
selama di Jakarta, Zivannya selalu pergi dengan ayah dan bunda, terkadang keluar dengan mentari dan matahari, karena matahari sudah mulai dinas lagi. selama tiga hari Zivannya selalu menemukan sesuatu hal maupun tempat yang baru yang membuatnya merasa nyaman. ikut bunda mengunjungi panti asuhan bersama para istri teman-teman dinas ayah, acara di kesatuan Ayah yang bertepatan saat Zi disana, hingga banyak yang menyangka Zivannya adalah anak gadis bunda yang belum nikah, terkadang membuat bunda dan Zivannya menghela nafas saat petugas perwira melihat mereka melintas dan ingin mengenal Zivannya lebih jauh.
"aduh dek, bunda pusing kalo bawa Zivannya ke tempat Ayah" ujar bunda menghela nafasnya setelah Aga tampak dilayar.
"kenapa bund, apa Zivannya ngilang sendirian" tanya Aga menatap bundanya sesaat, bunda segera mengganti kamera ke kamera belakang ponsel agar Aga melihatnya.
beberapa perwira pemuda melihat Zivannya dan mendekatinya untuk mengenalnya lebih jauh, Zivannya yang duduk di samping Ayah menggelengkan kepalanya tanda tidak mau diganggu saat itu, Aga melihatnya sedikit kesal karena banyak yang mendekati istrinya, setidaknya Zi tidak memberi kesempatan lebih kepada para perwira muda itu.
"banyak bund yang mendekat" senyum Aga, bunda mengangguk. "taunya mereka Zi itu anak gadis bunda yang belum menikah" tawa bunda pelan,
"ya emang anak gadis bunda. tapi sudah menikah, aishhh.... anak muda sekarang liat yang bening aja langsung gerak cepat, kalo nggak dekat ayahmu, dari tadi ada aja yang sengaja nyasar kesini. nggak tau tuh, padahal banyak yang bawa anak gadis juga lho malah pada tebar pesona. lha Zivannya malah cuek gitu kok malah pada penasaran, bebek aja kalah cueknya. pake sneakers dia, bunda suruh pake heels nggak mau. capek katanya ya udah.." kata bunda, Aga tertawa pelan mendengar kalimat panjang bundanya.
"ponselnya juga ada di tas bunda, nggak mau bawa. tapi kalo nanti kamu hubungi dia kalo nggak dibawa susah juga katanya" ucap bunda memperlihatkan ponsel Zivannya dari dalam clutch nya.
"aahhh.... nggak terasa besuk dia udah pulang, pingin dia kuliah disini aja dek biar dekat sama bunda biar rame" kata bunda, Aga tersenyum. "nanti Aga yang kesepian bund, nggak bisa buat cucu dong bund nanti" kata Aga, bunda tertawa pelan mengangguk.
Zivannya tengah menata beberapa baju yang mau dibawa pulang, "dek, acara mama kapan" tanya bunda, "Jumat malam bund, ditempat om Hadi. nenek yang meminta untuk disana. Jumat siang Zi udah tiba disana, entah nanti kak Aga sorenya atau bareng, Zi belum tau juga" geleng Zivannya. bunda mengangguk.
"dek, ada sedikit uang untuk bantu acaranya mama disana, bunda nggak bisa datang. karena ada acara sama angkatan Ayah ke Bali" sodor amplop coklat bunda. Zivannya mendongak menatap bundanya, menggeleng meneteskan air mata. "nggak usah bund, yang kak Aga kasih ke Zi udah lebih dari cukup. peninggalan mama juga masih banyak buat Zi pake. bunda udah baik banget sama Zi selama ini, bagi Zi itu udah lebih dari cukup. nggak usah ngasih duit gini bund, harusnya Zi yang ngasih ke bunda tanda bakti Zi dan kak Aga" geleng Zivannya memeluk bunda menangis pelan. bunda mengusap punggung Zivannya lembut. "ya udah. bunda ambil lagi berarti untuk liburan ke Bali" senyum bunda menggoda, Zivannya mengusap air matanya dan tertawa pelan.
"jaga kesehatan bund, jangan kecapekan, nanti gampang sakit" kata Zivannya, bunda tertawa dan mengangguk.
"kamu naik taksi ke bandara nya, Matahari belum selesai tugas dan Mentari ada acara diluar dengan ibu-ibu Persit" kata bunda, Zivannya mengangguk dan mengelus bahu bunda pelan.
"nanti Zi pake ojek online aja bund, biar aman bisa dipantau diperjalanan udah sampai apa belum" geleng Zivannya memperlihatkan aplikasi ojek online dari ponselnya, bunda mengangguk.
__ADS_1
"jaga Aga ya Zi, jaga hubungan kalian, saling menjaga satu sama lainnya, jika ada hal-hal yang tidak pas antara kalian bicarakan baik-baik, apapun itu pasti kalian bisa atasi. duduk tenang dan bicara" elus punggung tangan bunda, Zivannya menganggukkan kepalanya. "baik bund, Zivannya akan selalu ingat yang bunda katakan, Zi berusaha untuk melayani kak Aga dengan baik dan sepenuh hati" senyum Zivannya, bunda memeluk Zivannya lagi.
"bunda merasa senang kamu bersama dengan Aga, kalian harus saling percaya satu sama lain yaa" nasehat bunda, Zivannya tersenyum dan mengangguk.
"udah selesai packing dek" lihat ayah, Zivannya mengangguk menaruh tas jinjingnya disamping kursi ruang tamu.
"sekarang jam 3 sore, kamu mau langsung berangkat dek" lihat jam dinding bunda, Zivannya minum jus jeruknya. "iya bund, takut macet dijalan ya kalo nggak jauh-jauh waktunya" jawab Zivannya, bunda mengangguk. "jika ada waktu pulang kesini dek, lebaran besuk pulang ke Jakarta, orang-orang pada ke jawa kamu malah kejakarta" kata bunda tertawa. Zivannya tersenyum lebar.
"kak Aga emang bisa pulang bunda kalo lebaran" tanya Zivannya. "jarang... hehehehe.... jaga keamanan kan, puncaknya mudik dan arus. petugas kepolisian dan tentara pasti kerja ekstra" kata bunda, Zivannya tertawa.
Zivannya pamit pada ayah dan bunda, memeluk mereka setelah mencium punggung tangan keduanya. "jaga kesehatan yah, bund. jika ada waktu Zi pasti pulang" kata Zivannya, bunda mengangguk.
ojek Zivannya segera meninggalkan rumah kedua orang tua Aga. selama perjalanan kebandara, Zivannya mengobrol dengan pemuda yang mengantarnya.
"terimakasih sudah mau mengantar saya jauh dari rumah kesini" senyum Zivannya, pemuda itu mengangguk dan tersenyum.
"dan ini untuk membeli martabak kedua orangtuamu. banyak-banyak minta restu untuk hidup membahagiakan mereka" senyum Zivannya memberi lembaran uang untuk pemuda itu. pemuda itu mengucapkan terimakasih dan mendoakan Zivannya. Zivannya melambaikan tangannya masuk kedalam bandara, menuju tempat check in dan menunggu pemberangkatan.
"hallo by, sedang menunggu dibandara, berangkat jam 5.30" jawab Zivannya.
"iya, sendirian tadi naik ojek online, kak Matahari masih dinas, kak Mentari ada urusan" jawab Zivannya.
"nggak ada siapa-siapa disamping, jemput nanti disana" tanya Zivannya.
"iya.... iya ..... iya hubby" hela nafas Zivannya mematikan panggilannya. Zivannya membuka media sosialnya, melihat beberapa pemberitahuan dari teman-teman nya, ia mengerutkan keningnya melihat postingan Aga, moments dimana dia sedang tidur dengan rambut yang berantakan dan hanya terlihat sedikit mukanya, Zivannya tersenyum melihat komentar orang-orang yang melihat moments itu.
__ADS_1
Zivannya memberi komentar nice shoot dan emoticon thumbnail. Aga membalas segera dengan emoticon cinta. Rara segera mengomentari percakapan mereka berdua. Zivannya tersenyum lebar melihat kelakuan mereka yang kayak anak sekolah yang saling melontarkan pernyataan.
tiba-tiba seseorang duduk disamping Zivannya tanpa menoleh kesamping, Zivannya segera bergeser kesamping agar tidak mengganggu orang tersebut yang sedang mengobrol diponselnya, pemuda tegap itu menoleh sekilas dan kembali meneruskan percakapannya, Zivannya sama sekali tidak melihat dengan jelas paras pemuda tegap itu, yang dia perkirakan usianya selisih 2 tahun diatasnya dan dari postur tubuhnya dapat dipastikan dia seorang abdi negara seperti suaminya.
Zivannya mendengar pemberitahuan bahwa pesawatnya sudah akan berangkat, ia segera mematikan ponselnya dan beranjak dari tempat duduknya sambil menjinjing tas yang dibawanya. Zivannya menyerahkan tiketnya dan berjalan pelan menyusuri lorong untuk masuk kebadan pesawat. Zivannya duduk didekat jendela dan segera memasang seat belt nya, tidak disangka pemuda tegap tadi juga memasuki pesawat yang sama dengannya dan duduk bersebelahan dengannya. Zivannya sama-sama menoleh sehingga saling bertatapan untuk waktu yang lama. Zivannya mengangguk pelan, memalingkan mukanya memandang keluar jendela dan mulai memejamkan matanya.
pemuda itu lama menatap Zivannya dengan tatapan yang sulit diartikan, entah mengapa dadanya sakit saat melihat raut muka Zivannya. Zivannya tidak peduli dengan sekitarnya.
sunyi, sepi selama perjalanan pulang kali ini, tanpa ditemani suami ataupun saudaranya, Zivannya menikmati perjalanan yang singkat ini dengan memejamkan matanya agar tidak melihat yang tidak ingin dilihatnya dan tidak mendengar apa yang tidak ingin di dengarnya.
tiba dibandara, Zivannya mengambil antrian untuk keluar dari pesawat setelah pemuda itu keluar lebih dulu, Zivannya menyalakan ponselnya dan segera melakukan panggilan chat dengan Aga. ia keluar melalui pintu keluar, dilihatnya suaminya telah menunggu didekat tiang dengan tersenyum lebar, Zivannya segera menghampiri dan mencium punggung tangan Aga yang mengelus kepalanya dan meraih jemari nya untuk segera pulang, mereka melangkah bersama dengan penuh senyuman keluar dari Selasar bandara menuju tempat parkir mobil.
"senang" tanya Aga, Zhivannya tertawa pelan. "lumayan, capek, kesel juga, senang juga" jawab Zivannya. Aga tertawa, "kenapa" tanya Aga. "setiap hari keluar untuk menemani Ayah sama bunda di kedinasan menguras energi tau nggak by, keselnya lagi karena banyak cowok yang nggak membiarkanku tenang duduk menikmati kegiatan, senangnya karena banyak ketempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. kayak panti asuhan, tempat kedinasan Ayah yang keren abis, senang liat tentara pada disiplin dan nggak komplain sama sekali" cerita Zivannya. Aga membuka pintu mobil, Zivannya segera masuk menghirup udara segar kota tempatnya belajar.
"happy to be back home" senyum ceria Zivannya. Aga menatap Zivannya tersenyum dan melajukan mobilnya pelan keluar dari bandara.
"mau beli makan dulu nggak, yang" tanya Aga, Zivannya mengangguk. "tiba-tiba laper by, hmmmm makan disana aja by nggak terlalu rame kliatannya" kata Zivannya. Aga segera menepikan mobil dan masuk kedalam kedai, Zivannya memesan dua porsi untuk mereka berdua.
"bunda titip salam sayang dan peluk untukmu by" kata Zivannya, Aga tersenyum, "belum terima peluk dan cium tuh darimu yan dititipin sama bunda" goda Aga, Zivannya mengerucutkan bibirnya, habis kamu yang nanti kalo pulang" desis Aga, Zivannya membeku seketika tahu apa yang dimaksud oleh Aga.
"aku besuk masuk pagi by, jangan sampai aku nggak bisa jalan lagi. sampai jam 3 sore" mohon Zivannya dengan muka memelas. Aga menggelengkan wajahnya tanda tidak akan memberi ampun Zivannya.
hai hai hai... para readers, terimakasih atas dukungannya
luv.... luv... luv.... U all sekebon pisang goreng. terimakasih banyak.
__ADS_1
stay healthy all...