
Zivannya mengusap wajahnya, "hallo ma" sapa Zivannya.
"dah sampai mana kak" tanya mama Zivannya.
"sampai batas kota" jawab Zivannya.
"berarti bentar lagi sampai kak" tanya mama Zivannya.
"iya, Zi mau ijin turun ditengah kota aja. pingin jalan sebentar disana" kata Zivannya melihat sekitar.
"nggak papa, mau dijemput nggak" tanya mama Zivannya.
"nggak usah ma, Zi masih tau jalan pulang" kata Zivannya turun dari mobil travel. mama tertawa pelan mendengar ucapan anak gadisnya yang sebenarnya enggan untuk pulang jika tidak ada keperluan, lebih untuk menjaga perasaannya.
"mama tunggu dirumah aja ya kak, jangan malam-malam kalo pulang. angkotnya nggak akan sampai malam" kata mama mengingatkan.
"siip ma, Zi jalan dulu. mama mau nitip apa" jawab Zivannya.
"mama pingin kamu cepet pulang aja kak, nggak mau yang lain" kata mama Zivannya.
"baik ma, Zi pasti pulang lama kali ini" tawa Zivannya melihat sekeliling mencari tempat makan untuknya sarapan.
"mang, soto satu" duduk Zivannya dibangku bakso tepi trotoar.
"siap neng, baru datang" tanya mang soto, Zivannya mengangguk.
"libur semester mang, disuruh mama pulang. ada acara dirumah" senyum Zivannya.
"sotonya neng, silahkan" sodor mang soto.
"jeruk panas seperti biasa" tanya mang soto, Zivannya tersenyum dan mengangguk.
"lama nggak kali ini pulangnya neng" letakkan segelas jeruk panas dimeja Zivannya.
"pingin mang, udah lama nggak pulang. sekalian nyegerin otak karena belajar melulu" jawab Zivannya tertawa.
"mang sehat terus ya" pandang Zivannya melihat tukang soto langganannya semenjak bangku sekolah.
"Alhamdulillah neng, dikasih sehat, biar bisa nafkahi anak istri" tawa mang soto. Zivannya mengangguk sambil memakan soto langganannya.
"masih rame aja mang, anak sekolah nongkrong disini" lihat Zivannya ke segerombolan anak sekolah tidak jauh dari tempatnya duduk.
"ya begitu neng, resiko dekat dengan sekolah. hahahaha.... kalo pada bolos juga disekitar sini aja nongkrongnya. kalo udah bosen juga masuk kelas lagi" angguk mang soto.
"malah jadi kangen sekolah lagi mang" tawa Zivannya, mang soto ikutan tertawa.
"bisa aja neng, kan lebih enak kuliah. jam sekolahnya lebih sedikit, pake pakaian juga bebas nggak seragam seperti anak sekolah" kata mang soto.
"iya juga sih mang, tapi kalo masih sekolah nggak mikir cari duit tambahan mang, bisa ketawa bareng satu kelas, dari ujung lorong ke ujung lorong kenal semua, nongkrong kayak mereka bareng-bareng, bisa bolos bareng-bareng dan yang paling menyenangkan adalah nggak pusing nyari contekan" senyum Zivannya, mang soto tertawa lebar.
"iya sih neng, anak sekolah memang paling enak. nggak mikir duit, tau nya tinggal minta aja ke orang tua, nggak tau gimana orang tua cari duitnya" tawa mang soto lebar, Zivannya tertawa kecil.
ponsel Zivannya berdering, ada panggilan chat dari Aga.
"baru makan kak" sandar ponsel Zivannya disebelah botol kecap, Aga menoleh memperhatikan Zivannya yang sedang menyantap soto.
"kamu udah sampai rumah Zi" tanya Aga sambil mengitari meja kerjanya.
"dah sampai dikota, mampir di mang soto semasa sekolah dulu, ini makannya ditemani mang soto, anak sekolah masih pada belajar jadi belum rame, ada beberapa yang bolos sih, cuman nongkrong doang" geleng Zivannya.
__ADS_1
"mama dah aku kabari, kalo mau muter dulu disini. nanti pulang agak sore" ujar Zivannya.
"kenapa tadi nggak bilang sama aku kalo mau mampir dulu" lihat Aga dilayar ponsel.
Zivannya menatap ponselnya juga, "mendadak kak, nggak kepikiran tadi. tiba-tiba aja pingin jalan" jawab Zivannya.
"kamu kurang tidur lho Zi" kata Aga menghembuskan nafasnya sesaat.
"kakak juga sama, jam 2 pagi, jam 7 pagi, sekarang jam 10" senyum Zivannya, Aga tertawa pelan.
"karena saking kuatir sama kamu, makanya jangan buat kuatir yang berlebihan" kata Aga, Zivannya tertawa pelan.
"emang segitu kuatirnya yaa..." goda Zivannya menaik turunkan alisnya menatap layar ponsel.
"jangan macem-macem Zivannya Fritscha, ato aku langsung kesana dan menelanmu bulat-bulat" kata Aga tertawa melihat Zivannya yang menggodanya karena berjauhan, Zivannya tertawa lebar karena berhasil membuat Aga dalam mood yang baik walau tidak ada dia disampingnya.
"ya ayo kesini aja, kalo berani. emang bisa" ejek Zivannya menjulurkan lidahnya. Aga tertawa lebar, "nantang nih ceritanya" senyum-senyum Aga, Zivannya mengangguk mantap.
"mang, biasa soto satu" seru seseorang. Zivannya mendongak melihat siapa yang datang karena familiar dengan suaranya, ternyata benar, dia adalah orang yang membuat Zivannya harus merasakan kesakitan sebelum pergi untuk kuliah. Zivannya mengepalkan tangan kirinya erat kenapa harus bertemu mahkluk halus satu itu.
"lho Zi, kamu disini juga" senyum seseorang itu, Zivannya tersenyum kikuk meletakkan sendok soto yang dipegangnya. Aga menoleh dengan cepat melihat Zivannya yang ngobrol dengan seorang cowok.
"baru pulang" tanyanya melihat ransel Zivannya yang tergeletak disampingnya.
"ya, mampir ke mang soto" angguk Zivannya meminum jeruk hangatnya.
"bagaimana kabarmu, aku mencarimu tapi tidak pernah ketemu" senyumnya manis.
Zivannya hanya tersenyum tipis, "baik, aku harus sekolah agak jauh, karena dapat beasiswa" jawab Zivannya meneruskan makannya yang masih tersisa banyak walau harus dengan susah payah untuk menelannya karena kedatangan cowok itu disampingnya.
"ini den sotonya" sodor mang soto didepannya.
"iya den, lama nggak ketemu sama neng Zi, sama-sama satu sekolah kan dulu" angguk mang soto basa-basi karena melihat Zivannya yang tidak baik-baik saja.
"iya mang, lama juga, kayaknya dah lama nggak balik ya Zi, kalo lewat depan rumah selalu sepi" tanya pemuda itu sambil memakan sotonya.
"nggak sempet pulang. karena liburnya cuman sebentar, nanggung kalo pulang" jawab Zivannya.
"kamu terlihat makin cantik aja, Zi" pandangnya, Zivannya tersenyum tipis mengunyah makanannya. Aga yang mendengarnya sambil lalu seketika berhenti melakukan aktivitas nya dan segera melihat layar ponselnya memastikan interaksi Zivannya dan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
"apa kamu senang kuliah disana Zi, ato sengaja menghindar dariku setelah mengetahui semuanya saat itu" pandangnya lekat.
Aga menggertak gigi nya tanda tidak suka melihat hal itu. Zivannya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"aku sudah berusaha untuk mendapatkan beasiswa agar masuk dikampus itu sejak lama, kenapa harus menghindar darimu, mungkin karena waktunya bersamaan kali yaa... jadi kamu mengira seperti itu" senyum Zivannya.
"Ndan, waktunya kita berangkat" kata anak buah Aga melapor. Zivannya menoleh menatap layar ponselnya.
"ada tugas kak" tanya Zivannya cepat.
"iya, jangan dimatikan ponselnya, biar aku tidak menduga-duga nantinya. tidak apa-apa" anjak Aga memakai headset dan mengambil ponselnya keluar ruangannya.
"baik" jawab Zivannya cepat.
"siapa Zi" tanyanya melirik sekilas dengan muka yang tidak suka.
"teman lelaki terdekatku" senyum Zivannya, Aga tersenyum tipis mendengar jawaban Zivannya yang cepat.
"apa kamu sudah berpaling ke hati yang lain Zi" tanyanya menatap Zivannya.
__ADS_1
"hati yang lain.... aku hanya punya satu hati tuh Bim, masih aku pake sampe sekarang, masih sehat jadi nggak bisa aku berikan pada orang lain" tawa hambar Zivannya menanggapi ucapan Bima, lelaki yang memilih meninggalkannya sebelum berjuang mendapatkan cintanya.
"masih suka bercanda aja kamu Zi, bikin kangen tau nggak, ada yang ingin aku bicarakan. sudah sejak lama aku ingin menjelaskan kepadamu mengenai hal itu. tapi kamu tiba-tiba menghilang tanpa jejak" kata Bima meminum air mineralnya.
Aga mengepalkan kedua tangannya geram mendengar ucapan pemuda itu kepada Zivannya. apa yang dikuatirkannya jika Zivannya pulang kerumahnya terjadi juga, pemuda itu pasti mencari Zivannya kembali untuk menjalin hubungan lagi, apalagi status pemuda itu sudah berpisah. tidak menutup kemungkinan jika Zivannya mau kembali padanya. bagaimanapun Zivannya pernah menempatkan pemuda itu di hatinya, memikirkan hal ini saja sudah membuat Aga semakin kesal dan uring-uringan. ingin rasanya segera menyusul Zivannya kesana.
"sekarang kita bertemu kan, jadi apa yang mau kamu bicarakan Bim" tanya Zivannya menyudahi makannya karena tidak bisa lagi menelan.
"apakah kita bisa bicara di tempat lain, aku merasa tidak nyaman berbicara disini" kata Bima, Zivannya menggeleng pelan.
"jika mau bicara disini aja, mang soto akan mengerti, tidak apa-apa. jika kamu keberatan maka aku akan pergi sekarang" tatap Zivannya tajam. Bima menghela nafasnya panjang tanda tidak ingin Zivannya pergi sebelum dia menjelaskan yang terjadi saat itu.
"baiklah Zi, aku mengerti. sebelumnya aku mau minta maaf jika aku saat itu telah menyakiti hatimu. aku benar-benar brengsek bukan, telah membuatmu merasakan sakit hati yang begitu dalam dan sampai saat ini masih terlihat di matamu." pandang Bima, Zivannya tersenyum tipis.
"semuanya tidak seperti yang kamu lihat waktu itu Zi, aku memang khilaf melakukan hubungan dengan Sita, tapi itu juga nggak disengaja, kita bertemu dikafe dan sedikit mabuk" kata Bima, Zivannya mengangguk tanda mengerti.
"mulai dari saat itu Sita selalu menemui ku dan kita jadi bertambah dekat, dan sering melakukan hubungan itu atas dasar suka sama suka. aku tidak memaksanya melakukan hubungan itu hingga akhirnya dia hamil" jawab Bima, Zivannya diam mendengarkan.
"hingga terpaksa aku menikahinya, tapi itu nggak berlangsung lama, karena dia keguguran dan kami akhirnya berpisah. aku melanjutkan hidupku, dia juga melanjutkan hidupnya, aku akhirnya meneruskan kuliah juga. kami hanya bertahan 6 bulan menjalani pernikahan Zi, aku tidak sanggup untuk menjalani hidup bersamanya" cerita Bima.
"dan jika boleh aku ingin kita kembali dekat seperti dulu, aku masih selalu memikirkanmu, orang tua ku juga masih sering menanyakan kabarmu dan keberadaanmu Zi" kata Bima sedikit pelan, Zivannya menoleh menatap Bima dan tertawa konyol. Aga melihat ekspresi kesal Zivannya yang menatap Bima.
"orang tua yang dulu memaki mamaku karena memiliki anak yang tidak tau diri sepertiku yang mencoba dekat denganmu waktu itu" tatap Zivannya merasakan sakit yang teramat sesak didadanya saat ini mengingat perlakuan mama Bima saat itu.
"orang tua yang merasa anak laki-lakinya paling berharga dan paling tampan sehingga merasa aku tidak pantas untuk bersanding dengan anak laki-laki nya itu" tanya Zivannya tersenyum merasakan kepahitan didalam mulutnya.
"jangan begitu Zi, mereka sudah menyadari kesalahan yang pernah diperbuat dulu" geleng Bima mencoba meraih tangan Zivannya yang berada dimeja. Zivannya menyembunyikan kedua tangannya dipangkuannya. Aga duduk dikursi penumpang melihat Zivannya dari layar ponselnya, sementara anak buahnya mengemudikan mobil dinas.
"baguslah jika mereka menyadari kesalahan mereka pada saat itu. aku juga sudah memaafkan dan mengikhlaskan semua yang terjadi Bima. tapi maaf, aku tidak bisa bersamamu lagi, rasa itu sudah jauh hilang dariku, kita masih berteman. kejadian yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. tidak baik jika kita mengungkit masa lalu" pandang Zivannya sebentar.
"kita bukan lagi anak sekolah yang hanya karena cinta mau berbuat dan mengorbankan apa saja, aku sudah tidak senaif dulu, bukan lagi gadis remaja yang tergila-gila oleh kesenangan sesaat" geleng Zivannya.
"kamu sudah menjalani hidupmu saat itu dengan Sita, aku juga sudah menjalani hidupku untuk meraih masa depan. jalan kita sudah berbeda Bim, aku harap kamu mengerti hal ini tidak bisa dipaksakan. ada hati mamaku yang harus aku jaga, ada hati seorang laki-laki yang juga menantikanku" hembus nafas Zivannya. Aga tersenyum lebar menyaksikan jawaban Zivannya yang membuatnya lega.
"apa pria yang sekarang sedang melihat kita" tanya Bima menebaknya.
"iya, dia yang membuatku merasakan sesuatu yang lebih dari teman" angguk Zivannya.
"kenapa, apakah dia lebih baik dariku" tanya Bima merasa bodoh.
"cih" Aga mendengus pelan. Zivannya tertawa kecil melihat pertanyaan Bima yang menurutnya tidak perlu dia jawab.
"dia menyayangi ku tanpa syarat Bim, apa yang dia punya, itu diberikan hanya kepadaku. hatinya yang baik dia berikan hanya untukku" jawab Zivannya, Aga tertawa lebar merasa diatas angin karena Zivannya mengakuinya juga.
nah lho.... makanya jadi cowok jangan suka mainin perasaan orang donk... ada cowok lain yang menghampirinya, ente kalang kabut... kebakaran jenggot...
hmmm... pingin jadiin berkedel nih cowok....
hai hai hai... all readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1