara cepat, Zivannya memejamkan matanya.


"kamu udah tiga kali naik selama 4 bulan ini Zi, jangan menyiksa dirimu dengan mengalihkan masalah" hadap Rara kearah Zivannya.


"apa kamu se menyedihkan itu Zi, ditinggal kak Aga hingga tidak bisa berpijak dikedua kakimu sendiri, apa kamu se sengsara gini menolak Langit agar tidak jatuh hati padanya" sarkas Rara, Zivannya tersenyum menghela nafasnya panjang.


"aku sedang menata hati dengan menikmati semuanya Ra" jawab Zivannya pelan, Rara mendengus pelan. "menyiksa hati dan dirimu sendiri untuk menghindar, itu yang paling benar" sarkas Rara kembali. Zivannya tertawa pelan, memejamkan matanya.


"pergi yuk Zi, baru jam 8 malam nih" kata Rara, Zivannya mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya.


"tumben pake rok gitu" tanya Rara melihat penampilan Zivannya. "pingin aja Ra, ganti lagi nih aku" kata Zivannya, Rara tertawa dan mendorong tubuh Zivannya keluar dari rumah, Zivannya menutup pintu dan pagar.


"kemana kita" masuk Zivannya. Rara tersenyum. "akan aku bawa ketempat yang tidak akan terlupakan" senyum smirk Rara, Zivannya mengendikkan bahunya.


"ngapain kita kesini" keluar Zivannya melihat kumpulan orang-orang yang berada digedung. "nonton mini konser" senyum Rara meraih tangan Zivannya untuk masuk.


Zivannya mengikuti langkah Rara yang setengah berlari bergegas masuk kedalam ruangan. "auu" desis Zivannya pelan mundur kebelakang karena tertabrak seseorang yang juga mau masuk. sepasang tangan menahan tubuhnya dari belakang.


"makasih" kata Zivannya segera menjauhkan dirinya dari seseorang yang menyelamatkannya. Zivannya menatapnya sesaat, membuka matanya lebar melihat sosok laki-laki tampan yang berada didepannya.


"kak Langit" kaget Zivannya, Langit terdiam melihat Zhivannya. Zivannya segera berbalik dan meninggalkan Langit, Langit meraih jemari Zivannya dan membawanya masuk kedalam ruangan. Zhivannya terhenyak menatap ruangan yang penuh dengan orang, "kebiasaan anak itu kalo gini ninggalin gitu aja" gumam Zivannya kesal, Langit memeluk pinggang Zivannya dan membawanya duduk di tempat paling atas. Zivannya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang memposisikan dirinya untuk menonton konser, Langit tetap memeluk pinggang Zivannya tanpa bermaksud melepaskannya sementara Zivannya sedang sibuk me chat Rara.


semua orang bersorak menandakan anggota band sudah masuk untuk memulai. Zivannya mendongak dan ikutan berdiri untuk melihat siapa yang akan tampil. Langit menatap Zivannya yang terlihat memperhatikan band dengan seksama, Langit berdiri dan memeluk Zivannya dari belakang, menghirup aroma tubuh Zivannya yang sangat dirindukannya, meletakkan dagunya diatas kepala Zivannya yang mengikuti suara band yang sedang tampil.


Langit hanya memperhatikan Zivannya yang terlihat senang, hatinya serasa penuh melihat gadis pujaannya baik-baik saja. sebenarnya dia sering kali ingin menemui Zivannya namun selalu ditahannya agar mereka sama-sama memahami keberadaan masing-masing, tentang perasaan atau keberadaan mereka.


"ishhh, mana lagi tuh anak ngilang aja" hubungi Zivannya. "kebiasaan" hembus nafas Zivannya menatap Langit. "kita pulang" tanya Langit. Zivannya mengangguk dan berjalan keluar area gedung.


"aku tadi sama Rara, jadi kita naik taksi saja" pandang Zivannya, Langit meraih tangan Zivannya agar mengikutinya ke seberang jalan tempat dirinya memarkirkan mobil.


"makan dulu disana kak" berhenti Zivannya melihat penjual makanan yang berjejer di pinggir gedung. Zivannya melangkah ke sisi kiri gedung tempat berbagai macam penjual makanan.


"satu" duduk Zivannya, Langit pergi sebentar dan kembali membawa dua botol air mineral. Langit meminum setengahnya dan menyodorkannya kemulut Zivannya yang segera meneguknya hingga habis tak bersisa.


penjual memberikan pesanan makanan Zivannya yang segera memakannya. "hmmm enak" kunyah Zivannya, ia menyuapi Langit, Langit menerimanya. Zivannya bergantian makan dengan Langit hingga habis, segera membayar makanan tersebut dan berpindah hingga ke beberapa stand makanan kecil.


"kenyang kak, pulang" usap perut Zivannya, Langit meraih jemari Zivannya membawanya kearah tempat parkir. "jam 1 pagi, yang" lihat jam Langit. "hmmm" pejam mata Zivannya. kita ke pantai saja kak, menikmati sunset, ingin melihat dari laut bukan dari gunung" kata Zivannya tanpa sadar, membuka matanya cepat dan melihat Langit yang menatapnya menyelidik.


"empat bulan ini sudah tiga kali naik, bersama teman-teman kampus yang biasa naik" hembus nafas Zivannya. Langit mengangguk menjalankan mobil agak cepat.


"hallo" lihat layar Zivannya.


"kamu dimana" seru Rara panik.


"baru sadar kalo aku ngilang" tanya Zivannya kesal.


"nggak lucu lho Zi, ini sudah tengah malam, Dimas nggak ada disini. aku mencari mu disekitar gedung tau" kata Rara kuatir.

__ADS_1


Zhivannya memperlihatkan wajah Langit yang baru menyetir.


"what, why, when, he" terkejut Rara. Zivannya menghela nafas panjang.


"tiba-tiba ada yang nabrak saat kita mau masuk, dia ada di belakangku dan menahan tubuhku agar tidak jatuh. kita jadi nonton berdua, makan disekitar situ tadi. sekarang dalam perjalanan mau melihat sunrise di pantai, pingin lihat dari laut bukan dari gunung" cerita Zivannya.


Rara melongo mendengar cerita Zivannya. "aku ngerasa Dejavu Ra" hembus nafas Zivannya.


"kenapa, karena pertemuan pertama kali dengan kak Aga kamu juga terjatuh dan ditolong oleh kak Aga, sekarang kamu merasa kembali seperti itu dengan kak Langit yang menahan mu saat kamu terdorong oleh orang" tanya Rara.


"he em" angguk Zivannya. Langit menoleh sesaat.


"apa kamu mau lari lagi seperti dulu juga" tanya Rara.


"he em" angguk Zivannya, Langit menggeleng. "kenapa" tanya Rara.


"it's will hurt me again Ra" kata Zivannya, Langit mematikan panggilan video mereka berdua tiba-tiba.


"jangan lari lagi, nggak ada gunanya bagi kita berdua" ambil ponsel Langit. Zivannya tersenyum kecil.


"nggak ada gunanya" ulang Zivannya serasa ambigu.


"kenapa Zi" tanya Langit. Zivannya memejamkan matanya, "karena aku sudah tidak bisa lagi menghindar darimu kak" hembus nafas Zivannya. Langit menepikan mobilnya.


"katakan padaku alasannya. aku mencintaimu Zivannya Fritscha dengan segala kekuranganmu dan segala kelebihanmu. aku mencintaimu karena aku tahu aku yang terbaik untukmu, aku tidak akan membandingkan diriku dengan Aga, karena kami sama-sama mencintaimu dengan waktu yang berbeda, kenapa" kata Langit, Zhivannya menggeleng.


"aishhh, aku tidak ingin merasakan rasa ini lagi, rasa senang tapi tergantikan dengan rasa sakit yang teramat sangat. rasa sayang yang berganti dengan kesedihan" tutup mata Zivannya.


"Zi" sentuh lembut Langit dikepala Zivannya.


"ya, aku mencintaimu. aku nggak bisa berpaling darimu walau banyak laki-laki lain yang mendekatiku. kamu sudah berada di hatiku" kata Zivannya pelan, Langit memeluk Zivannya.


"maukah kau menikah denganku jika begitu" kata Langit menatap Zhivannya. "ya" jawab Zivannya. Langit tersenyum mengangguk mengecup kening Zivannya.


"aahhh kalo begitu aku akan segera mengurus surat-surat legalitas untuk pernikahan" semangat Langit.


"kak, bunda dan Ayah tidak ada dirumah" pandang Zhivannya.


"aku tau. kita akan pulang ke Jakarta pagi ini untuk mulai prosedur kelengkapan legalitas" putar balik Langit.


"kak, aku pingin liat sunrise di pantai" kata Zivannya menahan tangan Langit agar meneruskan perjalanan mereka.


Langit menghela nafasnya. "aku lupa, yang. maaf" kata Langit melajukan mobilnya kembali kearah pantai.


hai....hai....hai... all readers terimakasih telah mendukung karyaku. terimakasih atas perhatian dan like kalian terhadap karyaku.


luv....luv....luv.... U all sekebon pisang goreng. terimakasih atas dukungannya selama ini...

__ADS_1


stay healthy all readers


__ADS_2