
Zivannya masih duduk ditempatnya setelah acara selesai, Aga segera menghampiri istrinya yang tersenyum lebar melihatnya mendekat. memeluk Zivannya dan mengecup ubun-ubun rambutnya. Zivannya tertawa melihat sosok Aga yang berada didekatnya.
"aahhh... kangen bau mu by" usap-usap wajah Zivannya diperut Aga, Aga tertawa dan mengelus rambut Zivannya. Aga membawa tas jinjing Zivannya menunjuk pada ayah dan bunda yang sedang makan sesuatu saat menunggu Zivannya. Zivannya tersenyum lebar dan berlari menuju ayah bunda, memberi salam dan memeluk mereka erat.
"gimana dek, dirumah orang" senyum bunda. Zivannya selalu memperlihatkan deretan gigi putihnya. "tambah kurus dan item" lihat Ayah, Zivannya tersenyum lebar duduk disamping Ayah.
seorang pemuda mendekat kearah Zivannya dan keluarganya. "wei.... mas... makasih banyak atas bantuannya selama ini. mohon maaf kalo selama dirumah, Zi banyak salah dan khilaf" lihat Zivannya sedikit menundukkan badannya. putera kepala desa tersenyum dan mengangguk.
"oh ya mas, ini ayah dan bunda saya, yah, bund ini putera bapak kepala desa dan juga bekerja sebagai perangkat kepala desa. setelah lulus kuliah pulang dan mengembangkan desanya " geser Zivannya sedikit agar kedua mertuanya terlihat. putera kepala desa memberi salam kepada ayah dan bunda.
"kelompok Zi tinggal dirumah kepala desa dan banyak dibantu oleh putera bapak kepala desa ini, sering sharing banyak hal mengenai program KKN" senyum Zivannya, Ayah tersenyum lebar. Aga kembali setelah menaruh tas jinjing Zivannya. "kita pulang sekarang yah, bund" tanya Aga. Ayah segera menghabiskan makanan yang dibelinya.
"oh ya by, kenalkan ini putera kepala desa tempat Zi tinggal selama KKN, beliau yang banyak membantu dan mengarahkan kelompok mahasiswa yang sedang KKN, ini Aga suamiku mas" lihat Zivannya menatap Aga. putera kepala desa tersenyum dan menyalami Aga. berbicara sebentar sebelum Zivannya benar-benar mengundurkan diri dari pendopo kelurahan. Aga sudah memberitahu koordinator bus Zivannya bahwa Zivannya sudah dijemput keluarganya dan tidak ikut dalam rombongan. Zivannya duduk disamping Aga, ayah dan bunda duduk dikursi tengah, Zivannya melepas jaket almamater dan kemeja setelah masuk dalam mobil, hanya mengenakan t-shirt hitam yang melekat sempurna dibadan Zivannya. Aga memakaikan seat belt dan mengusap rambut Zivannya lembut.
"seru dek, cerita dong" tanya bunda pingin tau. Zivannya menoleh dan mulai bercerita sambil sesekali tertawa seru.
"jadi kamu sering diledek karena selalu tomboy dan temanmu cewek banget gitu" tawa bunda. Zivannya tersenyum lebar.
"Zi bawa dua rok panjang bund, jika bertemu dengan perangkat desa, tapi hanya dengan t-shirt dan kemeja aja atasannya. nggak nyaman kalo ada kegiatan pake rok selutut dan nanti diliat banyak lelaki" geleng Zivannya, bunda tertawa lebar. Aga tersenyum ditahan.
"tapi banyak yang suka kan dek" goda Ayah, Zivannya mengangguk.
"banget yah, masak kalo Zivannya ada kegiatan program KKN pemuda itu selalu ikut kemana Zivannya pergi. kesel juga tapi mau gimana lagi, mau marah ya percuma. jadi Zi tahan aja, untungnya temen cewek Zi satu-satunya di kelompok itu penakut banget, alhasil selalu berdua kalo kemana-mana. mau ke toilet aja harus berdua bund. jadi Zivannya selamat sampai akhir" hela nafas Zivannya. Aga menoleh, "ada yang lain nggak yang" tanya Aga. Zivannya nyengir, "ada yang sering ngasih cemilan by kalo datang kerumah, hehehehe..." pandang Zivannya.
"kalo putera kepala desa tadi itu gimana" tanya bunda, Zivannya menggeleng, "seleranya adalah temen Zi yang ke ibuan tadi bund, sayangnya ada pawang yang setiap 3 kali seminggu datang kerumah nge cek" tawa Zivannya. mereka tertawa kecil.
"lama-lama juga biasa aja bund, dia juga punya pacar yang satu angkatan dikampus dan sedang KKN juga" jawab Zivannya.
__ADS_1
Zhivannya tertidur karena kelelahan, Aga menutupi badan Zivannya dengan kemeja yang dipakainya tadi, agar dirinya tidak khilaf memakan Zivannya di depan kedua orangtuanya.
tiba di basement parkir apartement, Aga membawa tas jinjing Zivannya, sedang ayah segera naik motor gede Aga untuk keliling kota, bunda dan Zivannya naik duluan, Zivannya menekan password unit apartementnya. bunda istirahat di kamar dulu dek, nanti malam kita keluar" kata bunda membuka pintu kamar satunya, Zivannya mengangguk meminum air mineral sampai habis, beranjak masuk kedalam kamar untuk membersihkan dirinya, Zivannya melepas semua pakaiannya dan memasukkan ke box laundry sebelum masuk ke bathroom, Aga masuk kamar saat Zivannya masuk untuk membersihkan dirinya. Aga tersenyum lebar melihat pemandangan yang dirindukannya tiga Minggu ini, melihat Zivannya tanpa baju saat masuk ke kamar mandi. Aga mengeluarkan semua pakaian Zivannya dan menaruhnya dibox laundry. mengeluarkan peralatan sehari-hari yang Zivannya pakai. Aga mengambil t-shirt dan joger pants untuk Zivannya ganti. Zivannya membasuh semua bagian tubuhnya agar segar, menghabiskan banyak air untuk memuaskan dahaga mandinya yang selama tiga minggu mandi seperlunya karena musim kemarau air yang ada harus dibagi dengan orang lain. Zivannya bernafas lega setelah mandi. Aga masuk kamar sesaat setelah Zivannya keluar dari membersihkan dirinya.
"puas yang, mandinya" lihat Aga, Zivannya tertawa lebar.
"banget by, karena air harus dibagi dengan lainnya maka make air seperlunya" angguk Zivannya mantap. Aga membantu Zivannya mengeringkan rambut menggunakan mesin pengering rambut.
Aga menciumi rambut Zivannya yang hitam legam, "udah nggak pulang, nggak ngasih kabar setiap hari, pulang-pulang kulit terbakar sinar matahari dan tambah kurus" lihat Aga dikaca depan Zivannya, Zivannya tersenyum lebar.
"masih sayang nggak" goda Zivannya, Aga mengangguk menatap di kaca, Zivannya tertawa lebar melepas bathrobe nya sehingga terlihat tubuh Zivannya yang polos, Aga menatap Zivannya yang menaik turunkan alisnya menggoda Aga, Aga segera berlari menuju pintu dan menguncinya, melepas semua pakaiannya tergesa-gesa, membawa Zivannya ke ranjang untuk segera memakannya mereka saling menyesap, merasa menyentuh dan memberi setiap inchi tubuh mereka masing-masing. permainan mereka kali ini sedikit lebih keras dari pada sebelumnya, haus kenikmatan duniawi membuat mereka lupa. rangsangan dan sentuhan Aga membuat Zivannya sering menggigit bibirnya untuk menahan erangan yang akan keluar, Aga menghentakkan tubuhnya diatas tubuh Zivannya dengan cepat, Zivannya menutup mukanya dengan bantal dan berteriak keras saat mereka mencapai kepuasan bersamaan. Aga membuka bantal dan mencium mulut Zivannya dengan lembut. Aga menyatukan kening sesaat setelah penyatuan pertama mereka, Aga membersihkan bagiannya dan Zivannya bergantian dan tergeletak lemas disamping istrinya, Zivannya memeluk Aga dan menciumi tubuh Aga pelan dan lama-lama semakin intens, Aga menaikkan tubuh Zivannya diatasnya menyatukan jemari mereka dan membiarkan Zivannya bergerak diatasnya, Aga menyandarkan tubuh di dinding ranjang tanpa melepaskan Zivannya, meremas benda kenyal kesukaannya, Zivannya mengerang pelan, aga menyesap benda kenyal candunya, yang membuat Zivannya lepas kontrol ingin berteriak, Aga membekap mulut Zivannya dengan tangan kirinya, agar tidak melakukannya karena ada kedua orang tuanya di sebelah. Zivannya menggigit bibirnya kuat menahan hasrat yang akan keluar, Zivannya meremas rambut Aga. Aga membalikkan tubuh, mempercepat tempo permainan, mereka mengerang bersama, Aga ambruk untuk yang kedua kalinya diatas tubuh Zivannya, Zivannya terengah-engah mengatur detak jantung yang berdetak terlalu cepat, "by, aku lelah" atur nafas Zivannya, Aga tersenyum dan menyugar rambut Zivannya yang basah. mengecup bibir Zivannya, berjalan ke bathroom untuk membersihkan dirinya, Zivannya berjalan pelan menyusul Aga yang berada didalam. "aku kira kamu mau rebahan dulu yang" pandang Aga memberi sabun kepada Zivannya, "lengket" geleng Zivannya, mereka segera membersihkan dirinya, Aga membantu Zivannya memakai underwear dan bajunya didalam walk closet, membawanya keatas ranjang agar Zivannya tidur. Aga keluar setelah Zivannya terlelap kelelahan.
"Zivannya tidur dek" toleh bunda, Aga mengangguk dan mengambil air mineral, duduk disamping bundanya.
"habis kamu gempur kan" pukul bahu bunda agak keras. Aga tergelak mengangguk, bunda tertawa, memeluk anak bungsunya.
"semangat bikin anak dong dek" goda bunda, Aga tertawa.
"tapi setengah taun lagi Aga pindah ke perbatasan bund, Zivannya baru mau ngurus skripsi" Hela nafas Aga. bunda terdiam. "rasanya kali ini Aga berat untuk pergi bund" kata Aga pelan. bunda mengelus rambut Aga, "apa karena sekarang ada Zivannya" tanya bunda hati-hati. Aga menggeleng pelan, "salah satunya bund, tapi Aga meninggalkan Zivannya dilingkungan yang baik disini, tolong jaga Zivannya jika Aga pergi nanti ya bund, jangan tinggalin dia sendirian" pandang Aga, bunda mengangguk. "nanti jika Zivannya ada waktu longgar bunda suruh pulang ke Jakarta atau kalo nggak bunda yang kesini" angguk bunda, Aga mengangguk pelan.
"disana ada gejolak sedikit bund, makanya Aga tidak ingin Zivannya menetap disana, hati Aga malah tidak tenang jika dia sendiri disana, paling tidak satu atau dua bulan baru Aga keluar dari base dan bisa bertemu dengannya nanti, jadi biar dia disini aja kalo aga pulang, baru dia nyusul kesana" jawab Aga, bunda diam mendengarkan.
"bunda juga harus baik-baik saja, jaga Ayah dan yang lain. kalo bunda kuat, pasti yang lain ikut kuat" pandang Aga, bunda mengangguk mengiyakan.
Ayah membuka pintu apartement sambil membawa beberapa makanan "yah, beli makanannya banyak banget sih" kata bunda menoleh menatap Ayah yang menaruh dimeja pantry.
"kan nanti kita keluar malam" kata bunda membuka beberapa bungkusan makanan.
__ADS_1
Ayah menghempaskan tubuhnya disamping Aga, "Zi kemana" tanya Ayah, "tidur, habis digempur anakmu habis-habisan" kata bunda keceplosan, ayah dan Aga tertawa. "maklum puasa kurang lebih sebulan bund, kayak habis lahiran, ada masa nifasnya" goda Ayah, Aga tersenyum dan menghampiri bundanya untuk memakan makanan yang dibawa Ayahnya.
"besuk kalo Zi selesai kuliah motormu dibawa ke Jakarta ya dek" kata ayah, Aga mengangguk sambil mengunyah makanan.
"enak kan yah" kata Aga, Ayah mengangguk. "enteng, jadi enak untuk touring" jawab Ayah. "Zivannya sering bawa ke kampus lho yah" senyum Aga, ayah menatap Aga tidak percaya, "Zi yang kecil itu" ulang Ayah.
"iya, Zi kecil ayah... karena tinggi Zi diatas rata-rata jadi nyaman aja" angguk Aga, ayah menggeleng. bunda menyiapkan makanan Ayah. "yah makan dulu" lambai tangan bunda. ayah mendekat kemeja pantry dan duduk berhadapan dengan Aga.
"anak cewek ayah itu, ternyata lebih bandel dari mentari dulu, kalo dia punya anak cewek, gimana ayah ngadepinnya nanti" makan Ayah, Aga tersenyum.
"sayangi dia seperti kalian menyayangi Aga dan Zivannya" kata Aga, bunda dan ayah mengangguk.
Zivannya keluar kamar, "lapar" seru Zivannya, Aga melihat dan membawa Zivannya kekursi pantry. menyodorkan makanan yang dimakannya tadi.
"ambil yang baru kenapa sih dek, kasian Zi pasti sisa darimu" kesal bunda, Zivannya menggeleng tersenyum. "nggak papa bund, lebih enak gini, Zi nggak nafsu makan kemarin-kemarin" kata Zivannya memakan nasi Aga, Aga mengelus kepala Zivannya mengambil gelas air putihnya. bunda tersenyum melihat kedua anaknya itu.
"yang, mau ikut ke Surabaya nggak ketempatnya kak dirgantara" tanya Aga, Zivannya mengangguk mantap sambil menguyah makanannya sehingga pipinya menggembung.
"kapan berangkatnya" toleh Zivannya, "lusa pagi" makan Aga, Zivannya memberi tanda Ok.
"makan berapa kali disana dek" tanya Ayah, Zivannya memberi isyarat dengan tiga jarinya, "nggak nafsu makan yah, paling sehari satu kali Zi makan, disana sering dehidrasi saking panasnya yah, sering minum daripada makan. dua hari sekali Zivannya harus keramas, alhasil Zivannya potong rambut lebih pendek kemarin saat awal disana, airnya nggak bisa banyak kalo mandi" kata Zivannya, Aga melihat rambut Zivannya dibelakang. "pantesan rambutmu nggak seperti biasanya, lebih pendek" tatap Aga, "kemarin aku udah ijin by untuk memotong rambut agak banyak, gerah banget disana atau kamu mau aku pake t-shirt yang tipis terus" pandang Zivannya, ayah dan bunda saling pandang untuk melihat pertarungan mereka sambil senyum-senyum. Aga menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"panjang rambutku balik lagi seperti semula setelah pulang, jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan kan, kamu kemarin juga bilang iya" kata Zivannya memberi alasan, Aga mengangguk. "dah makan" isyarat Aga, Zivannya mengangguk dan kembali makan. Ayah tertawa perlahan, "ternyata takut istri juga, eh... mana yang dulu sering ngejek ayah kalo bunda marah-marah" goda Ayah, Aga nyengir.
"hai readers .... dukung terus karyaku agar terus semangat untuk selalu update... luv...luv...luv all sekebon pisang goreng...
terimakasih sebelumnya para readers...
__ADS_1