Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 72


__ADS_3

Dimas berusaha menenangkan Rara dan Zivannya yang terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja, terutama Zivannya yang sangat-sangat terpukul mendengar berita yang disampaikan oleh Dimas barusan, mereka masih menunggu kabar yang terbaik tentang Aga. Rara menatap Zivannya yang terlihat seperti saat mamanya tidak ada, hanya diam dan menangis tanpa suara. Mentari menanyakan keadaan Zivannya pada Dimas, bunda memintanya untuk pulang karena tahu bagaimana keadaan Zivannya sekarang, pasti penuh dengan derai airmata dan pikiran yang berkecamuk. Zivannya seperti mayat hidup yang terlihat raganya namun hati dan pikirannya tidak berada disitu.


dalam satu hari hidupnya seperti roller coaster, selesai sidang tugas akhir nya yang penuh perjuangan agar segera menyusul suaminya namun malah mendapat kabar jika suaminya saat ini sedang terluka, hatinya kembali merasakan sakit yang teramat sangat, perasaan Dejavu seperti dialaminya kembali, kehilangan mamanya belum lama membuat nya terpuruk jika tidak ada Aga disampingnya kala itu entah bagaimana dia menjalani hidupnya seperti sekarang dan sekarang dia mendengar kabar suaminya terluka saat bertugas membuatnya hancur kembali.


Dimas melajukan mobil Rara kembali kerumah Zivannya, setelah mentari memintanya untuk membawa pulang, Rara membalurkan minyak kebadan Zivannya yang dingin dan pucat. Rara menangis melihat Zivannya seperti itu kembali, memeluk sahabatnya yang selalu ada disaat dia sedang merasa sedih dengan kedua orangtuanya yang mengabaikannya. hanya Zivannya yang mau peduli dengannya tanpa meminta apapun untuk diberikan kembali, terkadang Rara merasa malu melihat Zivannya yang terlihat tegar dan bisa tegak berdiri walau banyak permasalahan dalam hidupnya, Rara melihat Zivannya sebagai gadis yang mampu menyingkirkan perasaan jelek dan negatif yang selalu dia pikirkan untuk dilakukan dan sekarang dia melihat Zivannya kembali dihadapkan pada kenyataan akan kehilangan suaminya di usia yang masih muda dan diusia pernikahan mereka yang baru seumur jagung.


padahal kemarin mereka masih bersama dan bercanda dengan Aga, masih jalan ber empat bersama melakukan banyak hal konyol bersama-sama namun sekarang hanya dengan hitungan detik semua hal berubah dan menjadi menyedihkan bagi sahabatnya itu.


mobil Rara memasuki halaman rumah Aga dan Zivannya, mereka memapah Zivannya masuk kedalam rumah, bunda memeluk Zivannya setelah melihatnya masuk. "dek, yang kuat. apapun yang terjadi nanti kamu harus kuat, kita harus kuat. bunda juga tidak tahu harus mengatakan apa padamu dek" tangkup pipi bunda sambil menangis, Zivannya mengangguk.


"kita harus kuat, kamu adalah anak bunda. jadi jangan merasa sendiri, kita adalah keluarga sampai kapanpun. jangan berpikir kami akan meninggalkanmu setelah Aga tidak disisimu lagi, bunda adalah ibumu sampai kapanpun" peluk bunda erat, Zivannya menangis sejadi-jadinya, melepaskan semuanya didalam kasih sayang orang tua Aga, mentari memeluk mereka berdua ikut larut dalam kesedihan yang mendalam, Rara berdiri menatap mereka dan menangis dalam pelukan Dimas. para tetangga segera menghampiri rumah Zivannya, mereka ikut berduka mendengar kabar Bagaskara yang sedang dalam perjalanan pulang kerumah. menjelang malam, matahari dan Dirgantara datang dengan membawa Aga pulang, bunda dan ayah sudah menunggu didepan pagar rumah menyaksikan puteranya dalam keadaan yang sudah tidak ada, Dirgantara memeluk bundanya yang menangis dalam kepiluan, matahari memeluk ayah dan mentari memberi kekuatan. Zivannya memeluk tubuh suaminya yang tersenyum dalam tidur panjangnya. mencium kedua tangannya, kedua pipinya, kening dan bibirnya. "selamat datang kerumah by, kamu menepati janjimu akan selalu menemaniku, terimakasih untuk segalanya" usap wajah Zivannya pelan, bunda memeluk Zivannya, matahari dan Dirgantara memegang bahu keduanya untuk membiarkan Aga masuk dan disucikan.


dari tempat yang agak jauh pemuda itu tertegun sesaat menyaksikan kejadian didepannya. ia tidak mengira akan mengalami kejadian saat ini. perasaan campur aduk dan tidak karuan berkecamuk dalam hatinya. gadis yang mengisi pikirannya ternyata memiliki suami yang baru saja dibantunya untuk kembali. gadis yang membuatnya tidak bisa melihat gadis lain ternyata harus kehilangan orang yang sangat disayanginya untuk selama-lamanya. entah bagaimana gadis itu akan menghadapinya, entah bagaimana nanti kehidupan nya setelah ini, entah bagaimana nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan melihat kenyataan yang ada saat ini. pemuda itu ikut melangkah masuk kedalam rumah Zivannya, masih mengenakan pakaian lengkap dinas kesatuannya yang sama dengan Matahari. matahari memperkenalkannya dengan ayah, pemuda itu memberi hormat sebelum menyalami kedua tangannya, matahari mengenalkannya sebagai komandan yang membantunya dan Dirgantara agar Aga cepat pulang dan disemayamkan dirumah. ayah mengucapkan terimakasih dan meminta maaf telah merepotkannya. pemuda itu menggeleng dan tersenyum.


Zivannya selalu berada tidak jauh dari sisi suaminya, Valerie memberi Zivannya minuman jahe yang dibikin mbok dan Marni yang langsung diterbangkan kerumah Aga dan Zivannya setelah menerima kabar Aga terluka. Zivannya menoleh dan menggeleng bahwa dirinya tidak haus. Valerie mengusap rambut Zivannya mengatakan jika Zivannya tidak menjaga kondisinya saat ini, maka nanti dirinya tidak akan bisa menemani Aga sampai keperistirahatan terakhirnya nanti, Zivannya meneguk dengan cepat minuman jahe bikinan mbok sampai habis tanpa jeda dan menyerahkannya kembali kepada Valerie. Marni mengambil gelas-gelas yang kosong untuk dibawa kedalam. prosesi penyucian dan mengkafani tubuh Aga sudah selesai, bergantian orang-orang untuk melakukan kewajiban terhadap orang yang berpulang. Zivannya mengambil mukenanya untuk terakhir kalinya bersama Aga. orang-orang yang datang silih berganti. teman, sejawat dan kerabat serta kenalan datang silih berganti untuk memberi penghormatan terakhir kepada Bagaskara. semua orang yang mengenalnya menyampaikan turut berduka atas kepergian Bagaskara. Zivannya duduk tidak jauh dari keberadaan Aga, bunda dan yang lain menerima orang yang datang silih berganti. keluarga Zivannya datang tak lama, nenek dan kakek memeluk Zivannya bergantian menguatkan Zivannya agar tetap tegar. keluarga om Hadi juga melakukan hal yang sama. "kuatkan hatimu Zi, om tau ini sangat berat bagimu. tapi semuanya kembali kepada yang menciptakannya. kita hanya menunggu giliran" pegang bahu om Hadi lembut. Zivannya mengangguk menghapus airmatanya yang terus menetes tanpa berhenti. Farhan memeluk Zivannya erat dan memandang Zivannya dalam diam, "makasih banyak han, maafkan kak Aga jika salah" angguk Zivannya mengerti, Farhan hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata melihat Zivannya yang kembali kehilangan orang tercintanya setelah kematian Tante Ranti, mamanya.


bunda dan mentari seringkali memeluk Zivannya menyalurkan kekuatan yang mereka sama-sama memiliki, memberikan kekuatan dan ketegaran yang sama-sama mereka butuhkan.


Raka dan Riki putera dirgantara dan Valerie datang bersama kedua orangtua Valerie, kedua orang tua Valerie memeluk Zivannya menyampaikan bela sungkawa. Raka langsung menuju keberadaan Zivannya yang duduk tidak jauh dari keberadaan Aga, Raka memeluk Zivannya erat, mengusap kedua pipinya dengan jarinya yang kecil, menggenggam jemari Zivannya erat.

__ADS_1


"onty, temani aku melihat om Aga" pandang Raka, Zivannya menatap Raka dan mengangguk. beranjak dari tempatnya, "aku baik-baik saja Ra, aku temani Raka sebentar" toleh Zivannya menahan Rara agar tidak ikut dengannya. dia tahu Rara juga lelah dan sedih hingga dirinya juga harus istirahat. Zivannya mendekat dan membawa Raka untuk duduk dipangkuannya.


"om Aga udah tidur panjang onty, om ada disana sedang berdiri dan tersenyum melihat onty" tunjuk Raka mendongak menatap Zivannya, Zivannya mengangguk dan mengelus kepala Raka. "om mendekat onty" kata Raka tertawa, Zivannya menatap kedepan. Dirgantara berjalan mendekat dan mengambil alih tubuh Raka.


"adek ingin mengucapkan salam perpisahan padamu Zi, hiduplah dengan bahagia, dia sudah tidak kesakitan lagi" bisik dirgantara meraih bahu Zivannya dan membawanya ke pelukannya, Zivannya menangis tanpa suara, hanya bahunya yang bergetar hebat menandakan betapa berat beban hati yang dia rasakan, Dirgantara mengelus bahu Zivannya pelan, Valerie mendekat dan meraih Raka untuk dibawanya kembali, tapi Raka tidak mau dan hanya mau dengan Zivannya. Zivannya menghapus air matanya dan menggenggam erat tangan Raka yang tidak mau lepas. "temani onty, oke boy" pandang dirgantara, Raka mengangguk dan memberi tanda Ok dengan ibu jarinya, Zivannya memeluk Raka dalam pangkuannya dan menyandarkan kepalanya menatap suaminya yang sudah pergi untuk selamanya.


setiap menit Zivannya mengusap kain yang menutupi tubuh suaminya, tidak menyangka akan ditinggal secepat itu. betapa berat langkahnya nanti jika tidak ada Aga disisinya, tidak ada tangan dan tubuh yang menopangnya seperti dulu, orang-orang yang dia cintai dan sayangi satu persatu telah pergi selama-lamanya, papanya yang juga sedang bertugas gugur dalam membela tanah air, adik yang akan menemaninya juga tidak bisa diselamatkan, mama yang menemaninya selama ini pergi meninggalkan dirinya, sekarang Aga yang menjadi kekuatannya juga pergi dalam tugasnya. Zivannya memejamkan mata tidak kuat menahan sesak didadanya. dirinya kini sendiri, tanpa ada keluarganya lagi. kebahagiaan bersama Aga yang hanya sekejap membuat Zivannya merasa bersalah tidak menemaninya disaat-saat akhir hidupnya. pemuda itu telah berganti pakaian sipil, mendekat kearah matahari dan duduk disebelahnya.


"maaf Ndan, saya tidak menjamu dengan baik" toleh matahari cepat, pemuda itu tersenyum menggeleng menepuk bahu matahari pelan, "bukan waktunya bang, jangan formal begitu" jawabnya cepat, matahari mengangguk. matahari memperkenalkan mentari yang berada disampingnya. mentari memberi salam didepan dadanya, pemuda itu mengangguk dan membalasnya dengan cepat. "yang ini komandanku sekarang, satria langit Dewantara. biasa dipanggil langit, dia yang membantuku kemarin untuk menjemput adek" kata matahari, mentari mengangguk. matahari dan langit mengobrol cukup lama.


semalaman Zivannya menunggu suaminya dengan melantunkan ayat-ayat suci kitabnya menemani di keheningan malam, langit menatap Zivannya dari kejauhan, memandang dalam kehampaan hati melihat gadis itu dibalut kesedihan yang teramat sangat. seorang pemuda datang dan segera masuk dengan sopan, Yuda teman baik Zivannya saat dirinya masih dikota kelahirannya segera datang setelah mendengar kabar dari Farhan, Yuda mendekat kearah Zivannya yang sendirian dalam keheningan. langit menatap Yuda dengan pandangan yang tidak senang, pandangan yang mengisyaratkan jangan ganggu dia, biarkan dia sendiri yang dia butuhkan hanya itu sekarang. Yuda menyentuh pundak Zivannya dalam balutan mukena menutupi seluruh tubuhnya. Zivannya menatap Yuda dan menganggukkan kepalanya, "maafkan kak Aga, da. kami minta maaf jika banyak melakukan kesalahan" kata Zivannya menatap lekat wajah Yuda sahabatnya. Yuda mengelus kepala Zivannya mengangguk tanpa kata.


Yuda memberi salam kepada seluruh keluarga Zivannya baik dari keluarga Aga atau keluarga papanya. matahari memperkenalkan Langit kepada Yuda, mereka sama-sama tersenyum.


pagi hari, mereka bergantian membersihkan diri dan bersiap untuk menemui kerabat dan teman-teman yang memberi ungkapan berduka atas kepergian Aga, Zivannya memeluk bundanya saat nafasnya terasa sesak. bunda mengelus dan membisikkan kata-kata yang menguatkan Zivannya, hingga Zivannya dapat kembali bernafas. Raka selalu berada di sisi Zivannya tanpa berniat mendampingi kedua orangtuanya, Dirgantara dan Matahari sesekali mengecek keadaannya. Raka menggelengkan kepalanya melihat papa dan om nya menghampiri Zivannya. "ada Raka om... onty ama Raka, temani onty Mentari aja" Raka menatap matahari. matahari mengangguk dan tersenyum meninggalkan mereka. Raka memeluk pinggang Zivannya sambil memandang papa dirgantara dan om matahari bergantian. Zivannya mengelus kepala Raka tersenyum samar.


"om boleh duduk disini kak" tanya Langit dari belakang. Raka melepaskan tangannya dari pinggang Zivannya.


"om siapa" kerut Raka tidak pernah melihat Langit. "om namanya Langit, teman dari om Matahari. bolehkah kita berteman kak" senyum Langit mengulurkan tangannya, Raka membalas uluran tangan Langit dan tersenyum.

__ADS_1


"jagain onty Zi sebentar ya om, Raka mau pipis. jangan sampai papa dan om Matahari kesini" peringatkan Raka. langit tersenyum dan memberi hormat kepada Raka yang segera berlari kearah mamanya untuk menemaninya buang air kecil. Zivannya tidak sedikitpun terusik dengan percakapan mereka berdua, dirinya hanya menatap sosok Aga yang ada didepannya.


"lepaskan apa yang harus dilepas. jalani takdir Tuhan yang telah digariskan maka kamu akan menemukan jalan untuk terus hidup dan berjuang" bisik Langit pelan ditelinga Zivannya dari belakang. Zivannya terhenyak dan menundukkan kepalanya mendengar kalimat yang diucapkan seseorang.


prosesi pemakaman akan segera dilaksanakan, karena hari semakin sore, keluarga Zivannya bersiap untuk melakukan prosesi tersebut. Zivannya berada disamping bunda dan Raka, ayah mewakili keluarganya menyampaikan rasa terimakasih dan permohonan maaf kepada semua orang yang mengenal Bagaskara putera bungsunya, menerima dengan lapang dada segala hal yang merupakan kodrat hidup manusia. Dirgantara dan matahari berada dibelakang ayahnya untuk memberikan kekuatan, sedangkan langit secara kebetulan berada tepat dibelakang Zivannya dia merasa kuatir jika tiba-tiba Zivannya pingsan dan tidak bisa menopang dirinya sendiri. Raka yang melihatnya tersenyum dan melambaikan tangannya, Langit tersenyum dan mengusap rambut Raka, mengulurkan tangannya untuk ber hi-five dengan Raka seketika terkejut, tanpa di sangka Raka meraih tangannya dan menautkannya dengan tangan Zivannya yang tidak sadar dengan perlakuan Raka. Zivannya hanya menatap kedepan kearah Aga berada, Langit tahu diri untuk segera melepaskannya pelan namun Zivannya malah menggenggam erat jemari tangannya agar tidak terlepas. Raka memberi isyarat dengan jarinya tanda Ok. Langit merasa serba salah dan sedikit maju untuk menutupi pegangan tangan mereka yang tidak terlalu diperhatikan orang lain, tanpa sepengetahuannya, Yuda mengerutkan keningnya melihat mereka berdua.


prosesi upacara militer dilakukan sebelum Aga dibawa ketempat peristirahatan terakhirnya yang letaknya di dekat kompleks perumahannya. Zivannya menarik tangan Raka untuk bergerak maju mengikuti iringan menuju ketempat peristirahatan Bagaskara untuk terakhir kalinya, Raka melangkah terlebih dahulu dan Zivannya baru sadar sesaat kemudian saat melihat pemuda itu disebelahnya memegang tangannya erat. Zivannya tertegun sesaat dan segera melepaskan tangannya dan bergerak maju ke depan. bunda meraih jemari Zivannya untuk bersama berjalan menemani Aga keperistirahatan terakhirnya. Zivannya terlihat sempoyongan berjalan menuju peristirahatan terakhir Aga, Yuda mendekat dan menggenggam jemari Zivannya untuk melangkah lebih tegak, Farhan berada disisi satunya dan memegang bahu Zivannya lembut. Zivannya mengangguk dan berjalan tegak kembali, sampai disana semua prosesi kembali dilakukan, Zivannya duduk bersimpuh di dekat gundukan tanah yang memisahkan mereka berdua, semua orang beranjak satu persatu meninggalkan area peristirahatan terakhir. Zivannya melihat dengan seksama tempat Aga tidur selamanya. "terimakasih by, telah pulang saat aku sudah menyelesaikan sidang tugas akhir, terimakasih telah menepati janjimu untuk selalu menemaniku" usap tanah Zivannya.


"dirimu adalah bagian dari diriku, ijinkan aku melakukan apa yang kamu inginkan, terus hidup dengan bahagia walau tanpamu" hembus nafas Zivannya berat.


"apapun yang terjadi nanti, kamu adalah bagian hidupku" kata Zivannya beranjak dari tempatnya dan mencium nisan kayu suaminya.


"we will never be separated again with all the love we have" gumam Zivannya menggenggam erat tanah yang menutupi tubuh Aga. Rara membantu Zivannya untuk berdiri. mereka beranjak dari peristirahatan terakhir Aga. Zivannya menoleh kebelakang sebelum benar-benar beranjak dari tempat itu.


hai...hai...hai... dukung terus karyaku. semangat untuk semuanya menjalani hidup dengan porsinya masing-masing.


luv...luv...luv... you all readers.


terimakasih banyak atas dukungannya selama ini..

__ADS_1


__ADS_2