
seseorang melambaikan tangan ke arah mereka bertiga saat mereka masuk ke sebuah cafe tempat nongkrong anak muda, "udah lama" salam Yuda kepada mereka semua.
"lumayan, tau kalo pada ngumpul jadi pada semangat" senyum seseorang, Yuda mengangguk. "nggak lapar Zi, pesen gih. Aku sekalian" kata Yuda, Zivannya menulis beberapa makanan dan menyerahkannya kepada penjaga cafe.
"dah sampai Zi" salam Rara, Zivannya melambaikan tangannya memperlihatkan teman-temannya.
"aish, langsung nongkrong aja" lihat Rara mengerucutkan mulutnya.
"nggak ikut" tanya Zivannya, Rara tergelak.
"hhmm, seperti kayak suamimu aja, ada tugas negara yang harus dilakukan" kata Rara, Zivannya tertawa kecil lalu mengerucutkan bibirnya.
"biasa aja bu, aku yang nggak punya laki santai aja" balas Rara, Zivannya tertawa. Ia menerima kopi hitam pesanannya dan meminta pesanan yang lain diletakkan di meja saja agar mereka mengambilnya sendiri.
"udah ketemu kak Aisya, gimana apakah seperti biasanya atau ada sesuatu yang luar biasa" naik turunkan alis mata Rara, "sedikit bicara" jawab Zivannya pelan, Rara menegakkan duduknya.
"tidak seperti biasanya, kali ini tidak banyak yang dia komentari tentang apapun" tatap Zivannya. Rara tersenyum tipis.
"saat weekend aku pulang ke Jogja, kita ketemu disana nanti" kata Rara, Zivannya menyesap kopi hitamnya. "berarti masih 3 hari lagi baru kita ketemu. Aku langsung kerumah aja kalo begitu nunggu kamu pulang" tatap Zivannya.
"oke, jangan lupa jemput di stasiun kereta, aku ingin menikmati suasana saat pulang weekend" senyum smirk Rara. Zivannya tersenyum menopang dagunya melihat kesenangan baru teman baiknya berada jauh dari kota kelahirannya.
"apa sering bertemu Arka" tanya Zivannya, Rara mengangguk. "lumayan sering, jika ada waktu longgar dia mengajak keliling Surabaya naik motor" makan Rara.
"apa seperti sekarang" tanya Zivannya, Rara tergelak menganggukkan kepalanya pelan.
"hai, Zi" salam Arka, Zivannya melambaikan tangannya melihat Arka sedang makan dengan lahap.
"sedang dimana, kayaknya seru banget" lihat Arka.
"apa nggak liat kalo ngumpul juga" perlihatkan Zivannya, Arka melihat Yuda dan Fauzan sedang mengobrol dengan beberapa orang teman lainnya.
"mau sampai jam berapa kalian ngumpul" tanya Rara.
"entah nih ini juga barusan datang, aku pingin megang alat bentar nih, kayaknya nggak ada yang main" lihat sekeliling Zivannya.
"aisshh, nanti kamu dilirik laki-laki lain lho. Malah ribut nanti" hela nafas Rara melihat Zivannya yang beranjak meninggalkan teman-temannya tanpa mereka sadari.
"mumpung lagi sendiri, pawangnya nggak ada di Indonesia baru nyari sebongkah berlian di negeri orang buat istrinya" senyum Zivannya menaik turunkan alisnya, Rara tergelak menyadari kelakuan sahabatnya yang sudah banyak kembali menjadi gadis yang gokil.
Zivannya meletakkan ponselnya ditempat yang bisa dilihat oleh Rara. Zivannya memainkan gitar yang ada disudut panggung. Ia memetik senar gitar pelan mencoba permainan gitarnya. Hingga dirasa nada permainannya pas, ia menoleh menatap Rara yang masih bersamanya.
"yeeeahh, go Zi. Kamu bisa" semangati Rara, Zivannya tertawa kecil memberi tanda Ok dengan jemarinya kemudian mengambil nafas panjang dan mulai memainkan gitarnya. Beberapa orang mulai memperhatikan permainan Zivannya yang mulai menaikkan tempo permainan gitar menjadi lebih garang. beberapa pengunjung memberi applaus akan penampilan solonya.
Yuda dan Fauzan segera mendekat setelah menyadari Zivannya tidak ada disamping mereka dan melihat dia main alat musik. "beneran deh Zi, kelakuanmu. Nggak inget kalo udah punya laki" geleng-geleng kepala Yuda. Zivannya tertawa pelan. Fauzan mencoba bas gitar.
"kita main dua lagu yuk Zi" tatap Fauzan, Zivannya memberi tanda Ok dengan anggukan. Yuda melihat kedua sahabatnya dan menghela nafas segera menuju drum yang berada dibelakang. "hanya dua lagu, setelah itu cabut" ingatkan Yuda, Fauzan mengangguk dan memetik Bas dengan mantap. Zivannya mengikuti irama yang mereka mainkan.
Malam itu mereka tertawa dan bergembira melepaskan rasa yang jarang sekali mereka lalui bersama setelah tinggal di kota lain. Rara tertawa mendengar ucapan dan candaan Yuda dan Fauzan serta yang lain melalui layar ponsel Zivannya.
__ADS_1
"it's already 2 am, apa mau pulang sekarang" toleh Fauzan, Zivannya menggeleng. "let's play much longer my dear cousin. Mumpung aku masih dalam kondisi sehat dan baik, kapan lagi kita akan menikmati malam yang begitu indah seperti ini" senyum Zivannya. Fauzan menatap Zivannya sebentar dan mengangguk merentangkan tangannya melihat deretan lampu penerangan yang terlihat mempesona dibawah sana.
"apa kamu berencana tidur seharian nanti pulang" tanya Yuda, Zivannya menggeleng. "mungkin hanya sampai sore, terlalu menyenangkan jika melewatkan moments saat pulang kampung" senyum Zivannya mengulurkan tangannya kedepan mencoba meraih Kilauan cahaya lampu nun jauh disana.
Yuda menatap Zivannya lekat, "aku bahagia Da, aku benar-benar merasa damai. Mungkin karena menemukan tambatan hati yang benar-benar mencintaiku dengan sepenuh hati saat aku belum bisa membuka hati atau sebenarnya aku sudah menemukan kehidupanku kembali" senyum Zivannya menatap kedepan tanpa menoleh kesamping.
"Rara sudah tertidur rupanya" lihat Zivannya di layar ponselnya saat Rara memejamkan mata dan tidak bergerak sama sekali. "kehidupan yang membuat seseorang hancur dan bangkit berdiri kembali seperti tidak terjadi apa-apa. itu karena Tuhan adalah sutradara terbaik" senyum Zivannya, Yuda mengangguk mengerti.
"sepertinya aku menyukai gadis yang memakai penutup Zi" cerita Yuda. "bagaimana dengan keluargamu" tanya Zivannya pelan. "aku sudah membicarakannya dengan mamaku dan dia sedikit kecewa dengan keputusanku" senyum Yuda.
"apa gadis itu yang kamu ceritakan waktu itu" tanya Zivannya menatap sahabat baiknya, Yuda menoleh mengangguk.
"aku mencoba mengetahui bagaimana dia dulu sebelum aku memperkenalkan diri dan berbicara dihadapannya, karena aku tidak mau salah langkah dalam hal itu. Sejauh ini sikapnya dan keluarganya baik saat aku mengenal mereka" senyum Yuda, Zivannya sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Yuda yang sedang serius bercerita mengenai hubungannya.
"aku tahu jika Rara juga menaruh hati padaku, tapi aku tidak ada niatan untuk menjalin lebih dari sekedar persahabatan aja Zi. Aku tidak bisa mempunyai sahabat perempuan yang melebihi mu yang menjadi sahabatku walaupun dia adalah sahabatmu juga" kata Yuda, Zivannya mengangguk pelan.
"aku hanya merasa aku baik kepadanya karena dia sahabat mu, itu saja. Aku tidak bermaksud lebih untuk itu, kamu ngerti kan Zi, ngerti dong masak nggak ngerti" canda Yuda. Zivannya tergelak mendengar Yuda yang bercanda.
"gadis itu bernama Ara, yang masih duduk dibangku sekolah, anak yang biasa aja menurutku tapi mempunyai daya tarik tersendiri" senyum Yuda membayangkan tingkah laku gadis pujaannya, Zivannya tersenyum menatap sahabatnya yang sedang berbahagia.
"apa kamu ingin aku berbicara pada Rara" tanya Zivannya, Yuda menggeleng pelan, "dia juga tahu aku menyukai Ara" tatap Yuda. "aku juga tau jika ajudan Langit menyukainya dan ingin melamar Rara" senyum Yuda, Zivannya melipat kedua tangannya didepan dadanya mendengarkan dengan seksama.
"aku juga bukan orang bodoh Zi, yang buta akan cinta dan menutup mata melihat sekitarnya" jawab Yuda melihat tatapan mata Zivannya.
"aku juga tau kamu tidak akan mencampuri atau bahkan membantu hubungan sahabat-sahabatmu, karena rasa tidak bisa dipaksakan. Jika terpaksa maka akan berujung tidak baik dikemudian hari" tengadah Yuda memandang bintang yang bertaburan di Langit.
"seperti air yang mengalir mengikuti arus, seperti angin yang tidak tampak tapi memiliki kekuatan luar biasa, seperti tanah yang selalu diinjak tapi tidak pernah merasakan sakit" ujar Yuda.
"apa kamu benar-benar mau berangkat hari ini" tatap kakek, Zivannya mengangguk tersenyum mencium punggung tangan tua kakek dan neneknya sebelum benar-benar meninggalkan kota kelahirannya itu.
"jika Tuhan mengijinkan maka kami akan berkunjung kembali, kek" kata Zivannya pelan. Nenek memeluk Zivannya erat untuk terakhir kalinya.
"Jangan lupa untuk selalu berkunjung jika ada kesempatan kemari Zi" tatap nenek, Zivannya tersenyum mengangguk.
Om Hadi berbincang sebentar dengan Zivannya sebelum dia masuk kedalam mobil. Beberapa kali terlihat Zivannya mengangguk pelan membenarkan ucapan om Hadi.
Mobil yang dikendarai Zivannya sudah masuk perbatasan Jogja, ia segera memperlambat laju kendaraannya, suasana kota yang berbeda tampak dari kerumunan muda-mudi yang sering ditemuinya disepanjang jalan pulang. Beberapa motor melaju dengan kencang saat lampu merah menghentikan laju kendaraan. Zivannya tersenyum melihat kelakuan mereka, tergambar di memorinya saat dia juga terburu-buru masuk kuliah dan melajukan motornya dengan kencang.
Zivannya melihat panggilan dari suaminya.
"hallo by" salam Zivannya menekan tanda panggilan suara.
"dimana, yang" sahut Langit.
"baru aja masuk Jogja" jawab Zivannya, Langit terdiam sesaat mendengar jawaban istrinya itu.
"besuk aku sudah masuk Surabaya, yang" kata Langit pelan.
Zivannya membuka mulutnya tak percaya dengan perkataan suaminya itu, "jadwalnya maju satu hari" tanya Zivannya tak lama. "hhmm" dehem Langit.
__ADS_1
"berarti hari Sabtu kakak pulang" tanya Zivannya memastikan, Langit kembali berdehem.
"jam berapa bersandar" tanya Zivannya memastikan.
"sekitar jam 10an pagi. Ini kita sudah berangkat dari port" jawab Langit.
Zivannya tergelak tak percaya mendengar perkataan suaminya yang mendadak itu.
"aku akan naik penerbangan terakhir malam ini. Mobil akan aku tinggal dibandara aja, jadi nanti kita pulang ke Jogja dulu sebelum ke Jakarta" frustasi Zivannya menepikan mobil untuk menuju arah bandara dipusat kota.
"apakah kamu baik-baik saja" tanya Langit pelan.
"baik" jawab Zivannya cepat.
"yang" rajuk Langit mendengar suara Zivannya yang kesal.
"aku baru bisa menghubungimu sekarang karena sibuk mempersiapkan segala sesuatu saat kepulangan team ini, yang" hela nafas Langit.
"ya, tentu saja" jawab Zivannya cepat.
"yang" rajuk Langit.
"iya, aku tau. Ini dalam perjalanan ke bandara sekarang waktu menunjukkan pukul 7 malam" jawab Zivannya.
"baiklah, hati-hati bawa mobilnya, aku mencintaimu, yang" kata Langit. Zivannya berdehem.
"yang" seru Langit, Zivannya berjenggit kaget mendengar seruan suaminya itu.
"aku mencintaimu Satria Langit" jawab Zivannya cepat. Langit tergelak menutup panggilannya.
Zivannya bergegas menuju pemesanan tiket pesawat menuju Surabaya, ia segera melakukan pengecekan sebelum masuk kedalam pesawat.
"jam berapa sampai dek" tanya Dirgantara, "barusan kak" hembus nafas Zivannya saat sampai di bandara Surabaya.
"bentar tunggu disitu, kakak sebentar lagi menjemputmu" tutup panggilan dirgantara, Zivannya memasukkan ponsel kedalam saku tas ranselnya yang setia menemani perjalanannya kali ini. Ia melihat lalu lalang orang-orang yang melintas di bandara.
Sebuah motor dinas berhenti tepat dihadapannya, Zivannya tersenyum menghampiri kakak tertuanya itu mencium punggung tangan nya sebelum naik dibelakangnya.
"mobil aku tinggal dibandara Jogja, kak. Saat kak Langit memberitahu jika besuk siang akan kembali" jawab Zivannya.
"jadwal kepulangan mereka maju" tanya Dirgantara. "ya" angguk Zivannya.
"berarti besuk kamu akan langsung balik ke Jogja dulu sebelum ke Jakarta untuk mengambil mobil" tanya Dirgantara, "ya" angguk Zivannya kembali.
"Apa, kamu baik-baik saja dek" toleh Dirgantara. Zivannya mengangguk "baik kak, jangan kuatir" jawab Zivannya.
Hai .... Hai .... Hai .... All readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.
Luv .... Luv .... Luv .... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
Stay healthy all