
setelah sarapan mereka berangkat menuju kampus untuk menemani Rara sidang tugas akhir nya, "semangat bu kamu pasti bisa Ra" semangati Zivannya saat mereka tiba diparkiran kampus, Rara tersenyum mengangguk. mereka keluar dari mobil menuju ruangan tempat diadakannya sidang Rara, Dimas memeluk Rara sebelum masuk kedalam ruangan, mengusap kedua bahunya lembut untuk memberi ketenangan, Rara tersenyum melambaikan tangan kepada mereka yang menunggunya.
Zivannya duduk bersama Matahari dan Dimas disebelah kiri pintu menunggu Rara selama sidang.
"hai, Zi" datang Regan sesaat setelah dekat, Zivannya menoleh tersenyum, "hai, dosen muda" lambai tangan Zivannya, Regan tersenyum lebar. "kapan kamu kesini" tanya Regan duduk disamping Dimas.
"kapan yaa, sabtu atau minggu kalo nggak salah mas" kata Zivannya, Regan tersenyum.
"menemani sahabatmu ujian akhir" pandang Regan, Zivannya mengangguk, "bersama siapa kesini" tanya Regan. "nih abang" toleh Zivannya, Regan melihat sekilas Matahari dan tersenyum. Matahari membalas dengan menganggukkan kepalanya.
"jika ada waktu luang sering kesini Zi, bantu aku untuk mengerjakan proyek kampus, bantuin Dimas terus" kata Regan.
Zivannya tertawa pelan mengangguk "jika Tuhan mengijinkan mas, kalo ada waktu pasti Zi bantuin. soalnya kemana-mana sekarang harus ada bodyguard nya" kata Zivannya.
Regan tersenyum, "aku juga mau jadi bodyguard mu jika kamu mengijinkan" kata Regan cepat.
Zivannya tertawa pelan "makasih mas, bodyguard Zi udah ada 4, takutnya mas Regan malah repot ngikutin Zi yang banyak tingkah kemana-mana" kata Zivannya, Regan tertawa menggeleng. "untukmu aku selalu ada waktu Zi, kamu tau itu" kata Regan.
Matahari berdehem pelan melihat ponselnya, "hallo" salam Matahari menjawab panggilan.
Zivannya dan Regan mengobrol pelan agar tidak mengganggu pembicaraan Matahari, "dek, teman abang mau mampir kesini" kata Matahari, Zivannya mengangguk. "apa harus kedepan, bang biar tidak tersesat" kata Zivannya. "nanti aja kalo dia sudah dekat, abang akan keluar sebentar" angguk Matahari.
"berapa jam kira-kira Rara selesai" tanya Matahari, "sekitar 1-2 jam bang" kata Zivannya, Matahari mengangguk.
Regan berpamitan sebentar untuk mengajar, jika sudah selesai akan menemui mereka kembali. Dimas dan Zivannya tersenyum mengangguk. Matahari tersenyum menatap Zivannya. "kenapa sih, bang. jangan mulai deh" senyum Zivannya, Matahari tertawa terbahak-bahak melihat wajah Zivannya.
Hingga tak lama kemudian ponsel Zivannya berdering ada panggilan dari Langit, "aduh, bapak satu ini kenapa feeling-nya kuat banget" gumam Zivannya memperlihatkan layar ponselnya pada Matahari dan Dimas. "hallo kak" salam Zivannya melihat layar ponselnya
"udah sidang Rara nya" tanya Langit menatap Zivannya
"iya, ini baru nunggu sama bang Matahari dan Dimas, yang lainnya udah pada dikantin" angguk Zivannya memperlihatkan sekitar
"siapa lagi yang datang. dosen muda mu apa tidak terlihat atau sudah menghampirimu" sibuk Langit mengecek beberapa surat yang ada di mejanya.
Zivannya menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Langit
"baru aja pergi" jawab Zivannya pelan, Langit mendongak menatap Zivannya.
"ada abang dan Dimas disitu kan" tanya Langit kembali melihat berkas-berkas yang ada di mejanya.
"ada, always by my side" jawab Zivannya menggaruk keningnya yang tidak gatal, Matahari tersenyum, melambaikan tangan ketika melihat temannya datang dari kejauhan.
"udah sarapan belum kak" pandang Zivannya.
"hmmm, udah tadi makan ketoprak di depan" jawab Langit.
Matahari berbincang dengan temannya, "siapa" dengar Langit
"teman bang Matahari nyamperin ke kampus, mau pergi kayaknya" kata Zivannya pelan.
"kenalin ini adek dari istriku, Zivannya dan temannya Dimas" senyum Matahari.
__ADS_1
Zivannya menerima uluran tangan teman Matahari dengan senyuman. "Zivannya" balas salam Zivannya.
"Bagaskara" salamnya, Zivannya mengangguk.
Langit menatap layar ponselnya untuk melihat kekasihnya karena mendengar nama Bagaskara. Zivannya sedikit menjauh dari yang lain agar dapat menjawab panggilan video dari Langit.
"yang" pandang Langit,
"hmmm" tatap Zivannya lekat
"are U Ok" tanya Langit, Zivannya tersenyum mengangguk
"baik aja, nggak kenapa-kenapa jangan terlalu kuatir saat aku jauh bisa jaga diri" geleng Zivannya pelan.
"baik, jangan lupa selalu kabari kalo kemana aja, yang" kata Langit
"pasti, yang. aku akan selalu memberi kabar" angguk Zivannya, Langit tersenyum lebar melihat Zivannya.
"Luv U sweet heart" kata Langit.
"luv U more, yang" senyum Zivannya. Langit tertawa lebar menutup panggilannya, Zivannya meletakkan ponselnya disaku rok panjangnya.
"dek" panggil Matahari, Zivannya mendekat. "abang pergi dulu sama Bagas, sampaikan salam kepada Rara. nanti abang hubungi saat mau ke bandara" elus kepala Matahari, Zivannya mengangguk menyalami Matahari. Dimas melambaikan tangan mengerti. Matahari dan Bagaskara berjalan menjauh meninggalkan kampus.
Zivannya berbincang-bincang dengan Dimas selama menunggu Rara, Regan datang setelah mengajar. "udah selesai, mas" tanya Dimas, Regan mengangguk.
"gimana kerajaanmu Dim, apa nggak ingin ngajar disini aja" toleh Regan. "tunggu nyari pengalaman dulu mas, biar lebih kaya pengalaman" senyum Dimas, Regan mengangguk.
"apa kamu akan segera menikah kembali" tanya Regan.
"kenapa mas, apa mau ngelamar jadi suami Zivannya" goda Dimas. Regan mengangguk, "jika dia mau, sekarang aku akan melamarnya" kata Regan, Zivannya tersenyum.
"jangan suka bercanda pak dosen, nanti mahasiswi mu pada berpikir yang macam-macam dan aku nanti yang akan dituduh macam-macam" alihkan Zivannya agar Regan tidak lagi membahas hal itu.
"bener Zi, tuh para mahasiswi udah pada kepo liatin kita ngobrol sama dosen ganteng idola mahasiswi" goda Dimas, "jadi berasa kayak tua banget nggak sih Dim, ngliat yang bening gitu dan kita udah nggak kuliah lagi" kata Zivannya menatap mereka yang lalu lalang, Dimas melipat tangannya kedepan dan mengangguk.
"umur ternyata tidak bohong" angkat bahu Zivannya, Dimas tertawa kecil, Zivannya tertawa lebar, Regan menatap Zivannya yang terlihat mempesona.
mereka bertiga mengobrol dari yang ringan hingga serius, terkadang diselingi tawa dan canda. beberapa mahasiswi tampak terlihat lalu lalang memperhatikan tiga orang yang sedang duduk dan mengobrol itu, seperti tidak pernah bertemu dengan Dimas dan Zivannya, apakah mereka mahasiswa di jurusan ini atau tidak tetapi mengapa mereka berbincang begitu akrab dengan dosen ganteng mereka, Zivannya terlihat imut dan cantik diantara dua pria ganteng yang menemaninya.
seseorang mendekati mereka untuk memberikan pesanan Dimas yang nantinya akan diberikan kepada Rara setelah selesai sidang. Zivannya menerimanya dan meletakkannya disamping.
"kita berikan setelah dia keluar bukan" pandang Zivannya. Dimas mengangguk.
"apa kalian akan keluar bersama merayakannya nanti" tanya Regan, Zivannya saling menatap dengan Dimas, "belum tau mas, soalnya nanti abang mau pulang ke Jakarta untuk dinas kembali mau ngantar kebandara setelah itu terserah Rara mau keluar apa nggak" angkat bahu Zivannya tidak tahu rencana yang telah disusun Rara dan Dimas.
"jika kamu butuh pasangan, hubungi aku. nggak enak kan jadi orang ketiga saat mereka berdua" kata Regan, Zivannya tertawa kecil mengangguk. "siap mas, ntar bisa diatur. ada banyak waiting list kalo mau nemenin aku" tambah Zivannya pede.
Regan tertawa lebar. "apa sebegitu banyaknya sainganku Zi" goda Regan. Zivannya tersenyum, "tidak sebanyak mas dosen dengan mahasiswi yang mengantri, tuh liat aja udah pada larak-lirik kayak ngajak berantem. takut" geleng Zivannya mengangkat tangannya, Dimas tertawa tertahan melihat ekspresi Zivannya.
Rara keluar dari ruangan Dimas dan Zivannya berdiri dan memberikan selamat untuk Zivannya, Dimas memberikan rangkaian coklat berbentuk hati, Rara tertawa menerimanya, Zivannya memberikan rangkaian makanan ringan untuk Rara "selamat bu, sudah melewati ujian akhir yang bikin deg-deg an. selamat datang di dunia pengangguran" peluk Zivannya erat, Rara tertawa lebar mendengar ucapan Zivannya.
__ADS_1
"sedih ya Zi, enakan kuliah aja" pandang Rara.
"he em, masa paling menyenangkan dengan status pelajar" senyum Zivannya, Rara tertawa pelan. Regan memberikan selamat untuk Rara, "makasih mas dosen, semangat untuk terus mengajar. banyak mahasiswi yang menunggumu tuh udah diliatin aja, dikira salah satu dari kita adalah pasangan mu. benar-benar tidak bisa dekat-dekat dengan mas dosen nih" geleng-geleng kepala Rara, Regan menghela nafasnya panjang.
"kalo gitu aku ke dalam bentar. kalian bisa merayakannya dengan tenang" senyum Regan beranjak pergi dari situ, Dimas memeluk Rara mengusap punggung nya pelan, "selamat Ra, kamu hebat bisa selesai tepat waktu" senyum Dimas, Rara mengangguk tersenyum lebar.
"bang Matahari mana nggak kliatan" toleh Rara ke kiri dan kanan mencari sosok Matahari disekitar situ.
"tadi temannya udah datang, kita ketemu di bandara aja nanti abang akan memberitahu jika sudah mau ke bandara agar kita menyusul kesana membawa tas yang dititipin di mobilmu" kata Zivannya tersenyum, Rara menganggukkan kepalanya paham.
"kalo begitu sekarang kita harus ke kantin. udah sampai sini jadi kita kesana" raih jemari Rara ke keduanya. "ayo" semangat Zivannya. mereka tertawa bersama.
"pesen apaan" tanya Dimas saat mereka sampai dikantin dan duduk dipojokkan.
"bakso, rujak dan jeruk dingin" pesan Zivannya. "habis tuh bu" lirik Rara, "kita kan bertiga, lama nggak ke kantin kampus. nongkrongnya sekarang beda ke kantin kesatuan Langit" kata Zivannya menghela nafasnya.
Rara tertawa ngakak, Dimas memesan beberapa makanan untuk mereka bertiga. Zivannya menghubungi Langit, meletakkannya disudut yang dapat dilihat Langit saat nanti dia melakukan apapun. Langit tidak membalas panggilan nya, Zivannya segera mematikan dan mengobrol dengan Rara dan Dimas.
"tadi ngobrol lama dengan mas Regan" tanya Rara, "lumayan" angguk-angguk Zivannya.
"apa dia memintamu lagi" toleh Rara, Zivannya mengangguk pelan, ponselnya berdering Langit menghubunginya "udah selesai, yang" lihat Langit dilayar ponselnya. Zivannya mengangguk "selamat Ra, sudah lulus. ditunggu makan-makan besarnya" senyum Langit tipis.
"makasih komandan, makasih juga udah ngijinin Zivannya nemenin malah dianterin segala" senyum Rara lebar, "hmmmm" angguk Langit.
"Dimas kemana, yang" lihat Langit tidak melihat keberadaan laki-laki yang selalu ada disamping mereka berduaan.
"baru beli makanan, tau tuh nggak balik-balik" kata Zivannya, Langit tersenyum.
"komandan" salam seseorang, Langit mendongak menatap pintu ruangannya. Zivannya menoleh sesaat melihat Langit sedang berkoordinasi dengan anggotanya.
"tadi bang Matahari pergi kemana" tatap Rara, "cuman bilang mau ketemu temannya. tadi ada yang nyamperin, dikenalin namanya Bagaskara" topang dagu Zivannya, Rara menatap Zivannya lekat.
"berpengaruh tapi nggak sedramatis itu Ra, kebetulan aja namanya sama, tadi malam udah di re charge sama kak Langit, nangis sampai ketiduran" jawab Zivannya pelan, Langit menatap kekasihnya sesaat.
"tadi pagi udah ketempat kak Aga dengan abang dan kak Langit, adem aja ketika kita bertiga datang" senyum Zivannya, Rara menepuk punggung tangan Zivannya.
"semoga kita akan menjadi sahabat selamanya Zi" kata Rara. Zivannya tersenyum mengangguk. Dimas datang membawa makanan yang mereka minta.
"makan kak" toleh Zivannya, Langit tersenyum mengangguk melihat kekasihnya yang tampak cantik dengan pakaian biru cerah. Dimas melambaikan tangan saat ada teman mereka yang datang.
"Zivannya, lama tidak jumpa" seru Riko, Zivannya mengangguk dan memberi salam. "jadi anak Jakarta kah sekarang" duduk Riko, Zivannya mengangguk. "aahhh, aku kangen kalian. cepet banget lulusnya" kata Riko. Dimas tersenyum menyodorkan minuman dingin.
"mau pesen apa ko" tanya Rara, "makasih Ra, aku baru aja sarapan. selamat kamu sudah sidang. aku belum" salam Riko, Rara menyambut nya.
"makasih Ko, semoga kamu juga segera lulus jangan main cewek melulu" senyum Rara, Riko tertawa. "soalnya kalian nggak ada yang mau sama aku" canda Riko, mereka tertawa pelan bercanda sambil makan.
hai.....hai....hai.... all readers terimakasih banyak telah mampir dan memberi dukungan terhadap karyaku ini.
luv..... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semuanya...
stay healthy all
__ADS_1