Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 63


__ADS_3

Ayah tersenyum lebar melihat Aga dan Zivannya menyelesaikan ketidaksamaan pandangan dengan berbicara baik-baik, Zivannya memperlakukan Aga dengan hormat tanpa bermaksud membuatnya tidak nyaman sebagai kepala keluarga.


"dek, jika lulus langsung kejakarta aja, cari kerja disana" kata Ayah menatap Zivannya.


"lha kak Aga mau pindah dinas yah, Zi ngikut kak Aga aja dulu. moga 1 tahun lagi selesai bisa nyusul kak Aga" geleng Zivannya, ayah menatap Aga.


"Zi, masih setahun lagi yah baru selesai. aku beri pilihan yang terbaik untuknya" jawab Aga memeluk Zivannya dari belakang. Ayah mengangkat bahunya, "berapa lama tugas diperbatasan" tanya Ayah, Aga memberi angka tiga dengan jarinya. Zivannya menatap Aga tersenyum.


"semangat by, tugas negara tuh" kata Zivannya, Aga mengangguk mengecup kening Zivannya.


malam hari mereka pergi ketempat makan yang rame dikunjungi. bunda dan ayah selalu ingin menikmati kuliner dimana mereka berkunjung kesuatu daerah, menikmati masa tua.


"udah semua yang" tanya Aga, Zivannya mengangguk.


"kita sampai Sabtu disana berarti tiga hari, penerbangan pulang minggu siang agar tidak terlalu capek saat bekerja nanti" kata Aga, "iya" jawab Zivannya.


"hanya itu aja dek bawaannya. dikit banget" lihat bunda menatap tas jinjing Zivannya. "itu untuk kalian berdua" tanya bunda. "iya bund" tutup Zivannya.


"kita naik taksi aja jadi tidak usah meninggalkan mobil dibandara, kalian nanti pulangnya bisa naik kendaraan umum" kata Ayah, Aga mengangguk.


mereka berangkat segera setelah mendapatkan taksi, tiba dibandara menunggu satu jam untuk delay.


bunda duduk dibelakang bersama ayah, Zivannya memilih didekat jendela. Aga melihat beberapa orang yang masih menaruh bawaannya dibagasi atas.


"yang, kayaknya pramugari itu ngliatin kamu terus" kata Aga, Zivannya memperhatikan dengan seksama.


"itu sita by, istrinya Bima" terkejut Zivannya. Aga menatap Zivannya.


"temanmu yang merebut Bima darimu" ulang Aga, Zivannya memukul bahu Aga pelan.


"tidak ada yang merebut siapa, jika dia tidak melakukannya saat itu apa kamu sekarang akan bersamaku" senyum Zivannya, Aga mengangguk.


"pantesan nggak kliatan waktu kita pulang dan mama nggak ada" ingat Zivannya, Aga menutup matanya.


"tidur yang kalo malam kamu kurang tidur, jangan mikirin masa lalu" gumam Aga, Zivannya mencium pipi Aga, "nggak ada gunanya mengingat masa lalu, tidak ada artinya bagiku. cukup jadi lecutan di masa depan agar lebih bijak menilai orang" kata Zivannya membaca komik.


"tapi ngomong-ngomong by, kamu yang membuatku kurang tidur kalo malam" sikut dada Zivannya, Aga membuka mata dan tersenyum kecil. "tapi kamu suka lho yang, sampai teriak-teriak" bisik Aga. Zivannya tertawa kecil.


"besuk-besuk nggak lagi deh by, kita tidur sendiri-sendiri aja" kata Zivannya, Aga memeluk Zivannya dan memiting kepalanya, Zivannya tertawa pelan. saat akan keluar pesawat sita menghampiri Zivannya.


"Zi, aku turut berduka cita atas kepergian mama mu kemarin. aku tidak pulang karena ada jadwal terbang" kata sita, Zivannya mengangguk.


"terima kasih ta, maafkan segala kesalahan mama ya" jawab Zivannya, "tentu saja Zi, aku juga minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu dan mamamu karena telah menyakitimu" tatap sita, Zivannya terdiam.


"lupakan masa lalu, nggak ada gunanya untuk mengingat yang telah terjadi, kami sudah memaafkan yang telah berlalu" jawab Zivannya.

__ADS_1


"yang" panggil Aga, "by, kenalin sita. istrinya Bima, ini Bagaskara suamiku" senyum Zivannya. Aga hanya mengangguk tanpa bermaksud untuk mendekat ke arah mereka. sita menangkupkan kedua telapak tangan didepan dada tanda memberi salam. Zivannya pamit pada sita untuk melanjutkan perjalanan, sita mempersilahkannya. aga meraih jemari Zivannya dan menggenggamnya erat agar tidak lepas lagi. sita menatap kepergian mereka berdua, ternyata Zivannya sudah memiliki suami yang jauh lebih baik dari Bima, dia bertanya apakah Bima tau kehidupan Zivannya sekarang.


Aga mengambil tas jinjing dan koper kedua orang tuanya untuk dimasukkan ke dalam mobil Dirgantara. "ayah, bunda" salam Dirgantara mencium punggung tangan dan memeluk erat tubuh kedua orang tuanya.


"dek" peluk Dirgantara terhadap aga dan Zivannya.


"nggak ikut kak si kecil" senyum Zivannya.


"sudah pada heboh dek, denger kalian pada datang, sampai kupingku merah" Hela nafas dirgantara, Zivannya tertawa.


"bagaimana tinggal dirumah orang saat KKN kemarin dek, seru nggak, banyak gebetan nih" lihat spion dirgantara, Zivannya tertawa.


"nggak ada kak, masak ada yang mau sama Zivannya" geleng Zivannya menatap keluar jendela.


"ya ..ya...ya... nggak ada yang salah kalo pada suka, mungkin mereka mengira jika kamu masih single" senyum dirgantara memandang Aga, Aga kesal, dirgantara tertawa melihat raut muka Aga.


"bund, liat tuh pawangnya Zivannya" toleh dirgantara sekilas. bunda tersenyum, "kamu kak, emangnya dulu kamu juga nggak seperti adek apa, ada laki-laki lain yang datang kerumahnya Valerie saat kamu kesana aja, mukamu langsung memancarkan aura membunuh" kata bunda. Dirgantara tertawa, "bunda masih ingat aja, padahal udah lama lho bund, pulang pelatihan nggak pulang kerumah langsung menemui Valerie, disana ada laki-laki yang mendekati Vale" kata Dirgantara.


"trus gimana kak" tanya Zivannya ingin tahu, "ya nggak gimana-gimana. disitu cool aja, begitu keluar rumah, habis itu anak. besuknya malah bawa teman-temannya" kata Dirgantara.


"kakak ladenin" tanya Zivannya.


"ya iyalah, dibantu dengan teman-teman. waktu itu Aga masih sekolah kelas satu atau dua dek" toleh dirgantara. "tiga" jawab Aga.


"kak dirgantara dan bang Matahari berkelahi hanya untuk membela wanitanya, kak Aga nggak tuh" kata Zivannya.


"beda dong dek, kalo denganmu itu lebih kondusif untuk mengejar, saingannya bukan dengan laki-laki lain, tapi denganmu sendiri" kata Dirgantara, Zivannya menatap keluar kaca jendela.


tiba dirumah dirgantara, kedua krucil berlarian minta digendong oleh kakungnya. Aga meraih Riki dan menciumi perutnya hingga tertawa geli, Valerie tersenyum dan mencium punggung tangan bunda memeluk erat mertuanya yang baik. "yah" salam Valerie. Zivannya mencium punggung tangan Valerie dan memeluknya.


"aduh yang baru pulang KKN, tambah item dan kurus" lihat Valerie memutar tubuh Zivannya.


"masa sih kak, kayaknya biasa aja" senyum Zivannya, Valerie menggeleng.


"nanti kita perawatan dek, biar kedua krucil ini sama kakungnya. uti ikut kita" kata Valerie.


"sekarang kak" tanya Zivannya.


"iya dek, masih pagi. bunda dan kamu pasti capek dan butuh pijatan, jadi kita berangkat" senyum Valerie.


"aku antar sekalian ma, nanti aku langsung kekesatuan. pulang jam 2" kata Dirgantara, Valerie mengangguk.


"Ayah, dek. kita tinggal dulu ya, pulangnya agak lama. ada mbaknya yang bisa dimintain tolong, Raka dan Riki kalo minta bilang sama Kakung dan om Aga. mama, Uti dan onty pergi agak lama" kata Valerie mensejajarkan tubuhnya dengan Raka dan Riki saat mengajak mereka ngobrol. Raka dan Riki mengangguk dan memberi salam kepada yang lebih tua. "by, pergi dulu" senyum Zivannya, Aga mengangguk.


mereka bertiga segera masuk mobil dan pergi dari rumah dirgantara.

__ADS_1


Valerie membawa keluarganya kesebuah rumah spa milik temannya. Zivannya dan bunda benar-benar dimanjakan oleh pijatan terapis yang handal. badan Zivannya terasa lebih lemas dan nyaman.


"enakan kan dek" kata Valerie. "iya kak, badan Zi dari kemarin terasa kaku banget, pinginnya sih dipijit gini" jawab Zivannya. "kakak rutin kesini" tanya Valerie.


"rutin sih nggak dek, tapi setidaknya 3-5 bulan pasti dipijit, biar badan nggak sakit" geleng Valerie.


"kalo Zi pulang kerumah, sama mama suka dipanggil tukang urut capek" kata Zivannya. "sama dek" senyum Valerie.


selama di Surabaya Zivannya berkeliling dengan naik motor bersama Aga, hingga tidak terasa liburannya kali ini sudah berakhir.


6 bulan kemudian.


Zivannya memakai baju seragam dinas untuk menemani Aga melepas jabatannya dan pindah tugas diperbatasan. Aga membantu istrinya untuk bersiap-siap.


"by, aku nervous" gigit bibir bawah Zivannya, Aga menarik dagu Zivannya kebawah agar tidak lagi menggigit bibir bawahnya.


"ada aku yang, jangan kuatir. hanya seremonial aja" kata Aga tersenyum menenangkan Zivannya. Zivannya menggenggam jemari Aga erat. mereka berjalan keluar apartement, menaiki mobil untuk menuju gedung pusat. Zivannya selalu disamping Aga selama upacara pelepasan dimulai, jika saja Aga tidak dipindah tugaskan maka tidak banyak yang tahu jika Bagaskara sudah menikah dan memiliki istri. banyak yang memberikan selamat kepadanya karena diam-diam sudah beristri dan berhasil menyembunyikannya dari mereka. Aga tersenyum dan selalu menjawab siap jika para seniornya meledeknya. serah terima jabatan telah selesai. Zivannya duduk dengan lelah karena memakai sepatu berhak agak tinggi.


"masih kuat yang" tanya Aga, Zivannya mengangguk dan berdiri.


"kita kemana lagi by" kata Zivannya menyambut tautan jemari Aga.


"kita ke kesatuan sebentar untuk berpamitan dengan yang lain secara resmi" jalan Aga dengan gagah lengkap dengan pakaian dinasnya. Zivannya mengikuti langkah kaki Aga yang memiliki aura yang berbeda. belakangan ini Aga selalu menyempatkan dirinya untuk mengantar dan menjemputnya kuliah dan kemana saja. liburan ke raja empat akan dilakukan setelah serah terima jabatan ini selesai, karena Aga punya cuti liburan selama dua minggu sebelum berangkat ke tempat dinasnya yang baru. Aga selalu memberikan nasehat sebelum tidur jika Zivannya sendirian selama dia bertugas ditempat lain nanti. kebiasaan Aga sedikit berubah, namun Zivannya merasa karena Aga akan jauh darinya sementara waktu dengannya maka dia lebih bersikap manja dan tidak mau jauh darinya.


tiba dikesatuan tempat Aga selama ini, anak buahnya sudah berpakaian lengkap dan melakukan upacara pelepasan Aga ketempat baru dan komandan baru yang akan ditempatkan untuk menggantikan Aga. Zivannya selalu tersenyum menerima jabatan tangan para anak buah Aga beserta istri, bercengkrama dengan para istri-istri yang lain. Aga berjalan ke arah Zivannya dan meraih jemarinya untuk selalu digenggamnya. Zivannya menghela nafasnya setelah prosesi pelepasan jabatan berakhir hingga menjelang sore.


"capek yang" senyum Aga melihat Zivannya, Zivannya menggeleng dan tersenyum "tidak suamiku tersayang hanya melepaskan beban dipundak karena ini acara resmi pertamaku setelah menjadi nyonya Bagaskara" pandang Zivannya, Aga tertawa dan melajukan mobil menuju apartement. "bisakah kita dirumah saja setelah ini, aku hanya ingin berdua saja dengan mu" balik badan Aga sebelum ke bathroom. Zivannya mengangguk menyiapkan baju ganti untuk Aga.


"yang" peluk aga setelah mereka selesai mandi, Zivannya mendongak dan menatap Aga, "jalani hidup dengan baik jika aku nanti pergi" tatap Aga, Zivannya mengkerutkan alisnya heran. "aku kan akan bertugas jauh, jadi kamu harus menjalani hari-hari mu disini dengan baik, agar aku tidak kuatir disana, jarak kita jauh lho yang. aku tidak bisa tiba-tiba datang untuk menemanimu setiap saat seperti biasanya" terang Aga mengelus rambut Zivannya.


"hmmm" dehem Zhivannya, Aga menggelitik perut Zivannya yang tertawa geli. "dengerin omongan bunda dan Ayah, jangan membuat mereka tambah sedih" kata Aga, Zivannya mengangguk dan mencium leher Aga. Aga tersenyum merasakan sentuhan Zivannya yang semakin berani memulai. Aga menyingkap baju Zivannya dan memberikan sentuhan yang memabukkan, Zivannya tersenyum dan mengusap punggung Aga dan melepas t-shirt nya. Aga segera menyerang Zivannya yang sudah siap untuk melakukannya. sepanjang malam mereka tidak tidur.menjelang tengah malam Zivannya memejamkan matanya dan tidur karena kelelahan. Aga mengecup tengkuk Zivannya dan memeluknya erat dan tidur menyusul Zivannya.


pagi hari, mereka melaksanakan kewajiban pagi, Aga memeluk Zivannya yang masih mengenakan mukenanya setelah selesai.


"biarkan aku menikmati moments bersamamu yang, aku ingin seperti ini terus bersamamu" kata Aga. Zivannya melingkarkan tangannya ke pinggang Aga, meletakkan kepalanya didada Aga, "aku berat by melepaskanmu" kata Zivannya lirih, Aga mengecup kening Zivannya lembut "aku tahu" ucap Aga. "ini pertama kalinya kita jauh yang, dalam jangka waktu yang lama dan tidak tau pasti kapan aku akan kembali" jawab Aga, "tidak hanya kendala sinyal saja yang, kemungkinan aku tidak bisa dihubungi juga besar. alat komunikasi juga diminimalisir, aku berganti tugas dengan yang lain bisa satu atau dua bulan tidak bisa keluar, jadi jika kamu disana kemungkinan juga akan sulit bertemu" terang Aga, Zivannya menghela nafasnya panjang. "apa kak mentari waktu itu juga merasakan hal yang sama by" dongak Zivannya, Aga mengecup bibir Zivannya dan mengangguk, Zivannya meraba wajah Aga.


"pulang dengan selamat untukku by" tatap Zivannya lekat, Aga tersenyum.


"berdoa selalu untukku Zivannya Fritscha, maka aku akan dalam perlindungan Nya" senyum Aga menyatukan hidung mereka, Zivannya terdiam memejamkan matanya berat. "pasti by, tanpa kamu bilang aku selalu berdoa untukmu" ucap Zivannya akhirnya. Aga menggoyang pelan tubuh Zivannya hingga Zivannya tertidur dalam pelukannya, Aga tersenyum dan menatap istrinya sesaat, meneteskan airmata tanpa suara sambil menciumi ubun-ubun Zivannya yang masih tertutup mukena.


hai... hai... para readers, dukung terus karyaku ini. biar tambah semangat untuk terus update.


luv....luv....luv U all sekebon pisang goreng untuk terus mendukung karya ini.


terimakasih banyak...

__ADS_1


__ADS_2