
Langit melihat rumah ibu yang terlihat sepi, ia segera melihat tempat kunci yang biasa diletakkan. "yang, masuk dulu" isyarat kepala Langit melihat Zivannya yang keluar dari dalam kursi penumpang sambil meraih ransel yang berada dibelakang. "tentu saja, kak. masak didalam mobil" lepas sneaker Zivannya dan meletakkan disamping pintu masuk, ia segera menuju kamar Langit yang biasa dia tempati saat pulang kerumah ibu.
"apa ibu sedang mengajar ya kak" tanya Zivannya seraya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah perjalanan. Langit meletakkan tas ransel mereka diatas meja kecil, mengambil bathrobe untuk Zivannya. "yang" ketuk pintu Langit pelan, Zivannya membuka pintu sedikit dan melihat bathrobe yang diberikan oleh Langit, "makasih kak" ambil Zivannya. Langit segera menuju teras dan menghirup udara yang terasa sejuk dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. disapanya beberapa tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah dan mengobrol seperlunya dengan orang yang mengenalnya. Zivannya keluar dengan memakai pakaian perempuan yang membuatnya seperti gadis yang belum menikah.
Langit hanya menatap setiap pergerakan istrinya yang terlihat menarik. "kak, mandi nggak, udah siang ini. mau jemput ibu nggak, kalo nggak aku sendirian jemput ibu disekolah" pandang Zivannya, Langit segera berlari masuk kedalam rumah untuk membersihkan badannya agar dapat menemani istrinya pergi. ia tidak rela jika nanti Zivannya digoda laki-laki lain.
Langit segera mengunci pintu dan mendapati istrinya sedang melihat sosial media miliknya diteras rumah. "tumben" towel hidung Langit melihat layar ponsel istrinya, Zivannya tersenyum dan segera meloncat untuk meminta Langit membawa tubuhnya dibelakang punggung menuju mobil. Langit tergelak menahan pantat istrinya agar tidak jatuh. "yang, abis jemput ibu mau kemana" tanya Langit menjalankan mobil dengan pelan.
"makan, lapar kak. ibu juga pasti kaget melihat kita pulang" senyum Zivannya. mobil tak lama memasuki halaman depan sekolah yang cukup luas. Langit keluar terlebih dahulu disusul Zivannya kemudian. Langit berjalan masuk kedalam gedung sekolah sedangkan Zivannya memilih untuk menepi di kantin yang terlihat ramai dengan anak sekolah. ia memilih beberapa makanan kecil yang berada di kantin.
"eh nak Zi, jemput ibu. apa sendirian" tanya penjaga kantin yang mengenali Zivannya, "iya bu, jemput ibu. kebetulan dengan kak Langit yang sudah pulang dinas" senyum Zivannya duduk sambil membuka makanan kecilnya satu. ibu penjaga kantin duduk disamping Zivannya menemaninya mengobrol, beberapa anak laki-laki yang sedang berada di kantin memperhatikan penampilan Zivannya yang menarik perhatian. Zivannya hanya diam dan tidak memberi reaksi apapun.
"kalian mau nggak" perlihatkan makanan Zivannya pada akhirnya melihat gerombolan anak laki-laki yang sedang berada di kantin. mereka segera berhamburan menghampiri Zivannya untuk mengambil makanan yang ditawarkan kepada mereka dan mengucapkan terimakasih kepadanya.
"kapan datang lagi nak" tanya ibu penjaga kantin, Langit terlihat mendekat kearah kantin yang sedang ramai oleh anak sekolah dan dimana istrinya berada.
"ibu masih mengajar satu jam lagi, apakah mau menunggu atau kita keluar dulu sebentar" usap kepala Langit, Zivannya mendongak menatap Langit yang menjulang tinggi disampingnya, beberapa anak sekolah memperhatikan interaksi antar mereka berdua karena tidak mengenal siapa mereka dan kenapa ada disekolah mereka, ia menggeleng. "kita tunggu sebentar, satu jam tidak lama untuk sekolah" senyum Zivannya, Langit segera duduk disamping istrinya itu meraih makanan kecil yang ada ditangan Zivannya. Langit melihat panggilan dilayar ponselnya dan memperlihatkan kepada Zivannya yang segera mengangguk.
"hallo, Bas" salam Langit. ia menoleh melihat Zivannya yang sedang memakan makanan kecil khas kantin.
"aku baru saja turun lho Bas, kenapa sudah ada jadwal baru untukku" kata Langit menahan nafas.
"kenapa harus dua hari lagi, berarti nanti malam aku pulang. ini baru nyampe Malang, Bas" protes Langit menatap istrinya yang juga menatapnya.
"tiga hari, dua hari lagi aku pulang" ucap Langit, ia menghela nafas panjang mendengar jawaban Baskara dari seberang sebelum menutup panggilan.
"Senin sudah menghadap dipusat karena ada pergantian pemimpin tertinggi negara, jadi minggu pagi udah harus sampai" toleh Langit, Zivannya mengangguk menegakkan punggungnya mendengar kabar dari Langit, "tidak apa, by. itu panggilan jiwamu kan" senyum Zivannya, Langit tertawa sarkas memandang istrinya. "kamu sedang meledekku atau menyemangati ku, yang" tatap Langit. Zivannya tertawa melihat suaminya.
"kenapa, apa kamu merasa aku sedang meledekmu. aku justru menyemangati mu karena aku merasa itu keren" jawab Zivannya, Langit meraih botol air mineral Zivannya yang diletakkan disebelahnya seraya mencuri ciuman di pipinya, Zivannya hanya menghela nafasnya bersikap tenang karena ada anak-anak sekolah yang masih ada disekitar kantin. Langit mengulum senyum melihat kelakuan istrinya.
"lho, ibu belum pulang nak Langit" tanya ibu penjaga kantin yang keluar dari dalam. Langit tersenyum menggeleng, "belum bu, masih ada satu jam pelajaran lagi. makanya kita nunggu disini" jawab Langit, ibu penjaga kantin tersenyum melihat mereka berdua disini.
__ADS_1
"senang kalo melihat kalian sering mengunjungi ibu kalian, ibu terlihat gembira" cerita ibu penjaga kantin. Langit sedikit menaikkan alis mata kirinya saat mendengar ucapan ibu penjaga kantin.
"bukan bermaksud apa-apa nak Langit, ketika nak Langit bertugas jauh dulu di negara orang selama bertahun-tahun, ibu terlihat murung jika mengingat nak Langit yang jauh. perasaan seorang ibu memang tidak bisa tergantikan walau kelihatan baik-baik saja tapi batinnya akan berkata sebaliknya penuh dengan kekhawatiran" senyum ibu penjaga kantin.
"saat tahu kalian menikah juga ibu terlihat bersemangat sekali, ceria wajahnya. jadi senang kalo melihat ibu nak Langit begitu" tambah ibu penjaga kantin. Langit menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"untung ya, ketemu nak Zi. tidak jadi sama yang sering kerumah, sekarang suka gonta-ganti pasangan katanya. entah kenapa" cerita ibu penjaga kantin. Zivannya terdiam dan berhenti memakan makanan kecilnya sesaat menundukkan kepalanya tanpa mau ikut dalam obrolan mereka berdua.
"jodoh, bu. walau jauh kalo memang sudah jodoh pasti akan ketemu juga, mau gimana lagi kan. walaupun dekat kalo memang bukan jodohnya dipaksakan juga tidak akan berhasil. mau dibilang apa ya bu" senyum Langit, ibu penjaga kantin tersenyum.
"benar nak, itu semua rahasia Tuhan. siapa mengira malah ketemu di kota lain padahal tugasnya dikota lain" angguk ibu penjaga kantin.
"nah, itu bu. nggak nyangka kalo punya jodoh lain kota" senyum Langit. Zivannya menegakkan punggungnya yang terasa pegal, Langit mengulurkan tangannya memijit pelan pinggang istrinya yang terlihat letih.
"naik kendaraan sendiri sampai sini apa nak Zi" lihat ibu penjaga kantin, Zivannya tersenyum mengangguk.
"dia jemput saya di Surabaya setelah sebulan dinas di negara orang lagi bu, langsung ke Jogja dan ini mau ketemu ibu dulu sebelum balik ke Jakarta untuk dinas lagi bu" angguk Langit.
"semoga segera diberi momongan ya nak, biar tambah lengkap keluarganya" pandang ibu penjaga kantin.
"terimakasih atas doanya bu, kita pinginnya secepatnya dikasih bu. tapi malah sering saya tinggal dinas ini bu, jadi belum tenang pikirannya, kasihan kalo saya nggak bisa menemani nanti" senyum Langit, ibu penjaga kantin tertawa terbahak-bahak.
"iya ya nak. kalau sendiri memang sebaiknya jangan, orang buatnya berdua kok pas badannya sakit ditinggal sendirian. nggak adil namanya" kata ibu penjaga kantin. mereka tertawa saling berpandangan.
"apakah sangat sakit bu" tanya Langit penasaran, ibu penjaga kantin terdiam sebentar.
"sebenarnya kalo dibilang sakit ya sakit. nggak sakit juga nggak sih nak, buktinya banyak yang punya anak lebih dari satu bukan. saat tubuh berubah karena kehamilan biasanya badan akan menyesuaikan. di tiga bulan pertama akan mual dan muntah setiap hari, sangat rawan untuk ibu hamil dan nanti saat akan melahirkan seperti mengalami banyak tulang yang dipatahkan secara bersamaan" jawab ibu penjaga kantin pelan menatap Zivannya, Langit melebarkan matanya menoleh menatap Zivannya yang terlihat tenang.
"apakah sampai segitunya bu" tanya Langit penasaran, ibu penjaga kantin mengangguk pelan. "tidak semua perempuan memiliki pengalaman sama lho ya nak Langit, setiap perempuan akan memiliki cerita sendiri-sendiri di setiap kehamilan nya. namun perjalanan periodenya semuanya sama, trimester pertama, kedua dan terakhir. mereka akan mengalami perubahan hormon, emosi maupun tubuh sesuai dengan usia kehamilan nya" jawab ibu penjaga kantin.
"makanya, nanti kalo kalian berdua sudah diberi kepercayaan mempunyai penerus, saling menjaga karena seorang ibu tidak bisa istirahat dan meletakkan perutnya yang semakin besar begitu saja kalau capek dan lelah" goda ibu penjaga kantin, Zivannya tersenyum lebar mengangguk. Langit hanya terdiam mendengar perkataan ibu penjaga kantin.
__ADS_1
"aahh, itu ibu udah terlihat, by" toleh Zivannya, Langit mengikuti arah pandangan istrinya dan segera beranjak untuk membantu ibunya. Zivannya segera mengemasi makanan kecilnya dan berpamitan segera kepada ibu penjaga kantin untuk menyusul ibu dan Langit.
"kalian berdua di kantin tho" senyum lebar ibu melihat Zivannya yang setengah berlari keluar dari kantin. Langit tersenyum menatap ibunya yang terlihat gembira, Zivannya memberi salam kepada ibu Danti dan memeluk pelan. "beli apa Zi" tawa ibu melihat tentengan yang dibawa Zivannya, Zivannya tersenyum melihat kantong yang dibawanya. "makanan kecil, bu. bareng anak-anak yang baru istirahat tadi" senyum Zivannya, ibu tertawa mengusap kepala Zivannya yang diikat ekor kuda.
"udah makan belum kalian" toleh ibu menatap bergantian mereka berdua. Zivannya menggeleng berjalan disamping ibu yang lain.
"mau makan dimana bu, belum makan dari tadi. kak Langit nggak mau berhenti untuk makan" kerucut mulut Zivannya melirik Langit.
"ish, bolak-balik ditawari kalo pas lagi bangun bilangnya nggak laper. lha ini kalo ada ibu lapornya nggak main-main, yang" lihat Langit ingin menggigit mulut Zivannya yang lemes. Zivannya menjulurkan lidahnya dari seberang tubuh ibu yang melindungi dirinya dari serangan Langit. ibu tergelak melihat tingkah kedua anaknya yang tidak lihat-lihat tempat. "nggak enak diliat anak-anak. udah gede punya anak buah masih aja kayak nggak punya istri" tepuk bahu ibu melihat putranya. Zivannya tergelak melihat suaminya yang mati kutu disamping ibu, Langit tersenyum memeluk bahu ibunya dan menjauhkan badan Zivannya dari sisi ibunya. Zivannya memukul lengan tangan suaminya kesal, "main fisik nih bapak, tau kalo banyak latihan fisik jadi badannya nggak gampang goyah. main dorong aja" pandang Zivannya.
"udah ah, yuk Zi. kita masuk duluan, anak ini becanda nya suka nggak di rem" kata ibu menatap Langit dan segera meraih bahu Zivannya untuk berjalan lebih cepat meninggalkan Langit.
"bu, yang. jangan ditinggal kenapa" lihat Langit yang tertinggal dibelakang. Zivannya segera membuka pintu untuk ibu masuk kedalam kendaraan.
"mau makan dimana bu, ada tempat baru nggak" senyum Zivannya memakai seat belt.
"belum nak, ibu udah nanya sama anak-anak waktu mengajar, mereka ngasih tau beberapa tempat yang biasa buat ketemuan" jawab ibu. Zivannya mengangguk menanti Langit untuk masuk kedalam.
"mau makan kemana" masuk Langit mulai start engine kendaraan. Zivannya memperlihatkan lokasi tempat makan mereka kali ini lewat ponselnya, Langit segera meletakkan ponselnya istrinya kembali. "aku tahu tempatnya" toleh Langit sesaat dan segera melajukan mobilnya kembali ke jalan raya.
"tadi siang kita sampai rumah bu, trus membersihkan diri dulu baru ke sekolah ibu, anak ini udah duluan nongkrong di kantin" cerita Langit, ibu tersenyum. "baru aja ikutan nongkrong, Baskara udah langsung nge gas aja ngasih perintah dari komandan, besuk Senin pagi udah harus sampai Jakarta karena ada upacara kenegaraan pergantian pimpinan tinggi negara. sekarang dari kesatuan Langit bu dan Langit harus wajib hadir" cerita Langit.
"sepertinya kedepan kamu akan bertambah sibuk Lang" tatap ibu dari kursi belakang, langit mengangguk. "pasti bu, karena komandan menaruh harapan dipundak Langit saat ini. makanya kemarin sebelum pergantian pucuk pimpinan, Langit diharuskan untuk mencari pendamping agar tidak ada yang mengganggu dan nantinya istri Langit akan menemani ibu ketua pimpinan kemana-mana" angguk Langit, Zivannya berjenggot kaget menatap suaminya.
"tidak setiap saat yang, tapi kamu memang juga kebanggaan ibu ketua. dia menyukaimu saat melihatmu" toleh Langit, ibu tersenyum. "bagus, jika kalian bisa saling memberi support. ibu memberi restu agar kalian selalu diberkahi langkah yang ringan dan kesehatan dalam menjalankan amanah. ingat untuk selalu memberi kabar dan pesan karena kunci berumah tangga adalah komunikasi yang baik diantara kalian berdua" ingatkan ibu, Zivannya mengangguk patuh.
Hai..... Hai..... Hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1