Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 170


__ADS_3

Langit tertawa lebar mendengar Baskara menggerutu. "jangan lupa untuk selalu mengabari penggantiku selama aku tidak ada" pandang Langit saat Baskara menaiki motor dinasnya, Baskara mengangguk.


"Zi akan keluar kota saat aku tidak ada disini, Bas. Ke Malang, Jogja dan ketempat kelahirannya" kata Langit, Baskara menatap Langit.


"apa dia tidak akan ada di Jakarta" kerut Baskara, Langit menghela nafasnya panjang. "ingatkan dia jika harus menghadiri pertemuan di kesatuan" kata Langit.


"kemungkinan dia akan selalu bersama Rara" kata Langit.


"apa kamu lupa, Rara berada di Surabaya minggu-minggu ini karena magang" tatap Baskara, Langit terdiam sesaat.


"berarti jika nanti dia ada di Jogja akan sendirian" tanya Langit tersadar, Baskara mengangguk.


"tidak, nanti akan bersama Rara karena dia tidak akan sepenuhnya berada di Surabaya. Kami sudah saling mencocokkan jadwal sebelum melakukan trip" datang Zivannya tiba-tiba, Langit menoleh dengan cepat.


"sudah bangun, yang" rengkuh bahu Langit, Zivannya mengangguk.


"om, jika ada acara untukku di kesatuan, kabari segera ya. Biar aku bisa hadir" senyum Zivannya.


"tentu dek" angguk Baskara, Zivannya tertawa lebar, Langit menatap Baskara.


"iisshh, nggak usah begitu, by. Ingat dia lebih tua darimu" toleh Zivannya, Langit tertawa kecil mendengar ucapan Zivannya. Baskara menghela nafasnya berat.


"iya, aku tahu jika udah dewasa" sarkas Baskara, "iihh, sama kayak Rara suka bener kalo ngomong. Besuk aku puji om Bas di depannya" ngerti Zivannya, Baskara segera tersenyum lebar mendengarnya.


"duh, langsung semangat jika dibantu pendekatan" kata Langit, Baskara tertawa mengangguk.


"aku selalu merasa dia jodohku" kata Baskara, Langit nyengir mendengar perkataan Baskara.


"aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu om, sebisa aku membantumu maka akan aku bantu" kata Zivannya, Baskara memberi tanda iya dengan jemarinya.


"kamu mendukungku itu sudah merupakan nilai plus untukku dek" senyum Baskara, Zivannya tersenyum mengangguk.


"jangan bermain lagi jika mendapatkan hatinya" ingatkan Zivannya, "tidak, aku merasa sudah waktunya untuk hidup dengan serius" angguk Baskara yakin.


"jangan berhenti jika dia mengabaikan mu, mungkin itu caranya untuk membuatmu harus lebih memperhatikannya" senyum Zivannya, Baskara tersenyum mengerti.


"udah sana, aku mau pergi" tatap Langit, Baskara dan Zivannya menghela nafasnya melihat Langit yang posesif nya sudah muncul.


"yang, sudah semua" tutup pintu belakang mobil Langit, Zivannya terdiam mengingat apakah semua keperluan Langit sudah dibawa.


"by, ponselku mana" tanya Zivannya, Langit memperlihatkan didalam dashboard mobil, Zivannya mengangguk dan mengunci pintu rumah. "berarti sudah semua" kata Zivannya. Langit menutup pintu sisi istrinya masuk kedalam mobil, memasangkan seat beltnya.


"kalo sudah, kita akan berangkat sekarang" kata Langit, Zivannya mengangguk menatap suaminya sesaat. Langit tersenyum menggenggam erat jemari istrinya dan menciumnya pelan. "aku akan pulang, yang" tatap Langit lekat, Zivannya terdiam.


"berarti aku akan menunggu pulang kak" jawab Zivannya akhirnya. Langit terdiam.


"ketika aku pulang kamu sudah harus ada di saat aku turun" kata Langit, Zivannya mengangguk mengerti. Mobil segera melaju kerumah keluarga Triastomo.

__ADS_1


"pulang dek" senyum bunda, Zivannya mencium punggung tangan bunda dan memeluknya erat. "maaf bund, baru pulang" senyum Zivannya, bunda mengusap punggung Zivannya lembut. "tidak apa dek, bunda ngerti. Kan udah bunda bilang. Jika kamu tidak sibuk maka harus pulang" kata bunda, Zivannya tersenyum, Langit bergantian memberi salam kepada bunda Zivannya.


"non" datang mbok membawa jahe hangat untuknya. Zivannya tersenyum meminum segera minuman buatan mbok yang bikin ketagihan. "makasih mbok" angguk Zivannya. Langit menerima gelas minuman yang disodorkan Zivannya. "ayah mana bund" tanya Langit.


"Baru kerumah pak erte, biasa ngobrol kesana kemari" jawab bunda, Zivannya tersenyum mengusap bahu bundanya dan membawanya keruang tengah.


"bund, besuk Langit akan mulai berangkat dinas ke luar, berangkat dari Surabaya. Jadi besuk Langit dan Zivannya mau pamit berangkat" pamit Langit.


"kemana, Lang" kerut bunda, "ke negara Sakura bund, ada tugas kesatuan disana selama sebulan, Langit diberi mandat setelah diskusi panjang dengan komandan tertinggi dua minggu lalu, jadi agak mendadak pula sebenarnya karena tugas ini tambahan dari pusat" angguk Langit.


"terus Zivannya gimana" tanya bunda menatap putrinya, Langit menatap istrinya. "rencananya Zi akan ketempat ibu di Malang untuk beberapa hari, lanjut ke rumah mama dan Jogja bund. mumpung kak Langit tidak ada dirumah bisa berkunjung kesana dalam beberapa hari. Itupun jika ayah dan bunda mengijinkan" jawab Zivannya, Bunda terdiam agak lama.


"setelah Zi ngantar kak Langit ke Surabaya, Zi akan pulang dulu kerumah bund, baru akan bepergian" peluk Zivannya dari samping. Bunda mengusap lengan tangan anaknya itu.


"bunda ijinkan dek, toh itu juga kewajiban mu berkunjung ke ibu dan mamamu, seperti yang kamu bilang mumpung Langit tidak bisa menyuruhmu pulang segera" senyum bunda, Zivannya tersenyum lebar mendengar jawaban bunda.


"rencananya kamu akan naik apa kesananya dek" tanya bunda. "pinginnya naik kendaraan sendiri bund, agar lebih fleksibel mengatur waktunya. Tapi nanti liat keadaan aja" jawab Zivannya.


"apa kamu mengijinkannya Lang" tanya bunda, Langit mengangguk.


"sebenarnya agak berat bund, tapi setelah Langit pikirkan belum tentu dia nanti akan punya banyak waktu seperti saat ini dan perjalanan kali ini tidak terlalu membuatnya kelelahan" jawab Langit, bunda mengangguk pelan.


"entah ayah setuju atau nggak jika nanti kamu meminta ijin. Mengingat saat anak perempuannya pergi dia berusaha untuk membuatnya tetap dirumah saja" hela nafas bunda.


"nanti ayah dan bunda bisa nyusul kemana aja, jalan-jalan lagi bund" kata Zivannya, bunda tersenyum mengangguk.


"lama banget, yah. Udah dari tadi nungguin" kata Zivannya.


"biasa ngobrol sambil main catur, kamu nggak bilang kalo pulang" kata ayah, Zivannya memperlihatkan panggilan kepada ayahnya.


"ada di kamar ponselnya ayah, nggak dibawa" datang bunda, ayah tertawa pelan.


"mau pamit tugas keluar kan" tebak ayah, Langit menegakkan punggungnya mengangguk.


"berangkat kapan" minum ayah, "rencananya besuk siang berangkat ke Surabaya, yah. diantar Zi, lusa baru berangkat" jawab Langit.


"adek memang mau ikut" tatap ayah, bunda menepuk bahu ayah pelan, Zivannya tertawa kecil.


"nggak usah lebay deh, yah. Dia harus ikut kemana suaminya pergi" topang dagu bunda di lengan sofa, ayah tergelak.


"rencananya Zi juga akan kerumah ibu di Malang setelah Langit pergi nanti, yah" kata Langit, ayah mengangguk mengerti.


"lanjut ke Jogja dan nengok papa mamanya, yah" senyum bunda, ayah melebarkan matanya menatap Zivannya.


"mumpung Langit nggak dirumah dalam sebulan, biar tenang kalo kemana-mana" bela bunda. Ayah menghela nafasnya berat.


"ayah kan bisa nyusul, kemana aja ntar Zi samperin" senyum Zivannya, ke Surabaya lagi nggak nanti" kata ayah.

__ADS_1


"iya, yah jemput kak Langit lagi" angguk Zivannya.


"setelah ngantar, nanti Zi pulang kerumah. Nggak langsung berangkat, 2-3 hari dirumah. Bisa lebih juga" kata Zivannya.


"ayah mau pergi sama teman-teman pertengahan bulan, ke Lombok" kata ayah. Zivannya menegakkan punggungnya antusias.


"waahh, bisa berubah lagi tuh tripnya" lirik bunda, Zivannya nyengir.


"kabari, yah. Mumpung kak Langit masih dinas" kata Zivannya.


"lha, kamu senang kalo aku pergi jauh berarti biar bisa trip terus" kata Langit, Zivannya menggeleng, "nggak usah berangkat ya, biar barengan aja" naik turunkan alis mata Zivannya.


"aku minta komandan biar nggak usah jauh-jauh lagi darimu" angguk Langit mengerti, Zivannya mengerucutkan mulutnya. Langit mencaplok mulut Zivannya dengan tangan kanannya, hingga segera ditepis Zivannya.


Bunda dan ayah tersenyum melihat tingkah mereka. "ntar ayah kabari kalau sudah pasti. Kamu sama Rara, dek" tanya ayah, Zivannya menyandarkan kepalanya kebelakang. "Rara hanya bisa nemenin waktu ke Malang, yah. Karena dia kerja di Surabaya. Setelah itu Zi lanjut ketempat mama dulu, mungkin nggak lama karena langsung ke Jogja. Baru balik ke Surabaya jemput kak Langit" kata Zivannya.


"kenapa jadwal mu lebih padat dari aku sih, yang" tatap Langit kesal. "harus kak, biar nggak nggak kebanyakan sendiri memikirkan mu baik-baik aja atau nggak" jelaskan Zivannya, Langit mengusap rambut Zivannya.


"nyusul ke Jepang aja kalo gitu" kata ayah, Zivannya menggeleng. "hanya s sebulan, yah. Setiap hari juga bisa melihat paras kak Langit jika dia tidak sibuk nanti" kata Zivannya.


"iya, kan dia juga bisa melihatmu lewat ponsel" tersadar ayah. Bunda menghela nafasnya panjang.


pagi hari


Zivannya kembali tertidur setelah kewajiban paginya. "kita keliling kompleks yuk, Lang" siapa ayah mengenakan pakaian olahraga pagi. "siap, yah. Langit ganti sebentar" angguk Langit masuk kedalam kamar.


"yang, aku lari pagi bentar dengan ayah keliling kompleks" kata Langit mengecup pipi Zivannya yang masih terlelap, Zivannya tidak bergeming.


Langit segera keluar memakai sepatu larinya. Ayah sudah melakukan pemanasan sebelum lari, Langit menyusul melakukan hal yang sama.


Zivannya keluar dari kamar, "pada kemana bund" duduk Zivannya disamping bunda yang sedang menyiapkan sarapan, Zivannya membantu bunda menata makanan.


"katanya pada lari pagi tapi udah lebih dari dua jam nggak balik-balik. Pasti pada keasyikan ngobrol dengan bapak-bapak kompleks. Ayahmu kalo anak lelakinya datang pasti diajak untuk mengenal tetangga kanan kiri, tapi kalo anak perempuan nggak boleh pergi jauh-jauh" kata bunda. Zivannya tersenyum meminum air mineral.


"untung punya bunda yang sabar dan penyayang yang ngimbangin ayah" peluk Zivannya, bunda tertawa memukul punggung tangan Zivannya. "dasar, pandai bela ayah aja" elus kepala bunda, Zivannya tertawa.


Kedua laki-laki beda usia itu sudah kembali dari lari pagi mereka. "habis ketemu pak Wahyu di depan bund, trus malah pada ngobrol saat kita di lapangan. Jadi agak lama" duduk ayah.


"olahraganya jadi nggak, yah" tanya Zivannya menyodorkan gelas berisi air mineral, ayah tertawa pelan. "jadi lah, hanya dua putaran. Langit lebih banyak, hingga banyak yang lirik-lirik malu" goda ayah meminum air mineralnya, Langit tersedak mendengar ucapan ayah mertuanya itu.


Zivannya tersenyum menepuk punggung suaminya pelan, "nggak heran, yah. Zi udah biasa itu. Yang Zivannya heran kenapa kak Langit nggak biasa lepas posesif nya jika Zi ngobrol dengan laki-laki lain" angguk Zivannya berlalu ke dapur, Langit menahan pergelangan tangan istrinya dan mencium mulutnya sekilas dan segera berlari masuk kedalam kamar. "Satria Langit" seru Zivannya kesal mengelap mulutnya beberapa kali, ayah dan bunda yang melihatnya tertawa lebar karena pagi-pagi sudah melihat mereka yang ribut.


Hai ..... Hai ..... Hai ..... All readers terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


Luv .... Luv .... Luv .... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


Stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2