
Zivannya menapaki jalan yang dilaluinya dengan pelan, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh, membawa si kembar kemana-mana membuatnya sedikit lelah ketika terlalu banyak beraktifitas. acara tujuh bulanan kembar dirumah keluarga Triastomo berlangsung meriah, kedatangan tamu undangan teman-teman terdekat menambah keceriaan. dibantu oleh Langit, Zivannya melakukan prosesi acara demi acara.
"kak, aku mau duduk" bisik Zivannya, Langit mengangguk mendekatkan kursi ke istrinya agar segera duduk, perut Zivannya yang semakin gede membuat Langit tidak berhenti mengusapnya jika berada didekat istrinya itu.
ayah dan bunda tersenyum lebar melihat kebahagiaan anak-anak mereka hari ini, Dirgantara dan keluarganya sudah dua hari berada dirumah untuk ikut melihat prosesi tujuh bulanan anak Langit dan Zivannya, Matahari dan Mentari sudah dari dua bulan kandungan Zivannya telah dipindah tugaskan kembali di pusat dengan tugas dinas yang berbeda dengan Langit.
Zivannya sesekali tertawa dan meringis bersamaan dengan pergerakan kedua baby yang bergerak bebas. Langit tertawa merasakan pergerakan kedua anaknya yang sedikit cepat. "jangan buat ibun kesakitan nak" usap Langit diperut Zivannya. Raka mendekat dan mengusap perut Zivannya pelan, "aku besuk yang akan menjaga mereka berdua onty" tatap Raka, Zivannya mengangguk mengusap kepala Raka lembut "tentu, kak. jaga adik-adiknya jika sudah keluar ya" senyum Zivannya, Raka mengangguk dengan mantap.
"yang, aku pijitin kakinya" kata Langit meminta Zivannya untuk duduk meluruskan kakinya di sofa panjang karena jika di bawah maka akan kesusahan untuk bangkit kembali, Zivannya mengangguk dan menyandarkan punggungnya di lengan sofa setelah seharian berkutat dengan acara.
"non dek, ini coklat dinginnya" letak Marni disisi Zivannya, "makasih mbak" angguk Zivannya memejamkan matanya merasakan sensasi pijatan Langit yang nyaman di telapak kakinya.
"apa anak-anak tidur kak" tanya Zivannya sesaat melihat kedatangan Valerie dari dalam ruangan pribadinya.
"iya, akhirnya setelah seharian berlarian kesana kemari" angguk Valerie menatap Zivannya yang tertawa senang "mereka selalu melakukan hal yang membuatku gemas, apa mereka akan melihat adik-adiknya dengan antusias nanti" kata Zivannya gembira. Matahari bergabung dengan mereka.
"abang akan tugas diluar selama seminggu" kata Matahari, "kakak ikut" tanya Zivannya, Matahari mengangguk. "tentu, jika tidak pasti akan merajuk" senyum Matahari, "Langit juga ikut" tambah Matahari sesaat kemudian, Zivannya menatap paras suaminya sesaat. "masih seminggu lagi, yang. setelah acara ini aku akan meminta ijin untuk dinas" jawab Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang. "langsung pulang kan nggak mampir kemana-mana lagi" tanya Zivannya, Langit tersenyum mengangguk.
"jika komandan tidak memberi perintah yang lain, maka kita akan segera pulang dek, jangan kuatir" senyum Matahari. "tugas dimana" datang Dirgantara menatap mereka berdua.
"di daerah timur kak" jawab Matahari, Zivannya melebarkan matanya menatap suaminya lekat. Langit segera mengusap perut Zivannya yang terlihat mengencang karena pikiran Zivannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"kita hanya menemani panglima untuk mengecek semua yang terjadi di sana, yang. setelah itu kita pulang, hanya peninjauan" kata Langit, Zivannya segera duduk menurunkan kakinya dan meminum jahe hangat dari mbak Marni tadi.
"baiklah" angguk Zivannya menghela nafasnya beberapa kali untuk merilekskan perutnya yang kencang.
"ada Abang dan kakak yang akan bersamanya, Abang memang harus bersama Langit untuk koordinasi dengan yang lain" topang dagu Matahari meredakan kekhawatiran Zivannya yang trauma dengan penugasan Langit.
"kita menginap dan menjalankan tugas selalu berdua dek, kita akan saling jaga jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu" tatap Matahari, Zivannya memejamkan matanya menetralisir perasaannya sendiri. "kita akan selalu memberi kabar setiap hari" kata Langit mengusap perut Zivannya. "tentu, aku sudah tidak apa-apa" angguk Zivannya membuka matanya.
bunda datang membawa sesuatu. "apaan tuh bund" lihat Dirgantara.
"dulu bunda dan ayah pernah berucap untuk kelahiran baby Aga dan Zivannya. maafkan bunda Lang. bukan maksud bunda untuk memberi luka" tatap bunda lekat, Langit tersenyum menggeleng. ia mengerti bahwa itu juga tidak mudah untuk orang tuanya itu mengatakan hal itu.
Mentari bergabung dengan keluarganya diruang tengah dan duduk memeluk Matahari yang mengecup rambutnya pelan.
"entah kenapa, saat itu Aga berucap jika nanti anak Zivannya kembar dan meminta ayah dan bunda untuk selalu menyayangi anak-anak Zivannya kelak" ujar bunda dengan sedikit bergetar meletakkan kedua tangannya didada, ayah mengusap kedua bahu istrinya.
"ayah dan bunda sudah sejak lama menyiapkan kedua barang ini untuk mereka" buka barang bunda, Zivannya menatap bunda speechless.
__ADS_1
"bund" ujar Langit pelan, bunda tersenyum menatap kedua putra bungsunya pelan. "bunda menepati janji itu, baby kalian adalah cucu kami dan perkataan Aga yang mengatakan anak Zivannya kembar juga kebetulan yang sama" kata bunda, Zivannya mengusap pelan air mata yang menetes sendiri, Langit menoleh dan menghapus air mata istrinya itu.
"tidak ada perlakuan yang berbeda dari ayah dan bunda nantinya terhadap anak-anak kalian berenam. semuanya adalah cucu ayah dan bunda, cucu kakung dan uti" tatap bunda.
"tanda ini adalah kasih sayang yang kami berikan untuk kehadiran cucu ketiga dan keempat kami. akan banyak kasih dan sayang yang akan kami bagi untuk cucu-cucu kami semua, tanpa kecuali. jadi biarkan disisa umur bunda dan ayah ini dapat bermain bersama mereka" senyum bunda, ketiga putri nya bergerak secara bersamaan memeluk bunda dengan hangat. Zivannya yang paling keras menangis merasakan kasih sayang kedua orang tua Aga yang tidak berkurang sedikitpun walau suami pertamanya sudah pergi meninggalkan dirinya selama-lamanya. Langit beranjak membawa istrinya untuk memenangkannya, menghapus air matanya.
"sebisa mungkin kalian hidup bersama dalam kerukunan dan saling menghargai satu dengan yang lain. ingat lah jika kalian adalah saudara yang akan saling membantu satu dengan yang lainnya" kata bunda, "siap, bund" jawab ketiga putranya cepat.
"sebisa mungkin jangan jauh-jauh dari bunda dan ayah tinggalnya, biar bunda dan ayah tidak merasa kesepian hanya berdua dirumah" kata bunda.
"duh, bund. itu yang sulit, gimana kata pimpinan kalo urusan itu" kata Dirgantara pasrah, Valerie menepuk kaki bagian atas suaminya. "bunda juga tau pa, bunda hanya berharap anak-anak nya sering pulang kesini menemani" tatap Valerie, Dirgantara nyengir memeluk istrinya. "maafin papa, tidak peka dengan maksud bunda" kata Dirgantara, Valerie memutar bola matanya jengah.
"Langit menitip Zivannya selama nanti tugas diluar bund" kata Langit melihat istrinya yang sudah bisa mengendalikan dirinya. bunda mengangguk "nggak kamu bilang juga, kami akan menjaga adek dengan sepenuh hati, Lang" jawab bunda, Langit tersenyum lebar.
"by" toleh Zivannya menatap suaminya yang berbaring disampingnya, Langit menoleh menatap paras cantik Zivannya yang semakin menampakkan aura mempesona. ia mengecup pelan bibir istrinya dan mengusapnya pelan.
"jika sudah selesai dinas, langsung pulang. jangan lama-lama perginya" tatap Zivannya, Langit tersenyum.
"pasti, yang. aku juga tidak mau meninggalkanmu terlalu lama, berat hatiku untuk meninggalkan kalian bertiga disini" usap rambut Langit pelan. Zivannya menyusupkan kepalanya di leher Langit mencari kenyamanan untuk segera memejamkan matanya.
pagi hari suasana dikediaman keluarga Triastomo sudah tampak sibuk.
"adek, udah bangun" usap bahu Zivannya tersenyum melihat Riki yang duduk sedang mengunyah sarapannya. Zivannya duduk didekat Valerie sembari meraih makanan yang ada di meja makan.
"pada kemana kak" tanya Zivannya, bunda masih dikamar, dek" jawab Mentari. "jika yang lain entah pada kemana" angkat bahu Mentari tidak tahu, Zivannya mengunyah sarapan paginya dengan lahap. "apa mereka semakin aktif, dek" usap perut Mentari menatap paras Zivannya yang mengangguk tersenyum.
"rumah kembali rame, bunda dan ayah pasti senang sekali" kata Mentari, Valerie mengangguk mengunyah makanannya.
"aku sebenarnya juga ingin berkumpul di sini, tapi belum waktunya" senyum Valerie, Zivannya mengusap bahu kakak perempuan pertamanya pelan.
"jika ada waktu, jalan yuk kak" tatap Mentari.
"aku nggak diajak kak" tanya Zivannya pelan, Mentari tergelak.
"tentu saja ikut dek, kakak tidak akan meninggalkanmu di rumah" kedip mata Mentari.
para lelaki keluarga Triastomo telah kembali dari olahraga pagi mereka mengelilingi kompleks.
"sarapan kita" duduk ayah melihat cucunya yang sedang menyantap makanannya.
__ADS_1
Zivannya meletakkan secangkir kopi hitam didepan suaminya, "makasih, yang" Ujar Langit tersenyum dan mengusap perut Zivannya yang terlihat menggemaskan.
"kalau kalian nanti bertugas ke daerah timur jangan lupa untuk bertemu dengan D" ingatkan ayah meraih cangkir kopinya, Langit dan Matahari mengangguk dengan tegas.
hari keberangkatan dinas Langit dan Matahari telah tiba, Zivannya mengantar kepergian suaminya dengan berat.
"hati-hati saat aku jauh, yang. kabari aku kalau mau kemana saja. jika tidak ada keperluan tidak usah keluar rumah" tatap Langit menciumi ubun-ubun kepala Zivannya yang terlihat tidak banyak bicara.
"aku akan segera pulang, tidak usah berpikir macam-macam. cukup doakan agar aku selamat sampai rumah" senyum Langit mengusap pipi kiri Zivannya. istrinya hanya mengangguk dan menyeka airmata yang turun dengan sendirinya. Langit mencium kening Zivannya lama, segera mengangkat ransel dantas jinjing yang akan dibawanya. ia melangkah menjauh meninggalkan Zivannya yang menatap kepergiannya.
Zivannya melajukan mobil dengan pelan meninggalkan bandara tempatnya mengantar Langit dan Matahari pergi berdinas. ia menghapus sisa airmata yang keluar.
"yang" salam Langit sesaat setelah mendarat di bandara daerah timur.
"sudah sampai kak" jawab Zivannya menatap layar ponsel yang terhubung dengan Langit.
"hhmm" senyum Langit melihat paras Zivannya yang selalu cantik. "miss U, yang" ujar Langit, Zivannya menoleh menatap suaminya yang berjalan pelan mengikuti langkah abdi negara lainnya.
"apa tadi terjebak dijalan saat perjalanan pulang" tanya Langit, Zivannya mengangguk menatap layar laptopnya.
"ngerjain apa, yang" kerut Langit melihat Zivannya yang sedang serius. "ah iya, kak, sehabis nganter tadi, Rara memintaku untuk membantunya menyelesaikan proyek baru, daripada nganggur nunggu seminggu" cengir Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar.
"jangan begadang tapi, kasihan twins jika dirimu kurang istirahat" kata Langit, Zivannya mengangguk mengerti.
"tentu kak, tidak akan lupa punya alarm segede gaban" jawab memperlihatkan perutnya yang besar. Langit tergelak melihat sikap istrinya itu. Zivannya tertular melihat suaminya yang tertawa lebar.
"aiishh, aku benar-benar sudah merindukanmu, yang" tatap Langit, Zivannya memberikan tanda fingerheart ala Koreanya.
"cepatlah kembali kalau begitu pak komandan, agar aku bisa memelukmu" topang dagu Zivannya, Langit mengangguk mantap.
"semoga, yang. semoga urusan komandan tertinggi kesatuan di sini dapat lebih cepat agar pulangnya juga cepat" jawab Langit melihat pergerakan abdi negara lainnya. Zivannya mengamini doa suaminya.
Hai.... Hai.... Hai.... All readers, maafkan lama tidak update, hari ini baru bisa nongol lagi, hehehe.
terimakasih banyak atas dukungan nya selama ini, jangan lupa untuk me - like karyaku.
Luv.... Luv... Luv U all readers sekebon pisang goreng.
terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all