Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 183


__ADS_3

pagi hari


Zivannya meletakkan sarapan pagi suaminya, Langit tersenyum dan mengunyah roti buatan istrinya dengan tenang, coklat panas menemani paginya. "setelah acara selesai, nanti akan aku kabari, yang" tatap Zivannya menyesap kopi hitamnya pelan. Langit mengangguk, "bersama Indira kan" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "mungkin akan ada satu lagi yang akan menemanimu, yang" kata Langit, Zivannya menoleh.


"masih sendiri, mengingat Indira memiliki anak perempuan kecil jadi dia mungkin akan lebih berpikir ulang jika harus meninggalkan anaknya yang masih balita lama" tatap Langit, Zivannya mengangguk mengerti


"ya, anaknya sungguh lucu. dia tahu jika ibunya sedang melaksanakan tugas negara jadi dia tidak banyak menuntut ibunya selalu berada disisinya" kata Zivannya pelan.


"umurnya lebih tua darimu 3 tahun, jadi seumuran denganku" senyum Langit, Zivannya menopang dagunya melihat suaminya yang tergelak mengerti tatapan istrinya.


"kemarin Baskara memberi tahukan semua detailnya kepadaku, aku harus tahu siapa yang menjadi penjaga istriku, aku tidak mau jika terjadi apa-apa denganmu saat tidak bersamaku, aku harus tahu apakah dia memiliki kecakapan untuk melindungi mu nanti" usap pipi Langit, Zivannya mengendikkan bahunya pelan.


"aku lebih memilih memperjuangkan mu dari pada melihat perempuan lain, yang. karena hanya kamu yang membuatku tidak bisa berpaling" tatap Langit menyuapi Zivannya. Langit menghabiskan coklat panas nya setelah menghabiskan roti isi buatan istrinya.


"apakah mampir dulu ke kesatuan" berdiri Langit cepat, Zivannya menggeleng mengikuti langkah suaminya menuju teras depan setelah meletakkan peralatan makan yang dipakai Langit sarapan.


"mereka datang" lihat Zivannya memakai sneaker hitamnya sesuai dengan pakaian istri para abdi negara. ia segera berpamitan dengan Langit.


"hati-hati dijalan, yang. jangan matikan ponselmu" kecup kening Langit setelah Zivannya mencium kedua pipi nya. Zivannya mengangguk menuju kendaraan yang telah menjemputnya. mereka masuk ke masing-masing kendaraan yang menjemput mereka.


Indira segera memberikan penjelasan terkait kegiatan mereka hari ini. "mbak, apakah staf baru yang menemanimu sudah saling berkenalan" tanya Zivannya, "belum bu, kira-kira minggu depan baru akan bergabung dengan kita, dia dari kesatuan daerah timur bu, baru dipindah tugaskan ke pusat belum lama. dia diberi pelatihan untuk mendampingi ibu terlebih dahulu" jawab Indira.


"oh, Ok. mbak. jika mungkin aku ingin mengenalnya lebih dulu" senyum Zivannya. Indira mengangguk mengerti.


"apakah komandan yang memberitahu tahu ibu" tanya Indira, Zivannya hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan Indira.


"mbak, apakah akan selalu bersamaku" sentuh punggung tangan Zivannya. Indira tersenyum, "selama saya ditugaskan untuk menemani ibu kemana-mana pasti akan saya lakukan sebaik yang saya bisa bu. komandan tidak akan melepaskan ibu dengan orang yang tidak mempunyai kualifikasi tepat untuk mendampingi ibu" senyum Indira menenangkan Zivannya. "makasih mbak" senyum Zivannya, Indira kembali tersenyum mengangguk.


"aku baru aja sampai, by. chat aja jika ada apa-apa. kalau nggak beritahu mbak Indira" pesan Zivannya kepada Langit setelah duduk ditempatnya karena dia tahu nanti Langit pasti akan menghubunginya jika tidak ada kabar darinya.


Zivannya berbincang-bincang dengan beberapa pendamping abdi negara lainnya disekitarnya. ia seringkali tertawa kecil saat mengobrol seru dengan para pendamping abdi negara dari kesatuan lain. hingga waktunya harus mengundurkan diri dari pertemuan tersebut. Indira berjalan mendekat untuk menemani Zivannya kembali, "bu, silahkan untuk makan dulu" serah box bekal Indira, Zivannya mengangguk dan membuka box, "ayo kita sama-sama mbak" toleh Zivannya, Indira mengangguk membuka box makanan yang sama dengan Zivannya.

__ADS_1


"apakah suami mbak Indira juga seorang abdi negara juga" tanya Zivannya sembari makan. "iya, bu. kami sama-sama berjuang bersama dan akhirnya memiliki anak perempuan" senyum Indira, "senang kalo pulang ada yang nungguin" kata Zivannya mengangguk, "sedihnya tidak bisa setiap saat menemani dia melewati hari-harinya bu" kata Indira pelan, Zivannya menatap Indira lama. "dia pasti tahu bahwa ibunya juga berat untuk meninggalkannya saat ini dan keluarga kalian pasti bisa saling memahami" kata Zivannya, Indira mengangguk.


"by, aku pulang" ujar Zivannya setelah terhubung dengan Langit.


"Ok, aku pulang sebelum petang" kata Langit.


"baik, apakah mau disiapin makan nanti" tanya Zivannya pelan melepas sepatu berhak rendahnya ditempat nya.


"tidak, jika kamu lelah tidurlah dulu. nanti aku akan diantar" kata Langit, Zivannya berdehem mengerti mematikan panggilannya dan segera membersihkan dirinya.


Langit masuk kedalam rumah yang terlihat sepi, ia membuka pelan pintu kamar, dilihatnya Zivannya tidur dengan lelap tanpa menyadari kehadirannya, ia segera membersihkan dirinya dan melaksanakan kewajiban petangnya. "yang" kecup kening Langit membangunkan Zivannya, "kewajiban petang sudah lewat dari tadi" usap perut Langit Zivannya bergerak pelan membuka matanya melihat suaminya yang masih mengenakan peralatan kewajibannya, ia segera bangun dan mengambil air suci untuk melakukan kewajiban. Zivannya mencium punggung tangan Langit setelah menyelesaikan kewajiban petangnya


"coklat panas, by" sodor mug Zivannya, Langit mengangguk menatap gerakan istrinya.


"besuk aku akan mendampingi kepala tertinggi berkunjung ke daerah, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk menatap Langit. "berapa hari" tanya Zivannya memeluk Langit, "dua hari" kecup ubun-ubun Langit, Zivannya membenamkan kepalanya didada Langit.


"baju dinasnya pake apa" tanya Zivannya, Langit menyebutkan apa yang harus dibawa. "baiklah" jawab Zivannya mengerti.


Zivannya selesai menata bawaan Langit untuk melakukan dinas keluar kota.


pagi hari


"yang aku berangkat sekarang" kata Langit menoleh, Zivannya melakukan kewajibannya sebelum mengantar kepergian suaminya bekerja, Langit memeluk Zivannya. "salam buat ayah dan bunda" kata Langit sebelum menutup pintu kendaraan, Zivannya melambaikan tangan mengangguk. setelah Langit tidak tampak, Zivannya menghela nafasnya menatap rumah dinas yang ditempatinya saat ini, ia mulai merasa nyaman dengan keadaannya sekarang. kegiatan nya bersama pendamping abdi negara lain, rumah yang akan ditempatinya selama beberapa tahun lagi, kehidupan baru yang sekarang dijalaninya. Zivannya merentangkan tangannya dan masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil bawaannya. ia segera melajukan mobil meninggalkan rumah dinas yang ditempatinya bersama Langit, melewati penjaga yang bertugas menjaga portal hari itu, melewati jalanan Jakarta yang sudah padat merayap, melewati beberapa gedung pencakar langit yang bertebaran disepanjang jalan saat dirinya melaju.


tiba dirumah bunda dan ayah, keadaan rumah sepi, Marni membukakan pintu saat melihat kedatangan anak bungsu keluarga Triastomo.


"pada pergi mbak" senyum Zivannya masuk, Marni mengangguk "iya, non. baru saja berangkat, apa non Zi tidak mengabari dulu" tanya Marni mengikuti langkah Zivannya, "tidak mbak, tidak apa-apa. Zi akan tidur disini dua hari, karena kak Langit baru berangkat dinas keluar kota pagi ini juga" geleng Zivannya masuk kedalam kamarnya.


"non, apakah mau minum coklat hangat" tanya Marni sebelum Zivannya menutup pintu. Zivannya tertawa kecil menggeleng, "nanti aja mbak. Zi udah sarapan bersama kak Langit tadi" jawab Zivannya, Marni mengangguk, Zivannya menatap kamarnya lekat, meletakkan tas jinjingnya dikursi depan kaca cermin besar, merebahkan tubuhnya memandang langit-langit kamarnya yang sudah cukup lama tidak dijamahnya. ia segera memejamkan mata tertidur dengan perasaan damai dan tenang.


"non" ketuk bik Sum di pintu kamarnya, Zivannya menggeliat pelan mengerjakan matanya menyesuaikan kondisi kamar yang gelap. "Zi dah bangun bik" seru Zivannya bangun dan tak lama kemudian berjalan pelan menyalakan penerangan kamarnya sebelum membuka pintu.

__ADS_1


"sudah petang, non. dari tadi pagi, non Zi belum makan. ibu bentar lagi pulang" tatap bik Sum, Zivannya mengangguk mengusap parasnya yang kusut bangun tidur. "Zi kewajiban dulu bik, setelah itu baru makan" angguk Zivannya, bik Sum mengangguk mengiyakan.


Zivannya kembali melangkah kedalam melaksanakan kewajibannya.


"bik Sum sama mbak Marni udah makan" tanya Zivannya melihat menu yang ada di meja. "sudah, non. ini sudah lewat makan malam non" angguk bik Sum duduk menemani Zivannya makan, Zivannya nyengir meletakkan makanan dipiringnya. "aahh, masakan bik Sum emang top" siap Zivannya merasakan kenikmatan masakan bik Sum, bik Sum tersenyum lebar menatap Zivannya yang lahap menyantap makanannya.


"rumah sekarang sering sepi non, karena hanya ibu dan bapak saja dirumah" cerita bik Sum, Zivannya mengangguk.


"sering pulang non, biar ibu ada temennya" kata bik Sum, Zivannya tersenyum lebar. "maunya bik, tapi sering nemenin tugas kak Langit. jadi nggak bisa sering pulang, terkadang sampai pulang sore" jawab Zivannya.


8 bulan berlalu


"by, badanku anget" buka mata Zivannya, Langit menoleh cepat. dirabanya kening Zivannya yang terlihat pucat. "kedokter aja ya, aku siapin mobilnya dulu" bangun Langit, Zivannya menyentuh tangan Langit pelan. "tidak usah, by. aku hanya butuh tidur, mungkin akan segera membaik, dua hari ini badanku tidak baik-baik saja. apakah itu boleh" pejam mata Zivannya, Langit menatap istrinya lama.


"aku buatin jahe, ya" anjak Langit dari ranjang, Zivannya hanya berdehem pelan. Langit segera membuat jahe hangat untuk istrinya, "yang" sentuh bahu Langit, Zivannya membuka matanya, dibantu Langit dia duduk untuk meminum jahe hangatnya.


"makasih, by. jika akan berangkat dinas, berangkat aja. aku tidak apa-apa. mungkin seharian akan tidur, ini mendekati tamu bulananku" pejam mata Zivannya. Langit mengangguk mengusap kepala Zivannya lembut, beranjak membersihkan dirinya, "yang, aku berangkat dulu, aku letakkan ponsel di dekatmu. jika ada apa-apa segera hubungi aku" kata Langit mengusap kepala Zivannya. Zivannya terdiam terlelap dalam tidurnya kembali, Langit membenarkan letak cover bed Zivannya dan segera keluar dari kamar menutup pintu pelan. "ndan" salam Baskara, Langit mengangguk masuk kedalam kendaraan dinas. "Bas, kopi hitam" toleh Langit. Baskara menatap Langit lekat, "biasanya coklat panas, ndan" kerut Baskara. "aku lagi pingin kopi hitam" tatap Langit balik, Baskara mengangguk mengernyitkan keningnya melihat perubahan sikap Langit yang sangat tidak suka dengan aroma kopi hitam.


"hari ini, sampai jam berapa" tanya Langit memejamkan matanya menyandarkan kepalanya kebelakang.


"sampai sore setelah kewajiban ndan" kata Baskara melaporkan kegiatan hari ini. Langit mengangguk.


"atur jadwal jauh-jauh hari mulai dari hari ini, Bas. aku tidak mau jika meninggalkan Zivannya lama-lama" kata Langit, "baik ndan" angguk Baskara. "atur juga jadwal istriku, koordinasikan dengan Indira dan Leni biar mereka yang mengatur. Zivannya belakangan ini merasa badannya tidak enak jadi kegiatannya harus menyesuaikan dengan kondisinya" kata Langit, Baskara mengangguk.


"bilang pada kekasihmu, jika ada waktu temui istriku agar mereka bisa melepas kepenatan" kata Langit, Baskara menghela nafasnya pelan, "ndan, dia sedang pulang ke Jogja" kata Baskara, Langit membuka matanya lebar. "berarti Zivannya yang harus kesana dong" toleh Langit. "Zivannya sedang sakit, jika nanti Rara sudah selesai maka akan segera menemui Zivannya nanti" kata Baskara, Langit menutup matanya kembali.


"apa Zi udah dibawa ke dokter" tanya Baskara, "dia tidak mau, inginnya hanya tiduran saja badannya panas saat aku tinggal tadi" kata Langit pelan, Baskara mengangguk.


Hai.... Hai.... hai.... all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2