Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 64


__ADS_3

Aga dan Zivannya telah lama pindah kerumah orangtuanya yang berada tidak jauh dari kampus Zivannya, apartement Aga dijual karena akan pindah tugas. semua kendaraan sudah terjual hanya tinggal mobil kecil yang biasa Zivannya pakai untuk kuliah, itupun Aga memaksa Zivannya memakainya, karena Zivannya lebih suka naik motor lakinya. mereka akan berangkat 3 hari lagi untuk liburan ke raja Ampat sesuai dengan keinginan Zivannya.


selama setengah tahun Aga dan Zivannya cepat untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan para tetangga karena saat ayah dan bunda kesini, Aga dan Zivannya sudah diperkenalkan kepada warga sekitar dan tetangga yang berada dikanan-kirinya.


bunda memberi waktu Aga dan Zivannya untuk mengadakan upacara pernikahan setelah Zivannya selesai skripsi yang tinggal sebentar lagi dan menunggu Aga untuk menyesuaikan diri di tempat tugasnya yang baru. setelah itu tidak ada alasan lagi untuk bunda mendengarkan mereka menunda-nunda perayaan pernikahannya. Zivannya bisa bernafas lega setelah bunda mengeluarkan pernyataannya.


mereka kembali dari tempat ibadah bersama dengan para tetangga menunaikan kewajiban pagi hari. "mau jalan pagi nggak yang, sering lewat lho bapak-bapak dengan keluarganya pada jalan-jalan atau olahraga" kata Aga masuk rumah dan merapikan peralatan yang dipakainya melaksanakan kewajiban.


"iya, Zi ganti dulu" angguk Zivannya, merapikan peralatan, memakai joger pants serta t shirt. mengikat rambutnya ekor kuda. Aga menerima joger pants dari tangan Zivannya.


"mau pake sepatu yang mana by" tanya Zivannya, Aga mengambil sepatu biru tua dan memakainya didepan rumah, Zivannya mengunci pintu, memakai sepatu lari dan melakukan peregangan.


"mama kapan ada acara lagi yang" tanya Aga. Zivannya memberi isyarat dengan jarinya tiga, Aga mengangguk dan berjalan pelan melakukan peregangan.


mereka berjalan kelapangan yang sudah agak rame dengan orang-orang yang ingin berolahraga pagi. hari ini hari Minggu, banyak orang yang libur bekerja dan sekolah.


Zivannya sering bertegur sapa dengan ibu-ibu yang lain. mereka diam-diam selalu menggosipkan Aga dan Zivannya yang masih muda tapi sudah menikah, kelihatan cocok, apa sudah hamil duluan dan lain sebagainya. terkadang Zivannya hanya tersenyum ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dibelakangnya. tapi semua hanya Zivannya dengar sambil lalu karena mereka termasuk orang baru di situ dan masih terbilang cukup muda untuk menikah yang pindah dilingkungan yang beragam. mereka hanya tau jika Aga berprofesi sebagai seorang polisi dan Zivannya yang anak kuliahan.


"by, aku capek" berhenti Zivannya separuh jalan untuk putaran keduanya, Aga mengangguk, mengusap rambut Zivannya berlari kecil keliling pinggir lapangan. Zivannya duduk dipinggir dengan beralas rumput berteduh dibawah pohon rindang, menatap sekitar yang ramai dengan orang jualan dan orang-orang yang menghabiskan hari minggu paginya dengan keluarga.


Aga berhenti setelah dua putaran keliling lapangan. "yang, jalan pulang" berdiri Aga mengatur nafas. Zivannya beranjak dibantu Aga, membersihkan bagian belakang tubuh Zivannya yang duduk dirumput.


"kita keliling cari sarapan nggak yang" taut jemari Aga, Zivannya menunjuk beberapa deretan penjual yang berjualan dipinggir jalan. mereka melihat dari seberang jalan dan memilih beberapa makanan sebelum menyeberang untuk membeli makanan.


"Zi..." teriak Rara, mereka melihat kearah Rara dan Dimas yang melaju pelan menuju ke arah Zivannya.


"kalian mau kemana" tanya Zivannya setelah mereka mendekat.


"kerumahmu lah, mau kemana lagi. kalian abis olahraga. aaahhh.... so sweet banget sih couple kita ini" kata Rara lebay. Zivannya menoyor bahu Rara. "jalan gih. temeni laki ku pulang kerumah, Deket juga" pandang Zivannya, Dimas segera turun dan menemani langkah Aga berjalan menjauh.


"nggak usah beli makanan Zi, aku tau kamu pasti kelaperan" perlihatkan bawaan Rara. Zivannya melajukan motor Dimas pelan.


"semangat para lelaki ganteng" kata Rara melewati Aga dan Dimas, mereka tersenyum.


tiba dirumah Rara turun dan membuka pagar rumah, Zivannya memarkir didepan pintu garasi. melangkah ke samping kanan dan membuka kunci rumah.


"rumahmu nyaman juga Zi" lihat Rara. "besuk kosong lagi kalo aku nyusul kak Aga" kata Zivannya menuju dapur, mengambil peralatan makan dan meletakkan di karpet depan TV. "Ra, ambilin meja lipat itu kata Zivannya. Rara meraih meja lipat dan meletakkannya ditengah, Zivannya segera menata makanan yang dibawa Rara tadi.


"kebiasaan deh kamu Ra, selalu beli makanan yang diluar porsi" lihat Zivannya, Rara nyengir dan mencomot kudapan kue.

__ADS_1


"kan kita banyak Zi, siapa tau nanti ada yang datang" kata Rara, Zivannya mengambil pitcher dan membuat jeruk dingin.


"aku letakkan minumannya disini, itu sudah penuh dengan makanan" jawab Zivannya, Rara menoleh dan melihat Zivannya menata gelas dan pitcher di meja pantry. "mereka kok belum sampai Zi" tanya Rara melihat pintu.


"bentar lagi paling Ra" duduk Zivannya meluruskan kaki sambil meminum jeruk dinginnya.


Aga dan Dimas sudah datang, "baru aja aku selesai ngomong kok belum datang" toleh Rara meminum jeruk dingin, Aga meraih gelas air mineral dan meminumnya sampai habis.


"desain rumah seperti apartement mu kemarin kak" lihat Dimas sembari keliling rumah.


"bedanya ada kebun belakang, bisa untuk healing" buka pintu Dimas, Aga mengangguk.


"aku suka disini daripada disana" kata Aga, Dimas mengangguk. "bener kak, disini serasa lebih hidup kan, kalo diapartement sunyi sepi, kalo disini dengar tetangga pada ngobrol" kata Dimas duduk dikursi taman, Aga melihat Zivannya membawa tempat berisi makanan kecil. "Rara yang beli, jadi kita ngirit hari ini" senyum Zivannya, Aga tertawa. "bisa-bisa nanti uangmu utuh dong kalo Rara sering kesini, untuk makan aja dia yang bayarin" kata Aga mengusap pipi Zivannya. "ishhh kak, mana mau dia. dari dulu katanya bayar sendiri-sendiri aja. dia nggak mau ngrepotin orang lain" kata Rara datang membawa jeruk dingin. "kalo ngerjain tugas disini, asik juga ya dim. diluar tapi serasa didalam. weisss.... jadi favorit tempat nongkrong nih" kata Rara duduk dirumput sintesis. Zivannya pamit untuk membersihkan dirinya sebentar, Aga menahan tangan Zivannya. "ikut" rajuk Aga, Zivannya mengangguk. Rara berdehem kepanasan, Zivannya menjulurkan lidahnya "makanya halalin dong" kata Zivannya, Rara tertawa.


"awas kamu Zi, rasakan pembalasanku besuk" seru Rara, Zivannya melambaikan tangannya menyusul Aga.


Dimas mendekati Rara dan mengobrol sambil merebahkan dirinya diatas rumput, "bahagia banget Zi dapat kak Aga, paket komplit, ganteng, baik, menerima Zi apa adanya, kaya lagi" hembus nafas Rara.


"semoga kebaikan selalu bersama mereka ya Ra, Zivannya anak yang baik. nggak neko-neko" pandang Dimas. "he em" terawang Rara menatap langit yang cerah.


"semoga mereka bersama sampai akhir dan segera diberi momongan. lucu kali ya melihat Zivannya bawa anak dan dikira nanti adiknya" kata Rara tertawa membayangkan Zivannya punya anak cewek yang mirip dengan Aga. "kamu nggak mau begitu juga Ra" tanya Dimas.


"kamu ingin aku nyari duit yang banyak dulu baru kita menikah kan... gitu kan..." acak rambut Dimas, Rara tertawa, "harta itu penting dim. tapi bukan tolak ukur untuk bahagia. kamu nggak liat apa, keluargaku gimana, yang aku punya itu hanya kamu dan Zivannya. hanya kalian yang membuatku waras ditengah keluarga ku yang gila cari harta dan kesenangan diluar" kata Rara muram. Dimas memeluk tubuh Rara yang duduk disampingnya.


"maafkan aku Ra" kata Dimas, Rara tersenyum dan menggeleng sesaat kemudian. "lupakan, nggak usah dibahas bikin pusing nanti. kita sarapan yuk. Zi kan dua hari lagi udah berangkat liburan, sayangnya kita nggak boleh ikut" sedih Rara.


"jadi kita besuk kesini lagi, ikut makan disini lagi" kata Rara.


"kenapa nggak disini aja Ra, nginep sekalian" tanya Dimas.


"ogah, nanti denger suara bising tengah malam. mereka yang enak-enak, aku merana sendirian di kamar" kata Rara minum jeruk dingin.


"apaan" datang Zivannya dengan tampilan yang sudah segar.


"lama banget sih Zi mandinya, mandi apa mandiin sih Zi" sarkas Rara, Zivannya nyengir meminum jeruk dinginnya.


"kita makan yuk guys, lapar abis lari tadi" anjak Zivannya masuk kedalam, Dimas dan Rara mengikuti Zivannya, Aga barusan keluar kamar.


"sarapan by" letak Zivannya didepan Aga. Aga segera memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"besuk kalian berangkat jam berapa" tanya Rara, "pagi Ra, rencananya naik taksi online aja biar gampang ke bandara nya." jawab Zivannya. Rara menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.


"no.. no... big no... aku dan Dimas yang akan mengawal kalian sampai bandara. aku nginep sini besuk" kata Rara menghentikan sarapannya.


Zivannya menoleh ke arah Aga yang mengangguk mengiyakan.


"tuh big bos aja setuju" tunjuk Rara antusias, Dimas menyuruh Rara untuk makan lagi dan jangan ngobrol, Zivannya mengambil bungkusan nasi uduk yang dibeli Rara "by, kebanyakan" kata Zivannya, Aga memakan terlebih dahulu nasi uduk Zivannya setengah porsi baru melanjutkan makannya lagi.


"kamu tuh sekarang makan mesti sama kak Aga" kata Rara, Zivannya mengangguk. "he em, nggak tau kenapa. waktu KKN kemarin kalo mau makan aku tersiksa banget Ra" angguk Zivannya, "kenapa tuh" tanya Rara pingin tau.


"porsi nasiku hanya 4-5 suap nasi. itu waktu nelannya... oh God... susah banget, sampai ibu kepala desa nangis liat makanku yang dikit banget. makanya disana aku yang paling diperhatikan, anaknya cewek yang masih sekolah tingkat pertama, setiap hari pulang sekolah disuruh beli roti, just for me, nggak ada yang berani nyentuh. taruhannya ngadep pak kepala desa" senyum Zivannya.


"pantesan, kamu kurus banget tau Zi, aku sampai lupa kamu itu manusia apa bukan" sarkas Rara. Zivannya menjulurkan lidahnya. "masih sama aja tuh kayaknya beratku waktu pulang dulu" kata Zivannya.


"apanya, pipinya hilang, tangannya cuman tulang" kata Rara sarkas.


"ketemu kak Aga jadi pulih lagi dong" goda Rara, "hmmm" angguk Zivannya.


"terus nanti kalo ditinggal tugas gimana dong" tanya Rara pelan.


"nggak papa, kan aku tugas jadi kamu harus makan dengan benar jadi biar punya tenaga untuk menemui ku nanti" angguk Aga mengelus paha kaki Zivannya, Zivannya tersenyum.


"jadi aku disana juga tenang meninggalkanmu dalam kondisi yang baik, aku tambah semangat nyari duitnya" Aga, Zivannya tertawa.


"semangat suamiku, tugas negara lho, biar kita habiskan buat liburan aja berdua nanti" kata Zivannya melingkarkan tangannya dileher Aga, mengecup keningnya lembut. Aga mengangguk.


"nih.... gini nih... yang bikin aku nggak mau nginep, terlalu bucin kalian berdua, kan aku jadi baper" sarkas Rara, Zivannya memeluk Aga.


"biarin. udah sah juga" kata Zivannya balik.


"cakep" kata Dimas memberi tanda Ok. Rara memukul bahu Dimas, Dimas mengerang kesakitan.


"kamu itu suka aku kan, kenapa setiap kali kamu malah membela Zivannya daripada aku, ya walau aku yang mulai tapi kan dia yang selalu menang. harusnya kamu membela ku dong dim" kata Rara, Dimas tersenyum. Zivannya dengan tenang memakan makanannya.


"yang, ambilin jeruk dingin" kata Aga, Zivannya beranjak dari duduknya mengambil pitcher jeruk dingin dan gelasnya tadi. Dimas dan Rara masih terlibat pertengkaran yang tak berujung.


hai....hai... para readers...


dukung terus ya karyaku, dengan dukungan kalian semua jadi tambah semangat untuk terus update setiap hari...

__ADS_1


luv...luv...luv U all readers. terimakasih....


__ADS_2