Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 85


__ADS_3

hari ini Zivannya sudah selesai kontrak kerjanya, ditatapnya kamar kecil yang menjadi tempatnya tidur selama di area pembangunan. semalam saat mereka beristirahat dan bercengkrama Zivannya telah berpamitan satu persatu dengan para pekerja yang menemaninya selama hampir 4 bulan, waktu yang tidak sebentar untuk bersama-sama dari awal. berpamitan dengan mas Rendi yang menjadi atasannya selama hampir empat bulan, terkadang saat Zivannya harus bekerja lembur sering membuatnya lebih mengenal satu sama lain. Zivannya membereskan baju-baju yang tersisa kedalam koper kecilnya. "beneran mau pulang Zi" sandar Wito di pintu, Zivannya menoleh, "iya, bang. kalo mau disini terus pasti diusir sama mas Rendi" senyum Zivannya. Wito tersenyum. "habis ini mau kerja dimana Zi" tanya Wito.


"pinginnya berhenti dulu dua atau tiga bulan bang. baru lanjut kerja lagi, pingin nyenengin bunda. nyuruh istirahat dirumah dulu, kuliah udah jauh dari rumah, begitu selesai langsung kerja yang lebih jauh lagi dari rumah. nggak sempat pulang lama" senyum Zivannya.


"kalo ke Jakarta mampir bang kerumah" kata Zivannya, Wito mengangguk.


"abang udah lama ikut mas Rendi" tanya Zivannya, Wito mengangguk. "setelah tamat sekolah aku diajak kerja daripada nggak punya kerjaan, sebenarnya iseng ikut dia, keterusan sampai sekarang" senyum Wito.


"keluargamu udah pulang Zi" tanya Wito, "abangku dan temannya sudah pulang, kalo yang lain masih disini bang. langsung mau ke Surabaya ngantar ponakanku. kakak laki-laki ku satunya tugas di Surabaya bang" selesai Zivannya menurunkan kopernya.


"berapa saudara kamu Zi" tanya Wito. "tiga bang. laki-laki dan perempuan" jawab Zivannya. "anak bungsu" tanya Wito. "pada akhirnya bang" tawa Zivannya. "Zi udah beres" tanya Dimas mengecek Zivannya. Zivannya mengangguk tersenyum. "kita akan berangkat sebentar lagi" kata Dimas. Zivannya memberi tanda Ok. "ayo, bang. terimakasih sudah menjadi rekan yang baik bagi Zi" senyum Zivannya menyalami Wito. "sama-sama Zi, kamu juga rekan kerja yang berarti bagiku" senyum Wito, mereka berjalan kedepan.


"selamat tinggal semua, terimakasih telah diberi kesempatan untuk menjadi teman disini" senyum Zivannya sedikit menunduk. Dimas dan team yang lain melakukan hal yang sama. mereka berpamitan dan segera meninggalkan tempat pembangunan.


"hallo kak, kita jadi ketemu aja dibandara kan" tanya Zivannya.


"iya, kita masih membereskan barang" kata Mentari, "baiklah. Zi juga baru setengah perjalanan" kata Zivannya menutup panggilannya.


"kamu langsung ke Surabaya Zi" tanya Dimas, "iya dim, sampaikan salamku pada Rara, nanti aku kabari jika mau kesana" angguk Zivannya. "pasti, jangan lupakan kami" kata Dimas. "tentu saja tidak. aku pasti akan kembali kesana" geleng Zivannya. Dimas tersenyum, "semoga ya Zi, kak Langit mendapat tugas disana" kata Dimas. Zivannya memutar bola matanya jengah, Dimas tergelak.


"jangan melawan takdir, semesta memberkatimu" kata Dimas. Zivannya menghela nafas, "jika keluarga sudah mendukung, aku harus bagaimana dim" pandang Zivannya lesu. "ya... maju terus pantat mundur lah, pake high heels dandanan menor.. sikat" seru seseorang temannya" mereka tertawa. "bener banget tuh kata Seto. berarti aku harus dandan menor dong biar Langit jauh dariku" muncul ide Zivannya.


"oh iya, jangan lupa pinjem baju Rara yang seksi-seksi itu dijamin Langit langsung menembakmu ditempat" kata Dimas memberi semangat yang mematikan, mereka tertawa ngakak berdua. ponsel Zivannya berdering, nama my lovely tertera diponselnya, Zivannya menghela nafasnya. pasti nih kerjaan langit lagi mengotak-atik ponselnya.


"dimana" tanya Langit.


"ishhh kenapa dia bisa tau sih dim, kalo kita bicara dibelakangnya" bisik Zivannya.


"yang...." kata Langit tidak mendengar suara Zivannya.

__ADS_1


"baru diperjalanan menuju bandara dengan dimas dan yang lain, bunda nanti ketemu dibandara, karena waktu perjalanan Zi lebih jauh dari mereka. langsung ke Surabaya, kak Mentari sudah mengurusnya. Dimas dan yang lain menuju kota tempat kuliah" kata Zivannya panjang. Dimas senyum-senyum mendengar perkataan Zivannya yang lebar.


" jam berapa keberangkatan ke Surabaya" tanya Langit,


"jam 2 siang kak" jawab Zivannya.


"oke, hati-hati, yang" kata Langit.


"baik" matikan Zivannya.


"nggak usah nanya, udah tau dari siapa. jika tidak dijelaskan pertanyaannya akan tambah banyak dan aku capek menjawabnya" hembus nafas Zivannya, Dimas tertawa lebar.


"bener-bener tipikal dengan kak Aga ya" pandang Dimas.


"11-12 posesifnya. belum jadi apa-apa, belum dikasih jawaban bersedia atau tidak udah mode on aja sikap posesifnya" kata Zivannya.


"tapi memang itu yang diperlukan untuk mengikatmu Zi, karena jika tidak kamu sudah pasti kabur dengan sendirinya. kenapa... pasti kamu tau jawabannya" kata Dimas.


"kenapa nggak ada yang seperti di mangatoon ya dim, CEO muda yang terpesona gadis kuliahan yang unik gitu" mimpikan Zivannya.


"lha udah kan, dua komandan terpesona melihatku. bagus tuh jadi judul novel di mangatoon tuh, spesial tulisannya buat kamu dan Rara yang sering ngehalu saat baca novel sama saat nonton Drakor juga" lirik Dimas kesal. Zivannya tersenyum lebar.


"siap. nanti bilangin Rara" beri ibu jari Zivannya dihidung Dimas yang mendengus kesal.


"cewek memang gitu dim, Drakor melulu.cewekku aja dibela-belain begadang maraton nonton Drakor" sahut yang lain. "nah, nggak cuman kita aja kan dim, hampir semua cewek seneng lihat oppa-oppa" manyun Zivannya. Dimas mengusap mukanya pelan.


"hati-hati dijalan ya dim, sebenarnya aku masih merindukan kita bertiga ngumpul bareng dan ngobrol. waktu cepat berlalu ya Dim" pandang Zivannya. "padahal dulu waktu kita masih sendiri, aku sih... sebenarnya yang sendiri, ingin banget pingin punya seseorang yang membuatku nyaman, begitu di kasih sama Tuhan waktu kita bertiga berkurang banyak. lulus bikin kita makin jarang ketemu" genggam tangan Zivannya. Dimas mengangguk dan menepuk punggung tangan Zivannya.


"maafkan aku dan Rara ya, Zi. jika banyak salah dan khilaf selama ini" kata Dimas, Zivannya menggeleng. "nggak dim, kalian membuktikan bahwa sahabat itu ada disaat suka dan duka. ada disaat kita jatuh dan bangun. entah berapa banyak kalian menjadi kedua tangan dan kakiku disaat aku tidak bisa menggunakan keduanya dengan benar... aku bersyukur, benar...benar bersyukur memiliki kalian berdua, pingin peluk Rara sih sebenarnya kalo begini, kalian berdua sangat berarti bagiku. kamu ngerti kan dim apa maksudku" pandang Zivannya, Dimas tersenyum dan mengangguk. "aku juga berterimakasih kamu mau menjadi sahabatku dan pendukung terbaikku. jadi kita memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat dan bukan yang lain" kata Dimas. mereka tertawa lebar. "jika ada Rara, mesti bilang... isshhh kalian ini selalu membuatku seperti orang ketiga tau nggak" tirukan Zivannya, mereka tertawa lebar.

__ADS_1


"aku akan selalu ada untuk kalian berdua, apapun itu. jangan ragu untuk memintanya kepadaku dim, jangan lupa jika Rara sidang dan wisuda aku dikabari jauh hari. tau kan gimana bodyguard ku kalo ditinggal belahan jiwanya" kata Zivannya, Dimas tertawa mengangguk mengerti.


"kamu juga jangan lupa kalo masih punya kami" kata Dimas, Zivannya mengangguk menepuk bahu Dimas pelan. Dimas meringis, "kebiasaan jika kalian berdua kesal selalu menyiksaku" kata Dimas. mereka tiba di bandara, Zivannya duduk dibangku tunggu bersama yang lain. "kita sebentar lagi berangkat Zi, apa kamu nggak papa menunggu disini sendirian" tanya Dimas, "nggak papa dim, kan biasa sendiri, udah nggak papa" angguk Zivannya tersenyum. "aku takut kamu kenapa-kenapa ditempat orang Zi" kata Dimas.


"lama-lama kayak bunda kamu tuh dim, kayak mingit anak perawan aja. nggak boleh kemana mana sendirian" hembus nafas Zivannya. Dimas tertawa, "sorry Zi. kamu kan tau bagaimana Rara dan aku melihatmu" kata Dimas. Zivannya mengangguk dan tersenyum. "tentu saja dim, kalian selalu ada untukku" angguk Zivannya.


"apaan yang ada selalu untukmu" hempas tubuh Langit disamping Zivannya, mereka menoleh cepat. "kenapa kamu ada disini" kaget Zivannya. "apa aku tidak boleh" senyum Langit, Zivannya menggeleng. Dimas tersenyum melihat mereka berdua.


Langit menyandarkan tubuhnya kebelakang, merapikan topi kesatuannya. ini baru jam 11 lho, kenapa kamu sudah ada disini" kata Zivannya.


"kalo begitu aku tenang meninggalkan kamu disini, tuh udah ada pengumuman" kata Dimas beranjak dari duduknya. Zivannya mengangguk dan berdiri menghadap Dimas. "terimakasih selalu menemaniku bersama Rara, dim. keep in touch di chat. sampaikan salam pelukku untuknya" kata Zhivannya, Langit menarik bahu Zivannya agar, mundur kebelakang. "aku aja yang mewakilimu" kata Langit melakukan selebrasi dengan Dimas, Dimas tertawa dan melakukan hal yang sama.


"hati-hati dijalan dim, aku akan pulang nanti" senyum Zivannya, Dimas mengangguk dan melambaikan tangannya, Zivannya membalas lambaian tangan Dimas. Langit meraih pinggang Zivannya dan merapatkan tubuh mereka. "makan, yang. lapar" kata Langit, "mau makan apa kak" tanya Zivannya melihat gerai makanan. "makan kamu bisa nggak, yang" bisik Langit. "bisa, mau sekarang. aku buka disini nih" tanya Zivannya datar membuka kancing kemejanya paling atas. Langit berdiri dekat dengan tubuh Zivannya. "ayo, yang" maju Langit sambil menarik koper Zivannya. Zivannya mundur kebelakang karena terdesak langkah Langit yang maju. "kak" tahan Zivannya. "apa" pandang Langit menatap kedepan tanpa mau melihat Zivannya. Zhivannya memegang bahu Langit. "jika kamu tidak suka aku begitu, maafkan aku. tapi aku memang akan membuka kemejaku karena panas. aku make t-shirt seperti biasanya" pandang Zivannya, Langit terdiam. "jika kamu mau begini, tidak apa-apa. aku tidak akan berkata apa-apa lagi" angkat bahu Zivannya menuju gerai makanan siap saji.


"mau pesan apa kak" senyum penjaga gerai. "coklat dingin, kentang goreng dan es cream" senyum Zivannya, Langit duduk disisi Zivannya. penjaga gerai tersenyum. "burger satu" pinta Zivannya menoleh menatap Langit. "coklat dingin, ice cream nya" serah penjaga, Zivannya mengangguk dan menyodorkannya pada Langit. "minum dulu, tentara tampanku. biar dingin hawa panas yang keluar dari tubuhmu" sodor Zivannya. Langit tersenyum mendengar gombalan Zivannya. "aku nggak suka kamu memperlihatkan tubuhmu kepada orang lain" kata Langit, Zivannya menatap Langit. "bagian mana yang aku perlihatkan kak, apa kamu mau aku pake gaun seksi belahan dada dan punggung terbuka" tanya Zivannya kalem, langit meneguk coklat dinginnya dan menggeleng. "aku selalu memakai pakaian begini juga dikampus, kerja, ataupun main. nggak ada yang menarik tuh dari caraku berpakaian. sering dikatain dekil dan nggak berkelas" makan ice cream Zivannya. "kamu tipikal gadis yang menarik, yang" pandang Langit. "terus. jika aku bilang biasa aja nggak papa kan, karena aku merasa biasa aja lho kak" kata Zivannya. "kamu pake pakaian gini pun terlihat menarik" kata Langit.


"jika aku make yang lebih dari ini malah akan menarik perhatian laki-laki lain untuk mendekat kak. itu nggak baik buatku dan pandangan orang-orang tentangku" kata Zivannya pelan.


"maafkan aku" hembus nafas Langit, Zivannya menggeleng. menggenggam jemari Langit. "tidak kak, aku yang meminta maaf membuatmu kuatir. jika kita tidak bicara begini maka nanti kedepannya akan tidak baik. aku senang kamu mau membicarakan semua hal denganku. kita harus berbagi dan membicarakan semuanya berdua dulu" kata Zivannya, Langit mengangguk. "aku tau pasti sulit bagimu untuk melihatku dengan orang lain. aku juga begitu kak. akan sangat sulit bagiku untuk melihatmu dengan gadis lain. jadi.... kita akan saling menjaga mulai sekarang. kita saling percaya satu sama lainnya. bisakah kak..." tanya Zivannya melihat Langit, Langit tersenyum dan mengangguk.


"tentu, yang. aku selalu percaya padamu. terkadang laki-laki yang ada disekitarmu yang nggak aku percaya" kata Langit. Zivannya tertawa.


"Oke kak, aku mengerti" kata Zivannya mengangguk. Langit menyesap coklat dingin. burger dan kentang goreng sudah diberikan. Zivannya beranjak dan membayar pesanan mereka.


"mau apa lagi kak" toleh Zivannya, Langit menggeleng. Zivannya duduk dan memakan ice cream nya. "kak aku bener-bener kepanasan" seka keringat Zivannya. Langit mengangguk, Zivannya membuka semua kancing kemejanya dan membukanya lebar.


"mau coklatnya, yang" tanya Langit. "tidak kak, aku ice cream aja" geleng Zivannya mengikat kembali rambutnya dengan model bun. "rambutmu kamu potong yang" tanya Langit.


hai....hai....hai.... all readers, dukung terus karya ku ini, agar semakin semangat untuk terus update.. terimakasih...

__ADS_1


luv....luv.... luv.... U all readers... terimakasih sebelumnya semuanya..... dukung terus


__ADS_2