Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 96


__ADS_3

Zivannya memakan makanan yang dibawa Langit, "yang, aku suapi" dekat langit. "kakak makan aja dulu" geleng Zivannya. "kamu kalo makan sendiri pasti sisa, aku nggak mau membuang makanan" pandang Langit, Zivannya menyerahkan sendoknya. Langit menyuapi Zivannya bergantian dengan dirinya. "apa kamu suka moments yang ku unggah" tanya Langit. Zivannya menggeleng, "kenapa" suapi langit.


"belum terbiasa" jawab Zivannya. Langit memandang Zivannya, "apa kamu merasa malu atau takut cowok lain tau" senyum Langit.


"makan" pandang Zivannya, Langit nyengir. "habis ini pulang" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"besuk malam kita ketemu dengan teman-temanku" kata Langit. Zivannya mengangguk. "jangan cemberut, wajahmu tambah cantik tau" usap pipi Langit, Zivannya mengangguk.


"yang, besuk naik motor aja ya, biar cepat" kata Langit. Zivannya mengangguk. "ishhh... kenapa dari tadi ngangguk aja" pandang Langit, Zivannya minum, "makan nggak usah banyak omong" jawab Zivannya, Langit mencium bibir Zivannya lembut. "makan kamu aja ya, yang" senyum Langit, Zivannya menjauh. Langit tertawa menyuapi Zivannya kembali hingga makanan mereka telah habis.


"kenyang kak" usap perut Zivannya, Langit mengusap perut Zivannya. "aku tadi ingin cepat pulang untuk melihatmu, tapi aku tidak mau mengganggu tidurmu" kata Langit, Zivannya membawa piring dan gelas kedapur dan mencucinya. Langit melihat media sosial milik Zivannya. "kamu nggak mau liat ponselku, yang"sodor Langit, Zivannya menggeleng. "tidak, aku percaya" jawab Zivannya, Langit tersenyum. "aku sedang melihat media sosialmu. kebanyakan panorama alam yang kamu unggah" tarik Langit agar Zivannya masuk kedalam rengkuhan nya. "lebih menakjubkan mendapat moment yang pas saat naik gunung" jawab Zhivannya. Langit mengecup ubun-ubun kepala Zivannya.


"besuk tanya Ayah, surat-surat legalitas yang diperlukan apa aja" tanya Langit. "hmmmm" dehem Zhivannya. "mau tidur lagi, yang" usap perut Langit. "hmmm.." pejam mata Zivannya. Langit membuka t-shirt Zivannya untuk mengusap perut Zivannya. "semoga segera hadir di sini sesaat setelah kita menikah agar tambah sempurna keluarga kita" kecup ubun-ubun kepala Langit. Zivannya dan Langit sama-sama bertatapan dan tersenyum,


Langit mencium lembut bibir Zivannya, semakin lama menjadi semakin dalam. mereka sama-sama saling menyesap, rasa saling memliki. Zivannya melingkarkan kedua lengan tangannya dileher Langit dan beranjak duduk dipangkuan Langit menyatukan keningnya ke kening Langit, mengambil nafas banyak. Langit mengusap benda kenyal Zivannya dari balik t-shirtnya. Zivannya memejamkan mata menikmati sensasi tangan Langit, Langit menatap Zivannya yang terlihat memerah pipinya.


Langit kembali mengabsen setiap inci bibir kekasihnya, melepas ikatan tali yang melilit benda kenyal Zivannya. menaikkan t-shirt kekasihnya hingga terlepas menangkup benda kenyal yang sudah lama diinginkannya. Zivannya meremas rambut Langit yang cepak saat dengan lembut Langit menyesapnya. Langit menahan tubuh Zivannya agar tidak lemas, membawanya kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas tubuh Zivannya. Langit mengusap bibir Zivannya dan menyecapnya kembali, memainkan benda kenyal yang telah menjadi candunya, "yang" panggil Langit serak, Zivannya membuka matanya perlahan. "aku akan membuat tanda banyak, jadi jangan lari lagi" usap bibir Langit, Zivannya mengangguk mengusap-usap punggung Langit, Langit tersenyum dan menciumi wajah Zivannya dan semakin bergerak turun.


Zivannya beberapa kali mendesis pelan saat Langit menyentuh tubuhnya. memberikan banyak sekali tanda cinta ditubuhnya, Langit menggeram pelan saat menikmati keindahan dunia. "aisshhh... tidak kelihatan pun kamu membuatku harus mandi lagi, yang" senyum Langit menyatukan kening mereka, Zivannya menekan dadanya mengatur detak jantung yang berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Langit menaikkan kedua tangan Zivannya diatas kepalanya. "apakah jantung mu berdetak cepat" tatap Langit, Zivannya mengangguk pelan. "aku ambilkan dulu t-shirtmu diluar. jangan kemana-mana, aku akan langsung membersihkan diriku nanti" turun Langit dari atas tubuh kekasihnya, Zivannya mengangguk pelan menutup atas badannya dengan bantal, "yang" ambil bantal Langit, "kak" pandang Zivannya.


"kenapa, hanya aku yang boleh melihatnya" kata Langit, Zivannya menghembuskan nafasnya. "ambil t-shirtku, kak" kata Zivannya, Langit segera mengambilnya dan memberikannya pada Zivannya, "aku membersihkan diriku dulu yang, jangan kemana-mana" kecup Langit dibibir Zivannya berulang kali sebelum melesat pergi menuju kamar mandi. Zivannya segera memakai kembali underwear dan t-shirtnya merebahkan kembali tubuhnya setelah selesai dan melihat ponselnya, "udah selesai kak" lihat Zivannya saat Langit mencari t-shirt didalam almari pakaian.


"yang, mau cari baju untuk datang ke acara besuk nggak" tanya Langit mengelus pipi Zivannya, "nggak usah kak, aku banyak dibelikan gaun oleh bunda dan kedua kakakku, nanti kakak aja yang nyari buat besuk nggak papa, aku temani milihnya" angguk Zivannya.


Langit mengangguk duduk disamping Zivannya membuka t-shirt Zivannya, "wow, tandanya banyak banget loh, yang" senyum Langit, Zivannya terdiam. "berapa lama nanti ilangnya, besuk nggak boleh pake yang terbuka" ingatkan Langit, Zivannya menatap Langit dan mengangguk. "aahhh.... aku jadi sulit mengendalikan diriku jika berdekatan denganmu sekarang, yang" hembus nafas Langit, "jarang ketemuan aja kak" duduk Zivannya akan beranjak, Langit menahan tangan Zivannya dan mendudukkan dipangkuannya, "kamu mau menyiksaku lagi" dongak Langit mengusapkan wajahnya didepan benda kenyal Zivannya. Zivannya mengelus rambut Langit, "kamis aku balik untuk naik" kata Zivannya, "aku tau, berangkatnya aku antar kebandara nanti pulangnya aku jemput" kata Langit.


"tidak, aku naik kereta. jika naik gunung aku akan menggunakan kereta dari Jakarta, membuatku lebih tenang" geleng Zivannya, Langit menciumi benda kenyal dari atas t-shirt Zivannya.


"aku mengerti, tapi bisakah ini yang terakhir dulu sebelum lama naik kembali, aku baru benar-benar tidak bisa jauh darimu, yang" kata Langit, Zivannya tersenyum.


"aku juga tidak bersama laki-laki yang tidak aku kenal, kamu sudah ada di sisiku kenapa aku harus melihat laki-laki lain belum tentu mereka akan mengerti aku sepertimu" kata Zivannya.


"banyak, yang. kamu yang kurang peka" dengus Langit, Zivannya menangkup pipi Langit. "tapi yang kuijinkan hanya kamu lho, yang. aku nggak pernah melihat laki-laki lain selain kamu dan kak Aga. jangan melihatku seperti aku haus belaian laki-laki hingga dengan mudah menerima ajakan semua yang menyukaiku" kecup bibir Zivannya. "maafkan aku meragukanmu Zi" pandang Langit merasa lebih baik.


"tidak apa kak, terkadang sikapku yang ramah memang sering membuat orang merasa bahwa aku menyukainya. itu bentuk rasa menghormati orang lain agar tidak sarkas, aku juga tidak suka jika orang berbuat kasar padaku baik fisik maupun ucapan" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"kakak juga pasti tau jika aku lebih banyak menghindar dari situasi yang tidak mengenakkan. makanya kalian yang mampu untuk mendekati dan menjagaku, hmmm" senyum Zivannya. Langit mencium bibir Zivannya lembut.

__ADS_1


"ini pertama kalinya kamu berbicara panjang lebar kepadaku, yang" kata Langit. "berarti aku sudah merasa nyaman bersamamu, karena aku akan terbuka dengan orang yang membuatku nyaman" senyum Zivannya, Langit tertawa. "gimana nggak nyaman. jejak yang ku tinggalkan banyak banget jadi tidak ada celah bagi laki-laki lain untuk masuk" senyum smirk Langit. Zivannya memutar bola matanya jengah.


"kita jadi lihat yang mau kamu pake besuk kak" lingkarkan tangan Zivannya dileher Langit. "bisakah kita dirumah saja dan melakukannya sepanjang malam" tanya langit dengan muka yang memelas. Zivannya mengangguk "bisa, tapi besuk aku mungkin nggak akan bisa menemanimu karena badanku pasti sakit semua" kata Zivannya, Langit mendengus kesal.


"baiklah, kita berangkat. nanti malam aku nginep disana biar besuk pagi berangkat dari sana aja. sorenya pulang dan berangkat ketemu teman-teman langsung dari rumahmu aja" angguk langit akhirnya. Zivannya turun dan berjalan mengambil tas jinjing, "aku aja honey" ambil Langit, Zivannya memakai jaket denim nya. "yang, helmet mu. aku membelinya waktu jauh darimu" pakaikan Langit. "darimana uangnya kak, kartumu ada di aku kan" kata Zivannya tidak mengerti. "ada sedikit, tidak sebanyak yang kamu pegang. tapi cukup untuk menghidupi mu dan anak-anak kita nanti" senyum Langit. "ada yang belum kamu ceritakan padaku Satria Langit" pandang Zivannya melipat kedua tangannya didada. "aku mempunyai beberapa usaha sampingan. nanti akan aku perlihatkan jika kita kesana" senyum Langit, Zivannya berjalan menjauh. "yang" panggil Langit. Zivannya naik keatas motor Langit.


"aku tidak mempunyai mobil, karena aku masih merasa tidak perlu karena masih sendiri, ini kendaraan harian yang aku pake selain motor dinas" pandang Langit, "ya" jawab Zivannya. Langit menutup visor helmet Zivannya. "nggak usah dibuka-buka lagi" kata Langit, Zivannya berdehem. Langit segera melajukan motornya meninggalkan kawasan rumah dinas. berhenti sebentar di pos penjaga.


"mau kemana ndan" hormat penjaga. "keluar nganter calon" angguk Langit. "waahh... yang bener komandan, selamat akhirnya" tawanya. Langit tertawa, "udah dapet yang terbaik jadi ingin segera" kata Langit. "siap, semoga diberi kelancaran ndan, ditunggu undangannya ndan" senyumnya, Langit mengangguk dan melajukan motornya kembali.


mereka menuju salah satu mall di Jakarta, Langit memperlihatkan beberapa pakaian kepada Zivannya, "gimana, yang" perlihatkan Langit. "cobain dulu kak" pandang Zivannya, Langit menuju kamar pas. "bisakah ukuran diatasnya" tanya Zivannya menatap penjaganya yang segera mengangguk untuk mengambil celana dan baju ukuran diatasnya. "kenapa nggak ini aja, yang" lihat kaca Langit. "kamu nggak harus memperlihatkan semua ototmu kan" tatap Zivannya datar. Langit tertawa pelan mengecup kening Zhivannya. "siap" angguk Langit. penjaga datang membawa celana dan baju ukuran lebih besar, Langit segera memakainya setelah Zivannya mengulurkan kepadanya. "apa ini baik, yang" tanya Langit, Zivannya tersenyum. "terasa lebih nyaman untuk melihatnya" angguk Zivannya. "sekalian beli dengan warna yang berbeda, yang" toleh Langit, Zivannya sedang berbicara dengan penjaga menanyakan warna celana yang tersedia. Langit keluar setelah melepas baju yang dicobanya.


"kak, warna kemejanya aku belikan yang warna pada umumnya ya, celananya juga" toleh Zivannya, Langit mengelus punggung Zivannya. "bisakah hanya satu bag aja, karena nanti susah bawanya" senyum Zivannya kepada penjaga yang segera menata ulang. "kenapa" tanya Langit, "hanya meminta untuk dijadikan satu aja, biar gampang nenteng nya" senyum Zivannya. Langit mengambil bag yang berisi bajunya meraih jemari tangan Zivannya setelah Zivannya melakukan pembayaran. "mau nonton nggak, yang" tanya Langit. "nggak kak, ini sudah terlalu malam kan jam 10" pandang Zivannya. "baiklah, nanti nonton Drakor aja" elus punggung Langit, Zivannya nyengir.


hai....hai....hai.... all readers. dukung terus karyaku ya.... agar aku tambah semangat untuk terus menulis....


luv....luv....luv..... all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


terimakasih all readers...

__ADS_1


stay healthy all....


__ADS_2