Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 105


__ADS_3

Langit meraih jemari Zivannya dan membawanya ke mobil yang dipinjamnya dari Dirgantara sesaat setelah datang dari Jakarta tadi siang. Langit meletakkan carrier Zivannya di kursi belakang dan membantu Zivannya memakai seat belt. "kita kerumah ibu. karena hanya 15 km dari sini, aku akan menemanimu sebentar disana. kamu dapat tidur dengan nyenyak di kamar selama yang kamu inginkan, ibu sudah mengerti dan maklum" kata Langit, Zivannya merebahkan kepalanya tanpa mendengarkan kalimat Langit. Langit menoleh mendapati Zivannya yang meringkuk tidur, ia segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju cepat. kondisi jalan yang hanya sedikit padat membuatnya segera cepat sampai rumah.


Langit membuka pintu mobil dan mengetuk pintu rumah ibunya. ibunya segera membuka pintu lebar, Langit mencium punggung tangan ibunya. "loh, Zivannya nya mana Lang" tanya ibunya. Langit menunjuk kearah mobil. mendekati dan mengangkat tubuh Zivannya yang kelelahan.


"barusan turun dari Semeru langsung ke terminal Arjosari, Bu. aku menjemputnya disana, aku bawa kesini aja supaya dia segera tidur. jika aku bawa ke Surabaya, takutnya badannya akan sakit selama perjalanan" jawab Langit meletakkan tubuh Zivannya di ranjang kamarnya yang sudah dibersihkan ibunya, "apa dia baik-baik saja Lang, nggak makan dulu" tanya ibu kuatir.


Langit melepas sepatu gunung Zivannya dan kaos kakinya, "tidak apa bu, bisa seharian dia tidak akan bangun karena kedinginan dan kurang tidur selama 4 hari" senyum Langit. "lama sekali, 4 hari Lang" terkejut ibu, Langit mengangguk. dengan cekatan dia melepas jaket dan kemeja Zivannya hanya menyisakan t-shirt hitam lusuh. Langit menaruh keluar sepatu Zivannya untuk diangin-anginkan diluar rumah. mengambil ransel gunung Zivannya dari dalam mobil, meletakkannya disudut kamar bersama kemeja dan jaketnya.


Langit meminum teh panas yang dibuat ibunya setelah memastikan Zivannya tertidur dengan lelap dengan pintu kamar yang terbuka. "apa dia memberi kabar selama 4 hari mendaki, Lang" tanya ibu Danti, ibunya Langit.


"provider ponsel yang tidak bisa terjangkau bu, Langit hanya mengira berapa lama pendakian Zivannya kali ini. Tim nya ada 16 orang pendaki jadi cukup banyak untuk berjalan, jam 9.45 berangkat dari Jakarta langsung kerumah kakaknya yang dinas di Surabaya untuk meminjam mobil. pas saat dijalan, ponsel Zivannya sudah kembali dihidupkan, rencananya Langit menjemput di Ranu Pani tapi dia sudah bergerak ke Arjosari" jawab Langit memakan makanan yang disiapkan ibunya. "mungkin besuk atau lusa dia akan bangun bu, tadi Langit sudah memberitahunya jika akan aku bawa ke rumah. tapi entah dia mendengar atau tidak karena saat Langit mengatakanya dia sudah kembali tidur" kata Langit, ibu mengangguk.


"nanti malam Langit harus pulang ke Jakarta, titip Zivannya disini. nanti dia akan kembali ke Surabaya sendiri, Langit tidak dapat cuti sekarang" kata Langit memandang ibunya.


"baiklah, jangan kuatir. dia akan baik-baik saja disini. ibu malah senang jika ada yang menemani" angguk ibu Danti. Langit mengangguk meminum teh panasnya.


"dia sudah berjanji akan segera mengurus prosedur pernikahan secara militer setelah selesai mendaki kali ini, Langit harap ibu selalu merestui hubungan kami" pegang punggung tangan Langit, ibu mengangguk tersenyum menepuk punggung tangan Langit pelan. "tentu anakku, ibu selalu akan mendukung keputusanmu. Zivannya gadis yang baik. dia juga tidak menginginkan menjadi seorang dengan status seperti sekarang. takdir yang membuatnya seperti ini, kalian berdua akan hidup bahagia. sayangi dia dan Tuhan akan selalu berikan kebahagiaan dunia akhirat untuk kalian berdua" angguk ibunya, Langit tersenyum dan mengangguk memeluk ibunya erat.


"terimakasih Bu, telah memberikan kehidupan yang jauh lebih baik kepada Langit" kata Langit, ibu mengelus punggung Langit anaknya. "ibu yang selalu berterimakasih kepadamu dan Tuhan yang telah memberikan ibu kesempatan kedua untuk menjadi seorang ibu yang bahagia. jika tidak ada kamu entah ibu akan hidup seperti apa sekarang, pasti ibu akan selalu merasa sakit mengingat semua yang pernah kita lalui. ibu kuat karena ada kamu Lang, ibu selalu ada dan sehat karena kamu menjadi anak yang berbakti" senyum ibu Danti, Langit mencium kedua punggung tangan ibu yang membesarkannya tanpa pamrih dan mengharapkan balasan.


"prosedur militer butuh berapa lama Lang waktunya" tanya ibu. "itu tergantung bu, persyaratan yang diperlukan oleh Zivannya bisa cepat atau nggak. jika jenderal Triastomo menemaninya kemungkinan akan cepat terselesaikan, karena dia sekarang menjadi keluarga Triastomo setelah menikah dengan Aga" jawab Langit. "apakah nanti yang menjadi wali nikahnya tetap kakak dari papanya, Lang" tanya ibu. Langit mengangguk. "tentu saja, bu. itu wali nikahnya, Zi akan memperkenalkan Langit setelah ini bu" angguk Langit, ibu menganggukkan kepalanya.


"apa kamu akan bertugas lama di pusat, Lang" tanya ibu kembali. Langit mengangguk, "Langit baru saja dipindahkan kesana kan, bu. dari daerah Timur. kemungkinan akan menetap sedikit lebih lama di sana. jika boleh meminta, Langit ingin kembali kesini. tapi setidaknya pasti di Surabaya jika nanti bertugas" angguk Langit. ibu menganggukkan kepalanya mengerti. ibu selalu berdoa yang terbaik dan kebahagiaan mu nak" senyum ibu. "terimakasih bu, hanya ibu dan Zivannya yang terpenting bagi Langit saat ini" senyum Langit, ibu tersenyum.


"jam berapa nanti kamu kembali ke Jakarta, Lang" tanya ibu Danti.


"setelah melaksanakan kewajiban petang Langit mengembalikan mobil ke tempat kakaknya Zivannya bu, setelah itu naik kereta malam" jawab Langit. "hanya dua jam lagi berarti, Lang" pandang ibu. Langit mengangguk. "maafkan Langit, bu. selalu tidak bisa menemani ibu lama" kata Langit, "tidak apa nak. ibu tahu beban tugasmu berat, semenjak kamu memutuskan untuk menjadi abdi negara ibu sudah mengikhlaskan mu untuk berbuat lebih baik bagi semua orang dan sekarang kamu juga menjaga seorang perempuan yang berharga untuk kamu perjuangkan, ibu tidak apa-apa" jawab ibu Danti, Langit mengangguk. mencium punggung tangan ibunya kembali.


"mandi lah dulu. nanti ibu bawakan bekal untukmu selama dalam perjalanan" elus kepala ibu, Langit mengangguk dan segera beranjak dari duduknya untuk segera membersihkan dirinya.


"aku kembali bertugas dulu, yang. baik-baik disini. temui aku jika udah sampai di Jakarta" usap bibir Langit menatap Zivannya yang tertidur karena kelelahan. Langit segera berpamitan pada ibunya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah dinas Dirgantara, Langit segera berpamitan kepada Dirgantara sesaat setelah kembali menaruh mobil digarasi samping dan berangkat untuk naik kereta kembali ke Jakarta.


dua hari kemudian

__ADS_1


Zivannya bersiap-siap untuk pulang ke Surabaya, mampir kerumah kakak tertuanya Dirgantara dan Valerie Triastomo. "Bu, Zi pulang dulu. terimakasih sudah merawat Zivannya selama dirumah sini" pamit Zivannya mencium punggung tangan ibu Danti, ibunya Langit. "nggak lebih lama disini aja Zi, nemenin ibu disini" peluk ibu mengusap punggung Zivannya. "kapan-kapan lagi Zi kesininya, Zi mau mampir ke rumah kak Dirgantara dan kak Valerie dulu dua hari. setelah itu Zi pulang ke Jakarta. belum ketemu ayah dan bunda 3 minggu, nanti bunda kepikiran" senyum Zivannya.


ibu Langit mengangguk dan mengantar Zivannya sampai keluar pagar, taksi online sudah menjemputnya untuk mengantar ke stasiun kereta. mobil melaju pelan meninggalkan kediaman ibu Langit yang kecil dan asri. Zivannya turun dan membeli tiket kereta ke Surabaya yang jaraknya tidak terlalu jauh hanya membutuhkan dua jam perjalanan menggunakan kereta ekonomi. Zhivannya duduk dengan seorang gadis yang akan berangkat sekolah.


"baru pulang mendaki kak" tanyanya antusias, Zivannya menoleh dan tersenyum mengangguk. "apakah suatu hari nanti kamu ingin mendaki juga" tanya Zivannya. gadis itu mengangguk malu-malu. "kenapa kakak memilih untuk naik gunung. bukan kesukaan yang lain" tanya pelan, Zivannya tersenyum "karena saat kita sampai puncak rasanya nggak akan tergantikan dengan apapun" jawab Zivannya. dia manggut-manggut.


"apakah dulu pertama kali merasa takut untuk naik" tanya nya lagi. Zivannya mengangguk, "sampai sekarang. setiap akan naik ada perasaan takut ketika ego mengalahkan hati nurani" jawab Zivannya, gadis itu terdiam lama. "sudah lama naik gunungnya ya kak" tanyanya, "lumayan dek" jawab Zivannya. "naik ke mana kemarin kak" tanya nya. "ke Semeru, bersama teman-teman yang lain. mereka sudah pulang duluan, kakak mau menuju rumah kakaknya kakak dulu di Surabaya" jawab Zivannya.


"rasanya seneng banget kalo ngliat cewek naik gunung, keren banget rasanya. pingin seperti itu, tapi pasti orangtua ngelarang" hembus nafasnya. "mungkin jika pelan-pelan ketika kita meminta ijin pasti orang tua juga lama-lama akan mengerti. buktikan dengan kelakuan kita kepada orangtua bahwa kita adalah anak perempuan yang bertanggung jawab. lama-lama orangtua juga akan melihat kegigihan kita" kata Zivannya, gadis itu terdiam lama dan menganggukkan kepalanya mantap.


"terima kasih pencerahannya kak, semoga kita akan bertemu saat mendaki gunung nanti" senyumnya. "tentu, beri tahu kakak jika kamu membutuhkan sesuatu untuk berbagi pengalaman mengenai mendaki" angguk Zivannya. "boleh tau akun media sosialnya kak, siapa tau bisa berteman" tawanya lebar. Zivannya tersenyum lebar mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan media sosialnya. gadis itu menambahkan dirinya didaftar pertemanan Zivannya. Zivannya segera menerimanya "dah" kata Zivannya memperlihatkannya.


"kakak lebih merasa tenang saat sampai puncak" tolehnya sesaat sambil melihat media sosial Zivannya. "damai lebih tepatnya, setelah perjuangan untuk mencapai puncak yang pasti melelahkan. semua rasa itu akan terbayarkan saat berada dipuncak melihat sunrise" angguk Zivannya. gadis itu memejamkan mata membayangkan apa yang dikatakan Zivannya. "pastinya kak, ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan saat itu pasti" kata nya, Zivannya mengangguk.


"ya, kak" salam Zivannya.


"baru naik kereta. nanti kalo sudah sampai Zi langsung kerumah, kak Valerie jemput si ganteng sekolah" tanya Zivannya.


"siap. makasih kak" salam Zivannya menutup panggilan chatnya.


"kakak laki-laki memang lebih protektif" hembus nafas Zivannya.


"karena kakak perempuan sendiri kan" tanyanya. Zivannya menggeleng.


"kakak kedua perempuan. kakak pertama laki-laki, mereka berdua sudah berkeluarga jadi menganggap aku masih harus dijaga" jawab Zivannya pelan. gadis itu tertawa terbahak-bahak. "terkadang menjadi anak bungsu sangat merepotkan ya kak" tolehnya. Zivannya tertawa mengangguk.


"terkadang ponsel sering kakak matiin agar tenang dan damai" jawab Zivannya. gadis itu kembali tertawa, "sama kak, aku juga punya kakak laki-laki yang persis sama. dikira aku nggak bisa jaga diri, padahal kita bukan anak kecil lagi kan" katanya, Zivannya memberi tanda dengan jarinya bahwa apa yang dikatakannya benar.


"terkadang kakak laki-laki kita lupa jika kita juga punya keinginan sendiri" katanya, Zivannya manggut-manggut.


Zivannya turun dari kereta menuju peron depan. melihat beberapa ojek pangkalan yang menunggu penumpang. Zivannya menghampiri salah seorang dan menyebut alamat rumah dinas Dirgantara, menanyakan berapa untuk sampai kesana. mereka bernegosiasi dan sepakat, Zivannya diantar menuju kesana.


tiba didepan petugas jaga di perumahan dinas Dirgantara, Zivannya turun dan memberikan ongkos ojek. Zivannya melapor kepada petugas jaga bahwa mau kerumah dinas Dirgantara, petugas yang mengenal Zivannya segera mempersilahkannya untuk masuk. Zivannya menundukkan kepalanya memberi hormat kepada petugas jaga. Zivannya meletakkan carriernya dan duduk di teras rumah Dirgantara menanti Valerie yang sedang menjemput Raka dan Riki sekolah.

__ADS_1


"Zi" datang Arka memarkirkan motornya, Zivannya tersenyum menatap Arka. "belum datang ibu ketua" tanya Arka menyerahkan paperbag berisi makanan. Zivannya tertawa pelan melihat isi paperbag. "tau aja kalo lapar, kakak belum pulang. tau darimana kalo aku udah sampai" tanya Zivannya. "yang jaga depan, aku berpesan jika kamu datang, agar segera menghubungiku" jawab Arka, Zivannya tertawa mengunyah roti bundar yang dibelikan Arka.


"makasih banyak pak, udah dikasih makan siang. tadi juga udah sarapan" kata Zivannya, Arka mengangguk.


"bagaimana pendakian mu" tanya Arka, Zivannya menganggukkan kepalanya , "lancar, teman-teman yang menyenangkan" kata Zivannya. "apa mereka langsung pulang" tanya Arka, Zivannya mengangguk mengunyah dengan cepat roti bundarnya.


"hallo kak" lihat Zivannya ke layar ponselnya setelah mendengar panggilan dari Langit.


"sudah sampai, yang" tanya Langit menatap Zhivannya yang tampak serius mengunyah makanannya.


"baru aja nyampe di rumah kak Val dan kebetulan Arka membawakan makan siang" perlihatkan roti bundar Zivannya dan Arka yang berada di seberangnya.


Langit tertawa, "tau aja kalo kamu datang. radarnya cepet" kata Langit. Arka tersenyum lebar. "baunya udah tercium dari jauh bang" kata Arka, Langit mengangguk.


"berapa hari disana" tanya Langit menatap Zhivannya lekat, Zivannya meminum jeruk dinginnya.


"baru aja nyampe kak. kenapa nanya pulangnya " kata Zivannya mengerucutkan mulutnya. Langit menghela nafasnya menatap Zivannya lama.


"aku diajak Raka untuk melihat kebun binatang Surabaya" jawab Zivannya memberikan alasan kepada Langit.


"ehemmmm" angguk Langit menunggu jawaban Zivannya.


"Senin depan" jawab Zivannya. Langit tersedak saat meminum minumannya diatas meja.


"seminggu lagi" tanya Langit, Zivannya nyengir mengangguk. "baiklah" angguk Langit menutup panggilannya.


hai.... hai.... hai.... all readers, dukung terus karyaku ya.... terimakasih banyak untuk selalu mendukung karyaku.


luv....luv...


luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all...

__ADS_1


__ADS_2