
Langit menatap layar ponselnya melihat Zivannya yang sedang tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. tawa lepas yang diperlihatkan Zivannya membuat Langit tersenyum lebar melihat kekasihnya yang terlihat sangat bahagia. Zivannya melihat ponselnya dan menjulurkan lidahnya melihat Langit yang sedang menatapnya disana, Langit tergelak melihat godaan Zivannya yang pipinya sudah memerah karena banyak tertawa. "are U happy, yang" sentuh layar Langit. "long time no see my friend, by. jadi mengulang memori" angguk Zivannya tersenyum lebar. "good, U look beautiful when smile" senyum Langit. "makasih" tawa Zivannya.
"belum selesai" toleh Rara melambaikan tangannya kearah ponsel Zivannya. "belum, sampai kita selesai" senyum Zivannya. Rara memutar bola matanya tidak percaya. "Zi" panggil Regan, "ya mas dosen" toleh mereka cepat. Langit melihat dengan seksama. "kamu belum pulang" dekat Regan, "belum kami masih nostalgila dengan Dimas dan Zivannya mas. lama tidak melihat mereka, kenapa apakah mau bergabung" tanya Riko, Regan segera duduk didepan Zivannya. Langit menatap tajam kearah Regan. "habis ini Rara mau disah in nih" goda Riko, mereka tertawa menggoda Rara yang sudah seperti kepiting rebus parasnya karena dari tadi diledekin teman-temannya. "eh... ntar kalo jadi bride maid nya aku dipasangin ama Zivannya aja ya.... ya.... mau ya Zi..... sekali-kali jalan sama aku, biar terangkat derajatku dimata cewek-cewek" kata Riko tersenyum lebar, mereka menyoraki Riko yang tertawa lebar.
"berat kalo Zi mah" lambai tangan Rara menaik turunkan alis. "kenapa apa dia udah nikah" tanya Riko, "belum, emang kamu mau daftar, mau ijin sama bodyguard nya yang tadi, itu baru satu masih ada tiga lho, garang-garang tampangnya" takuti Rara. "aahhh... itu mah bisa diatur. kan cuman pas nikahan kamu doang, jalan sama Zivannya cuman itu doang" kata Riko memberi alasan. "beneran nih, ijin lho ya... tuh satu pergi, satunya udah stand by aja diponsel Zivannya. sana gih... ijin dulu jauh-jauh hari" kata Rara memberi isyarat kesamping Zivannya, mereka menoleh dan melihat Langit yang sedang berdiskusi dengan rekan-rekannya. "ishhh... kenapa nggak bilang kalo ada kakaknya sih Ra" salah tingkah Riko pelan. "lha cuman diponsel doang udah gitu sih ko, penakut banget sih ko, palingan cuman suruh push up 30 kali" tawa Rara, "alamak, ngeri kali minta ijinnya. kenapa susah sih ngajak kamu Zi" garuk-garuk kepala Riko merasa kalah sebelum berperang. "Dimas udah pernah disuruh push up sama ayah Zivannya, berempat sama ketiga kakaknya" kata Rara, "masak, gitu amat sih keluarga mu Zi" pandang seseorang tak percaya, Rara mengangguk.
"kalo push up cuman sendirian aja nggak masalah, yang jadi masalah. kita disuruh duduk diatasnya biar jadi pemberat kata ayahnya Zivannya" cerita Rara, mereka membulatkan matanya mendengar cerita Rara, Dimas senyum-senyum.
"bercanda kan kamu Ra, biar aku nggak ngajak Zi kan" tawa Riko, Rara menggeleng. "tanya aja sama Dimas, ada saksi hidupnya apakah aku bohong atau nggak bohong" toleh Rara menatap Dimas yang menganggukkan kepala pelan.
"kalo mau lebih serem lagi nanya tuh ama kakaknya Zivannya yang dengerin kita, kemarin Zivannya kecelakaan ketiga kakaknya disuruh push up berapa kali" kata Rara, "kamu kecelakaan Zi" tatap Regan cepat. Zivannya tersenyum mengangguk, "hanya luka ringan, udah sembuh" jawab Zivannya. Langit menatap sekilas Zivannya yang menjawab pertanyaan Regan.
"dimana Zi, kenapa" tanya Riko dan yang lain. "hmmmm.... pas lagi main dirumah ibu di Malang, ada anak-anak naik motor nggak liat depan. untungnya dia nggak papa, nggak tega kalo dia kenapa-kenapa" kata Zivannya menatap Langit yang tersenyum lebar, "hey ... kenapa jadi aku sih yang ditanyain, Rara tuh yang sidang hari ini dan akan di sah in sama Dimas sebentar lagi" hembus nafas Zivannya merasa tidak nyaman.
"trus kamu gimana, orang yang jatuh kamu" tanya Regan. "nggak kenapa-kenapa mas dosen, ada kak Langit, abang Matahari dan kak Mentari yang mengurusku. cuman ketika pulang ke Surabaya kerumah kakak tertuaku jadi heboh dan dihukum sama ayah, karena nggak bisa njagain adik perempuan satu-satunya" jawab Zivannya. "apa ayahmu begitu galak Zi" tanya Riko. Zivannya tersenyum lebar. "nggak, jika kami salah pasti dihukum, selebihnya nggak" geleng Zivannya.
"kakakmu benar-benar jadi bodyguard pilihan ya" lihat seseorang dilayar ponsel Zivannya, "heem... dia yang akan menjagaku seterusnya" angguk Zivannya, Langit tersenyum mendengar ucapan Zivannya. "kedua kakakku udah nikah, tinggal di lain kota" pandang Zivannya menatap Langit.
"kalian pede banget mau ngajak aku, udah nanya belum sama Rara kapan nikahnya, ntar aku ijinin deh kalo udah pasti kalo udah di ijinin malah Rara belum tau kapan nikahnya" kata Zivannya pelan. mereka tertawa, Dimas senyum-senyum menatap Zivannya. Regan selalu menatap Zivannya yang berada didepannya, Langit merasa tidak senang saat melihat kekasihnya dekat dengan laki-laki yang terlihat jelas memujanya, Zivannya terlihat tidak menanggapi keberadaan Regan malah terlihat asyik mengobrol dengan teman-temannya karena lama tidak berjumpa.
__ADS_1
"nanti sore ngumpul lagi yuk, dikafe X, belum puas nih ngobrol dengan kalian. tau-tau udah lulus aja" usul seseorang. Rara menatap Dimas dan Zivannya, "Ok, abis petang ya sekitar jam 7 an, mo nganter abangnya Zi dulu kebandara pulang ke Jakarta, bisa dipecat jadi adek kalo nggak nganter" senyum Rara mengangguk. "Ok, ntar ketemu disana. aku mau kelas dulu, dosennya malah ikutan nongkrong disini. nggak nyadar kalo udah harus ngajar" tepuk Riko. Regan terkejut "kita ada kelas ya" tanya Regan, "iya mas, ayo ah... keasikan nongki nih dosen kita" cengir Riko. mereka melambaikan tangan melepas kepergian mereka. "senang, yang" dehem Langit, Zivannya menoleh dan tertawa, "ketemu temen seneng, yang. ketemu dosen Regan, biasa aja. kalo ketemu kak Langit selalu bikin kangen, oh ya nanti abis nganter bang Matahari ketemu temen lebih banyak lagi" ijin Zivannya. Langit tertawa lebar, "bisa aja, kalo jauh nggombalin melulu. kalo dekat lari menjauh" kata Langit, "masa sih kak, perasaan selalu dekat aja deh. malah nempel terus kayak perangko" bulatkan mata Zivannya lebar-lebar. Langit tertawa, "ntar deh kalo udah sah. aku kurung di kamar seminggu" kata Langit. Zivannya tertawa, "Ok, siapa takut. cuti tiga hari aja susah apalagi seminggu komandan" naik turunkan alis Zivannya, Langit tertawa terbahak-bahak mengangguk. "kalo gitu, pulangnya cepat aja biar bisa semalaman dikamar" balas Langit. Rara tersedak mendengar obrolan absurd kedua orang itu. "ishhh.... kalian nih, udah tau disini ada dua orang yang belum nikah juga. kenapa ngomong yang nggak-nggak sih" pandang Rara kesal. "makanya Ra, segera menikah. buruan biar lega" kata Zivannya, Rara memukul bahu Zivannya agak keras, Zivannya tertawa melihat paras Rara yang kesal. "udah ah, pulang aja. ini udah siang, jam 1 nih. bentar kita abadikan moments bertiga dulu" kata Rara. Zivannya mengangguk. mereka mengabaikan moment dengan seru dan gokil. Langit tertawa melihat tingkah mereka bertiga yang konyol.
"kak, aku pulang dulu kerumah Rara. mungkin besuk baru pulang kerumah" pamit Zivannya. "baik, hati-hati, yang. kabari nanti kalo ngumpul bersama yang lain. siapa tau tiba-tiba dosenmu itu muncul disana" kesal Langit. Zivannya tersenyum lebar mengangguk. "baik kak, nanti kabar-kabari" angguk Zivannya mengikuti langkah Rara. "oh ya, yang" kata Langit tiba-tiba. "ada apa" tatap Zivannya heran. "kamu terlihat cantik mengenakan pakaian biru hari ini" kata Langit. "hmmmm.... karena aku cantiknya Langit" senyum Zivannya, Langit tergelak mendengar gombalan Zivannya lagi. "bye, yang" tutup Langit, Zivannya memasukkan ponselnya kedalam saku rok nya. "beli puding yuk Ra" kata Zivannya, "udah ada di lemari pendingin rumah Zi, kemarin udah beli" masuk mobil Rara, Zivannya mengangguk. "mampir kerumah dulu ya, mau ambil beberapa baju lagi" kata Dimas, Rara dan Zivannya mengangguk setuju. sore hari mereka tiba dirumah Rara, Zivannya segera merebahkan diri diranjang Rara, sesaat kemudian tertidur dengan nyenyak, "Zivannya tidur, Ra" tiduran Dimas didepan TV, "he em, mungkin kecapekan dari kemarin nggak berhenti jalan ato mau datang bulanannya sehingga harus tidur sepanjang hari, alamat nggak ikut nanti dia" kata Rara menatap Dimas cepat, Dimas mengangkat bahunya tanda tidak tahu, Rara mendengus pelan melihat Dimas, "Zi, jadi ikut ke cafe nggak" tepuk Rara ditangan Zivannya pelan karena hari sudah lewat dari petang tapi Zivannya masih saja tidur dengan nyenyak.
"hallo" salam Zivannya meraih ponselnya yang berdering kencang.
"hallo dek, tidur ya" tanya Matahari.
"abang udah otewe ke bandara" buka mata Zivannya.
"iya, mau otewe. ini sama Bagas dan beberapa teman yang lain, mereka akan ke Jakarta juga" kata Matahari.
"iya, abang tunggu disana nanti. sekalian balikin motornya Dimas" jawab Matahari.
"baik, bang. Zivannya otewe kebandara" kata Zivannya mencari Rara.
"Ra, kebandara sekarang. abang mau otewe kesana" lihat Zivannya, Rara ,menoleh. "nanti Dimas ngambil motornya" tanya Rara. Zivannya mengangguk menuju kamar Rara untuk berganti baju.
"kenapa make jeans dan Hoodie lagi sih Zi, kayak anak sekolah lulus masuk kuliah awal-awal tau nggak, jadi kayak kakak perempuan akunya" sungut Rara masuk mobil, Zivannya tersenyum lebar. "baguslah nanti biar aku cari kekasih yang agak muda lagi" kata Zivannya, "coba aja, aku laporin Langit baru tau rasa" kata Rara, Zivannya tertawa kecil. "ntar aku bilang sendiri Ra, jadi dia bisa mendengarnya langsung dariku" kata Zivannya menghubungi Langit.
__ADS_1
"ya, yang" buka Langit , Zivannya melihat Langit yang tidak memakai baju karena habis membersihkan dirinya terlihat dari badannya yang masih dilap dengan handuk.
"mau kebandara ketemu bang Matahari, dia bersama teman-teman nya akan berangkat pulang ke Jakarta, termasuk temannya Bagaskara" pandang Zivannya, Langit menghentikan mengusap rambutnya dengan handuk untuk sesaat, "baik" angguk Langit. "setelah ini aku ngumpul sama anak-anak yang lain di kafe x" ulang Zivannya meminta ijin. "Langit mengangguk berjalan menuju almari pakaian untuk mengambil t-shirt biru tua. "ahhh.... satu lagi" kata Zivannya. "kenapa" tanya Langit melihat Zivannya.
"do i look like a school girl in jeans and a hoodie like this" perlihatkan Zivannya. Langit tersenyum melihat kekasihnya. "kamu selalu terlihat mempesona bagiku, yang" kata Langit. "Rara mengatakan aku seperti anak yang baru masuk kuliah, jadi aku bilang dengan begini aku bisa mencari kekasih yang lebih muda" kata Zivannya, Langit menggeram pelan, "apa yang kamu bilang, yang" pandang Langit. Zivannya tersenyum lebar. "I can find a younger lover with my current appearance" jawab Zivannya santai. Langit menatap tajam Zivannya.
"apa aku harus memaksamu pulang sekarang, jika kamu melakukan itu maka aku akan datang kesana malam ini dan membawamu pulang hari ini juga" kata Langit tegas. Zivannya tertawa kecil "coba aja kalo bisa maka aku akan bilang bang Matahari untuk menunda keberangkatan mu dan aku akan lari menjauh ke tempat yang tidak bisa kamu jangkau" pandang Zivannya menatap Langit yang terlihat marah. "yang" Rajuk Langit, Zivannya tersenyum menghela nafasnya panjang. "udah ah, nanti kalo udah ketemu abang aku kabari lagi" kata Zivannya mematikan ponselnya.
Rara tertawa lebar melihat Zivannya, "berani banget buat pak komandan Langit marah Zi, awas kalo dia beneran datang dan membawamu pulang. baru tau rasa" ingatkan Rara. "dia tau Ra, aku nggak akan dengan mudah berpindah ke lain hati. jika aku orang seperti itu maka bukan dia yang aku pilih, bisa Yuda atau Regan jika hanya mengejar laki-laki yang selalu ada untukku" jawab Zivannya. "dia terlalu mencintaimu Zi dan posesifnya sebelas dua belas dengan kak Aga" kata Rara, "hhmmmm.... aku juga nggak habis pikir dengan dua orang itu, kenapa baru ketemu udah bikin aku tidak bisa melepaskan diri" kata Zivannya. "itu tandanya dia memang untukmu" toleh Rara kebelakang.
"apa kamu juga seperti itu dengan Dimas" tanya Zivannya balik, "nggak usah membalikkan pertanyaan deh Zi, kamu udah mulai prosedur mengurus surat-surat kan, nggak lucu kalo tiba-tiba berubah pikiran" kata Rara, Zivannya menatap keluar jendela kaca mobil. "apa aku terlihat menyedihkan Ra" tanya Zivannya. "terkadang Zi, tingkahmu yang kadang menjauh membuatku geregetan, terkadang sikapmu nurut pada Langit sehingga memberi dia rasa percaya diri untuk mendekatimu" kata Rara. "dan herannya lagi Zi, itu hanya kamu lakukan kepada dua orang aja selama ini. kak Aga dan kak Langit" tatap Rara, Zivannya memandang Rara sesaat.
"masa sih Ra apa aku begitu, perasaan biasa aja dengan semuanya" tanya Zivannya mengerutkan kening. Rara manggut-manggut membenarkan perkataannya. "kamu nggak sadar, aku yang memperhatikannya dengan segenap jiwa dan raga" kata Rara mereka tertawa, Dimas tersenyum menggelengkan kepalanya pelan.
hai....hai....hai.... all readers terimakasih telah memberi dukungan dan mampir untuk membaca karyaku.
luv.... luv... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih semuanya atas dukungannya.
stay healthy all
__ADS_1