
"kalian mau kemana" tanya Aga, mereka berhenti dan menoleh. "cari bensin ecer kak, biar motorku idup. cuman didekat sini" kata Zivannya, Aga menatap Zivannya lama.
"nggak usah sekarang. besuk kan bisa" pandang Aga, Zivannya memandang Rara begitu pula sebaliknya. mereka saling sikut dan ngedumel nggak jelas.
"istirahat, nanti malam masih ada acara. hemat tenaga" masuk Aga, Dimas memasukkan kedua motor kegarasi samping.
"rasain, kalo sama pak komandan aja kalian takut, lha kalo sama aku nggak ada takut-takutnya" ledek Dimas.
"kamu mau ngrasain dimarahi kak Aga juga, aku bilangin nih" longok Rara didepan garasi. Dimas menoleh cepat. "kagak, nggak mau kena semprot juga" lambai tangan dimas menghalau mulut Rara yang siap akan berteriak memanggil Aga.
"ishh... anak cewek kalem dikit kenapa sih" bisik Dimas, Rara manggut-manggut.
"aku tidur bentar dikamar mama, nanti kita ketemu menjelang sore. so let me stroke my drool pillow" senyum Zivannya senang.
Rara mencibirkan mulutnya mendengar perkataan Zivannya. "bantal ileran aja bangga, idih.... cantik-cantik kok ileran... kayak aku dong sebelum jatuh kebantal ilernya udah aku seka pake punggung tangan dan aku lap ke baju" kata Rara menyombongkan diri, mereka tertawa pelan.
"dasar gadis-gadis sableng, nggak tau tempat kalo bercanda. didenger orang kan nanti dibilang jorok" towel pipi Dimas.
"biarin aja. gini-gini masih banyak yang suka kok, ya nggak Zi" tatap Rara mencari dukungan Zivannya, mereka ber hi-five ria. "Yoi.... masih pada ngantri tuh dibelakang kita, ngantri sembako, karena kita ngalangin antrian mereka" kata Zivannya masuk ke kamar. Dimas tersenyum lebar mendengar omongan Zivannya yang suka seenaknya, Rara tertawa ngakak. Zivannya kekamarnya merebahkan tubuhnya dengan tenang diranjang,
"Zivannya mana" tanya Aga habis dari kamar mandi. "tadi sih mau ambil bantal buat tidur dikamar mamanya" jawab Rara sambil membuka media sosialnya. Aga membuka pintu kamar Zivannya, dilihatnya Zivannya sudah tidur dengan nyenyak. Aga menghampiri dan memeluk Zivannya dari belakang mengecup tengkuknya pelan dan ikut tertidur bersama istrinya, hal yang paling dirindukan olehnya saat dirinya pulang nanti, aroma tubuh Zivannya yang membuat dirinya tenang, bersama dengan Zivannya entah mengapa membuatnya rileks dan damai. ketika dia berada didekat gadis lain perasaannya seperti kesal dan muak, apalagi saat dirinya berkumpul bersama keluarga ada gadis yang mendekatinya dan ingin menarik perhatiannya maka itu membuatnya tambah tidak suka pada gadis itu. lain halnya saat bertemu dengan Zivannya, Aga merasa berbeda melihat Zivannya membuat dunianya porak-poranda, hatinya sudah mengikat Zivannya untuk menjadi miliknya.
hingga sore hari Zivannya tertidur dengan nyenyak, dekapan Aga membuatnya nyaman dan semakin menelusupkan wajahnya diceruk leher Aga, Aga mengerjapkan matanya merasa ada yang menempel erat padanya. dilihatnya Zivannya memeluknya seperti guling dan membenamkan wajahnya didalam lehernya, Aga tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan, membuatnya ingin selalu memakannya setiap hari.
Aga melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore. Aga menutup mukanya, tidak menyangka dirinya akan tertidur selama itu. Aga membangunkan Zivannya dengan membelai rambutnya yang hitam panjang, "hmmmm... Zi masih ngantuk ma, tunggu bentar lagi" gumam Zivannya, Aga mengecup bibir istrinya pelan. Zivannya berguling kesisi yang lain karena merasa terganggu tidurnya. Aga bergeser mendekati Zivannya, membuka t-shirtnya menggelitiki Zivannya dari belakang, namun dia tidak bergerak sama sekali, Aga mengelus punggung Zivannya. "Zi udah jam 4 lebih, belum kewajiban sore lho... jika aku terus-terusan dekat denganmu, aku bisa nggak menunaikannya" kecup Aga dipipi Zivannya, Zivannya tetap tidak bergerak.
__ADS_1
"baiklah, aku bersih-bersih badan dulu kamu nggak mau telat kan diacara mama yang terakhir. besuk pagi aku pulang" anjak Aga. "hmmm..." desah nafas Zivannya berbalik, Aga tersenyum mengusap wajah Zivannya yang menggemaskan.
acara peringatan tiga hari mama Zivannya segera akan dimulai, Zivannya dan semuanya mengikuti dengan tenang dan runut. beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak berbincang-bincang dengan keluarga Zivannya, membicarakan pengajian untuk peringatan kematian mama Zivannya kedepannya, dan rencana Zivannya untuk memberikan barang-barang yang nantinya akan diberikan kepada para tetangga yang membutuhkan, kendaraan mama dan dirinya yang mau dijual. Aga berbincang lama dengan om Hadi dan bapaknya Aris untuk mengurus surat-surat legalitas kepergian mama Zivannya. keluarga papa Zivannya berpamitan, karena hari sudah larut malam, bunda dan ayah Aga juga berpamitan karena pagi-pagi akan pulang. mentari dan Matahari akan berjalan keliling Jawa sebelum matahari kembali bertugas dikesatuannya. Zivannya melepas kepergian mereka dengan berat hati. rumah akan sepi jika semua orang pergi. dia menjadi tahu dan merasakan perasaan mamanya yang sendirian setelah dirinya pergi kuliah dikota orang, mamanya yang setiap hari sendiri dirumah yang dulu penuh dengan tawa dan canda papa dan dirinya saat mereka masih bersama, Zivannya menitikkan airmata mengingat semua kenangan yang mamanya tinggalkan. kenapa selama disini mamanya selalu mengajaknya pergi walau hanya sekedar berkeliling kota, melihat anak-anak kecil berlarian dilapangan bermain, nonton bioskop berdua tengah malam, ngobrol dicafe. Zivannya berusaha menebus rasa bersalahnya saat dirinya tidak bisa pulang dua tahun ini. dirinya memandang sekeliling halaman dan menghela nafasnya panjang. Aga berjalan mendekat dan memeluk Zivannya memberi kekuatan, "smile Zi, happy for me" usap bahu Aga memandang Zivannya, Zivannya mengangguk dan tersenyum paksa. Aga tergelak melihat wajah Zivannya, "nggak ikhlas ikh..." kata Aga memencet kedua pipi Zivannya sehingga bibirnya maju. Aga mengecup bibir Zivannya sekilas. "hmmm... aku ingin memakanmu" pandang Aga lekat, Zivannya menjauhkan wajah Aga agar menjauh darinya. berjalan kedalam rumah. "Ra, nonton midnight yuk" kata Zivannya melihat Rara, "Ayuk... setiap hari juga aku jabanin kalo ada..." semangat Rara. Zivannya mengganti bajunya dengan jeans dan Hoodie abu-abu muda Aga.
"mau kemana" tanya Dimas keluar dari kamar mandi. "midnight yuk dim, refresh otak" pandang Zivannya, Dimas memberi tanda Ok, Aga memandang heran mereka bertiga yang sudah berganti pakaian. "mau kemana" tanya Aga, "nonton yuk Kak, besuk pagi-pagi kan pulang" kata Zivannya, Aga menangkup pipi Zivannya, "kamu panggil suamimu apa?" pandang Aga. "hubby" manyun Zivannya. Aga mengecup mulut Zivannya yang maju lima senti.
"good"angguk Aga tersenyum.
"kita mau berangkat sekarang" tanya Aga, Zivannya mengangguk. Rara mengunci rumah setelah mereka semua keluar rumah. mobil Aga meninggalkan halaman rumah melaju pelan menembus malam.
"nggak ada yang buka Zi" lihat Rara kesamping kiri. Zivannya menoleh, "ya udah, kita nongkrong dicafe itu aja dulu. jam 1 kita pulang, sekarang jam 11" lihat Zivannya. Aga memutar mobil menuju cafe yang ditunjuk Zivannya.
mobil diparkir agak jauh dari tempat mereka duduk. "pesen kopi item aja, sama lemon squash" kata Zivannya, Dimas mengangguk. melangkah kedalam dan memesan minuman yang mereka inginkan.
"Dimas lama ya pesennya" toleh Rara, Zivannya menoleh dan melihat Dimas terlibat perbincangan dengan dua orang pemuda. Zivannya segera menepuk bahu Aga agar melihat keadaan Dimas, Aga menoleh mengkerutkan keningnya sesaat. segera mendekati Dimas.
"dekat berarti, tolong kesini sebentar, he em kayaknya ada masalah sedikit" kata Zivannya.
"ya, nanti liat mobil kak Aga didepan. he em... Zi tunggu" tutup Zivannya. Rara menatap Dimas dan Aga yang terlihat sedikit bersitegang dengan beberapa pemuda yang mengerumuni mereka berdua. Zivannya dan Rara duduk dengan tenang menatap mereka berdua yang sedang mengobrol seru dengan beberapa pemuda. Zivannya membuka tudung Hoodie nya dan menyangga dagu dengan tangan. mentari ikut duduk dengan mereka, "udah berapa ronde dek" tanya mentari tiba-tiba, Rara menekan dadanya kuat-kuat. "Gosh.... kak senyap banget. kata Rara. Zivannya menoleh, "baru mulai kak, takutnya kakak nggak kebagian adegan menarik" senyum Zivannya. mentari memberi acungan ibu jari tanda Ok.
matahari mendekat disamping Dimas, terlihat seorang pemuda melayangkan pukulan kearah Dimas, matahari segera menahan pukulan dengan tatapan yang sulit diartikan. tak berapa lama terlihat pertarungan yang seru, 3 lawan 13 orang. Rara terlihat kuatir dengan Dimas yang kewalahan melawan dua pemuda yang menyerangnya secara bersamaan. matahari dan Aga terlihat lebih senyap dalam melancarkan serangan. mentari mengabadikan moments suaminya dan adiknya yang sedang bermain.
"aisshh.... aku sedang dalam kereta ini" seru Dirgantara kesal. Zivannya terkejut mendengar suara Dirgantara, "kakak udah berangkat" tanya Zivannya, "udah dek, baru aja diantar mentari, ishhh.. kesel nih... nggak ikut olahraga malam" seru Dirgantara sambil menonton Aga dan matahari. "kalian habis darimana dek" tanya mentari. "pinginnya nonton midnight kak. pingin udara malam lepas, nggak ada terus kesini. ini baru nyampe, dah gitu aja" isyarat dagu Zivannya. "kamu nggak kaget liat Aga gitu dek" tanya mentari. "biasa aja kak kalo liat orang kelahi, terlalu banyak drama dalam hidup nggak usah ditambahi lagi" geleng Zivannya.
"bentar lagi selesai nih, nggak seru kalo nggak lama" lihat Dirgantara.
__ADS_1
"ini hampir sejam lho kak, kita yang nunggu yang jantungan" kata Rara.
"biasa aja Ra, seru kalo lawan preman sih, kayak dulu pacarnya mentari. lawan yang seimbang, sama-sama babak belur. habis itu kena hukuman" tawa dirgantara lepas.
beberapa pemuda terlihat terkapar tak berdaya, mereka duduk dan tergeletak disekitar tempat. mentari mendekati meja kasir, Zivannya mengikuti mentari, Rara segera mengekori mereka. "pesanan ku mana kak" tanya Zivannya duduk dikursi depan bartender. mereka menoleh dan menatap Zivannya sedikit heran. seorang gadis memberikan pesanan Zivannya dan segera meminumnya. Aga terlihat melepas Hoodienya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Zivannya, melihatnya dimeja bartender bersama mentari. berjalan mendekatinya, menyerahkan hoodienya dan menyeruput lemon squash Zivannya yang tersisa.
"lumayan dek" senyum matahari melakukan selebrasi, Aga tersenyum menyambutnya.
"nggak jadi lari malam kan" tanya mentari, matahari menggeleng. "lumayan untuk bakar karbo" senyum matahari. mentari menyodorkan kopi hitam yang dipesan Zivannya.
"berapa banyak kerugiannya" tanya mentari. Aga melihat sekeliling, nggak banyak. hanya merusak suasana malam yang indah aja, dikota orang lagi" tawa Aga renyah. Zivannya menatap Aga yang terlihat lepas dan bahagia, menambah kadar ketampanannya berkali-kali.
"kenapa, baru tau kalo suamimu lebih dari pria yang mengejarmu selama ini" tanya Aga menatap Zivannya.
"yang, cepat tanya mereka harus bayar berapa" tanya matahari menatap Mentari.
"lha kan mereka yang mulai. kenapa harus kita yang bayar" jawab mentari kalem, matahari membuka kancing kemejanya. "gerah banget nih, pingin cepat-cepat mandi" jawab Matahari, "kamu mau aku juga buka kancing segitu banyaknya" pandang mentari, matahari tertawa dan memeluk mentari erat. "jangan, aku aja nanti yang buka kalo dah dihotel. semuanya malah" kata Matahari. "isshhh.... " pukul bahu mentari pelan.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘