
"apa aku terlihat tidak selayak itu Zi dimatamu" topang kepala Aga menatap Zivannya, Zivannya mengangguk membalas tatapan Aga.
"apa aku tidak seberharga itu dimatamu Zi" tanya Aga. Zivannya kembali menganggukkan kepalanya.
"jadi tolong biarkan aku pergi, biarkan aku menjauh, aku pasti bisa seperti yang sudah-sudah" jawab Zivannya meminta Aga untuk melepaskannya. Aga tersenyum samar menatap Zivannya, mengulurkan tangannya mengelus pipi Zivannya yang putih mulus.
"jika aku bisa menjauh, apakah kamu yakin akan bisa menjauh juga dariku Zi" tatap Aga.
"harus bisa. seperti saat kita nggak sengaja bertemu kala itu" jawab Zivannya memejamkan matanya tanpa sadar. Aga bergerak maju dan mencium bibir Zivannya lembut. Zivannya membuka matanya cepat dan mendorong tubuh Aga agar menjauh darinya.
"apa kamu juga akan melupakan rasa ini Zi" tatap Aga, Zivannya menatap Aga lama dan terlihat kilatan tidak senang di kilauan matanya saat menatap Aga.
"tentu saja" jawab Zivannya mengusap mulut dengan punggung tangannya. Aga tertawa pelan frustasi melihat sikap Zivannya yang terlihat cantik namun keras seperti batu.
"sayangnya aku tidak bisa Zi, aku orang yang selalu mengandalkan akal dari pada perasaan selama ini, sulit bagiku melihat seorang gadis jika hanya dengan penampilan. tapi.... itu semua tidak berlaku saat aku melihatmu jatuh dan hanya mengandalkan ku untuk bersandar saat itu. ada banyak cowok lain yang berada di sekitarmu dan juga menawarkan pertolongan waktu itu, namun kamu tidak meminta bantuan siapapun saat itu. tapi kamu dengan segera menerima pertolonganku tanpa ragu, tanpa tahu wajahku, tanpa tahu jika aku memiliki niat tidak baik padamu. apakah kamu tidak memikirkan hal itu Zi" tanya Aga. Zivannya terdiam menatap Aga.
"hanya aku yang membuatmu mau menerima bantuan orang lain saat itu. kamu tidak ragu ketika memelukku untuk membantumu berjalan dengan luka yang tidak sedikit saat itu. untuk pertama kalinya aku bersentuhan dengan lawan jenis Zi, untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang hebat di diriku saat dekat denganmu. apakah aku salah jika memiliki rasa itu" jelas Aga.
"aku juga tidak tahu kenapa, saat itu aku merasa waktu cepat berlalu dan membuatku hilang kendali hingga meminta Tuhan melambatkan waktu agar aku bisa menatapmu lama dan menemanimu lebih lama, aku sudah tidak punya kekuatan untuk menjauh darimu saat itu Zi, apakah kamu tau hal itu" sugar rambut Aga menatap langit-langit rumahnya.
"aku tidak berharap rasa ini Zi, aku tidak berharap jatuh cinta dengan gadis yang tidak aku kenal sama sekali, itu diluar nalar dan kendaliku. sudah berapa kali aku menyakinkan diriku untuk meredam rasa sayang ini. tapi... tetap tidak bisa..." kata Aga mendesah panjang merasa frustasi dengan perubahan sikapnya yang tidak bisa dia kendalikan.
"aku semakin tersiksa saat tidak bisa melihatmu apalagi tidak menemukanmu selama beberapa hari kemarin, membuatku seperti ada rongga didalam hati. rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya dengan gadis lain" kata Aga tegas.
"jadi katakan padaku, apa yang harus kulakukan selanjutnya mengenai perasaanku yang mencintaimu dan kamu juga mencintai ku" hembus nafas panjang Aga menatap Zivannya yang terdiam mendengarkan penjelasan Aga.
"kita berdua adalah orang dewasa yang bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan ini kan Zi.... kenapa kita tidak memulai sesuatu yang sebenarnya kita rasakan, seperti takdir tuhan yang menuntun kita untuk bertemu seperti ini" tanya Aga. Zivannya memeluk kedua kakinya menatap Aga.
"aku bukan seorang pengecut yang melarikan diri meninggalkanmu tanpa melakukan usaha untuk mendapatkanmu Zi. aku tidak akan berjanji untuk selalu membuatmu bahagia. tapi aku akan berusaha untuk membahagiakanmu dan membuatmu mengerti ketulusan perasaanku kepadamu" kata Aga melihat Zivannya menundukkan pandangannya melihat kebawah kakinya.
"jika bisa memilih aku ingin tetap bersamamu sampai maut memisahkan kita nanti Zi. aku sama sekali tidak punya kekuatan untuk jauh darimu lagi" kata Aga mantap.
"jadi bisakah kita memulai awal baru bersama, apapun itu kedepannya kita hadapi bersama. tidak ada yang ditutupi satu sama lain. tidak ada kata aku dan kamu, yang ada hanya kita, kita berdua yang menjalani dan merasakan rasa ini. rasa percaya satu sama lain akan membuat kita kuat bersama" pandang Aga. Zivannya hanya diam mendengar semua ucapan Aga yang menginginkan dirinya.
"beri aku waktu untuk memikirkan semuanya kak" ucap Zivannya pada akhirnya setelah lama terdiam.
Aga menggelengkan kepalanya, "aku sudah cukup lama menunggu dan memberimu waktu Zi, sudah cukup bagiku mengetahui perasaanku sendiri terhadap sikapmu. aku tidak mau mendengar kata tidak dari mulutmu" ujar Aga merapatkan dirinya didepan Zivannya.
__ADS_1
"kita mulai dari awal, kita bisa melaluinya bersama-sama, aku memiliki watak yang keras, aku akui hal itu jadi kuharap kamu dapat melunakkan sifatku yang keras dengan kelembutanmu. kita saling melengkapi satu sama lain. karena memang kita ditakdirkan bersama" angkat dagu Aga. Zivannya menghela nafasnya panjang dan memejamkan matanya.
"beri aku waktu kak" buka mata Zhivannya, Aga menggelengkan kepalanya.
"aku beri waktu besuk pagi selepas melaksanakan kewajiban kita pagi hari" geleng Aga menatap Zivannya lekat.
"beri waktu lebih lama lagi" kata Zivannya menegakkan badannya untuk beranjak dari duduknya khawatir jika Aga menciumnya lagi.
Aga menggeleng dan tersenyum, "tidak, waktu yang kamu minta hanya sampai pagi nanti" kata Aga bergerak maju mengimbangi gerakan Zivannya yang terlihat takut jika dia menciumnya kembali.
"Bagaskara, menjauh dariku" dorong tangan Zivannya didada Aga. Aga menangkap kedua tangan Zivannya menguncinya dengan satu tangan di atas kepala Zivannya, menatap wajah Zivannya yang juga sedang memandangnya. Aga menunduk, mendekatkan wajah mereka berdua, mencium sekilas bibir Zivannya yang memejamkan matanya seketika. Aga memandang sekilas wajah Zivannya yang tidak melakukan perlawanan saat dia mencium bibir Zivannya.
Aga kembali menunduk untuk mencium bibir Zivannya lebih lama, melepas kedua tangan Zivannya perlahan, memaksa membuka mulut Zivannya dengan lidahnya agar bisa masuk kedalam rongga mulut Zivannya, mengabsen setiap inci mulut Zivannya tanpa tertinggal sedikitpun. tanpa sadar Zivannya melingkarkan kedua tangannya keleher Aga, mengunci pinggang Aga dengan kedua kakinya yang menggantung dibelakang punggung Aga seperti anak koala yang menempel pada induknya, secara refleks Zivannya mendesah merasakan ciuman Aga yang semakin menggelora.
Aga mengangkat pelan tubuh Zivannya untuk didudukkan dipangkuannya, menyusupkan jemari tangannya dibalik t-shirt Zivannya secara perlahan, mengelus perut Zivannya yang datar dan mulus, Zivannya mengerang pelan kegelian. Aga memperdalam mengabsen setiap inci mulut Zivannya tanpa melepaskan pergerakan tangan kanannya, bergerak turun mencium leher Zivannya yang mulus, putih dan jenjang.
Zhivannya mencengkeram rambut Aga menahan sensasi yang membakar tubuhnya. Aga meremas pelan benda kenyal Zivannya yang segera menjerit pelan merasakan sentuhan Aga, memberikan beberapa tanda kepemilikan diatas benda kenyal Zivannya yang segera membuatnya candu.
Aga mengecup pelan kedua pipi Zivannya dan melekatkan kedua kening mereka, "apa kamu masih bisa memintaku untuk menjauh darimu Zi" ucap Aga lembut. Zivannya membuka kedua kelopak matanya menatap manik mata Aga yang jaraknya sangat dekat. Zivannya segera menjauhkan kedua kening mereka.
Aga tergelak menyadari perubahan reaksi Zivannya melihat tubuh mereka yang saling menempel. Aga merebahkan kepalanya didada Zivannya dan mengecup beberapa kali benda kenyal candunya dari luar t-shirt Zivannya. Zivannya mengelus pelan rambut Aga yang cepak.
"aku menyayangi dan mencintaimu Zivannya Fritscha. jadilah wanitaku, jadilah teman hidupku selamanya. aku akan melindungimu melebihi nyawaku" dongak Aga menatap Zivannya yang menunduk menatapnya sambil terus mengelus rambutnya.
"apa kamu pernah melakukan ini dengan pria lain Zi" tanya Aga mempererat rengkuhan tangannya dipinggang Zivannya, Zivannya menggeleng pelan.
"bagus, karena hanya aku yang berhak melakukannya. terima kasih kamu sudah menjaganya untukku, aku juga baru merasakan interaksi dengan perempuan untuk pertama kalinya hanya denganmu" senyum Aga.
"aku tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain dengan keluarga besar ku, karena belum ada seorang wanita yang mampu membuatku hilang kendali seperti dirimu" cerita Aga.
"banyak yang mencoba mendekati, tapi tidak ada yang dapat membuat hatiku bergetar seperti saat aku melihatmu waktu itu. tidak ada yang spesial dihati ku selain bunda, kakakku dan dirimu" senyum Aga.
"jadi jika ada yang berusaha membuatmu cemburu, jangan diambil hati. karena aku tidak mudah dekat dengan lawan jenis. justru aku yang harus sekuat hati menahan rasa tidak suka saat kamu didekati pria lain" dengus Aga merasa tidak suka jika memikirkannya. Zivannya bergerak turun dari posisi yang membuatnya malu setengah mati.
"kenapa" kerut wajah Aga menahan tubuh Zivannya yang berada dipangkuannya.
"aku lapar dan juga haus" pandang Zivannya beranjak dari posisinya berjalan menuju pantry, Aga bergerak mengikuti langkah Zivannya dengan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"kak, jangan seperti ini, nggak baik dan nggak nyaman" kata Zivannya mencoba melepaskan kedua tangan Aga yang melingkar diperutnya.
"biasakan untuk merasa nyaman" bisik Aga ditelinga kanan Zivannya hingga membuatnya berjenggit pelan.
"aku ingin minum juga" putar tubuh Aga, Zivannya mendekatkan gelas yang baru saja dipakainya kemulut Aga, dengan cepat Aga menghabiskan air mineral didalam gelas yang dipegang Zivannya.
"mau makan apa Zi, kita cari diluar aja ini juga baru jam 10 malam" kata Aga memandang jam yang terletak di dinding.
"aku bersih badan dulu" angguk Zivannya berjalan menuju kamar Aga.
"aku mau kekamar mandi, lepaskan tangannya" berhenti Zivannya didepan kamar. Aga nyengir dan segera mengangkat kedua tangannya kesamping. Zivannya segera masuk dan membuka t-shirt putih milik Aga yang dipakainya.
"Bagaskara" jerit tertahan Zivannya melihat dadanya dari cermin kaca besar yang terdapat banyak tanda kepemilikan dari Aga. "kenapa" buka pintu Aga cepat ketika mendengar jeritan Zivannya.
"aahhh... kenapa masuk tiba-tiba, ini banyak sekali tandanya" gerutu Zivannya melihat dirinya didepan cermin. Aga tertegun menatap tubuh Zivannya yang hanya memakai celana joger rumahan miliknya dan bra yang menahan benda kenyal yang baru saja menjadi candunya. Aga mengusap beberapa kali tengkuknya menahan dirinya untuk menerkam Zivannya yang terlihat menggoda
"Zi, sampai kapan kamu seperti itu yang akan menggoda milikku" pandang Aga melirik sekilas Zivannya dan beranjak menuju walk closet. Zivannya tersadar jika dirinya tidak memakai t-shirt.
meraih kembali t-shirt yang diletakkan diatas ranjang dan segera memakainya. Aga keluar membawa Hoodie merah bata senada dengan joger yang dipakai Zivannya saat ini.
"pakai ini agar tubuhmu tidak terlihat lekuknya, mereka akan menatapmu penuh hasrat" kata Aga memakaikan Zivannya Hoodie. Zivannya menggulung lengan Hoodie sampai ke siku untuk mengguyur wajahnya dengan air. Aga mengelap wajah Zivannya menggunakan handuk wajah. Zivannya mengikat rambutnya ekor kuda.
"kita naik motor aja" toleh Aga memakai Hoodie hitamnya, Zivannya mengangguk keluar dari kamar. motor Aga segera keluar dari garasi, Zivannya membuka pagar agar motor Aga segera keluar dan mengunci pagar kembali. "mau yang ada kuahnya atau nggak Zi" tanya Aga menoleh.
"ada kak, mie ayam ato mie rebus aja. kayaknya enak banget" angguk Zivannya dari belakang membayangkan kuah panas dan pedas. Aga mengangguk tanda setuju, segera melajukan motor sport kearah penjual mie rebus Jawa.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1