Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 100


__ADS_3

mobil melaju membelah malam yang masih ramai, Zivannya mengeluarkan jemarinya dari kaca jendela. "mau kemana dulu, yang" toleh Langit sekilas. "just want to hide from the world" gumam Zivannya. Langit mengusap pipi Zivannya. "kamu udah lama bersembunyi dari ku, yang" tatap Langit berhenti di lampu merah


"hmmmm" gumam Zivannya melihat langit dari jendela. "aku pingin pulang ke rumah" kata Zivannya memejamkan matanya. "aku pingin tidur dengan tenang, aku pingin tidur dengan mama, papa dan adek" hembus nafas Zivannya menatap ke langit yang bertabur bintang. Langit memperhatikan Zivannya yang larut dalam kesedihan. Langit membelokkan arah mobil menuju lingkar luar Jakarta. Zivannya tersenyum sembari masih memejamkan matanya. "don't be so hard on yourself, Zi" sentil kening Langit.


"hmmmm" gumam Zivannya pelan.


ponsel Zivannya berdering pelan. "hallo" salam Zivannya tanpa membuka matanya.


"are U Ok Zi" kata Rara.


Langit meraih ponsel Zivannya mengalihkan ke panggilan video dan meletakkannya diatas dashboard.


"dia sedang tidak baik-baik saja, bisakah kamu mengajaknya mengobrol selama beberapa menit, agar dia kembali sadar" pandang Langit. Rara menatap layar ponselnya melihat Zivannya yang memejamkan matanya tapi tidak tidur.


"mau membicarakannya dengan kami Zi" lihat Dimas. Zivannya tersenyum, "aku baik aja Dim, sudah pulang" tanya Zivannya tanpa melihat layar ponselnya. Langit hanya mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.


"Rara belum tidur" tanya Zivannya, "baru ngajak keluar nih, kita dimobil juga" kata Dimas.


"aaaa.... how awesome to hear you guys do the same with us" angguk Zivannya. Langit mengusap kepala Zivannya lembut.


"wanna race" tanya Rara. Zivannya tertawa terbahak-bahak membuka matanya menatap kedua sahabatnya yang berada dikota lain.


"Ok, kak Langit bisa berkendara lebih cepat kayaknya" kata Zivannya menatap Langit. "tentu saja, kalo hanya balapan masih bisa" angguk Langit.


"sampai mana kita" semangati Rara. "sampai pantai aja. sambil menikmati deburan ombak yang menenangkan" kata Zivannya. Langit mengangguk, "sebentar lagi kita akan sampai. ini hampir jam 1 pagi" kata Langit.


"lah, kak Langit besuk dinas kan. telat nanti masuknya" kata Dimas. "bisa diatur Dim" senyum Langit,


"hemmmm, biar nanti aku yang nyetir saat pulang" toleh Zivannya, "tentu" angguk Langit tersenyum.

__ADS_1


"kalian curang, udah start duluan. aku masih ditengah kota" rengek Rara.


Zivannya tertawa. "pulang dari rendevous malam lagi" tanya Zivannya. "kan ada Dimas Zi, kalo nggak ada kalian aku nggak kemana-mana tau nggak. rasanya malas mau kemana aja" cerita Rara. "besuk naik gunung aja. nemenin kayak biasanya" kata Zivannya. "kalian berdua bisa sembari liburan, keliling kota. tunggu aku turun" kata Zivannya.


"kapan berangkat" tanya Dimas.


"rencana kamis siang berangkat, keretanya pingin berangkat saat jam segitu pak. kalian bisa nginep ditempatnya kak Dirgantara dulu. nanti aku minta tolong untuk share lokasinya biar kalian gampang. kemarin Rara juga udah kesana dengan sepupunya kan" jelaskan Zivannya. "tentu, langsung naksir berat sama Arka, udah tau mata anak itu selalu liat Zivannya masih aja mencoba merayu" kesal Rara. "emangnya kamu nggak ngerasa tertarik dengan Arka, Ra" goda Zivannya, Rara tertawa ngakak. "banget, liat dia yang ganteng abis. tapi sayangnya dia nggak ngliat aku jadi nggak bisa nikung lagi deh kalo dia udah ngliat kamu" hembus nafas Rara menggelengkan kepalanya kesal, mereka berdua tertawa ngakak.


"yaa... gini kak. kalo udah ngobrol. nggak ada filternya, bahas cowok lain didepan cowoknya sendiri. nanti kalo kita bicara sama cewek lain dia uring-uringan" lirik Dimas, Langit tersenyum.


"masih mending kalo hanya bahas Dim, menurutku. lha ini udah sering didepan mata dirayu sama cowok lain, apa nggak sakit hati" lirik Langit, Dimas tertawa. "nggak heran dulu kak Aga juga gitu kak, terkadang katanya kayak om nya saat ngajak jalan" kata Dimas. "sama, dikira aku juga begitu. apa tampang kita berdua udah kayak om-om yaa.... tadi saat ketemu dengan teman-temanku aja dikira masih sekolah dia" kesal Langit. mereka tertawa lebar.


"sabar kak, biasa kalo cewek cantik banyak penggemarnya. mereka berdua masih aman, walo cantik tapi pada jutek kalo sama laki-laki" kata Dimas.


"untungnya mereka begitu ya Dim. coba kalo suka mainin hati laki-laki. duh.... nggak bisa bayangin gimana kalo aku jauh dikit aja" angguk Langit. Zivannya mengecup pipi Langit spontan, Rara berteriak tepuk tangan. "duh yang sudah bucin" tergelak Rara. Zivannya tersenyum lebar, Langit mengusap rambut Zivannya.


"aku juga bisa kali Zi" kata Rara memeluk leher Dimas dan mengecupi pipinya berulang kali. mereka tertawa terbahak-bahak.


"tentu, have great night Zi. jangan larut dalam kesedihan. kamu lupa, aku aja bisa berdiri tegak dengan kalian berdua. masak kamu nggak bisa berdiri tegak dengan kita bertiga" kata Rara sarkas. Zivannya tertegun sesaat, menganggukkan kepalanya pada Rara.


"siap bu, terimakasih arahannya" tawa Zivannya melambaikan tangan pada mereka berdua dan mematikan sambungan panggilan mereka.


"makasih kak, membuatku merasa tenang kita pulang aja besuk kamu masih dinas" kata Zivannya menatap Langit. "baiklah" angguk Langit berhenti ditepi dan memutar balik mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah Zivannya.


"lebih dekat mana, aku atau kamu" tanya Zivannya. "kamu" jawab Langit, "baiklah, ini hampir jam 1.30" lihat ponsel Zivannya. Langit meraih jemari Zivannya dan menciumnya berulangkali.


"nanti tidur diruang tengah aja ya, yang. biar aku hangat" rengek Langit, Zivannya menatap Langit. "baik" jawab Zivannya. "jangan lupa siapin sarapan nanti" kata Langit. Zivannya mengangguk. "tidur dulu nanti aku bangunin. paling setengah jam lagi sampai dengan kecepatan seperti ini" kata Langit "hmmmm.... " dehem Zivannya merebahkan kepalanya ke sandaran kepala, Langit memutar alunan musik agar Zivannya merasa tenang.


20 menit kemudian mobil memasuki garasi rumah Triastomo, Zivannya segera turun dan membuka pintu rumah. "mau ganti pakaian dulu nggak kak" tanya Zivannya berlalu kedapur. "iya" duduk Langit. Zivannya menyodorkan coklat panas kehadapan Langit.

__ADS_1


"aku ambilkan sebentar kak" pandang Zivannya, Langit menyeruput coklat panas buatan Zivannya. Zivannya masuk kamar membersihkan dirinya dan mengambilkan pakaian ganti untuk Langit. "ini kak, ganti dulu. nanti pakaian kotornya aku taruh dibox cucian" serahkan pakaian Zivannya, Langit segera beranjak dari tempatnya duduk dan menuju kamar mandi yang berada diujung ruangan. Zivannya mengambil cover bed dan menatanya diruang tengah, merebahkan dirinya mulai memejamkan matanya. Langit menghampiri Zivannya yang sudah terlelap tidurnya, tersenyum lebar melihat Zivannya yang meringkuk. Langit membungkus Zivannya dengan cover bed agar tidak kedinginan dan memeluknya erat seperti koala.


jam 5.45 pagi, Zivannya menggeliat pelan. badannya terasa berat dan sesak, matanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Zivannya mengusap kepala Langit pelan. "kak... kita telat kewajiban pagi" kata Zhivannya. Langit membuka matanya dan melepaskan pelukannya pada tubuh Zivannya. Langit segera bangun dan menuju kamar mandi. Zivannya bergerak perlahan menuju kamarnya menanti Langit untuk melaksanakan kewajiban paginya yang terlambat. Langit mengecup ubun-ubun Zivannya sesaat setelah melaksanakan kewajiban pagi. "mandi di kamar ada air hangat kak. nanti aku siapin semuanya" kata Zivannya, Langit mengangguk menyandarkan tubuhnya ke dinding. Zivannya merapikan mukenanya meletakkan di palang besi untuk menaruh peralatan melaksanakan kewajiban.


Zivannya beranjak kedapur untuk meminum air putih hangat dan menyerahkannya kepada Langit. Langit menerima gelas berisi air putih hangat.


Zivannya menyiapkan pakaian dinas yang akan dipakai Langit. Langit masuk dan menuju kamar mandi yang ada didalam ruang tidur Zivannya. Zivannya menunjuk peralatan mandi yang bisa dipakai Langit, meletakkan pakaian dinas diatas ranjangnya agar Langit segera memakainya setelah keluar dari kamar mandi nanti. Zivannya menyiapkan coklat hangat dan omelette untuk sarapan pagi Langit kali ini. mbok membiarkannya melakukan di dapur sendirian dan memilih mengerjakan pekerjaan lain agar tidak mengganggu Zivannya.


"udah selesai kak" toleh Zivannya melihat Langit menghampirinya di dapur, meraih mug coklat panasnya dan membawanya kemeja makan. Zivannya menyusulnya sambil membawa sarapan pagi Langit.


"mau aku antar atau mau pake kendaraan sendiri" kata Zivannya duduk disamping Langit. "antar aja. nanti kamu bisa nunggu aku di rumah. siang aku pulang" makan Langit. "baiklah, aku siap-siap dulu kakak makan bentar" kata Zivannya beranjak menuju kamar, membersihkan dirinya dan menyiapkan peralatan yang diperlukan. "mbok, Zi nganter kak Langit dulu" datang Zivannya kedapur dimana mbok berada. "iya non dek. hati-hati dijalan" angguk mbok, Zivannya menyalami mbok dan mengangguk. Langit telah menunggunya didalam mobil.


mobil melaju pelan meninggalkan halaman.


"kita kerumah dulu aja, biar aku pake motor ke kesatuan. kamu tidur nunggu aku pulang" kata Langit, Zivannya mengangguk. "kamu belum sarapan lho, yang" toleh Langit.


"belum bisa makan kak, karena kurang tidur" kata Zivannya. "kalo kamu naik juga kurang tidur kan" kata Langit. "tidak sebelum naik biasanya akan istirahat dengan cukup, setelah turun tidak bisa langsung pulang tidur dulu di tempat kita menginap atau di base awal. setelah hilang kantuknya baru pulang, aku tidak memaksa tubuhku" geleng Zivannya, Langit menoleh. "kamu setiap bulan selama 4 bulan ini selalu naik, yang" Hela nafas Langit. "benar kak, karena aku merasa nyaman naik saat ini, saat hati dan pikiranku lebih ikhlas" kata Zivannya. Langit terdiam lama. "yang, aku akan berangkat dulu. kuncinya ada didekat jendela" lepaskan seat belt Langit, Zivannya mengangguk dan keluar dari mobil. Langit menyalakan mesin motor, menghampiri Zivannya. "nanti akan aku bawain makanan. jangan kemana-mana" kecup kening Langit, Zhivannya memeluk Langit. "aku tidur dulu kak, ati-ati sampai disana" pandang Zivannya, Langit mengangguk. melajukan motornya menuju kesatuan. Zivannya segera masuk dan menuju kamar Langit untuk merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk segera lelap.


jam 2 siang Langit kembali kerumah, melihat kekasihnya yang masih tertidur. Langit menaruh paperbag makanan yang telah dibelinya sebelum pulang, menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum menyentuh Zivannya, Zivannya menggeliat pelan saat tubuhnya berasa berat.


"kak, aku pingin tidur dulu" lemas Zivannya. "bangun dulu, makan. habis itu tidur lagi ini hampir kewajiban sore" kata Langit. Zivannya membuka matanya segera dan berlari kekamar mandi untuk mengambil air menyucikan dirinya, melaksanakan kewajiban siangnya yang telat lagi. "bentar lagi kewajiban sore. mau tidur lagi" tanya Langit. Zivannya menggeleng mengambil sendok dan membuka bungkus makanan yang dibawa Langit, meminum air yang disodorkan Langit kepadanya. "balik lagi nggak kak" tanya Zivannya memakan makanannya. "tidak, sudah selesai tugasku" geleng Langit, Zivannya mengunyah makanannya pelan. "ada chat dari temanmu" kata kata Langit. Zivannya mengerutkan keningnya sesaat dan mengambil ponselnya yang berada didalam kamar. "tadi saat aku mau bangunin, ada notifikasi chat masuk" pandang Langit saat Zivannya meletakkan ponselnya.


"aku kira ada notifikasi juga di ponselmu kak" kata Zivannya. "memang" angguk Langit tersenyum, Zivannya meneruskan makannya. "kakak nggak makan. udah menjelang sore" pandang Zivannya. "nunggu disuapi" senyum Langit, Zivannya menyodorkan sendok yang berisi makanannya. Langit menerimanya.


"lupa kak, karena lapar tapi malas bangun. biasanya hanya sekali makan kalo udah begini, jika perut sudah tak bisa lagi ditahan laparnya. maka harus bangun dan memakan sesuatu" kata Zivannya.


hai...hai....hai... all readers. dukung terus karyaku ya... terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


luv....luv....luv.... all readers sekebon pisang goreng. tetap semangat menjalani hari.

__ADS_1


stay healthy all readers....


__ADS_2