Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 53


__ADS_3

Zivannya turun menggenggam erat jemari Aga, Aga mencium punggung tangan Zivannya, menatapnya lembut memberi kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Zivannya menghela nafasnya dan mengeluarkannya perlahan sebelum melangkah masuk diurutan terakhir keluarga Triastomo. pesta yang pertama kali didatanginya sebagai keluarga resmi Triastomo dan seperti pesta-pesta sebelumnya yang pernah didatanginya karena Rara yang menginginkannya untuk menemaninya bersama kedua orang tuanya. hingar bingar yang memperlihatkan gemerlap duniawi. semerbak harum bunga sedikit banyak menusuk hidung berbaur dengan parfum mahal yang dipakai oleh orang-orang untuk menghadiri perhelatan besar anak seorang jenderal.


dilihatnya sekeliling beberapa pemuda memakai pakaian dinas untuk pelaksanaan pedang pora pengantin. Zivannya melihat beberapa groommaid berjejer rapi disatu sisi, beberapa petugas WO sibuk mengatur jalannya acara. Zivannya mengikuti langkah keluarganya untuk menuju kedepan tempat kedua pengantin sedang berbahagia. Aga meremas tangan Zivannya pelan, Zivannya segera menoleh dan tersenyum menatap Aga.


"it's oke by, aku selalu mengagumi keindahan saat pesta pernikahan. penuh dengan aura kebahagiaan, sering sama Rara dua tahun ini, kalau ketempat beginian" kata Zivannya.


"apakah banyak yang melihat kalian" bisik Aga, Zivannya mengangguk.


"wajar by, kita kan masih sendiri. kenalan dan bertegur sapa bukan hal yang aneh kan, but tidak untuk nomer ponsel. that's just too much" jawab Zivannya.


"look at you and your two brothers, nggak sedikit juga kan gadis yang melirik bahkan melihat kalian dengan tatapan memuja. sama aja, kita terkadang juga merasa insecure melihat mereka menatap kalian dengan penuh damba" tatap Zivannya, Aga tersenyum.


"kamu cemburu yang" goda Aga, Zivannya tersenyum dan mengangguk. "tentu by, bohong kalo aku bilang tidak suka, tapi aku kira wajar jika mereka mengagumi kalian sebagai pria yang metroseksual" kata Zivannya. Aga tertawa kecil mendengar ungkapan Zivannya. dirinya sedikit banyak merasa senang istrinya membuatnya tenang.


tiba saatnya mereka memberi selamat kepada pempelai berdua, melakukan sesi pemotretan lengkap dengan kedua pengantin. bunda dan Ayah diantar oleh seorang petugas WO untuk duduk ditempat yang telah disediakan, bunda tersenyum mengangguk.


"banyak yang datang ya kak" lihat Zivannya.


"iya dek, jenderal bintang satu, sama seperti Ayah" angguk mentari.


"berarti kemarin kakak sama Abang seperti ini, mengingat kakak satu-satunya perempuan dikeluarga" tanya Zivannya ingin tahu. Mentari menggeleng, "kak val dan kak dirgantara juga sama dek. kak val juga satu-satunya anak perempuan di keluarganya. kita semua sama juga kan" kata Mentari, Zivannya mengangguk. Aga dan matahari datang membawa makanan dan menyerahkannya kepada mereka berdua. Zivannya meletakkan makanan dipangkuannya.


"bentar lagi juga kamu merasakan seperti ini dek, bunda juga pasti akan heboh dengan prosesinya nanti. nggak lama lagi pasti, mungkin 2-4 bulan lagi" kata mentari.


"cepet amat kak" kaget Zivannya.


"kayak nggak tau bunda aja kalo udah ada maunya" tawa mentari pelan. Zivannya menghela nafas berat.


"ngapain juga bunda nyuruh fotografer janjian sama kita jika nggak buat foto prewed kalian sekalian. percaya deh, ikuti bunda aja biar cepat selesai" angguk mentari, Zivannya mengangguk lemah.


"kak jangan lupa nanti kita sempatkan untuk mengambil moments lagi" kata mentari, Valerie memberi tanda Ok.


Zivannya menatap Aga yang kembali duduk disampingnya. "darimana by" tanya Zivannya, Aga menunjuk segerombolan pemuda berbadan tegap sedang bercengkrama.


Zivannya menyuapi Aga dengan makanannya tadi. Aga menerima suapan Zivannya. "makan yang" lihat Aga. Zivannya mengangguk dan menatap kesehatan arah.

__ADS_1


"mau pernikahan seperti ini yang" tanya Aga menyentuh pipi Zivannya, Zivannya menoleh. "serahkan sama bunda aja, beliau tahu yang terbaik untuk anaknya" kata Zivannya menggeleng.


Aga menggenggam jemari Zivannya. "beruntung aku memilikimu yang" kata Aga, Zivannya menatap Aga. "aku juga sangat beruntung memilikimu disaat-saat terakhir mamaku dan aku sangat mencintaimu by" senyum Zivannya, Aga mencium tangan Zivannya.


"dek, udah belum makannya, kita mau buat konten dibelakang sana, Abang bilang tempatnya bagus" kata mentari melihat Aga yang makan dengan santai, Aga mengangguk.


mereka bersamaan menuju kearea yang ditunjukkan matahari. Zivannya memandang gemerlap kota Jakarta dari atas gedung. "wooaa... it's Amaze" rentang tangan Zivannya memandang jauh kedepan, Aga memeluk pinggang Zivannya menuntunnya untuk mendekat kearah keluarga karena mereka akan mengabadikan moments. mentari mengarahkan kamera ponselnya kebawah bergerak keatas.


mentari memberi tanda Ok setelah melihatnya dilayar ponsel.


dua jam telah berlalu, mereka mulai beranjak meninggalkan tempat pesta, "anak-anak aman kan kak" tanya Zivannya. Valerie mengangguk "pules Zi, seharian mereka bermain. ujungnya nanti kalo mau pulang nggak mau" kata Valerie ketawa, Zivannya tersenyum lebar. "disini aja kak bareng aku. jika udah mau pulang, aku mampir ke Surabaya dulu nganter mereka" jawab Zivannya. "nggak papa dek, mereka rewel lho" kata Valerie.


"biasa kak. dulu aku pernah kerja di day care setelah pulang kuliah . sebelum kerja di kedai anak muda" jawab Zivannya. Valerie menatap Zivannya. "beneran dek, kamu kerja di day care" tanya Valerie tak percaya. Zivannya mengangguk mantap. "beneran kak, cuman 3 bulan. nggak sanggup ninggalin sih sebenarnya, anaknya lucu-lucu. tapi nggak bisa terus-terusan mbolos kuliah kalo orangtuanya belum jemput kan otomatis harus nunggu dulu. beratnya disitu kak" jawab Zivannya.


"aahhh.... memang begitu sih kendala orang tua yang bekerja. anaknya dititipin ke daycare tapi terkadang malah membuat bebannya dipindah ke orang lain" kata bunda.


"terkadang mereka juga karena kebutuhan bund, nggak tega juga ninggalin anaknya. ada yang sudah single parent. ada yang memang mengalami kekerasan dalam rumah tangga sehingga dia memutuskan untuk menyelamatkan anak mereka" hembus nafas Zivannya.


"terkadang menjadi telinga untuk mendengarkan jauh lebih berharga bagi mereka untuk melepaskan beban yang ada di hati mereka" kata Zivannya.


"dek, bunda heran. kenapa nggak ngambil psikologi dulu pas daftar kuliah, kenapa sipil" tanya bunda heran, Zivannya tertawa lebar.


"trus kenapa bisa ketemu dek Aga" tanya Ayah penasaran.


"nah... itu dia yah, kadang nggak habis pikir juga. kenapa bisa ketemu kak Aga, Zi aja sampai sekarang nggak ngerti juga" geleng Zivannya heran. Aga berdehem melirik Zivannya sekilas. Zivannya tertawa, "kenapa by, mau air minum ato nggak terima dengan yang aku bilang" naik turunkan alis mata Zivannya.


"nggak terima" kata Aga. Zivannya tertawa lebar. "tentu, bagian mana yang keberatan" angguk Zivannya.


"dek, kayaknya di depan ada huru-hara tuh" lihat bunda. Aga menghentikan segera mobil mereka tidak jauh dari keramaian.


"kita diam sebentar, jika memungkinkan untuk bergerak menjauh maka akan kita lakukan. namun jika tidak diam adalah yang terbaik" kata Aga menatap Zivannya, Zivannya mengangguk sedikit menundukkan kepalanya. beberapa orang mulai saling berkejar-kejaran dengan beberapa polisi yang bertindak merangsek maju menekan pertahanan orang-orang yang bertindak anarkis. Zivannya memegang erat tangan Aga, Aga menggenggam tangan Zivannya erat mengelus rambutnya memberi ketenangan, dia melihat kebelakang kearah keluarganya. dirgantara dan matahari menatap Aga sesaat.


"kita keluar dulu yang. lihat situasinya" kata Aga, Zivannya menggeleng pelan. Aga mengangguk tersenyum. Aga melihat keadaan sekitar dan membuka pelan pintu mobil. dirgantara dan Matahari mengikuti langkah Aga, mereka bergerak pelan menuju tempat kejadian.


Zivannya menahan nafasnya melihat suaminya yang bergerak menjauh darinya. Zivannya menutup matanya dengan kedua tangannya sambil berdoa agar mereka bertiga baik-baik saja dan kembali dengan selamat. "bund, baik-baik aja kan" bisik Zivannya, bunda mengangguk menghela nafas berat.

__ADS_1


"jangan kuatir. mereka akan baik-baik saja, mereka terlatih untuk ini, jadi doakan mereka agar baik-baik saja" kata bunda. mereka bertiga mengangguk, keadaan menjadi kacau, beberapa tembakan terdengar dari segala arah. beberapa orang berlarian kesana kemari menjauh, Zivannya beringsut kebawah dan menutup telinganya dengan kedua tangannya, menggumamkan ayat-ayat suci kitabnya yang dia hapal berulangkali untuk meredakan degup jantungnya yang berdetak kencang memikirkan suaminya. Zivannya membuka matanya melihat keluarganya yang dibelakang juga menunduk dibawah.


"ayah" kata Zivannya pelan.


"ayah masih disini dek, tidak apa-apa. kita tunggu ini sebentar lagi, kita juga nggak bisa pergi dalam keadaan begini" kata ayah agak pelan. "baik" sahut Zivannya.


mereka menunggu dan menanti keadaan menjadi lebih tenang.


Zivannya meneteskan airmata dan mengusapnya cepat, dia merasa tidak pada tempatnya jika dia menangis saat ini, dia yakin suaminya dan dua saudaranya akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini, mereka sudah terlatih untuk menghadapi situasi ini.


dua jam kemudian keadaan lebih kondusif, mereka beranjak untuk duduk kembali. Zivannya menoleh kebelakang melihat keluarganya, tak lama para lelaki sudah datang dengan terengah-engah.


"perkelahian antar warga dibantu preman dengan polisi" masuk Aga menyalakan mesin mobil dan bergerak cepat untuk menjauh dari tempat itu. Zivannya memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya dipintu mobil. Aga melirik Zivannya sesaat dan melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi untuk segera sampai dirumah. tiba dirumah mereka segera turun dan masuk kedalam rumah dengan tenang. Aga membuka pintu Zivannya membantunya turun.


"by, bantu aku berjalan, kakiku gemetaran" desah Zivannya pelan. Aga meraih tubuh Zivannya dan membawanya menuju kamar. menaruh Zivannya diranjang, melepas high heels Zivannya.


"by, bersihkan diri dulu sana. aku tidak apa-apa, it's oke" tutup muka Zivannya. Aga melihat Zivannya sesaat dan segera masuk kedalam bathroom untuk menyegarkan dirinya. Zivannya menghela nafasnya, tidur telentang menatap langit-langit kamar.


"Tuhan.... pengalaman pertama mendengar kerusuhan sebesar itu, mengerikan" gumam Zivannya memejamkan matanya., menarik resleting gaun yang letaknya disamping. membukanya hingga keperut karena kegerahan. beberapa kali Zivannya menghela nafasnya menetralkan jantungnya yang masih berdetak kencang membayangkan kerusuhan yang berujung anarkis. Aga keluar dari bathroom dan melihat posisi istrinya yang menggoda. Aga menyentuh benda kenyal candunya, Zivannya menjerit pelan. Aga segera mendekap mulut Zivannya yang berteriak.


"jangan teriak yang udah malam" lepas Aga yang segera mendapatkan pukulan dari istrinya.


"ngapain sih by, awas ah... minggir..." pandang Zivannya, Aga menggeleng.


"aku udah gerah ini mau mandi, ngapain kamu gini berat lama-lama" pukul dada Zivannya. Aga meremas benda kenyal kesukaannya, membuat Zivannya mengerang pelan. Aga tertawa pelan dan berdiri menuju walk closetnya. Zivannya segera bangun dan melepas gaun pestanya untuk menuju kamar mandi.


Zivannya keluar kamar untuk mengambil tempat air putih dan gelasnya. "dek, kamu baik-baik aja kan" tanya bunda saat membuka pintu kamar bertemu dengan Zivannya.


"agak sedikit shock Bun, tapi baik-baik aja, ini pertama kalinya Zi liat" kata Zivannya, bunda mengelus bahu Zivannya pelan.


"istirahat aja, besuk biar baikan kita ada kegiatan dari pagi" kata bunda, Zivannya mengangguk dan berlalu menuju kamarnya kembali.


hai.... hai... hai....


jadi ikutan deg-degan nih aku, untung nggak langsung jatuh,. kalo jatuh kan tambah repot mungutinnya

__ADS_1


ea.... ea..... ea....


dulu terus karya ku yaa.... makasih....


__ADS_2