Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 15


__ADS_3

"cih" Aga mendengus pelan. Zivannya tertawa kecil melihat pertanyaan Bima yang menurutnya tidak perlu dia jawab.


"dia menyayangi ku tanpa syarat Bim, apa yang dia punya, itu diberikan hanya kepadaku. hatinya yang baik dia berikan hanya untukku" jawab Zivannya.


Aga tertawa lebar merasa dirinya menang banyak atas diri Zivannya dibanding lelaki itu, akhirnya Zivannya mengakuinya juga.. aahhh... betapa senang hatinya.


"aku juga bisa memberikannya Zi. percayalah padaku sekali lagi" mohon Bima berusaha menyakinkan Zivannya.


"tentu, kamu bisa memberikannya Bim. aku tidak menutup mataku kau punya harta yang melimpah dibanding diriku, kau anak orang berada yang hanya menjentikkan jari saja apa yang kamu mau sudah didepan mata, hanya saja aku dulu sudah memberimu kepercayaan itu, namun kamu lebih memilih melabuhkan hatimu ke yang lain. jadi aku tidak bisa memberikan kepercayaan yang sama lagi padamu" senyum Zivannya beranjak dari tempat duduknya, meraih ransel dan ponselnya.


"Zi" panggil Bima. Zivannya melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang lagi.


"mang mau bayar" dekati Zivannya, mang soto segera berdiri dan tersenyum.


"maafkan saya neng, den Bima sering kesini juga dan selalu menanyakan neng Zi tapi saya nggak pernah ngomong apa-apa ke den Bima" kata mang soto merasa tidak enak dengan Zivannya.


"nggak apa mang, kan emang dagang. jadi siapa aja bisa kemari, makasih ya mang sudah baik sama Zivannya selama ini, Zi berharap mamang sehat terus, sampai jumpa dilain waktu. pasti Zi mampir kesini lagi jika ada waktu" senyum Zivannya menepuk bahu mang soto pelan dan menyerahkan tiga lembar uang merah.


"kemarin Zi dapat uang bonus saat kerja, kita bagi dua mang" tawa Zivannya lebar.


"kebanyakan ini neng, kasihan kan neng yang kerja" kata mang soto melihat uang yang diberikan Zivannya.


"anggap Zi ngasih THR lebih awal" senyum Zivannya keluar dari mang soto yang masih setia mangkal didepan sekolahnya dulu, dimana kisahnya dengan Bima berawal dan berakhir di situ juga, Zivannya menghembuskan nafas panjang dan melangkah mencari angkot yang membawanya pulang kerumah. moodnya sudah hancur berantakan karena Bima.


"kak, Zi mau naik angkot pulang" lihat layar Zivannya sesaat.


"baiklah, chat aja jika sudah sampai. tidurlah nanti" senyum Aga, Zivannya mengangguk dan mematikan panggilan chat nya dengan Aga.


"pulang neng" senyum sopir angkot. Zivannya tertawa kecil.


"iya mang, makasih sudah setia menunggu penumpang" kata Zivannya duduk disamping sopir angkot.


"lama nggak kliatan neng, tambah cantik aja sekarang" senyum sopir angkot.


"iya, makasih atas gombalan recehnya mang. tapi maaf hari ini Zi tidak bawa uang receh" geleng Zivannya.


"karena perempuan itu memang ditakdirkan cantik dan tampan untuk laki-laki kan mang" tawa Zivannya menanggapi godaan sopir angkot yang selalu mengangkutnya pulang dan pergi sekolah dulu. sopir angkot hanya bisa manggut-manggut mendengar balasan Zivannya.


"udah libur neng" tanya sopir angkot. Zivannya mengangguk menatap keluar angkot yang sudah banyak berubah.


"iya mang, masak yang boleh libur cuma anak sekolah doang mang, yang kuliah nggak boleh libur juga" tanggapi Zivannya, sopir angkot tertawa mendengar candaan Zivannya.


"kirain nggak ingat pulang neng udah jadi gadis kota. kecantol orang sana" jawab sopir angkot.


"kayak lagi mancing aja sih mang, pake kecantol segala" tawa Zivannya disambut tawa sopir angkot.


"udah penuh, berangkat" tepuk atap angkot oleh seseorang. angkot segera berjalan pelan meninggalkan pangkalan.


"dah berapa tahun neng nggak pulang" tanya sopir angkot

__ADS_1


"hampir dua tahun mang. bentar doang" senyum Zivannya.


"dua tahun mah lama neng, bentar tuh ya tiga bulan, setengah tahun" tawa sopir angkot, "lha ini udah kayak bang Toyib yang nggak pulang-pulang" goda sopir angkot.


"lebaran pulang mang, kalo bang Toyib lebaran nggak pulang" elak Zivannya, mereka tertawa bersama.


"kayaknya belum lama ya... neng sekolah, sekarang udah jadi mahasiswa aja. waktu cepat berlalu" kata sopir angkot. Zivannya mengangguk dan terdiam meresapi kata-kata sopir angkot yang terdengar sepele tapi menusuk dalam hatinya.


waktu memang berjalan cepat, tahu-tahu dia sudah semester 5. umurnya juga semakin bertambah. namun terkadang sikapnya masih seperti anak kecil yang merengek jika tidak dituruti kemauannya.


"mama sehat kan neng" tanya sopir angkot tiba-tiba menyadarkan Zivannya dari lamunannya.


"sehat mang, doanya" angguk Zivannya tersenyum.


"jangan terlalu dipikirkan mengenai masa lalu neng. tidak akan merubah keadaan. justru yang belum kelihatan didepan harus kita raih untuk merubah keadaan" semangati sopir angkot yang tahu bahwa Zivannya tidak punya sosok Ayah dan dikhianati kekasihnya dulu. Zivannya tertawa kecil, "makasih mang, malah jadi nggak enak nih Zi, selalu dikasih kata-kata mutiara penyejuk iman" toleh Zivannya, sopir angkot tersenyum lebar.


"neng mah suka ngelucunya nggak ilang-ilang malah jadi sering ikutan ngelawak saya" kata sopir angkot. Zivannya tertawa terbahak-bahak.


"emang mamang berbakat jadi pelawak lho, kenapa nggak daftar aja di stand up comedy mang. pasti lolos deh" acung ibu jari Zivannya keatas menandakan Ok.


"wah neng, berat-berat saingannya. udah bodi pas-pasan, wajah apalagi, setengah jelek setengah blangsak" tawa sopir angkot yang membuat Zivannya tertawa lebar kembali.


"bagus mang, berarti sadar diri juga, padahal kalo maju nanti bakal jadi orang terkenal lho, banyak dicari orang" kata Zivannya.


"lha gini... ini nih... yang neng kagak tahu, selama ini mamang memang banyak dicari orang. sudah lama kalo itu, neng aja yang kagak sadar. banyak penumpang angkot yang nyari saya lho" bangga sopir angkot menepuk dadanya berungkali. Zivannya tertawa terbahak-bahak menyadari kebodohannya yang lupa bahwa sopir angkot selalu dicari penumpangnya.


"maaf mang, aku lupa jika mamang selalu diuber-uber emak-emak" kata Zivannya mengibaskan tangannya, sopir angkot tertawa.


"makasih mang, salam buat anak istri" toleh Zivannya membayar jasa angkotnya dengan 3 lembar uang merah.


"lho neng kebanyakan ini" pandang sopir angkot. Zivannya menggeleng dan tersenyum. "bantuin nyicil kompor gas, biar bisa terus ngebul" kata Zivannya membuka pintu angkot.


"makasih neng, semoga tambah banyak rejekinya" kata sopir angkot senang. Zivannya tersenyum dan melangkah menuju seberang jalan dimana rumahnya berada.


Zivannya melepas sneakers nya dan membuka pintu sambil mengucapkan salam, mencari keberadaan Mamanya.


"lho kak, kok udah pulang. katanya mau sampai sore" toleh mama Zivannya terkejut saat mendapati anak semata wayangnya sudah berdiri tegak dihadapannya. Zivannya memeluk mamanya erat.


"Zi kangen sama mama, terimakasih telah membesarkan Zi sampai sekarang" kata zivannya, mama mengusap punggung Zivannya.


"mama tau, makanya mama suruh pulang biar nggak jadi batu kelamaan disana" senyum mama. Zivannya tersenyum hangat.


"tadi nyoto yaah...udah kecium baunya" tebak mama mengurai pelukannya. Zivannya mengangguk dan duduk dimeja makan. mama menyodorkan teh panas yang baru dibuatnya.


"tadi ketemu Bima disana ma, nggak sengaja" minum Zivannya pelan, mama duduk disampingnya, mendengarkan Zivannya dengan tenang.


"dia menjelaskan bahwa Sita yang menggodanya hingga melakukan hubungan terlarang itu. dia juga mengakui bahwa setelah itu melakukan hubungan atas dasar suka sama suka, hingga akhirnya Sita hamil dan terpaksa menikah, sampai akhirnya Sita keguguran dan mereka memutuskan bercerai 6 bulan kemudian. mama Bima sudah mengakui kesalahannya dulu, Bima memintaku untuk bersamanya lagi, meminta maaf atas segalanya dulu" kata Zivannya tenang sambil sesekali menyeruput teh manis buatan mamanya yang selalu dirindukannya saat jauh.


"trus kamu gimana kak" topang dagu mama Zivannya dengan tangan kiri menatap Zivannya.

__ADS_1


"ya... itu kan ceritanya Bima, nggak tau jika Sita cerita nanti. mereka berdua saling melengkapi kebohongan satu sama lain" jawab Zivannya.


"aku bukan orang bodoh yang percaya begitu saja dengan ucapan mereka berdua, tentu saja aku tidak akan masuk ke lubang yang sama karena mereka berdua" geleng Zivannya membusungkan dada. mama tertawa pelan melihat Zivannya yang sudah bisa menertawakan pengalamannya kemarin.


bagaimana anak gadisnya sampai menangis tiada henti saat mengetahui dengan mata kepala sendiri dimana Bima melakukan hubungan terlarang itu dengan sita sahabatnya saat sekolah, bagaimana sikap mama Bima yang menghina dan mencaci makinya didepan orang lain karena ekonomi mereka yang dianggap tidak sepadan dengan keluarga Bima sehingga dianggap sebagai benalu jika Zivannya menjadi kekasih apalagi istri dari Bima.


"Zivannya bilang jika sudah memaafkan perlakuan mereka semua pada Zi dulu, tapi Zi tidak akan lupa gimana sakitnya saat itu. cukup sekali Zi berhubungan dengan orang seperti mereka" ujar Zi menggeretakkan giginya saking marahnya.


"untung Zi segera dijauhkan dari mereka semua dengan sifat buruk mereka, berarti Tuhan masih sangat sayang pada Zi" tatap Zivannya pada mamanya yang tersenyum dan mengangguk menepuk-nepuk punggung tangan Zivannya.


"kamu sudah bertambah dewasa Zi, tidak baik untuk menyimpan dendam. ambil semua kejadian sebagai sebuah perjalanan hidup. jika kamu tidak mengalami hal itu dulu, mungkin kamu tidak akan bertemu dengan orang lain yang jauh lebih baik sekarang" kata mama.


"he em... kak Aga memang lebih baik dari Bima dalam segala hal" jawab Zivannya keceplosan. mama tersenyum pura-pura terkejut, "kak Aga.... siapa tuh" kerut alis mama Zivannya melihat Zivannya lekat. Zivannya tersadar dan menatap mamanya datar.


"cowok yang mendekati Zivannya belum lama ini ma, Zivannya nggak sengaja kenal dengannya, saat pulang bersama Rara. disekitar kampus melihat kerumunan orang, ternyata ada penangkapan pelaku narkoba. Zivannya terdorong oleh beberapa anggota polisi secara tidak sengaja karena saking padatnya orang yang menyaksikan hal itu disekitar kampus.


Zivannya terjatuh hingga mengalami beberapa luka gores, beberapa polisi itu ingin menolong Zivannya tapi Zi bilang tidak apa-apa, sehingga mereka mengejar kembali itu tersangka" cerita Zivannya.


"nggak tau darimana datangnya cowok ini yang memakai penutup kepala sama seperti polisi yang lain. menolong Zivannya dan membawa ke klinik terdekat disekitar situ, karena luka yang menembus kemeja Zivannya. dari situ Zi kenal dengan kak Bagaskara" kata Zivannya.


"ehem... " angguk-angguk mama Zivannya menanti cerita Zivannya selanjutnya. Zivannya tertawa lebar melihat reaksi mamanya yang ingin tahu.


"ish... apaan sih ma, nggak ada yang spesial setelah itu, Zivannya melihatnya bersama dengan seorang mahasiswi cantik dikantin kedokteran saat Rara, Dimas dan Zi tidak sengaja makan disana. sejak itu Zivannya berusaha menghilang dari hidupnya. Zi masih tidak bisa melupakan pengkhianatan Bima jika melihat kejadian dikantin kedokteran waktu itu" hembus nafas Zivannya panjang.


"dia mengganti ponsel Zi yang hilang saat Zi terjatuh. dan mengantar Zi sampai kost-an setelah dari klinik" kata Zivannya mengeluarkan ponsel yang baginya sangat mahal.


"untungnya Zivannya ada kegiatan naik gunung dan kegiatan kampus di Malang, jadi Zivannya sebisa mungkin dapat dengan mudah menghindar, karena Zivannya


belum siap terluka lagi" geleng Zivannya. mama mengangguk mengerti.


"lalu sekarang gimana dengan kalian berdua" naik turunkan alis mama Zivannya menatap anak gadisnya yang cantik. Zivannya meminum sampai habis tehnya dan beranjak dari tempat duduknya.


"aishhh... mama pingin tau aja, pada akhirnya kita berjumpa dan dia menjelaskan semuanya ma, dua hari yang lalu kita baru ketemu dan mulai saling mengenal satu sama lain ma" angkat ransel Zivannya menuju kamarnya.


"Zi tidur dulu ma, belum tidur dari tadi malam" seru Zivannya.


"ponselmu ketinggalan Zi, nyala nih ada panggilan dari Aga" seru mama Zivannya. Zivannya melangkah mendekati meja makan dan meraih ponselnya.


"cie-cie yang nunggu panggilan dari Aga" goda mama segera kebelakang, Zivannya tertawa lebar terkena jebakan mamanya.


"dah sampai rumah kak, dapat salam dari mama. Zi mau tidur dulu" chat Zivannya, segera mematikan ponselnya dan tidur diranjang yang lama tidak ditempatinya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.

__ADS_1


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2