
"yang..." panggil Aga, Zivannya mendongak menatap Aga yang telah berdiri didepannya. "kita kepusat" kata Aga mengelus rambut Zivannya, Zivannya berdiri, meraih jemari Aga yang menunggunya. anak buahnya menggoda Aga yang tidak malu-malu dengan Zivannya. Aga tersenyum melihat mereka yang menggodanya, melambaikan tangan meminta mereka untuk tidak menggoda Zivannya.
"ada berkas yang tertinggal" ingat Aga berhenti dan berbalik menuju ruangannya. "mau kemana ndan" tanya seseorang.
"ada urusan, emangnya kenapa" tanya Aga tersenyum, Zivannya berdiri dibelakang Aga tanpa kata. "nggak Ndan, kalo boleh adiknya titipin ke saya aja. nggak akan lecet ndan" senyum nya. Aga berlalu dengan diam.
"Ndan sama saya aja dapat dipercaya" seru seseorang lagi, mereka tertawa bersama. Aga mengambil beberapa berkas yang diperlukan untuk kelengkapan sidang pernikahannya. Zivannya duduk disofa yang dulu tidur disini pertama kali datang menunggu Aga koordinasi dengan anak buahnya setelah badannya lecet.
"kenapa yang" dekat Aga, Zivannya tersenyum. "inget nunggu kamu disini by, ganti baju kemejamu" jawab Zivannya, Aga mendekat mencium bibir Zivannya lembut. "kita berangkat sekarang ya... " usap bibir Aga merapikan Zivannya. Aga kembali digoda anak buahnya saat keluar bersama Zivannya. hal yang sangat jarang terjadi mengingat Aga adalah sosok pemimpin yang dingin, banyak perempuan yang ingin mendekatinya tapi sikapnya yang cenderung diam dan cuek membuatnya susah untuk mendapat pasangan. Aga selalu tersenyum saat dikerjai anak buahnya yang selalu menggoda Zivannya.
mobil segera melaju meninggalkan kantor Aga dan menuju markas pusat, Aga berjalan dengan gagah menuju ruangan sidang. Zivannya mengeluarkan dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum masuk keruangan. beberapa orang memberi hormat kepada Bagaskara saat memasuki ruangan. Aga memberi isyarat kepada Zivannya untuk duduk disampingnya. Zivannya merasa gugup, deg-degan, cemas campur aduk hingga tidak sadar selalu menggigit bibir bawahnya saking tegangnya. tangannya seketika dingin menunggu pemberkasan yang sedang berjalan, Aga memperhatikan istrinya yang sedang nervous, menghela nafasnya pelan karena tidak bisa menenangkannya dengan memberikan sentuhan, beberapa orang tampak berdatangan untuk mengurus sidang pernikahan mereka juga, Zivannya memperhatikan prosedur yang mereka harus lalui, bagaimana banyaknya berkas yang harus disiapkan dari awal, mengisi formulir untuk sidang, mendengarkan peraturan dan ketentuan pelaksanaan sidang dan pernikahan. Zivannya melaluinya dengan seksama dan diam. beberapa kali Aga menerima perintah dengan suara yang menggelegar, karena menikah sipil lebih dulu dan menerima sanksi.
Zivannya beberapa kali berjengkit kaget mendengar suara yang keras, menatap Aga yang seolah-olah berkata tidak apa-apa dengan tatapannya. Zivannya hanya melihat Aga yang harus dihukum untuk itu.
"kamu baik-baik saja yang" tutup mata Aga, Zivannya menggeleng.
Aga tersenyum. "aku baik-baik saja, tidak usah kuatir. itu belum seberapa, jika aku harus pindah tugas itu yang berat, sepertinya itu akan terjadi" hembus nafas Aga, "kamu mau dipindahkan by" tanya Zivannya cepat. "mungkin, bagian dari pemerataan" jawab Aga, Zivannya memegang erat lengan Aga karena sedikit pusing.
"yang kamu baik-baik aja kan" rengkuh tubuh Aga melepaskan tangannya dari mata Zivannya yang mengangguk. "bentar lagi kita akan mengambil berkas yang telah dilegalkan untuk ketahap selanjutnya besuk" kata Aga, Zivannya kembali mengangguk.
waktu menunjukkan pukul 11 siang saat mereka keluar dari kedinasan pusat. Aga mengajak Zivannya untuk mampir sebentar di kedai dekat kantor pusat. "mau makan apa yang" lihat makanan Aga, Zivannya menunjuk makanan yang diinginkannya, Aga segera membawanya ke meja yang akan mereka duduki.
"sering kesini by" pandang Zivannya, Aga mengangguk.
"dulu dengan teman, pertama kali ditempatkan dinas disini dulu baru diberi kewenangan untuk memimpin ditempat yang sekarang" jawab Aga. "biasanya saat pendidikan tentara punya orang yang menunggu kan" makan Zivannya, Aga tersenyum, "kekasih maksudmu" tanya Aga mengulurkan ibu jarinya mengelap kuah yang tertinggal dibibir Zivannya dan menyesapnya.
"aku belum bertemu denganmu" geleng Aga menatap Zivannya.
"kan banyak yang suka denganmu kak" kata Zivannya. Aga menatap Zivannya tajam.
"kamu panggil suamimu apa" tanya Aga tidak suka, Zivannya menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"setidak-tidaknya banyak yang mengharapkanmu, nggak mungkin kamu nggak tertarik dengan mereka" tanya Zivannya. Aga menggeleng.
"kalau melihat fisik sih memang banyak yang diatas rata-rata. tapi soal perasaan tidak bisa dipaksa yang" kata Aga makan.
"padahal kan aku jauh dari kata cantik" pandang Zivannya, Aga menatap Zivannya lekat. "siapa yang bilang kamu tidak cantik, apa kamu tidak sadar kenapa banyak laki-laki disekitarmu memandang mu menarik" senyum Aga. Zivannya menggeleng.
__ADS_1
"justru itu yang membuatku heran lho, padahal biasa aja. setelah berpisah dari Bima, cenderung berusaha tidak terlihat dimata cowok" hembus nafas Zivannya.
"semakin kamu tidak ingin terlihat justru semakin kami penasaran. Karena biasanya cewek lebih ingin terlihat paling cantik dan menarik perhatian cowok kan. berbeda kalo cewek itu memilih untuk menghindar dan tidak menanggapi cowok tersebut" kata Aga. Zivannya menatap Aga lekat.
"jadi kamu melihatku seperti itu pertama kali bertemu" tanya Zivannya langsung. Aga menatap manik mata istrinya dan mengangguk.
"aku mengamatimu saat tidak sengaja jatuh. secara sadar kamu menolak sentuhan dengan beberapa rekan yang akan menolongmu bangkit. itu kesan yang sangat berarti bagiku" senyum Aga, Zivannya terdiam.
"pada saat itu aku merasa bisa mengurus diriku sendiri, aku nggak mau menjadi penghalang polisi untuk mengejar pelaku kejahatan. jawab Zivannya, Aga mengangguk.
"itu yang membuatku tidak bisa berpaling untuk tidak menatapmu yang" kata Aga. "apa maksudnya by, aku nggak ngerti" kerut Zivannya. "kamu perempuan yang menyentuhku pertama kali" kata Aga, Zivannya mengerutkan alisnya semakin tidak paham. Aga menyentil kening istrinya pelan. "kamu hanya menyentuhku Zi, saat aku mengulurkan tangan untuk menolongmu setelah beberapa saat kamu terjatuh dan terdorong oleh anak buahku. hanya padaku kamu mau mengulurkan tangan dan melingkarkan tanganmu dipinggangku padahal kita sebagian memakai tutup kepala" senyum Zivannya. "masa kak, mungkin aku setengah sadar menahan nyeri jadi refleks menyandar padamu" gumam Zivannya.
"yang... kamu memanggil suamimu apa" pandang Aga kesal. Zivannya tersenyum. "maaf by, terkadang selip aja kalo ngomong. kebiasaan" jawab Zivannya.
"berasa sugar Daddy mu kalo kamu manggil kakak" pandang Aga, Zivannya menatap Aga "kenapa memangnya" tanya Zivannya. "aku nggak mau kamu dikira simpananku" kata Aga.
"lha kan emang kamu sugar daddy ku yang mengisi pundi-pundi uangku" tawa Zivannya, Aga tersenyum lebar melihat ekspresi Zivannya yang ceria.
"nggak usah peduli omongan orang by, dilihat dari sudut pandangku kamu tidak hanya sugar daddy ku tapi kakakku yang selalu ada, lelaki terhebatku, suamiku yang paling tampan, ayah anak-anak ku yang bisa dibanggakan. kamu adalah segalanya" senyum Zivannya, Aga menatap Zivannya dan tersenyum lebar.
"baiklah... kamu membuatku merasa melayang diatas awan" dehem Aga, Zivannya tertawa lebar.
"aku ngikut aja jalannya. udah sampai segini masak mundur. nggak lucu kan" kata Zivannya, Aga mengangguk.
"nanti kita harus foto bersama memakai seragam dinas lho yang" kata Aga, Zivannya membelalakkan matanya.
"seragam apa by, kenapa nggak bilang. harus buat kan" tanya Zivannya terkejut.
"udah ada, punya bunda dulu. udah ditata di deretan pakaian dinasku" kata Aga.
"aku malah merasa nggak enak by sama bunda dan Ayah. mau jadi istrimu tidak tahu apapun mengenai dirimu" tanya Zivannya.
Aga mengendikkan bahunya, "wajar, karena aku yang memaksa dirimu untuk menjadi milikku. jadi kamu tidak bisa lari dan mengenal pekerjaan suamimu" tawa Aga, Zivannya mengangguk.
"jika aku tidak ada dihidupmu saat ini gimana by" tanya Zivannya, Aga menatap Zivannya.
"tidak ada kata jika... yang, jalani yang sudah ditakdirkan Tuhan saja" usap pipi Aga, Zivannya terdiam dan menghabiskan makanannya dengan cepat.
__ADS_1
"kita kemana dulu, kampusmu atau kantorku" buka pintu Aga, Zivannya menoleh.
"kantormu lebih dekat dari sini by, aku antar dirimu dulu. aku tidak tahu nanti pulang jam berapa. karena mengurus pengambilan mata kuliah dan KKN. jadi tidak tentu waktunya, ketemu dengan Dimas dan Rara. jadi nggak sendirian" kata Zivannya, Aga melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.
"kamu nggak papa kekampus sendirian" tanya Aga memarkir mobilnya dihalaman depan kantor. Zivannya tersenyum, "biasanya juga sendiri by, it's Ok" jawab Zivannya, Aga tersenyum. mereka keluar dan bertukar tempat.
"nanti dijemput jam berapa by" tanya Zivannya mencium punggung tangan Aga, kedua pipinya. Aga mengecup kening dan bibir Zivannya.
"ngikut pulangmu aja" senyum Aga, Zivannya mengangguk dan masuk kedalam mobil, Aga membalas lambaian tangan Zivannya yang hendak keluar dari halaman kantor dinas Aga. anak buahnya yang melihat Aga kembali bercanda dengan Aga didalam. Zivannya segera melajukan mobil menuju kampus, memasuki pelataran parkir mobil Rara belum terlihat diparkiran kampus. Dimas melambaikan tangannya, Zivannya segera berjalan mendekat kearah Dimas dan beberapa cowok lain.
"woow.... Zi... tumben pake rok... " kaget mereka, Zivannya nyengir.
"jelek ya, lagi pingin nih" tanya Zivannya. mereka menggeleng memberi tanda Ok atas penampilan Zivannya yang jarang begitu.
"cantik banget Zi, jadi pingin jadi pacarmu" gombal seseorang, Zivannya tersenyum. Rara belum datang dim" duduk Zivannya disamping Dimas.
"tadi katanya sudah otewe, nggak tau tuh otewe tidur apa jalan" pandang Dimas. dari tempat mereka nongkrong tampak mobil Rara memasuki pelataran parkir kampus.
"udah selesai Zi" tanya Dimas pelan.
"hari ini sudah dim, langsung kesini. kata kak Aga sekitar 3-5 hari" angguk Zivannya, Rara berjalan mendekat.
"udah pada ke kurikulum belum" tanya Rara.
"aku baru aja sampai Ra, bareng aja" anjak Zivannya dari tempat duduknya. Rara meraih lengan tangan Zivannya menjauh dari gerombolan cowok yang baru pada nongkrong.
"gimana Zi, lancar tadi sidang pranikah nya" tanya Rara.
"lumayan Ra, karena kita sudah nikah duluan jadi kak Aga kena sanksi" jawab Zivannya. Rara tertawa lebar.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
__ADS_1
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘