
Zivannya menghela nafasnya, "bertengkar lagi kan ujungnya dua anak itu, tapi baguslah kali ini mereka sudah membuka hatinya" usap wajah Zivannya terlihat lelah.
"mau tidur lagi Zi" tatap Aga dilayar ponselnya, Zivannya memposisikan badannya agar nyaman.
"kangen pake joger sama t-shirt kak" pejam mata Zivannya, Aga tertawa.
"aku kangen tubuhmu Zi" hembus nafas Aga panjang.
"hmmm" dehem Zivannya. Aga berbincang dengan beberapa anak buahnya didalam ruangannya, Zivannya mendengar pembicaraan mereka sampai tidak terasa tidur dengan nyenyak. Aga menoleh menatap layar ponselnya dan melihat nafas Zivannya yang teratur, segera mematikan panggilan videonya agar Zivannya tidak terganggu.
2 hari
"kita pulang hari ini Zi, tanya mama bersemangat, Zivannya mengangguk dan tersenyum membereskan barang-barang yang mereka bawa kerumah sakit.
"iya ma, mama boleh pulang hari ini, karena kesehatan mama sudah jauh lebih baik" angguk Zivannya.
"sudah pesan taksi Zi" tanya mama berjalan pelan dari tempat tidur pasien.
"kak Aga kemarin naik kereta ma, agar bisa istirahat selama perjalanan, mobilnya Zi yang pake" geleng Zivannya menenteng dua tas jinjing besar.
"trus dia pake apa jika kerja, kasihan kan" toleh mama Zivannya, mereka berjalan sepanjang koridor rumah sakit. Zi berpamitan kepada para perawat yang berjaga dilorong bangsal tempat mama Ranti dirawat.
"dia punya lebih dari satu kendaraan ma, jadi akan baik-baik aja. tidak usah terlalu kuatir, anak lelakimu adalah pria yang hebat dan tangguh" kata Zivannya sambil menutup pintu box ajaib yang membawa mereka turun kelantai dasar.
"tunggu" teriak seseorang. Zivannya menekan tombol agar terbuka kembali, mama dan Zivannya sedikit terkejut ketika tahu Bima adalah orang yang berteriak tadi.
"apa kabar Tante" sapa Bima menunduk hormat. mama Zivannya tersenyum mengangguk.
"baik nak Bima, bagaimana kabar ibumu dan ayahmu" jawab mama Ranti.
"baik Tante, siapa yang sakit Zi, kamu" lihat Bima menatap tas jinjing besar yang dibawa Zivannya.
"iya, kecapekan jadi harus dirawat sebentar disini" jawab Zivannya, tanpa sekalipun melihat Bima yang berdiri disamping sedang menatapnya.
"berapa hari, kenapa tidak mengabariku" tanya Bima spontan, mama menoleh sesaat mendengar ucapan Bima.
"sebenarnya Tante yang harus dirawat dirumah sakit nak Bima, Zivannya yang menemani Tante seminggu ini dirumah sakit" senyum mama Ranti.
"Tante sakit, kenapa Zivannya tidak memberitahu" kerut Bima menatap Zivannya.
"tidak ada yang tahu nak, keluarga papanya juga tidak diberi tahu, hanya butuh istirahat saja. jadi tidak ada yang harus dikuatirkan" kata mama Ranti tersenyum, Bima mengangguk mengerti.
"sekarang ini mau pulang kan... saya antar sampai rumah ya" kata Bima mengambil inisiatif untuk mengantar pulang Zivannya dan mamanya. box ajaib yang membawa mereka telah berhenti dan terbuka dilantai dasar, Zivannya segera melangkah keluar diikuti mama dan Bima yang berada dibelakangnya.
"makasih nak Bima, atas perhatian nya, kami membawa kendaraan sendiri, tidak usah merepotkan" geleng mama Zivannya tersenyum, Zivannya menaruh dua tas jinjing besar dibangku tunggu diluar pintu keluar masuk rumah sakit. Zivannya menoleh menatap mamanya mengatakan untuk menunggunya disini sebentar, agar dia mengambil kendaraannya dulu karena agak jauh. mama mengerti dan duduk dikursi tunggu, Bima pamit menemani Zivannya mencari kendaraannya dan memastikan memang benar-benar membawa kendaraan untuk pulang.
"Zi, tunggu aku dulu" kata Bima menjejeri langkah Zivannya yang terlihat terburu-buru mencari kendaraannya yang diparkir beberapa hari.
"ada apa sih Bim, aku sedang mencari dimana parkirnya" jawab Zivannya mengeluarkan kunci dan mencari suara alarm mobil yang terbuka kuncinya.
"tunggu sebentar" kata Bima mencekal tangan Zivannya pelan, Zivannya menarik tangannya dan menatap Bima tajam, Bima mengangkat kedua tangannya keatas dan meminta maaf karena menyentuh Zivannya.
"maafkan aku Zi, aku hanya ingin bicara dan mengobrol denganmu saja" kata Bima merasa bersalah.
__ADS_1
"ini bukan waktu yang tepat untuk mengobrol Bim, mamaku sedang sakit dan menungguku dilobi untuk pulang dan segera beristirahat, kamu malah mengajakku untuk bicara" pandang Zivannya kesal dan berjalan menuju mobilnya.
"ok.... ok.... aku yang salah, aku minta maaf" kata Bima mengikuti Zivannya, Zivannya hanya terdiam dan menyalakan mesin mobilnya dulu karena beberapa hari tidak dipakai, Zivannya membuka jendela kaca mobil setelah menghela nafasnya beberapa kali sebelum berbicara dengan Bima.
"aku sudah memaafkan mu Bim, jadi tidak ada dendam ataupun urusan diantara kita. jadi.... aku harap kita bisa menjalani hidup kita masing-masing. aku nggak mau ada selentingan kabar yang tidak-tidak mengenai kita, kamu sudah pernah menikah, seorang duda. aku sama sekali nggak mau mendengar hal buruk yang aku dan mamaku terima" pandang Zivannya menatap Bima malas.
"kita masih berteman kan Zi" ucap Bima lesu. Zivannya mengangguk.
"tentu saja, kita akan selamanya berteman. tapi tolong, jika berpapasan atau bertemu denganku sebisa mungkin untuk menghindariku agar orang tuamu tidak menuduhku macam-macam lagi" jawab Zivannya tegas dan segera keluar dari tempat parkir untuk bergegas menjemput mamanya dilobi. Bima hanya terdiam mematung melihat kepergian Zivannya, dadanya seperti ada lubang yang menganga.
Zivannya berhenti didepan mamanya yang sedang duduk menunggu, membuka pintu penumpang disebelahnya agar mama dapat masuk dan duduk dulu, kemudian memasukkan kedua tas jinjing besar kedalam pintu belakang.
"maaf agak lama ma, Zi tadi harus membiarkan mesin menyala agar mesin mobil beradaptasi dulu karena beberapa hari tidak digunakan" senyum Zivannya, mama mengangguk mengerti.
"mumpung masih siang Zi, kita mampir ketempat om Hadi dulu. nenek sama kakek masih disana, mama ingin bertemu" kata mama Ranti. Zivannya mengangguk melajukan mobilnya melintasi jalanan yang sedikit sepi, Zivannya dan mamanya membeli buah tangan dalam perjalanan kerumah om Hadi untuk bertemu dengan kakek dan neneknya.
tiba dihalaman rumah om Hadi, Zivannya memarkir mobilnya didekat mobil om Hadi yang ada disebelah kanan rumah.
"lho Zi, kamu tho... om kira siapa yang datang. tumben bawa mobil, bisa mengemudikannya juga" senyum om Hadi memeluk Zivannya sesaat. Zivannya dan mama Ranti tersenyum lebar.
"iya om, selama kuliah diajari sama temen. lama-kelamaan bisa juga" jawab Zivannya masuk kedalam rumah setelah dipersilahkan masuk oleh om Hadi.
"kakek, nenek. ini Zivannya dan Ranti datang berkunjung" panggil om Hadi yang melihat kedua orang tuanya sedang ada diruang tengah. Zivannya dan mama Ranti menyalami dengan mencium punggung tangan kakek dan nenek.
"udah lama Zi kamu tidak berkunjung kemari" senyum kakek mengelus kepala Zivannya, Zivannya tersenyum mengangguk.
"iya kek, maafkan Zi karena lama tidak menjenguk kakek dan nenek disini. mama baru pulang dari rumah sakit terus kesini" angguk Zivannya menjelaskan.
"lho kamu sakit ran, kenapa tidak memberitahu" kaget nenek menatap mama Ranti yang tersenyum.
"berapa hari kamu dirawat Ran" tanya kakek sambil menyeruput teh panas yang telah disediakan oleh asisten rumah tangga.
"seminggu yah, karena hasil cek up nya harus menunggu agak lama baru bisa diperbolehkan untuk pulang" jawab mama Zivannya.
"calon suamimu udah dinas lagi Zi" tanya kakek menatap Zivannya yang menundukkan kepala.
"oh... udah kek kemarin malam, akhir minggu kemarin kesini dan bisa nganter mama kerumah sakit" senyum Zivannya.
"kalian kok agak kurusan ya, apa mataku yang rabun" tanya nenek melihat Zivannya dan mamanya lebih dekat.
"nggak kok Bu, biasa saja. mungkin karena kami lama nggak kesini jadi ibu mengira kami lebih kurus" senyum mama Zivannya.
"pa, mobil siapa. apa ada tamu" tanya Aisya masuk kedalam rumah dengan Sony tunangannya.
"Zivannya dan mamanya. mereka mampir kemari sehabis dari rumah sakit, Tante Ranti baru pulang setelah dirawat dirumah sakit" pandang om Hadi menyuruh mereka berdua untuk duduk dan memberi salam kepada mama Ranti dan Zivannya.
"baru pulang dari mana kak" tanya mama Ranti tersenyum.
"habis liat-liat undangan pernikahan Tan" senyum Aisya menatap mama Zivannya.
"ohhh.... baguslah kalo sudah mau dilaksanakan, Tante ikut bahagia mendengarnya, semoga segala nya dilancarkan dan dimudahkan sampai hari H" doa mama Zivannya. mereka mengamini doa tersebut bersama-sama.
"kemungkinan akan dilaksanakan dalam waktu dekat Ran, semoga kamu dan Zivannya bisa hadir saat mereka menikah" senyum om Hadi.
__ADS_1
"semoga had, jika aku berhalangan masih ada Zivannya dan Aga yang mewakili nanti" senyum mama Ranti mengangguk.
"Ayah, ibu dan Hadi dalam kesempatan ini Ranti dan Zivannya juga meminta maaf jika selama ini kami berdua selalu menyusahkan ayah dan ibu, selalu membuat ayah dan ibu merasa tidak nyaman. kami berdua terutama saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. kami tidak bermaksud melakukan itu semua" senyum mama Zivannya.
"kami juga meminta maaf ran, jika selama ini sikap kami menyakitimu dan Zivannya. semenjak papanya Zivannya pergi. kalian selalu memberikan yang terbaik untuk ayah dan ibu" geleng om Hadi.
"Ranti juga memohon maaf jika dianggap lancang tanpa memberitahu terlebih dahulu mengenai lamaran dan pernikahan Zivannya" kata mama Ranti menundukkan kepala kembali.
"Ranti hanya ingin ayah dan ibu tidak terlalu memikirkan hal-hal yang yang tidak perlu dipikirkan. hanya restu yang penting buat Zivannya melangkah kekehidupan kedepannya bersama dengan orang yang mencintainya dan menjaganya kelak" kata mama Zivannya, kakek mengangguk mengerti.
"aku mengerti ran dan memberi restuku untuk mereka berdua" angguk kakek tersenyum. Ranti dan Zivannya tersenyum mengangguk.
"terimakasih kek, Nek. Zivannya minta maaf jika selalu menyusahkan" kata Zivannya.
"tumben rame, siapa yang datang, mobilnya edisi terbatas tuh" duduk Fauzan disamping Zivannya.
"masa, biasa aja mobil kayak gitu" kata Aisya malas, Fauzan mengetik sesuatu diponselnya dan memperlihatkannya pada Aisya yang membelalakkan matanya lebar.
"segitu mahalnya" ucap pelan Aisya agar tidak terdengar Zivannya, Fauzan mengangguk. Sony hanya diam saja mendengarkan.
"nak Sony, kabar papa dan mama baik kan. sampaikan salam Tante kepada mereka. minta maaf jika belum sempat berkunjung kerumah" senyum mama Zivannya.
"baik Tante, nanti akan saya sampaikan kepada mama dan papa salam dari tante" senyum Sony.
"diminum Ran, Zi. jangan hanya dilihat. keburu dingin" senyum om Hadi. Zivannya mengangguk dan mengambilkan untuk mamanya dan dirinya sendiri gelas minuman teh.
"kapan kamu akan menyusul Aisya untuk menikah Zi" tanya nenek. Zivannya terdiam sesaat.
"kemarin Zivannya sudah melangsungkan akad nikah dengan suaminya dirumah sakit bu, karena Ranti yang memintanya, agar tidak menunda hal yang baik. Hadi yang menjadi wali nikahnya, disaksikan oleh kedua kakak kandung Aga, bapaknya Aris petugas kecamatan dan pak penghulu" jawab Hadi memandang kedua orangtuanya.
"namun untuk acara resepsi dan yang lainnya akan menyusul setelah kesehatan Ranti membaik dan Zivannya menyelesaikan sekolahnya sebentar lagi" jelas Hadi.
"Ranti menginginkan yang terbaik untuk Zivannya, memastikan Zivannya akan baik-baik saja jika ada apa-apa dengan ranti nantinya" pandang Hadi menatap kedua orangtuanya.
"keluarga suaminya juga setuju, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk itu tanpa merepotkan kita. jadi Hadi berpikir kenapa tidak menyegerakan menikahkan Zivannya jika sudah ada calonnya yang bisa membahagiakannya" ucap Hadi tegas.
"what..." seru Aisya tidak percaya, nenek dan kakek hanya diam mendengarkan.
"kenapa, apa karena Zivannya lebih dulu menikah darimu, atau karena hal lainnya" senyum om Hadi.
"pa.... kenapa ngomong gitu" kesal Aisya tidak terima, Sony menyentuh lengan tangan Aisya agar lebih tenang.
"jangan begitu, mereka melakukannya karena permintaan mamanya Zivannya, agar beliau merasa tenang. kenapa kamu harus marah, mereka menyegerakannya karena suatu alasan" pandang Sony menatap Aisya.
"justru kita bersyukur masih diberi kesempatan Tuhan untuk bisa menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. mereka harus menikah tanpa persiapan sya... apa yang kamu permasalahkan" tanya Sony membuat Aisya terdiam.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘