Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 102


__ADS_3

"bisakah mulai besuk jangan memberi mereka hukuman olahraga pagi kak, kasihan mereka" pandang Zivannya. "itu prosedur melatih tubuh mereka agar terjaga, yang" pandang Langit.


"fine, berarti kakak juga harus menjaga kesehatan kakak. jangan sering begadang. aku pulang dulu, nggak usah ngantar pulang. aku bisa sendiri" angguk Zhivannya masuk kedalam rumah dan meraih kunci mobil yang terletak dikamar.


"yang" tahan Langit. "kenapa, kan kakak sendiri yang bilang jika harus menjaga kesehatan....." kata Zivannya belum selesai berbicara, Langit mencium bibir Zivannya, "baik, aku akan melonggarkan olahraga pagi mereka selama kamu mendaki, jika lama tidak ada kabar darimu aku akan membuat mereka lebih lelah dari biasanya, berarti hidup mereka tergantung padamu, termasuk bang Matahari yang akan selesai cuti Senin depan" kata Langit mengusap bibir Zivannya lembut.


"kak" kesal Zivannya, Langit kembali membungkam mulut Zivannya dengan ciuman yang dalam, mengabsen setiap detail yang ada didalamnya. "itu tawaran terbaik yang aku punya, sayangku. jangan meminta lebih dari itu, kamu tau jika aku tidak bisa jauh darimu bukan, kamu selalu menyiksaku jika kita menjauh" satukan kening Langit.


"semakin kamu jauh, aku akan semakin bergerak mendekat. semakin kamu mendekat maka aku akan semakin merapat, mengerti... itu kenapa aku selalu posesif terhadapmu" kecup kening Langit sambil meraba perut Zivannya dan meremas benda kenyal kesukaannya yang membuatnya candu. Zivannya mengangguk memejamkan matanya.


mobil segera meninggalkan garasi rumah dinas Langit dan melaju dengan pelan, memberi tanda kepada mereka yang masih berkumpul mengadakan barbeque an. Langit memberi salam kepada petugas yang berjaga dipintu gerbang.


"yang, mau beli apa lagi untuk persiapan naik" kata Langit. coklat dan gula merah" ingat-ingat Zivannya, Langit mengangguk dan mencari supermarket yang dekat dengan rumah Zivannya.


"saat keluargamu pulang berarti kamu masih mendaki kan, yang" kata Langit berhenti di lampu merah, Zhivannya mengangguk sambil mengecek beberapa chat yang masuk.


"dari teman-teman yang mau naik kak, mereka sudah mulai menuju ke Jawa Timur" kata Zhivannya membalas pesan yang masuk, Langit tersenyum dan melajukan mobil kembali.


"Yuda memberi emoticon hati agar aku menjaga diri saat mendaki kak" senyum Zivannya memperlihatkannya pada Langit, "hhmmm, anak itu. udah tau kamu punya aku" gumam Langit. Zivannya mengusap-usap bahu Langit pelan, "nggak usah lebay kak, dia sahabat yang menemani perjalanan hidupku. kemarin dia bercerita baru mendekati perempuan yang membuatnya kalang kabut" senyum Zivannya, kenapa nggak dari dulu aja nyarinya" dengus Langit.


Zivannya tersenyum, "jodoh siapa yang tau kak, saat kamu bertemu denganku dibandara, aku sudah memiliki kak Aga. apa kamu juga akan mendekatiku" pandang Zivannya, Langit menggeleng. "tidak" jawab Langit.


"karena jodoh rahasia Tuhan. kita nggak akan bertemu jika bukan karena Tuhan yang menggerakkan tangannya, siapa sangka pemuda tengil yang duduk sembarangan saat dibandara akan menjadi imamku" kata Zivannya menatap ponselnya, Langit tergelak, mengusap kepala Zivannya, menariknya untuk dikecup.


"ya, benar. siapa sangka gadis yang kutemui di box ajaib saat bermalam di apartement temanku berani mengatakan bahwa Aga adalah suaminya" angguk-angguk Langit, Zivannya menoleh. "benarkah kak, kenapa aku lupa ya" kerut Zivannya. Langit tersenyum, "saat ada perempuan mencoba mendekati Aga dan mengira kamu adalah adiknya" kata Langit, Zivannya terdiam mencoba mengingat kejadiannya kembali.


"aahhh... kak Stevia, perempuan yang kamu maksud, untungnya waktu itu aku sudah keluar dan tidak bertemu dengannya lagi. bagiku, butuh keberanian yang luar biasa untuk mengatakan hal itu, karena aku tidak biasa" kata Zivannya menghela nafasnya. "apa kamu akan melakukan hal yang sama jika itu aku" tanya Langit.


"pada akhirnya pasti iya, kak. jika kamu adalah suamiku" angguk Zivannya. "tapi, jika belum maka aku bilang kamu masih sendiri, karena setiap orang berhak menyukaimu seperti aku, masalah kamu mau menerima perasaan mereka atau nggak itu masalah yang lain. itu hak mu, aku tidak berhak melarang perempuan lain untuk menyukaimu" senyum Zivannya.


"termasuk Sita temanku" tanya Langit, "tentu, setiap perempuan punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan hatimu. hanya dirimu yang berhak menjatuhkan pilihan pada siapa akhirnya kamu menentukan pilihan" senyum Zivannya.

__ADS_1


"aku mencintaimu Zivannya Fritscha Dewantara" pandang Langit lekat. "aku juga menyayangimu Satria Langit Dewantara" senyum Zivannya menatap Langit, mereka tertawa bersama.


mobil memasuki halaman rumah, Zivannya mendapati mbok masih merapikan peralatan. "mbok, ini udah malam. kenapa belum tidur" peluk Zivannya. "belum bisa tidur non dek, makanya mbok melihat apa yang bisa dikerjakan" senyum mbok. Zivannya mengusap bahu mbok. "tidur mbok, besuk pagi Zi nitip gula merah" kata Zivannya menuju dapur mengambil gelas. "non dek mau naik gunung lagi" pandang mbok, Zivannya mengangguk sambil menuangkan air putih dan meminumnya segera. "besuk agak siang berangkat ke Jawa Timur, pulang seminggu lagi. jadi saat yang lain pulang. Zi masih disana sebentar. kak Langit nginep sini dan akan mengantar Zi besuk. jadi jangan kuatir" senyum Zivannya.


mbok mengambil persediaan gula merah dari dapur dan menaruhnya di plastik bening. "ini non dek untuk bekal" serah mbok. Zivannya berbalik dan menerimanya, "makasih banyak mbok, tidur. jangan terlalu malam tidurnya. bunda marah nanti kalo mbok nggak nurut" senyum Zivannya membawa gelas berisi air mineral untuk Langit.


"kak, minum" sodor Zivannya, Langit menerimanya. "aku akan mengecek ranselku sebentar" kata Zivannya, Langit mengangguk mengikuti langkahnya. Zivannya memeriksa semua perlengkapan yang dibawanya kali ini, "udah semua, yang" duduk ditepi ranjang Langit, Zivannya mengangguk sambil terus mengecek bawaannya. "jaket gunungmu mana, yang" tanya Langit, Zivannya menepuk paling atas ransel gunungnya, sleeping bag yang ada diatasnya. menyelipkan gula merah dikantong samping ranselnya.


"coklatnya belum beli tadi" ingat Langit, Zivannya menggeleng. "tidak apa-apa, yang. besuk bisa beli dimana aja. dark coklat lebih gampang dicari" kata Zivannya berlalu kedalam walk closetnya. Langit tersenyum mendengar panggilan Zhivannya kepadanya. "apa yang bisa kubantu Zi" tanya Langit saat Zivannya kembali dari mengambil sepatu gunungnya. "just sit and quite please" kata Zivannya mengecek kembali peralatannya.


Zhivannya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, dilihatnya Langit sudah tertidur diranjangnya, Zivannya berjalan pelan keluar dari kamar dan tidur dengan nyenyak diruang tengah. jam 4.45 alarm ponselnya berbunyi. Zivannya ingin bergerak namun dirasa berat. Langit membungkusnya lagi dengan cover bed dan memeluknya "kak, bangun. kewajiban pagi, berangkat dinas" kerjap mata Zivannya melihat Langit yang tidak bergerak sama sekali. "hmmm. bentar lagi" jawab Langit, Zhivannya memejamkan matanya karena lelah.


Langit melihat Zivannya yang kembali tertidur, tersenyum menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Zivannya yang terlihat cantik, menyentuh hidung kecilnya yang sesuai dengan pipinya yang terlihat gembul. bibirnya yang tipis membuatnya terlihat mempesona dimata Langit.


"aku nggak tau gimana jika Aga masih ada, apa aku bisa berpaling darimu Zi" gumam Langit. Langit duduk dan menatap Zivannya yang lelap dalam tidurnya. Langit segera mengambil air suci untuk melaksanakan kewajiban paginya sendirian.


"Zi, bangun" usap kepala Langit, Zivannya membuka matanya pelan. Langit membuka cover bed yang membungkus Zivannya, Zivannya duduk dan berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban paginya. Zivannya menoleh dan menatap Langit yang menunggunya. Zivannya mencium tangan Langit yang segera mengecup keningnya lembut. "mau ke bathroom" tanya Zivannya, Langit mengangguk, Zivannya melipat peralatan yang dipakainya, berjalan ke walk closet dan meletakkan pakaian dinas Langit diatas ranjang, "aku buatin sarapan dan coklat panas dulu kak" keluar Zivannya, Langit berjalan ke bathroom yang ada dikamar Zivannya.


"non dek, mau sarapan apa" tanya mbak Marni yang ada di dapur. "yang ada aja mbak, kak Langit mau berangkat. Zi buatin coklat panas dulu" kata Zivannya, Marni mengangguk mengambil bahan makanan. "non dek mau berangkat sekalian bareng mas Langit nanti" tanya Marni. "iya mbak, biar nggak bolak-balik" angguk Zivannya meminum air mineral.


"non, ada seseorang didepan" datang mbok. Zivannya mengangguk, meletakkan mug dimeja. melangkah menuju ruang depan untuk menemui orang yang datang, "hallo" senyum Zivannya di pintu depan.


"hallo Zivannya ya.." senyumnya sesaat.


"iya, aaahhh.... Aji anak kampus x kan yang juga mau naik bareng" teringat Zivannya.


Aji tersenyum mengangguk, "aku tadi sudah mengirim chat ketika mau kesini namun belum mendapat balasan, kebetulan rumah kita searah jadi kami mampir sebelum berangkat, menanyakan apa kamu mau berangkat bareng. jika tidak ada yang mengantar karena kita berlima pagi ini mau berangkat" kata Aji, Zivannya tersenyum mengangguk.


"aahh... maaf. aku belum sempat membuka ponselku, naik apa kalian nanti" tanya Zivannya menangkup kedua tangan didadanya melihat kearah mobil Aji yang terparkir diluar gerbang.


"pesawat dengan penerbangan jam 9 karena ada promo" kata Aji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Zivannya tertawa kecil mengangguk.

__ADS_1


"sama berarti, terimakasih banyak atas tawarannya. tapi aku harus mengantar kakakku untuk berangkat dinas dulu baru aku berangkat ke bandara. jadi bagaimana kalo kita ketemu dibandara aja nanti. kita dipesawat yang sama" senyum Zivannya, Aji tersenyum mengangguk.


"maafkan aku tidak mempersilahkan mu masuk malah ngobrol diluar, mau masuk dulu" kata Zivannya menawarkan. Aji menggeleng, "mereka menanti. berarti kita ketemu di bandara kalo begitu. maafkan aku karena pagi-pagi mengganggumu" senyum Aji.


Zhivannya menggerakkan tangannya kekanan dan kekiri tersenyum. "tidak, aku juga belum mandi" senyum Zivannya menggeleng. Aji tertawa pelan.


"Ok, kita ketemu dibandara. nanti akan aku kenalkan dengan mereka" tunjuk Aji kearah mobil. Zivannya mengangguk memberi tanda Ok dengan jarinya.


Zivannya masuk dan mendapati Langit sudah meminum coklat panasnya di ruang makan.


"siapa, yang" tanya Langit melihat kearah Zhivannya. "anak kampus x yang akan naik bersama kak, kebetulan dia rumahnya searah. tadi berlima mau berangkat kebandara. mampir kesini untuk ngajak bareng, penerbangan kita sama" senyum Zivannya menuju kamar.


"aku membersihkan badan dulu kak, makan sarapannya. itu bekalku untuk perjalanan nanti" kata Zivannya, Langit mengangguk. Zivannya membersihkan dirinya dan mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat.


Langit menoleh ketika melihat Zivannya memakai jeans khaki dan t-shirt putih, sepatu gunung dengan warna yang pudar namun terawat. "topi mu mana, yang" tanya Langit menyodorkan mug coklatnya, Zivannya mengisyaratkan dagunya ke arah atas ranselnya meminum coklat yang sudah hangat. Langit menyuapi Zivannya dengan roti yang berisi selai coklat.


"non dek, bekalnya jangan lupa" letakkan paperbag disamping Zivannya, "makasih mbok, salam buat ayah dan bunda kalo udah sampai. Zi masih jalan" senyum Zivannya, "hati-hati non dek kalo dijalan" angguk mbok. Zivannya tersenyum mengangguk mengunyah roti. Langit meraih ransel Zivannya membawanya ke kursi penumpang belakang mobil. Zivannya meminum coklat hangat sampai habis dan menyusul Langit yang terlebih dahulu berada didalam mobil.


Zivannya masuk ke kursi penumpang disamping Langit, meletakkan paperbag dibawahnya tas ranselnya, Langit memasang seat belt Zivannya. mobil melaju pelan setelah Zivannya mengatakan sudah siap untuk berangkat. "ponselmu" tanya Langit, Zivannya meletakkannya disamping Langit.


"kita langsung ke kesatuan, setelah itu aku mengantarmu ke bandara" kata Langit. Zivannya mengangguk mengikat rambut model ekor kuda.


"jangan lupa memberi kabar sesampai disana, saat naik dan turun nanti" lihat Langit, Zivannya mengangguk. "hati-hati selama disana" kata Langit. Zivannya menganggukkan kepalanya, "fokus ke jalan kak, aku tau apa aja yang akan kamu katakan. jadi biarkan keheningan pagi bermakna" kata Zivannya, Langit tersenyum menatap Zivannya sesaat.


mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan belum begitu ramai jadi masih bisa mencari celah jalan agar sampai ketempat kesatuan Langit.


mobil memasuki kompleks kesatuan Langit melaju dengan pelan dan terparkir ditempat yang telah ditentukan, Langit membantu Zivannya melepas seat belt nya. mereka keluar dan menuju ke ruangan Langit. Zivannya duduk disofa ruangan Langit. "yang, kamu tunggu disini. aku akan berkoordinasi dengan yang lain dulu" kata Langit. Zivannya mengangguk, Langit menutup pintu menuju kesuatu tempat.


Zivannya memejamkan matanya hingga tertidur lelap. Langit menepuk pipi Zivannya. "berangkat sekarang, yang. jam 7. 20" kata Langit, Zivannya membuka matanya menatap Langit, mengangguk. Langit membantunya berdiri tegak, "kita harus berangkat cepat untuk penerbanganmu" kecup bibir Langit sekilas. Zivannya mengangguk, Langit memandang Zivannya lama dan mengabsen setiap detail mulut Zivannya dengan mulutnya.


"kenakan topimu" ambil topi Langit, Zivannya memakainya, mereka berjalan cepat ke arah mobil dan segera melaju meninggalkan kesatuan menuju bandara.

__ADS_1


hai...hai...hai... all readers dukung terus karya ku ini, terus dukung yaa... terima kasih banyak all. luv.... luv... luv... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


stay healthy all readers.. terimakasih atas segala dukungan kalian semua.


__ADS_2