Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 8


__ADS_3

"berarti aku yang pertama mengenalmu dengan baik Zi" senyum Aga, Zivannya menoleh menatap Aga heran.


"pertama, maksudnya" kerut alis Zivannya tidak mengerti.


"kamu masih menjaga dirimu untuk bertindak dalam batasan norma berarti aku nggak salah pilih istri" senyum Aga. Zivannya menghela nafasnya berat.


"terserah kamu mau ngomong apa, aku udah capek ndengerin dan membantahmu" pijit pelipis Zivannya menyandarkan kepalanya di bahu sofa. aga tertawa lebar mendengar Zivannya yang lelah.


"sebenarnya aku janjian dengan Dimas untuk mengajak kamu dan Rara kepantai, nginep disana. biar kita bisa tenang menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi antara kita dengan kepala dingin" pandang Aga melihat Zivannya dari samping.


Zivannya menoleh cepat menatap Aga yang sedang tersenyum melihatnya, Aga menarik tangan Zivannya cepat sehingga refleks tertarik dan merebahkan kepalanya dibahu Aga yang mengecup rambutnya sekilas.


"tapi aku sama sekali nggak mau kamu dilihat oleh orang lain saat menangis, cukup aku saja melihatmu disaat terburuk, biar orang lain selalu melihat senyum dan tawamu" sandar kepala Aga dikepala Zivannya yang menyandar dibahunya.


"hanya kamu yang membuatku begini" pejam mata Zivannya yang kelelahan akan hati, pikiran juga raganya menghadapi sifat Aga yang dominan.


"tidur Zi, aku akan menemanimu disini" kecup rambut Aga.


"aku pingin tidur Kak, nggak enak kalo begini" jawab Zivannya setengah sadar saking mengantuk. Aga menyandarkan kepala Zivannya dibahu Sofa dan beranjak cepat mengambil alas lantai yang biasa untuk tiduran saat menonton televisi. Aga segera menata dan mengambil beberapa bantal untuk Zivannya tidur.


Zivannya tidak terusik ketika Aga memindahkan tubuhnya keatas alas tidur. tersenyum menatap gadis cantik di depannya, entah mengapa Aga merasakan perasaan yang berbeda saat pertama kali menatap wajahnya, menyukainya saat melihatnya terluka kala itu, seperti kelinci kecil yang hilang ditengah Padang rumput dan dia sangat beruntung melihat Zivannya yang hanya memberi hatinya kepadanya.


Aga memeluk Zivannya dan ikut tertidur dengan senyuman bahagia, nggak terlihat sama sekali kemarahan yang tadi sangat menggebu-gebu didalam hatinya, seperti ingin memakan dan menelan Zivannya bulat-bulat jika gadis itu menentang perkataannya.


dering ponsel membangunkan Aga, mengerjapkan matanya meraih ponsel yang berada diatas sofa dan mematikan bunyi alarm ponselnya.


"sayang bangun, kewajiban pagi" tepuk pipi Aga. Zivannya bergerak pelan membenarkan posisi tidurnya kembali, Aga beranjak menuju pantry mengambil air minum sebelum membersihkan diri untuk menunaikan kewajiban paginya. Aga menghela nafas sesaat ketika melihat Zivannya yang masih tertidur dengan nyenyak.


"Zi... Zivannya... sayang.... ayo bangun sebentar, kita melaksanakan kewajiban pagi" pukul Aga pelan menggunakan bantal dipaha kaki Zivannya yang akhirnya membuka matanya, duduk menatap sekitar.


"ada kamar mandi di sana" tunjuk Aga. Zivannya berjalan pelan menuju kamar mandi yang ditunjukkan oleh Aga. mereka segera melaksanakan kewajiban pagi bersama.


"aku ingin tidur lagi kak, badanku serasa remuk redam" pandang Zivannya setelah selesai.


"kenapa" kerut Aga memandang Zivannya balik. Zivannya merapikan mukena, beranjak berjalan meminum air putih hangat.


"jika kakak ingin beraktifitas, lakukan saja. aku akan tidur dengan tenang, menunggumu selesai kerja" pandang Zivannya menuju kamar, berbaring di tempat tidur Aga. Aga tergelak melihat tingkah Zivannya yang aneh, padahal ini pertama kalinya dia membawa perempuan ke apartementnya selama dia tinggal dikota ini untuk bertugas.


"kamu merasa nyaman Zi" belai pipi Aga. Zivannya menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Aga tertawa pelan melihat tingkah laku Zivannya yang tidak mau diganggu.


"aku akan kekesatuanku sebentar, pintu akan aku kunci dari luar. ada kunci cadangan didekat pintu keluar" jelas Aga sebelum beranjak kekamar mandi.


"hmmm" jawab Zivannya dibalik selimut tebalnya.


aga segera membersihkan diri sebelum berangkat bekerja. hari ini ia memakai pakaian biasa untuk melakukan rapat internal bersama anak buahnya kembali.


sebelum pergi Aga kembali memastikan keadaan Zivannya yang tertidur pulas.


Aga membuat minuman sendiri di pantry kecilnya sebelum pergi. menatap kearah pintu kamarnya yang terbuka. tersenyum sendiri melihat sosok perempuan yang membuat hatinya kacau beberapa hari lalu dan sekarang Zivannya tertidur dengan nyaman diranjangnya.


Aga menggelengkan kepalanya segera beranjak dari tempat duduk, keluar dari apartement.

__ADS_1


hari beranjak senja ketika Aga beranjak dari tempat duduknya untuk pulang karena Zivannya ada di sana.


"Ndan, mau pulang" tanya salah satu temannya. Aga mengangguk tersenyum.


"wiwdewww..... senyam.. senyum aja ndan, bahagia banget kayaknya" goda anak buahnya yang lain.


Aga tertawa pelan, "emang kliatan apa kalo lagi bahagia" tanya Aga heran.


"ya elah Ndan, kliatan banget kalo komandan baikan sama cewek kemarin" tawa temannya. Aga tersenyum kecil dan mengangguk, berlalu keluar dari bangunan kesatuannya bertugas.


Aga melajukan motor besarnya pulang. ditengah jalan mampir sebentar untuk membeli beberapa makanan untuk Zivannya jika lapar.


motor memasuki parkiran basement apartment, Aga memutar kunci apartement miliknya, keadaan sepi seperti saat ia pergi pagi tadi. Zivannya tidak bergerak sama sekali masih tertidur dengan pulas seperti saat dirinya pergi. Aga meletakkan bawaannya keatas meja pantry. masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya.


keluar dari kamar mandi, dilihatnya Zivannya masih tertidur. Aga segera mengganti bajunya dan membangunkan Zivannya.


"sampai kapan kamu mau tidur Zi, kamu belum bangun dari tadi" tepuk selimut Aga, Zivannya menggeliat pelan.


"jam berapa" kerjap mata Zivannya melihat Aga sekilas.


"hampir jam 7 malam" lihat dinding Aga. Zivannya melepas selimutnya dan berjalan kekamar mandi, membersihkan dirinya.


"jika lapar makan dulu aku tadi sudah beli kudapan" pandang Aga, Zivannya mengangguk dan segera menjalankan kewajibannya.


"pulang dari tadi kak" duduk Zivannya dikursi pantry. Aga mengangguk mengeluarkan makanan dari paperbag.


Zivannya meraih bungkusan yang dikeluarkan Aga, segera mengunyah makanan cepat saji itu.


"Jangan lagi beli makanan gini kak, aku nggak suka" geleng Zivannya meminum segelas air mineral.


"mau keluar cari makanan lain" tatap Aga, Zivannya menoleh menatap Aga sesaat.


"aku jarang keluar malam jika tidak ada perlu. lebih nyaman untuk tidur seharian jika libur" geleng Zivannya mengunyah makanannya dengan cepat.


"ini juga waktuku untuk pulang ke kostan Kak. nggak baik jika kita berdua disini " geleng kepala Zivannya meminta pengertian Aga.


"apa kamu harus pulang kekostan" tanya Aga, Zivannya mengangguk mengiyakan pertanyaan Aga.


"disini aja Zi, toh ada pakaianku yang bisa kamu pakai, aku lebih tenang jika kamu berada didekatku" pandang Aga keberatan. Zivannya tertawa lebar mendengar ucapan Aga.


"why do i have to be here" geleng Zivannya.


"because I luv U sweety" pandang Aga tajam, Zivannya tersedak makanannya hingga batuk-batuk. Aga beranjak dan menepuk pelan punggung Zivannya.


Zivannya meminum air mineralnya, "jangan lagi seperti itu" pandang Zivannya menatap tajam Aga.


"trus aku nggak boleh ngomong" tanya Aga. Zivannya beranjak dari tempat duduknya, Aga meraih pergelangan tangan Zivannya.


"kenapa, katakan alasannya kepadaku" angkat tangan Aga.


"aku tidak ingin terlibat dengan cinta yang menyakitkan. aku tidak ingin ditinggalkan, aku tidak ingin merasakan sakit yang membuatku tidak bisa bernafas. aku tidak mau merasakan hal itu lagi" kata Zivannya setengah berteriak meluapkan ungkapan hatinya yang dia pendam selama ini.


"kenapa aku harus menyakitimu, aku mencintaimu Zi" pandang Aga. Zivannya tertawa sambil menangis.

__ADS_1


"bullshit, semua lelaki akan mengatakan hal itu pada awalnya, tapi pada akhirnya akan menusuk dari belakang ketika ada wanita lain yang lebih" seru Zivannya mencoba melepaskan pegangan Aga.


"kenapa kamu menilaiku seperti lelaki lain Zi" kerut Aga mempererat pegangannya. Zivannya tergugu dan terjatuh karena kakinya tidak kuat lagi berdiri tegak. Aga segera meraih tubuh Zivannya dan dibawanya ke sofa depan TV.


"katakan padaku Zi, semuanya... aku akan mendengarkan" dudukkan Aga di sofa. Zivannya hanya menangis dan menatap Aga sambil menggenggam tangan dan menatapnya tanpa Zivannya tau arti raut wajah Aga.


"jangan menyukaiku, apalagi mencintaiku. aku tidak pantas untukmu, kamu bisa memiliki gadis lain yang lebih dari ku. cobalah mengerti... aku tidak ingin terlibat apapun denganmu" geleng kepala Zivannya kuat-kuat dengan deraian airmata yang mengalir turun dengan sendirinya, agar Aga melepaskan dirinya pergi.


"biarkan aku sendiri seperti biasanya.... aku mohon... terserah kamu mau menganggap aku apa, aku ingin kita berteman saja sama seperti yang lain" tutup wajah Zivannya tanpa sanggup melihat Aga yang hanya diam.


Aga merengkuh tubuh Zivannya mengelus punggungnya dengan lembut, membiarkan Zivannya menyelesaikan segala keluh kesah yang disimpan dihatinya.


"aku nggak mau membuatmu menyesal Ga, tidak ada yang berarti dariku. leave me alone, I mean nothing to you" usap airmata Zivannya dengan punggung tangannya.


"aku tidak butuh sanjungan, aku tidak gila akan rayuan laki-laki, aku tidak suka dengan perhatian berlebihan dari lawan jenis yang membuatku haus sanjungan. aku tidak butuh semua itu Ga


... aku ingin hidup tenang. hanya itu yang kubutuhkan saat ini" kata Zivannya mencoba melepaskan pelukan Aga.


"biarkan aku sendiri, kita jalani hidup masing-masing" lirih Zivannya menyerah karena tidak bisa melepaskan dirinya.


"kapan kamu terluka" bisik Aga ditelinga Zivannya. Zivannya menghela nafas panjang dan terdiam lama untuk menjawab pertanyaan Aga yang membuatnya merasakan kembali luka lama yang tidak ingin orang lain tau.


"saat masih sekolah tingkat akhir, berencana untuk bersama-sama menggapai cita-cita belajar dikota ini, dan menata masa depan bersama" jawab Zivannya lirih.


"hingga akhirnya dia menghamili teman baikku saat sekolah. mereka ternyata bermain dibelakangku" usap airmata Zivannya bergetar.


"mama yang menemaniku dan mengikhlaskan kepergian ku belajar kekota ini agar dapat melupakan kenangan buruk saat itu. hanya mama yang menguatkan ku untuk terus berjalan kedepan tanpa menoleh ke belakang" sandar kepala Zivannya akhirnya dibahu Aga karena lelah fisik dan raganya. Aga melonggarkan pelukannya dan merapikan rambut Zivannya yang basah oleh air mata.


"sejak saat itu aku tidak lagi bisa percaya dengan orang lain, sekalipun itu Rara dan Dimas. mereka orang baik, terlalu baik malah" hembus nafas Zivannya.


"mereka yang selalu menemaniku selama dua tahun lebih dikota ini tanpa sedikitpun punya kekhawatiran aku akan berbuat tidak baik pada mereka" kata Zivannya.


"hingga kita tidak sengaja bertemu kala itu, aku masih merasa hidup dengan tenang dan damai. tidak perduli dengan banyaknya cowok disekitar kami. enjoy life during college" kata Zivannya.


"aku tidak mau lagi dipusingkan dengan perasaan yang menyesakkan dan menyakitkan, aku ingin sendiri. cukup senyum saja jika ada cowok yang menyatakan perasaan mereka, untuk saat ini aku inginkan hal itu. hingga akhirnya bertemu denganmu" pandang Zivannya pada akhirnya, Aga menunduk menatap manik mata Zivannya yang juga menatapnya lekat.


"kenapa denganku, apa kamu juga merasakan perasaan saat pertama kali bertemu" kerut Aga. Zivannya segera menjauhkan dirinya dari Aga dan menyandarkan kepalanya dibahu Sofa dan mengangkat bahunya tanda tidak begitu.


"aku merasa hanya harus menjauh segera darimu jika tidak ingin terlibat lebih dalam" jawab Zivannya cepat. Aga sedikit menarik sudut bibirnya keatas mendengar jawaban Zivannya.


"apa aku terlihat tidak selayak itu Zi dimatamu" topang kepala Aga menatap Zivannya, Zivannya mengangguk membalas tatapan Aga.


"apa aku tidak seberharga itu dimatamu Zi" tanya Aga. Zivannya kembali menganggukkan kepalanya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya pertama ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2