
kenapa kak" tepuk punggung Zivannya pelan, Aga menggeleng.
"emang dek Aga nggak kamu ajak juga" tanya mentari melirik Aga.
"nggak kak, belum ijin sama mama jika ada kak Aga" geleng Zivannya pelan.
"kenapa, dek Aga suka maksa kamu biar mau kan" tanya Mentari, Zivannya mengangguk mengiyakan.
"nah, maka dari itu kak, Zivannya udah bilang untuk cari yang lebih dari Zi aja, biar nggak kelamaan" kata Zivannya.
"kalo ngomong suka lemes nih mulut, kelamaan apaan sekarang aja aku bawa ke penghulu juga bisa" towel pipi Aga, Zivannya menjulurkan lidahnya mengejek.
"kamu dipaksa ya jadiannya" todong Valerie. Zivannya nyengir.
"nah loh... anak orang dipaksa. dimarahin baru tau rasa" goda Ayah melihat Aga.
"kalo nggak dipaksa nggak mau yah, nanti Aga nggak punya kekasih dong yah, mau anak ayah jadi jomblo terus" kata Aga membela diri.
"kalo ngomong mulutnya nggak ditata nih adek, kan ada tuh siapa itu anak temen bunda yang kayak ulet keket, nempel aja kalo Aga kemana-mana... tau-tau udah disitu" tanya Mentari ke bundanya.
"aduh lupa bunda, siapa itu namanya, kakak sih ngasih julukan ulet keket, jadi bunda hafalnya juga ulet keket aja" geleng kepala bunda yang membuat mereka tertawa melihat ekspresi bunda, karena tahu orangnya tapi lupa dengan namanya.
"ihhh... nggak mau Aga sama model kayak gitu, kemarin malam kita ketemu dia, saat makan mie rebus. kalo sama Zivannya mau" geleng kepala Aga merasa ngeri.
"berarti Zivannya udah liat bentukannya dong" pandang bunda kepo melihat Zivannya.
"udah Tante, orangnya cantik" angguk Zivannya, Aga menyentil kening Zivannya pelan.
"ya iyalah cantik, kalo laki ya tampan" senyum Aga, Zivannya mengelus keningnya.
"udah ah... makan yang banyak Zi, biar agak gendutan, nggak kayak mereka berdua, badan nya nggak ada yang gendut. suami mereka nggak ngasih duit lebih buat istrinya makan enak kali ya Zi" sodorkan lauk bunda kedepan Zivannya yang tertawa pelan.
"dah cukup Tante, Zi juga nggak bisa makan banyak. bukannya takut gendut emang nggak bisa gendut makannya memang dikit-dikit tapi nggak berhenti" geleng Zivannya memandang Mentari dan Valerie.
"tuh bund, bener kata Zi, memang porsinya badan segini aja. ya kan Zi" senyum mentari mencari dukungan, Zivannya tertawa mengangguk.
"punya anak gadis tiga kompakan aja, mainnya keroyokan. nggak asik nih, masak nggak ada yang bisa ditowel pipinya" cemberut bunda.
"sakit Uti jika dicubit pipinya" pandang Raka yang menguyah makanannya. bunda tersenyum mencium kedua pipi Raka yang menggembung karena berisi makanan.
"iya, maafin Uti, Raka sering diciumin sama Uti jadi kempes nih pipi" suapi bunda. Raka manggut-manggut.
"iihhh.... Raka imut sih, sini sama onty aja" gemas Zivannya melihat wajah Raka yang lucu.
"udah makan dulu, nanti bisa buat sendiri kayak Raka" kata Aga. Zivannya tersedak mendengar Aga yang asal ngomong, Aga tersenyum lebar.
"Ayah nginep dimana" tanya Aga setelah selesai makan. "ya dimana lagi, kalo nggak dirumah yang sengaja kamu kosongin. jadi anak kok nggak mau njagain rumah" pandang Ayah.
"bukannya nggak mau yah, jauh kalo harus bolak-balik sana, tadi kita abis dari sana yah. ini aja mau pindah lagi. yang deket kampus nya Zi" senyum-senyum Aga.
"alasan adek aja itu yah, itu mah mau kamu dek, modus" kata Dirgantara.
__ADS_1
"tapi ngomong-ngomong yang membuat Zi penasaran kenapa kak Matahari bisa akrab sama kak Aga dan kak Dirgantara sih, dari kesatuan yang sama nggak" kerut Zivannya melihat mereka bertiga.
"nggak dek, ketemu pas latihan aja. Matahari di laut, aku di udara dan Aga di kepolisian, Matahari lebih tua satu tahun diatasku" geleng dirgantara.
"mereka bertiga hanya selisih usia dua tahun Zi, bunda setiap dua tahun lahir anak satu" tawa bunda. Zivannya mengangguk mengerti.
"senang Tante jika punya saudara banyak jadi rame, daripada sendirian seperti Zi" kata Zivannya mengelus rambut adiknya Raka.
"iya, kalo berantem disekolah dua-duanya ikut serta. jadi pusing kalo kesekolah" senyum bunda, Zivannya tertawa pelan.
"siap-siap punya anak banyak nih Zi, biar rame. keenakan Aga nanti lembur terus" goda Matahari. Aga mengacungkan ibu jarinya tanda Ok, mereka tertawa.
"kak Matahari katanya jaga perbatasan dunia. kenapa udah disini" tanya Zivannya.
"tadi malam baru sampai Indonesia dek, langsung turun disini karena mentari sudah disini duluan" senyum Matahari.
sore hari
"ambil bajunya nggak usah banyak-banyak Zi" ingatkan Aga sebelum Zivannya masuk kekamar kostan.
"iya kak, udah lebih dari tiga kali ngengetinnya" hembus nafas Zivannya kesal. Aga mengangguk nyengir.
Zivannya berpamitan dengan ibu kost untuk pulang agak lama karena ada acara dirumah tempat tinggalnya, setelah mengemasi bawaannya Zivannya segera kembali kemobil Aga.
"udah semua kak, anter aku ketempat travel aja sekalian" kata Zivannya meletakkan ranselnya dibelakang.
"mampir ke apartement dulu aja. besuk pagi berangkatnya. nggak baik malam-malam berangkat sendirian, ato mau nyetir aja kesana sendirian" tanya Aga.
"besuk pagi-pagi berangkatnya, aku antar langsung ke tempat travel. kalo malam ini aku nggak ngijinin" jawab Aga melajukan mobilnya melewati jalanan padat.
"aku mau pulang sekarang kak" pandang Zivannya nggak mau kalah. Aga menatap Zivannya sesaat.
"baik. aku antar kamu kesana" kata Aga mengalah. Zivannya menyandarkan kepalanya memandang jalanan yang setiap hari dilaluinya saat kekampus.
"udah sampai Zi" sentuh bahu Aga pelan, Zivannya membuka matanya. "makasih kak, nanti aku kasih kabar jika dah sampai rumah. terimakasih sudah mengantar sampai sini" toleh Zivannya. Aga mengangguk.
"berapa hari kamu disana" tanya Aga membuka seat belt Zivannya.
"pinginnya sampai masuk kuliah aja kak, lama nggak pulang dan healing dirumah" senyum Zivannya membuka pintu. Aga mengikuti langkah Zivannya menuju kantor agen travel. Zivannya segera memesan tiket dan menunggu untuk pemberangkatan, Aga menemani Zivannya menunggu keberangkatan.
"biasa berangkat dari sini Zi" tanya Aga. Zivannya mengangguk. "biasanya motor dititipin ditempat Rara, diantar Dimas kesini. kalo sama Rara kebanyakan drama pake nangis segala seringnya. jadi Dimas yang ngantar pake motorku nanti ditaruh ditempat Rara" senyum Zivannya mengingat dua sahabatnya.
"nggak ngabari mereka berdua Zi, nanti Rara nyariin" kata Aga. Zivannya segera mengeluarkan ponselnya menghubungi Rara, namun tidak diangkat juga.
"mungkin baru tidur kak, anak itu hobinya tidur juga. hehehehe.... "cengir Zivannya sambil menulis pesan buat Rara.
"besuk dinas kak" tanya Zivannya, Aga mengangguk pelan.
"jangan matiin ponselnya Zi, selama dalam perjalanan, ini headset agar lebih mudah menghubungiku" serah kotak kecil Aga. Zivannya mengambil dari tangan Aga.
"makasih kak, kamu selalu memberikan yang terbaik kepadaku" senyum Zivannya, memasang ditelinganya dan men setting ponselnya kembali. Aga mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Zivannya. "sip kak" angguk Zivannya. Aga memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana jeans.
__ADS_1
"kamu nggak papa Zi jalan malam hari" tanya Aga memastikan keadaan Zivannya sebelum berangkat.
"nggak papa kak, udah biasa juga, kemana-mana juga sendiri. makanya aku memilih untuk sendiri dulu sementara, nemenin mama yang sendiri juga membuatku lebih kuat kak. it's make me stronger" senyum Zivannya. Aga terdiam mendengar ucapan Zivannya. "berarti kamu akan ketemu dengan pacarmu yang membuat patah hati Zi" tanya Aga tiba-tiba teringat.
Zivannya tertawa kecil, "inget aja sih kak, bukan kekasihku, kita belum sedekat itu, hanya saling menyukai. tapi karena satu dan lain hal kami nggak bisa bersama karena perbedaan pandangan tentang masa depan. kan aku udah cerita" geleng Zivannya, Aga mengangguk pelan.
"mobil travelnya udah datang kak, aku harus naik dan berangkat sekarang" tunjuk Zivannya kesebuah mobil besar.
"baiklah, hati-hati dijalan. jika aku menghubungi jangan coba-coba dimatikan" acak rambut Aga. Zivannya mengangguk mencium tangan Aga sebelum berjalan menuju mobil.
"hati-hati Zi" kecup kening Aga. Zivannya melambaikan tangan menjauh dari Aga masuk kedalam mobil travel yang membawanya kerumah yang dirindukannya. mobil yang membawa Zivannya berjalan pelan menjauh. Aga segera pergi dari situ dan melajukan mobilnya menuju kesatuan tempatnya bertugas.
jam 2 pagi
Aga menghubungi Zivannya, "baik-baik aja kan Zi" sapa Aga segera setelah terhubung dengan ponsel Zivannya.
"hmmm... gumam Zivannya yang melihat jalanan diluar.
"apa kamu tidak tidur, ini udah dini hari lho, kamu bisa sakit nanti" kata Aga.
"bentar lagi paling kak, kalo mau pagi hari mata berasa lengket. jadi bisa tidur sebentar, jangan kuatir masih terkendali" rapat jaket Zivannya.
"kira-kira berapa lama sampai rumah" tanya Aga.
"mungkin jam 10 atau 12 kak, tergantung macet atau nggak" jawab Zivannya.
"baiklah. aku tutup dulu, jika terjadi sesuatu kabari aku segera" kata Aga.
"86 kak" matikan Zivannya sembari melihat kegelapan malam diluar jendela mobil yang pekat. Zivannya terdiam menikmati suasana malam yang tenang, seperti saat dirinya belum bertemu Bagaskara.
jam 8 pagi
"hallo kak" serak Zivannya membuka mata.
"kamu tidur Zi" salam Aga, Zivannya berdehem.
"selepas kewajiban, aku tertidur kak, belum lama" kata Zivannya setelah minum mineral.
"baiklah, aku akan berangkat ke kesatuan jika kamu dah sampai kabari" tutup Aga. Zivannya mengusap wajahnya dan kembali bersandar di jendela kaca memandang lepas kedepan.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1