
diruang tengah berkumpul ayah, bunda dan Langit yang terlibat obrolan seru, Zivannya membuka pintu kamar pribadinya dan menuju ketempat mereka bertiga, "dah pulang, kak" tanya Zivannya duduk disamping Langit, "ini udah pukul 8 malam, yang. kamu memintaku untuk pulang cepat" kata Langit, Zivannya menyandarkan kepalanya kebelakang. "tentu, tapi aku ngantuk sekali sekarang" pejam mata Zivannya, Langit meraih bahu istrinya untuk tidur di kaki bagian atasnya.
"apakah kalian sudah memeriksakan kehamilan" tanya ayah, Langit menggeleng. "belum, yah. karena saat pagi Langit yang merasa tidak baik. jika sore hari, Zivannya yang akan merasa tidak baik" jawab Langit, Zivannya tersenyum pelan. "baguslah kalo kalian berdua bergantian untuk siaga" tawa ayah pelan. bunda melihat Zivannya yang pucat. "adek juga tidak banyak makan, seharian akan tidur" kata bunda menopang dagu di lengan sofa, Langit mengusap rambut Zivannya. "dari dua hari yang lalu kami berubah seperti ini bund, awalnya mengira karena perubahan pola hidup, keseringan liat Zi minum kopi item lama-lama jadi tergoda untuk mencoba dan Langit kira Zivannya juga akan mengalami tamu bulanannya yang membuatnya tidur sepanjang hari" cerita Langit, bunda menatap kedua anak nya lekat.
"besuk pagi kita ke klinik terdekat untuk periksa, sekitar pukul 9-10 pagi agar adek masih bisa bergerak bebas" tatap bunda.
"apakah boleh ikut bund" tanya Langit polos, ayah tergelak mendengar permintaan Langit. "tentu saja, anakku. kamu kan ayahnya jika bisa mengantar akan lebih baik" senyum bunda mengerti. Langit tersenyum, "kamu itu lho, Lang. masak nanya boleh ikut apa nggak, ya jelas boleh kalo kamu nggak ada tugas mendesak. masak nanam benih nggak mau lihat hasil benihnya" usap dagu ayah, Langit tertawa lebar bersama ayah.
"terimakasih yah, bund. selalu bersama kami" kata Langit tegas, bunda tersenyum melihat kedua anaknya itu. "makasih juga, Lang. membuat kami merasakan kebahagiaan yang besar seperti ini, anak kalian adalah cucu kami sama seperti anak kak Dirgantara dan kak Mentari, kalian juga anak-anak bunda dan ayah. tidak ada perbedaan" tatap bunda, Langit mengangguk tegas.
"ijinkan kami berdua memberi apa yang kita mampu untuk ayah dan bunda sebagai rasa terimakasih kami karena mempunyai orang tua yang sangat berarti dalam perjalanan hidup kami berdua dan rasa syukur kami atas kehadiran baby didalam perut Zivannya" kata Langit pelan. ayah dan bunda saling berpandangan kembali menatap Langit yang meletakkan amplop coklat di meja, ayah meraih amplop coklat itu dan membukanya segera.
sebuah tiket untuk pergi mengunjungi rumah Tuhan bersama dengan Zivannya dan Langit. bunda menutup mulutnya tidak menyangka akan hal itu, "oh Tuhan, terimakasih banyak atas perhatiannya nak Langit. bunda senang sekali bisa bersama kalian kesana, apakah ibu mu turut serta" tanya bunda teringat, Langit mengangguk tersenyum.
"tentu bund, ketiga orang tua kami adalah yang utama" jawab Langit cepat, bunda tersenyum lebar merasakan keharuan yang teramat sangat. "apakah adek tahu hal ini" tanya ayah, Langit mengangguk mantap, "tentu, yah. ini juga keinginan Zivannya, kami telah merencanakan jauh hari ini sebelumnya karena ingin kita semua berangkat kesana dan kebetulan bang Matahari dan kak Dirgantara juga bisa bersama meluangkan waktunya" senyum Langit, ayah dan bunda terdiam sejenak mendengar perkataanya. bunda tertawa, menangis bahagia karena semua anak-anaknya dapat berkumpul bersama kembali sedangkan ayah hanya tersenyum mengusap dagu pelan. bunda memeluk ayah yang terlihat speechless dengan kejutan ini, "kita kumpul lagi, yah. nggak ada yang lebih berharga selain ngumpul gini kan, yah" pandang bunda meminta persetujuan ayah.
ayah mengangguk memeluk bunda yang menangis bahagia, Zivannya seketika terbangun mendengar tangisan bunda. "bund, kenapa. apa ada yang sakit, dimana" anjak Zivannya bersimpuh didepan bunda melihat dengan seksama, bunda memeluk Zivannya yang bingung dengan keadaan ini.
"kenapa bund, apa ada yang membuat bunda sedih. bilang sama Zi" tatap Zivannya, bunda menunjuk Langit yang menatap mereka berdua dengan pandangan tak dapat diartikan.
"kak" pandang Zivannya, Langit menunjuk dirinya sendiri. "kenapa bunda" tanya Zivannya. Langit menggeleng dengan cepat tanda tidak melakukan apa-apa.
"aku nggak ngapa-ngapain bunda, yang. beneran" tatap Langit memelas, Zivannya menatap bunda dan ayah bergantian, mereka malah tertawa melihat ekspresi Zivannya. "makasih dek, kita akhirnya berkumpul kembali" kata bunda mengusap pipi Zivannya yang bertambah bingung, Langit meraih bahu istrinya agar duduk kembali. "tadi aku ngasih amplop coklat kemarin, bunda dan ayah senang hingga menangis. jadi bunda tidak kenapa-napa" kata Langit mengusap rambut Zivannya, ia mengerutkan kening mengingat apa yang dimaksud suaminya. "oh, benarkah sudah diberikan" ingat Zivannya, Langit tersenyum mengangguk. Zivannya segera menoleh menatap kedua orangtuanya itu. "apakah ayah dan bunda bisa berangkat sama-sama" tanya Zivannya antusias. bunda manggut-manggut senang, "kita berangkat dua minggu lagi lho bund" ingatkan Zivannya, bunda terkejut mendengarnya. "benarkah, semuanya sudah tahu. kenapa baru memberitahukan sekarang" kata bunda tidak terima, ayah memegang bahu istrinya agar tenang kembali, "semuanya sudah disiapkan oleh anak-anak, kita tinggal berangkat" kata ayah. Zivannya mengangguk mengiyakan, "kita berangkat dari Surabaya bund" tambah Langit, bunda menatap Zivannya dan Langit, "isshh, kalian ini kalo bikin acara suka nggak ngajak bunda ngobrol" berdiri bunda segera.
__ADS_1
"kalo udah gini bikin bunda laper" kata bunda, Zivannya menutup mulutnya menggeleng segera beranjak dari tempatnya duduk menuju kamar pribadinya, Langit mengikuti langkah istrinya sambil memberitahu bahwa Zivannya akan mengeluarkan isi perutnya mendengar kata makan, bunda menepuk keningnya ingat bahwa anak bungsunya sedang sensitif karena berbadan dua. ayah tergelak melihat pemandangan di depan mata nya. hal yang bagi orang lain mungkin itu hal biasa namun baginya hal itu sangat dirindukannya, setelah anak-anaknya berumah tangga, hanya ada dirinya dan istrinya hingga rumah terlihat sepi dan sunyi.
"bund, mau makan apa" tanya ayah mengikuti langkah istrinya yang sudah jauh. bunda hanya melambaikan tangannya masuk kedalam ruangan pribadinya.
Langit memijit tengkuk Zivannya saat ia mengeluarkan isi perutnya, "jika keadaanmu begini, yang. apa kuat pergi bersama nanti" tatap Langit membasuh muka Zivannya yang sudah selesai. ia segera mengangkat tubuh istrinya untuk berbaring. Zivannya memejamkan matanya, Langit menutup dengan cover bed hingga ke perut istrinya.
"mau periksa ke dokter sekarang, dek" tanya ayah memastikan jadwal hari ini, Zivannya mengangguk sambil mengunyah makanannya pelan. Langit menatap interaksi keduanya tenang. "kalo begitu kita ke klinik terdekat saja agar tidak membuatmu lemas" tatap ayah, Zivannya mengangguk kembali. "di dokter A aja, katanya banyak yang nyaman dengannya" kata bunda, "mana-mana aja ayo, sekalian lihat-lihat yang lain" angguk ayah, Zivannya menganggukkan kepalanya menatap Langit. "ikut, nggak, kak. atau mau langsung ke kesatuan" tanya Zivannya pelan, "ikut, ntar dari sana baru dijemput" kata Langit menyeruput kopi hitamnya, Zivannya tersenyum.
tiba di klinik A, Zivannya melakukan reservasi untuk pemeriksaan, dokter tersenyum melihat kedatangan pasiennya yang terlihat muda didampingi oleh kedua orang tua dan suaminya. "selamat datang, mari silahkan duduk. baru pertama kali kesini, ya. perkenalkan saya Annisa" senyum dokter Annisa ramah. bunda dan Zivannya menerima salam dokter Annisa, "pagi dok, saya Zivannya dan ini keluarga saya" senyum Zivannya duduk, ia menceritakan semuanya dengan rinci, dokter Annisa mendengarkan dengan seksama.
"kalau begitu, mari silahkan berbaring di bed, akan saya periksa dulu" persilahkan Annisa, seorang perawat membantu Zivannya. Annisa segera melihat dengan bantuan alat, "ya, dapat dipastikan Zivannya sedang membawa baby dan yang lebih membahagiakan lagi ada dua titik didalam" tunjuk dokter Annisa tersenyum, Zivannya terlihat terkejut mendengar perkataan dr Annisa tersebut. ayah dan bunda saling berpandangan merasa senang, Langit tersenyum lebar melihat Zivannya. "selamat, ada dua baby yang harus kamu jaga. jika ibunya sehat maka kedua baby juga akan sehat" senyum dr Annisa, Zivannya mengangguk. perawat membersihkan area perut Zivannya yang baru saja diperiksa. Langit membantu Zivannya turun dari bed pasien. mengecup keningnya pelan, Zivannya tersenyum dengan kelakuan suaminya itu. "apakah ada keluhan belakangan ini" tanya dr Annisa, Zivannya mengangguk dan menceritakan detailnya, "normal, karena perubahan kondisi tubuh dan hormon ibu hamil. selama kamu nyaman dan tidak terjadi apa-apa pada kalian bertiga, apa pun boleh dilakukan" senyum dr Annisa, "ibu dengan kehamilan kembar lebih ekstra untuk memberi asupan gizi, melakukan aktifitas pun juga selama ketiga nya baik-baik saja tidak apa-apa" jelaskan dr Annisa. Zivannya tersenyum mengangguk. "apalagi dengan usia yang masih muda dan kondisi prima maka it's Ok doing anything" senyum dr Annisa, Zivannya tersenyum.
Langit melakukan panggilan setelah pemeriksaan Zivannya selesai. "kita tunggu disini dulu hingga kak Bas datang" tanya Zivannya, Langit menggeleng, "tidak apa jika kamu ingin pulang, aku bisa menunggu sebentar disini sendirian" geleng Langit mengusap kepala istrinya, "tidak apa, bunda dan ayah juga tidak apa-apa menunggu lagian kita juga menunggu suplemen tambahan untuk ibu hamil" senyum Zivannya Langit meraih jemari istrinya dan mengecup pelan. "terimakasih, yang atas semuanya" senyum Langit, Zivannya mengangguk. "apakah badanmu lemas, by" tanya Zivannya menatap Langit, suaminya menggeleng. "aku tidak merasakan mual pagi ini, apa karena bersemangat untuk melihat mereka pagi ini" jawab Langit mengusap perut Zivannya yang masih rata, Zivannya tertawa pelan. "aku tidak sabar melihat mereka membesar disini" tatap Langit, Zivannya nyengir. "seminggu lagi kita ngumpul, yang. jangan kebanyakan begadang jika berkumpul dan satu lagi jangan ada riding malam atau naik gunung selama mereka berdua ada disini, jika tidak mendengarkan ku maka aku akan membawamu kemanapun aku pergi, itu satu-satunya cara yang aku anggap paling bijak untuk meredam adrenalin mu yang berlebihan saat ini. lakukan apapun yang kamu inginkan asalkan aku bersamamu dan ada bersamamu, itu aja" tatap Langit, Zivannya menghela nafasnya "berat kak, kamu punya tanggung jawab dengan negara, nggak akan selalu ada untukku" kata Zivannya, Langit mengangguk "benar, makanya aku mengatakan hal itu" jawab Langit, Zivannya mengerucutkan bibirnya. Langit tersenyum menatap istrinya yang menggemaskan.
"aah, Baskara sudah datang" lihat ponsel Langit, Zivannya mengambil tambahan suplemen vitamin untuk ibu hamil. Langit menanti Zivannya, mereka melangkah keluar dari gedung, mendapati ayah dan ibu sedang berjalan mengitari gedung dan berakhir mengobrol dengan Baskara.
"sudah dapat suplemennya dek" elus bahu bunda, Zivannya tersenyum mengangguk memperlihatkan beberapa vitamin untuk bumil. "selamat bu, semoga sehat selalu" senyum Baskara menunduk, Zivannya mengangguk tersenyum "makasih kak, semoga dirimu segera menyusul aku akan selalu sedia menemani Rara" kata Zivannya, Langit menghela nafasnya panjang. "jika kamu kuat, jika tidak maka akan aku tugaskan asistenmu saja" kata Langit, Zivannya tersenyum melihat suaminya, Baskara tertawa pelan. "tentu, ndan. akan lebih baik begitu" angguk Baskara memahami kondisi Zivannya. Langit berpamitan kepada mertuanya dan istrinya sebelum masuk kedalam kendaraan yang menjemput nya.
"hallo, kak" lihat layar ponsel Zivannya setelah kendaraan Langit menjauh.
"aku di bandara sekarang dek" kata Mentari, Zivannya terkejut.
"benarkah, Zi jemput kesana dengan ayah dan bunda ya, Zi baru aja dari klinik pemerikasaan. baru aja keluar" antusias Zivannya.
__ADS_1
"benarkah, apa tidak apa-apa jika dirimu jemput" kata Mentari.
Zivannya tertawa,"tidak apa kak, tenang aja. ada ayah dan bunda juga jadi tenang" jalan Zivannya mengikuti ayah dan bunda.
"tunggu kami disana kak, jika hampir sampai Zi kabari" kata Zivannya.
"baiklah, kakak tunggu" tawa Mentari, Zivannya segera menutup panggilan dari Mentari dan memberitahu kedua orangtuanya jika Mentari sekarang berada di bandara.
Zivannya memberitahu Langit jika akan menjemput Mentari, ayah yang akan mengemudi kesana karena tidak memperbolehkan Zivannya mengendarai mobil.
"kakak" lambai tangan Zivannya saat melihat sosok Mentari
Hai..... Hai.... Hai.... all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.
tidak terasa akan usai juga novel ini, seiring dengan kisah bersatunya Langit dan Zivannya maka berakhir pula novel ini.
tapi... jangan lupa untuk membaca novel karyaku yang lain.
klik aja Kalang, maka akan karya novelku yang lain jangan lupa untuk selalu mendukung novelku. semoga kalian semua menikmati setiap karya yang aku buat.
Luv.... Luv..... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng.
stay healthy all.
__ADS_1