
Zivannya menulis pesan kepada suaminya bahwa ia sudah dalam perjalanan pulang naik kereta, melihat lalu lalang orang yang sedang mencari tempat duduk di dalam gerbong, melihat keluar jendela gerbong dimana hari masih sore saat kereta beranjak meninggalkan stasiun besar Jogja, matahari berwarna keemasan yang terlihat cantik saat akan tenggelam didalam gelapnya malam. keadaan menjadi tenang setelah kereta berjalan perlahan, ia menghirup dalam-dalam udara Jogja yang akan sangat dirindukannya nanti karena lama akan dapat kembali lagi setelah beberapa tahun berjuang untuk belajar dan mengarungi hidup bersama Aga. Zivannya memejamkan matanya sesaat melepaskan beban yang serasa berat ada di pundaknya, perjalanan panjang naik kereta kali ini membuatnya merasa bernostalgia melewati banyak kenangan yang terpatri di dalam bagian perjalanan hidupnya.
se kelam apapun fase yang harus dilaluinya membuatnya tegak berdiri, se hitam apapun perjalanan yang ditempuhnya menjadikannya seorang perempuan yang lebih tangguh lagi. dengan dukungan orang-orang baik yang berada di sekitarnya walau bukan disatukan oleh darah tapi mampu menopang dirinya dan segala sisi gelap dari hidupnya, ia meregangkan tubuhnya sesaat setelah kereta yang ditumpanginya masuk ke stasiun kereta tujuan akhirnya. Zivannya melangkah pelan mengikuti orang-orang yang juga akan turun ditempat yang sama dengannya. ia melihat ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekitar keberadaan suaminya, Langit melambaikan tangan melihat kedatangan istrinya, Zivannya mendekat dan memeluk suaminya erat.
"selamat pulang, yang" senyum Langit mengecup rambut Zivannya yang menghela nafasnya melepas pelukannya, menyerahkan ranselnya ke Langit. "jam berapa, by" lihat waktu Zivannya. "10" senyum Langit mengusap kepala istrinya, merengkuh kedalam pelukannya. "lama nunggunya" toleh Zivannya, Langit menggelengkan kepalanya. "tidak, hanya seperempat jam an" jawab Langit, "minum ini" sodor Langit menyerahkan sebotol coklat panas, Zivannya segera membuka tutupnya dan menyesap pelan coklat panas kesukaan suaminya.
"mau makan dulu" tawar Langit, "makan apa" senyum Zivannya "mie rebus buatan sendiri" tawa Langit, Zivannya ikut tertawa mendengarnya. "bikinin tapi" pandang Zivannya manja. Langit tersenyum mengangguk, mereka menuju ke parkiran kendaraan. "tadi aku bawa kendaraan roda dua biar lebih cepat" pakaikan helmet Langit, Zivannya mengangguk segera memakai jaket kulitnya. "yang" toleh Langit membuka visornya "hhmm" gumam Zivannya. "pulang kemana" tanya Langit, "bunda" jawab Zivannya, Langit mengangguk menarik tangan istrinya agar melingkar di pinggang nya. "apa ada agenda buatku minggu ini, yang" tanya Zivannya. "tidak kayaknya, pasti Baskara akan bilang" jawab Langit, Zivannya mengangguk. Langit melajukan kendaraan roda duanya sesuai dengan lalu lintas yang mereka lalui.
"kenapa di depan ramai, yang" lihat Langit membuka visornya, Zivannya melihat dengan seksama, "by..... nyari jalan lain bisa nggak" kata Zivannya ketakutan. "jangan lihat dan pegangan yang erat" tepuk punggung tangan Langit meredakan rasa takut istrinya, Zivannya memejamkan matanya sembari berdoa. "kak, jangan ikutan. tetep jalan" kata Zivannya pelan, Langit terdiam melajukan motornya pelan. "ada balapan liar, yang. jadi aparatur negara sedang menertibkan mereka dan mencari keberadaan mereka dimana" kata Langit, Zivannya membuka matanya dan melihat sekeliling yang sedang terjadi huru hara.
"kita harus berhenti sebentar untuk diperiksa, yang" pelan kan motor Langit. Zivannya menghela nafasnya pasrah mendengar ucapan Langit, mereka berhenti di lajur yang telah diatur, Langit membuka helmetnya dan membiarkan abdi negara memeriksanya. Zivannya memegang erat jaket Langit. seorang petugas sedang berbincang dengan Langit membuat mereka tertahan lebih lama disitu "udah, yang" toleh Langit memakai helmetnya kembali dan melajukan motor meninggalkan keadaan sekitar.
__ADS_1
"kenapa, masih takut" toleh Langit yang mendapat anggukan dari Zivannya. "hanya pemeriksaan rutin, kamu bagian dari diriku sekarang jadi jangan terlalu kuatir mengenai apapun. kamu yang terlalu banyak berpikir yang neko-neko dan aku orang yang praktis yang akan bergerak sesuai dengan pikiran mu, yang" kata Langit. "jangan" seru Zivannya, Langit tertawa. "jangan membuatku lebih takut, by. jangan" lanjut Zivannya. Langit mengangguk melajukan motornya lebih kencang sehingga Zivannya mempererat pelukannya. "bunda dah istirahat, yang. jadi jangan berisik" bisik Langit, Zivannya menepuk bahu suaminya pelan, "kakak yang berisik" buka mata Zivannya lebar-lebar, Langit nyengir. "mereka berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil minuman. "aku bersihkan badan dulu kak, jangan lupa bikin mie rebus pake telur dua dan irisan cabe rawit 7" pesan Zivannya berlalu menuju kamar. langit menatap kepergian istrinya dengan nanar, "harusnya berdua masaknya biar romantis" hembus nafas Langit mengambil peralatan masak dan segera meracik pesanan istrinya.
Zivannya segera membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya, menyusul Langit di dapur. "udah selesai, by" lingkar tangan Zivannya ke pinggang suaminya yang sedang memasak mie rebus kesukaannya. "baunya harum" hirup udara Zivannya dan mencium pipi Langit. "yang ..... aku bisa makan yang lainnya ini sekarang" toleh Langit. Zivannya segera menjauh untuk membuat jahe panas. "aahhh..... seperti buatan angkringan nih jahenya" senyum Zivannya menyeruput minuman yang dibuatnya, "cobain kak" sodor Zivannya kedepan paras Langit, Langit segera menyeruputnya pelan-pelan. Zivannya mencium mulut Langit yang masih menyesap jahe panasnya, Langit menatap istrinya terkejut.
"yaanngg" dehem Langit, Zivannya tersenyum lebar menjauh menuju ruang tengah untuk menonton TV, mencari channel menonton drama Korea. "mie rebus mu Zi" sodor Langit, "hhmmm" gumam Zivannya tanpa menoleh. Langit meraih paras istrinya dengan kedua tangannya untuk melihatnya "makan, aku mau bersih badan dulu" tatap Langit. Zivannya hanya menatap suaminya. "nggak pake lama, aku tunggu dikamar" senyum smirk Langit melangkah menjauh. Zivannya menatap kepergian Langit dan segera memakan mie rebusnya yang menggugah selera sambil menonton drama Korea "pulang dek" senyum ayah, Zivannya menoleh beranjak dari duduknya untuk memberi salam ayahnya dan memeluknya erat. "barusan, yah. naik kereta dijemput kak Langit. oleh-oleh nya datang besuk" kata Zivannya. bawa pesenan ayah dong" senang ayah. "tenang yah, udah Zivannya bawain tuh di dalam box pendingin" senyum Zivannya. "mau dimakan sekarang, yah" tanya Zivannya kembali memakan mie rebus nya. "nggak besuk pagi aja, ayah cuman mau minum" geleng ayah, Zivannya mengangguk meneruskan nonton dan makan mie nya, "Langit kemana dek" tanya ayah, "bersih badan yah, abis dari kesatuan tadi katanya, ada pemeriksaan rutin" kata Zivannya. "besuk pergi ke kesatuan juga" tanya ayah, "nggak yah, tadi udah Zi tanyain nggak ada agenda buat Zi datang" geleng Zivannya. "besuk ikut ayah sama bunda ke kesatuan yuk" pandang ayah, "berangkat jam berapa yah" tanya Zivannya. "pagi, 7.30" jawab ayah. "siap yah. nanti Zi pamit Ama kak Langit" angguk Zivannya, ayah mengangguk mengusap kepala Zivannya sebelum beranjak dari ruang tengah dimana Zivannya sedang menikmati malamnya. Langit keluar dari kamar melihat istrinya yang masih asyik menonton dan makan mie rebusnya, "belum selesai, yang" dekati Langit, "tadi ngobrol sama ayah mau diajak ke kesatuannya besuk" toleh Zivannya, "jam berapa" tanya Langit mengambil mie rebus istrinya dan memakannya hingga habis. "barengan kakak dinas jam 7.30 an" jawab Zivannya, Langit mengangguk. "habis itu ke ke kesatuan ku yaa, minta diantar ayah nanti" senyum Langit, Zivannya meminum jahenya yang sudah hangat. "sama aja seharian ke kesatuan" pandang Zivannya, Langit mengusap pipi istrinya. "ayo, yang" senyum-senyum Langit. Zivannya beranjak ke dapur untuk mencuci peralatan makan yang mereka gunakan tadi.
"ayo, by. kita tidur sudah dini hari, besuk harus pergi pagi-pagi" kata Zivannya naik ke punggung suaminya yang membawanya kedalam ruangan istirahat mereka. "kalo gini mana bisa tidur, yang" toleh Langit. "bisa, ntar aku ajarin" rebahkan kepala Zivannya dipundak suaminya. Langit tertawa pelan mendengar istrinya yang berusaha menghindar. Zivannya membuka pintu kamar, Langit meletakkan tubuh istrinya diranjang, bergerak mengunci pintu kembali.
"aaahh, by" erang Zivannya meremas rambut Langit "kenapa, mau tidur sekarang" goda Langit meraba benda kenyal candunya, Zivannya membuka matanya dan menarik pipi Langit untuk mendekat "kalo begitu lepaskan dan tidur dengan tenang" tatap Zivannya sayu, Langit tertawa lebar mencium dengan intens setiap detail bibir belahan jiwanya. "kamu membuatku tersiksa jika pergi, yang" desah Langit, Zivannya merengkuh tubuh Langit dan mengecup pipi nya lembut, "agar kamu tahu bahwa rindu itu berat kak" bisik Zivannya, Langit tertawa "seperti film aja" tatap Langit, Zivannya tersenyum. mereka menikmati indahnya kenikmatan duniawi mereka berdua. mereka saling memberi dan menerima, saling berbagi dan meminta, setiap helaan nafas dan rintihan yang keluar memabukkan kedua insan dan membuat terlena.
"dek" ketuk bunda, "ya bund" seru Zivannya segera beranjak dari ranjang, melihat Langit yang masih tertidur lelap disebelahnya, bergerak mengambil t-shirt dan jogger nya, mencuci mukanya "tumben bangun siang dek" lihat bunda, "dini hari baru tidur bund, kereta sampai jam 10 dijalan ada balapan liar jadi nunggu pemeriksaan dulu" minum air mineral Zivannya. "langsung pulang" tanya bunda menghirup teh panasnya, Zivannya mengangguk "makan mie rebus buatan kak Langit bund, ayah tadi malam ngasih tau kalo pagi ini ada acara di kesatuan ayah" angguk Zivannya, bunda menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"iya, mumpung adek udah pulang kan bisa menemani bunda" jawab bunda, "iya, bund. tadi malam udah nanya jadwal ke kak Langit dan mbak Indira, hari ini nggak ada jadwal buat Zi hingga tiga hari kedepan" jawab Zivannya "baguslah, biar bisa istirahat" angguk bunda "apaan bund, orang nanti selesai acara suruh nyusul ke kesatuan kak Langit sekalian keluar katanya" hela nafas Zivannya menopang dagu. bunda tertawa pelan. "anak itu" geleng-geleng kepala bunda.
"yang" panggil Langit Zivannya melihat kearah pintu, "bentar bund, kak Langit mau berangkat kayaknya" anjak Zivannya berjalan menuju ruangan istirahat nya. "kenapa kak" tanya Zivannya "udah mandi belum" tanya Langit, "belum by, tadi ngobrol ama bunda karena mengira Zi udah bangun" kata Zivannya, Langit mengangkat tubuh istrinya masuk kedalam bathroom "by" seru Zivannya, Langit mengabaikan teriakan istrinya dan tetap membawanya masuk kedalam bathroom.
"terlihat segar dek" senyum ayah melihat anak perempuan nya yang sudah rapi pagi ini, Langit tersenyum menyesap coklat panas buatan istrinya. Zivannya duduk disamping Langit dan menyiapkan sarapan pagi untuk Langit. "nasi uduk" senyum Zivannya menaruh piring didepan Langit. "yah, nanti pulang Zivannya mampir ke kesatuan kak Langit" minum Zivannya, "nggak ikut ayah pulang" tanya ayah, Zivannya menggeleng "kak Langit pingin ditungguin" jawab Zivannya, Langit menyuapi istrinya yang dari tadi ngobrol, ayah tergelak melihat tingkah kedua anaknya menerima piring berisi nasi uduk yang diberikan Zivannya kepadanya.
"baiklah dek, nanti ayah antar kesana" angguk ayah sembari sarapan yang sama dengan mereka. "bunda belum selesai" tanya Zivannya, ayah menggeleng "kalau perempuan berdandan lama" jawab ayah, Langit menganggukkan kepalanya tanda setuju, Zivannya menepuk bahu Langit pelan.
hai..... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini
luv ..... luv ..... luv ..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya
__ADS_1
stay healthy all