
mereka bertiga berhenti disebuah cafe keluarga yang nyaman, Zivannya melihat tempat kosong yang akan mereka duduki. namun tiba-tiba ada seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa untuk menuju kesana juga, Langit segera menahan tubuh istrinya agar tidak oleng karena bersentuhan.
"apa kamu baik-baik saja, yang" lihat Langit, Zivannya menggelengkan kepalanya.
"tidak apa kak, mungkin dia terburu-buru hingga tidak melihat sekitar" jawab Zivannya, Langit segera membantu istrinya untuk duduk didekat mereka berdiri, ibu duduk disebelah Zivannya.
"apa kakimu terkilir, nak. jalanmu tidak seimbang" perhatikan ibu Danti.
"hanya sedikit nyeri bu, nanti akan hilang dengan sendiri. tadi memang tidak stabil saat berbenturan" angguk Zivannya. Langit menatap istrinya lekat dan jongkok didepannya untuk melepas sneaker istrinya itu. "aahh, kak. nggak enak diliat orang" larang Zivannya, Langit tidak menghiraukan ucapan Zivannya dan meraba pergelangan kaki istrinya itu yang berdesis kesakitan saat terkena sentuhan tangan suaminya.
"nanti ketika kita pulang biar diurut sama tetangga yang biasanya ngurut. mungkin Zi juga kecapekan sehingga refleks tubuhnya tidak seperti biasanya" angguk ibu mengerti, Langit mengangguk dan duduk kembali.
"makan dulu, kamu sudah sangat lapar bukan" tatap Langit melihat menu yang dibawa oleh penjaga makanan, Zivannya segera memesan beberapa makanan dan minuman yang diinginkannya.
"jadi, kalian hanya sampai besuk dirumah" tanya ibu, Langit menghela nafasnya mengangguk.
"maafkan Langit, bu. tidak bisa menemani ibu lebih lama dirumah" genggam jemari Langit menatap ibu yang merawatnya dari kecil, ibu tersenyum menepuk punggung tangan anak laki-lakinya itu lembut.
"tidak apa anakku, doa ibu selalu menyertaimu. ibu mengerti tugas negara yang ada dipundak mu saat kamu memilih untuk menjadi abdi negara jadi ibu sudah ikhlas melihatmu dari jauh, sekarang ada istri yang juga sering kamu tinggalkan untuk bertugas maka jaga istri mu dengan baik" beri pengertian ibu. Langit mengangguk tersenyum.
"terimakasih ibu, sudah memberi terlalu banyak kepada Langit selama ini dan menerima kekurangan kami berdua" kata Langit, ibu tertawa pelan mengangguk memeluk Zivannya pelan.
"kenapa acara makan ada sisi sentimentilnya begini" senyum Zivannya menghapus air matanya yang keluar.
"kamu yang terlalu perasa" sentil kening Langit, Zivannya mengerucutkan bibirnya dan mengusap keningnya pelan.
penjaga makanan membawa satu persatu pesanan makanan yang mereka pesan, dengan tenang mereka menikmati makanan sambil mengobrol banyak hal.
"jadi mungkin selama periode pimpinan tertinggi kali ini kamu masih ada dipusat, Lang" tanya ibu, Langit mengangguk mengunyah makanannya dengan cepat.
"mungkin setelah itu akan dipindah di bagian timur seperti kak Matahari, bu untuk kembali naik jabatan" jawab Langit, Zivannya menatap Langit lekat.
"kemungkinan, yang. nggak mungkin selalu di pulau ini kan" tatap Langit menyuapi istrinya agar tidak bersuara.
"jika ibu berkenan, saat sudah tidak lagi mengajar, maukah bersama kami saat kami ditempatkan dimana saja nantinya" tanya Langit menatap ibunya. ibu hanya tersenyum melihat kedua anaknya.
"ibu sudah terlalu tua untuk berpindah-pindah, Lang. kalau ibu ikut kalian akan membuat ibu cepat lelah, jika kalian punya waktu untuk mengunjungi ibu maka pintu akan selalu terbuka untuk kalian kapanpun itu. ibu selalu ada menunggu kalian untuk pulang" jawab ibu, Zivannya mengusap air matanya mendengar jawaban ibu Langit.
"Zi, kamu harus kuat. jangan perlihatkan air mata ke orang lain, semakin tinggi kedudukan suamimu maka akan semakin banyak orang yang akan menjatuhkan mu, pahami dan lihat orang dengan baik. jangan biarkan mereka melihat kekuranganmu dan suamimu agar tidak ada celah yang membuat mereka masuk, beri kepercayaan penuh diantara kalian" senyum ibu. Zivannya dan Langit mengangguk mengerti.
"setahun lagi ibu akan berangkat ibadah. ibu sudah mengurus segalanya dengan yang lain jauh-jauh tahun yang lalu, bukannya tidak mau memberitahu sebelumnya tapi ibu merasa jika tiba saatnya pasti ibu akan memberitahu" kata ibu, Langit dan Zivannya menatap ibu segera.
__ADS_1
"kenapa tidak memberitahu sebelumnya bu" tanya Langit.
"penantian pemberangkatan waktu itu belum pasti, Lang. jadi ibu belum berani untuk memberitahu mu, ibu dengan teman-teman pengajar yang lain belum diberi kepastian pemberangkatan" minum ibu.
"apakah semuanya sudah diurus oleh agen pemberangkatan ibadah bu" tanya Zivannya, ibu mengangguk. "nanti jika kalian ada waktu bisa mengeceknya" jawab ibu mengerti kekhawatiran kedua anaknya itu.
"Zi, yang mau ngurut udah datang" hampiri ibu dari luar rumah, Zivannya mengangguk.
"diruang tengah aja ya nak, biar lega tempatnya" senyum ibu, Zivannya kembali mengangguk. Langit mengambil alas tidur untuk Zivannya nantinya, Zivannya melepas pakaian dan memakai sarung.
"gini aja, yang" lihat Langit menatap tajam istrinya. ibu dan Zivannya mengangguk heran. "ya gini, kenapa. yang ngurut juga perempuan, Lang. laki-lakinya cuman ada kamu aja. ada-ada aja kamu itu, biarin istrimu diurut" tatap ibu, Langit nyengir melihat ibu yang berlalu kedalam. Zivannya sudah di urut dengan tenang, pemijat Zivannya hanya senyum-senyum melihat tingkah Langit.
"mbok, tadi kakinya keseleo jadi agak bengkak" beritahu ibu, mbok pemijat mengangguk mengerti. "mbak nya kecapekan, semua badannya kaku ini" raba mbok, ibu mengangguk.
"anaknya nggak mau berhenti istirahat, ditinggal suaminya sebulan punya kesempatan pergi kemana-mana tanpa gangguan" tawa ibu, Zivannya tertawa pelan, "iya, mumpung bisa pulang kemana-mana sendirian" jawab Zivannya, Langit menatap datar istrinya yang berbaring, Zivannya menjulurkan lidahnya menggoda Langit, Langit gemas melihat kelakuan Zivannya.
"wah, lama tugasnya sampai sebulan ditinggal" kata mbok pemijat, "iya, mbok. tugas negara jadi tidak bisa tidak dilaksanakan" senyum ibu. mbok tertawa, "wah, belum bisa tenang ini bikin cucu bu" goda mbok, mereka tertawa.
"semoga segera mbok, biar tambah rame rumah kalo hari raya, kalo bisa kembar biar pada lari-larian dihalaman" kata ibu, Langit dan mbok refleks langsung mengamini permintaan ibu, Zivannya hanya diam saja.
"tidak apa punya anak banyak, rejeki nya juga akan banyak" senyum mbok, mereka mengamini permintaan mbok pemijat. Zivannya lama-lama tertidur mendengar obrolan mereka dan pijatan ditubuhnya.
"biarin aja, Lang. dia kecapekan kesana-kemari agar bertemu dengan keluarganya" pukul bahu ibu pelan, Langit tersenyum.
"jika lebih lama berkumpul sebentar lagi juga akan isi, tidak ada yang perlu dikuatirkan. kesehatan badannya bagus, tidak ada hambatan apapun, kemungkinan punya anak kembar berpeluang besar. apakah ada keturunan kembar di keluarga" tanya mbok, ibu dan Langit saling berpandangan.
"di keluarga kami tidak, mungkin keluarga Zi ada keturunan kembar" angguk Langit.
"hhmmm, begitu. jika nanti punya kembar lebih ekstra untuk menjaga mereka, ibu dan anak-anak nya agar selamat semua" senyum mbok. ibu dan Langit mengangguk mengerti. "yang" hampiri Langit, Zivannya mendongak menatap suaminya, "laper" lihat Langit. Zivannya membelalakkan matanya lebar-lebar melihat suaminya itu tidak percaya.
"tadi pulang sekolah kan udah makan, by. masak laper lagi" tanya Zivannya, "ini jam berapa, yang. masak makan sekali aja" tanya Langit, "mau makan apa, nggak usah jauh-jauh. yang deket aja" tatap Zivannya tidak mau berdebat. Langit tersenyum, "ke ujung aja, ada yang jualan. kita lihat ada apa aja disana" naik turunkan alis mata Langit. Zivannya beranjak dari menonton TV untuk berganti pakaian.
"bu, kita mau makan di ujung sana. ibu mau nitip apa" tanya Zivannya. "makan lagi, tadi kan udah makan banyak" kerut ibu, Zivannya menunjuk Langit yang sudah siap dengan motor ibu dihalaman.
"aish, anak itu. perutnya karet bener, nggak kenyang-kenyang kalo makan dikasih berapapun banyaknya" geleng-geleng kepala ibu melihat Langit.
"kalian makan aja disana, ibu tidak lapar" kata ibu, Zivannya mengangguk dan berjalan keluar.
"ibu nitip apa, yang" tanya Langit menoleh kebelakang. "tidak nitip, udah kenyang kalo mau makan, makan disana aja" jawab Zivannya, Langit segera melajukan motor meninggalkan halaman rumah ibu.
"makan apa dulu nih" kata Langit melihat deretan penjual makanan sambil memarkirkan motor ditempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
"kayaknya semua enak, by" lihat Zivannya tergoda, Langit tergelak mendengar istrinya yang malah antusias melihat para pedagang makanan berjejer dipinggir jalan. "katanya nggak laper, tadi udah makan" goda langit, Zivannya mengibaskan tangan tidak menggubris omongan suami yang menggodanya.
"by, makan ini dulu" dekati pedagang makanan yang ada didekatnya, Langit segera duduk dan menunggu pesanan yang dipesan istrinya.
"satu porsi aja" tanya Langit heran menerima semangkuk mie kuah Jawa. "kita belum nyoba yang lain, jadi tenang aja. satu cukup untuk memakan jajanan sampai perut kenyang" angguk Zivannya duduk disamping Langit.
"dasar, seneng banget kalo liat banyak makanan gini" coba Langit memakan mie kuah panasnya. "hhhmmm, seger" makan Langit kembali.
"aku pesen lagi nih kalo dihabisin" ingatkan Zivannya, Langit segera meniup pelan mie kuah yang akan disiapkan ke Zivannya. "sabar, yang. ini panas lho" sodor Langit, Zivannya merasakan bakmie kuah itu.
"kak" pandang Zivannya. Langit menatap istrinya sembari menyuapinya.
"apa aku terlalu menuntut banyak" tanya Zivannya pelan, Langit menatap tajam kearah Zivannya. "apa yang mau kamu katakan" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "no" jawab Zivannya parau. Langit segera menghabiskan makanannya tanpa menghiraukan Zivannya yang menginginkan bakmi kuah yang dipesannya.
"kita pulang" tatap Langit segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Zivannya tanpa memberi kesempatan padanya untuk menolak. Zivannya hanya menatap suaminya dan segera mengikutinya.
"aku masih lapar" kata Zivannya pelan, Langit menghentikan langkahnya mengambil nafas dalam-dalam untuk meredakan emosinya. "kamu mau makan apa, Zi" toleh Langit, Zivannya menatap Langit dan menunjuk makanan yang ada disebelah kirinya, Langit mengikuti arah gerakan jemari istrinya dan segera melangkah menuju pedagang makanan itu, memesannya satu dan menunggu dibuatkan tanpa melihat Zivannya kembali.
"sudah, mau apalagi" tanya Langit setelah makanannya selesai, Zivannya menggeleng menuju motor. Langit segera melajukan motornya pelan, "apa yang mau kamu katakan Zivannya Dewantara" tanya Langit sedikit lebih tinggi nadanya, Zivannya terdiam.
"tidak ada, aku hanya merasa takut aku meminta terlalu banyak padamu dan itu membuatmu tidak nyaman" jawab Zivannya pelan. Langit menghela nafasnya pelan menepikan motor dipinggir meraih jemari Zivannya agar melingkar sempurna di pinggangnya.
"kamu dan aku itu satu sekarang, yang. kenapa kamu bisa berpikir begitu, apa yang ada di benakmu haa.. aku tidak pernah berpikir kamu menjadi beban ku, tidak sama sekali" kata Langit keras, Zivannya menitikkan air matanya yang menetes pelan.
"aku tidak suka kalau kamu menganggap dirimu tidak berarti apa-apa bagiku, kamu itu sangat-sangat berarti bagiku, yang. jika tidak aku tidak akan berusaha payah untuk mendapatkan hatimu dan cintamu, aku malah ingin kamu menuntut banyak dariku agar aku berusaha untuk memenuhi keinginanmu dan membuatku merasa bangga dan bahagia melihatmu bahagia" kata Langit, Zivannya hanya terdiam.
"bisakah kamu buang jauh-jauh pikiran yang membebani perasaanmu sendiri, aku menjadikanmu perempuan yang ada di hatiku jadi kewajiban ku untuk selalu membuatmu nyaman dan bahagia. aku mencintaimu Zivannya Dewantara" toleh Langit, Zivannya mengangguk memeluk suaminya erat, merebahkan kepalanya dipunggung badannya . Langit tersenyum mengusap punggung tangan istrinya yang melingkar sempurna dipinggangnya.
"jalan-jalan yuk, yang. riding malam" toleh Langit. "nggak pake helmet, kak" kata Zivannya.
"yaa, pulang ambil. apa susahnya" jawab Langit, Zivannya mengangguk. Langit membelokkan motor masuk ke halaman rumah. "tunggu bentar, aku ambil helmet dulu" kata Langit turun mengusap paras istrinya dengan t-shirt yang dipakainya. Langit bergegas masuk dan meraih Hoodie dan helmet. ia segera menutup pintu menghampiri istrinya, memakaikan Hoodie agar tidak kedinginan, helmet. "kita kemana" tatap Zivannya merapikan posisi helmet, Langit mengecup bibir istrinya sesaat sebelum menjawab. Zivannya menatap Langit kesal, ia tertawa sambil memakai Hoodie nya melihat ekspresi paras Zivannya. "nggak usah nolak, ntar kalo udah dikasih lebih hanya bisa berteriak kesenangan" naik motor Langit, Zivannya memukul keras bahu suaminya, Langit tertawa ngakak dan melajukan motor meninggalkan halaman rumah ibu.
"yang, kebiasanmu manggil aku berubah-ubah deh. bikin kesel tau nggak" toleh Langit, "ya" kata Zivannya, "ya, apanya" tanya Langit. "aku akan panggil hubby aja" kata Zivannya, Langit manggut-manggut.
"good, jika kamu memanggilku kakak lagi, akan aku kasih hukuman saat itu juga. nggak peduli tempatnya" ingatkan Langit. Zivannya menegakkan badannya dan melepas pelukannya.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku.
Luv.... Luv.... Luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1