Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 152


__ADS_3

Langit mengobrol dengan istrinya saat berjalan menuju ruangan untuk bertemu dengan pimpinan tertinggi dikesatuan Langit. mereka memberi hormat kepada pimpinan tertinggi. "Langit satria Dewantara" senyum komandan tertinggi mendekati Langit, menepuk-nepuk pundak Langit dengan mantap. "ternyata, sudah punya calon istri yang disembunyikan rupanya kemarin" tawa jenderal memandang istrinya yang juga tersenyum. "bagaimana mam" tatap jenderal, istrinya mengangguk, "cantik pap.... ternyata Langit tidak salah pilih, pantes aja kalo ada yang deketin selalu dingin, ternyata ada pawangnya yang lebih cantik rupanya" senyum istri jenderal tertawa. "dan nggak disangka-sangka masih muda banget, masih kuliah Lang" tanya jenderal. "siap, sudah lulus jenderal" jawab Langit cepat. jenderal tertawa lebar mempersilahkan mereka untuk duduk. Zivannya memberikan salam kepada jenderal dan istrinya.


"habis pertemuan dengan ibu-ibu di kesatuan tadi" senyum istri jenderal. "iya ibu, terimakasih atas arahannya" senyum Zivannya mengangguk. istri jenderal tertawa lebar menepuk punggung tangan Zivannya, "anak yang baik, semoga selalu berbahagia dengan nak Langit. dia memang agak dingin tapi anak yang hangat sebenarnya jika sudah mengenalnya dengan baik" pandang istri jenderal, Zivannya tersenyum mengangguk.


"aahhh..... kakiku rasanya tidak bisa digerakkan tadi, lemas" ambruk Zivannya di kursi penumpang. "karisma nya begitu berbeda, aura jenderal memang beda" kata Zivannya. "sama seperti ayah bukan" senyum Langit, Zivannya menoleh. "ayah.... oh iya ya.... ayah kan juga" tepuk kening Zivannya teringat. Langit tertawa lebar mengelus bahu istrinya. "hari ini sampai disini bu" kata Indira, "begitu kah mbak, baik. besuk ada acara apa" tanya Zivannya. Indira memperlihatkan jadwal Zivannya untuk besuk dan besuknya di gadget yang dia bawa.


"baiklah besuk sore saya harus berangkat ke Surabaya kerumah ibu, saya berangkat duluan, bapak masih disini. jadi bisakah saya ijin sampai senin depan" tanya Zivannya. "baik bu, jika nanti ada hal yang penting akan saya beritahukan" angguk Indira sopan. Zivannya mengangguk. "terimakasih banyak mbak, jika ada apa-apa kabari saya atau bapak ya" angguk Zivannya meminum coklat dingin box kecil.


"kenapa kamu jadi suka coklat dingin sekarang" toleh Langit, Zivannya tergelak menatap box kecil coklat dingin Langit. "om Bas belinya ginian semua kak. besuk kalo beli black coffe aja om, mau panas atau dingin nggak masalah, malah kita bisa ngopi bareng" pandang Zivannya, "siap bu" angguk Baskara, "jangan coba-coba Bas, atau aku akan mengirimmu ke bang Matahari" kata Langit menatap Baskara, "baik ndan" angguk Baskara lemas. Zivannya tertawa terbahak bahak melihat Baskara yang serba salah.


"by, terimakasih sudah memberiku pengalaman yang berharga hari ini. terimakasih banyak atas bantuan kalian bertiga hari ini, ketemu besuk lagi" kata Zivannya. "siap bu, sama-sama" angguk mereka segan. "terimakasih doang nih" senyum Langit, "jadi, mau minta apa. apa aku bisa lebih lama di Surabaya nanti" goda Zivannya menaik turunkan alis matanya, "jadi ngelunjak kamu, yang" pandang Langit, "masak... perasaan belum apa-apa lho, yang" naik turunkan alis mata Zivannya, Langit tertawa lebar. "benar....." angguk Langit, "kita langsung pulang kak" toleh Zivannya keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"bentar yang, aku harus mengurus beberapa hal sebentar dengan yang lain" geleng Langit meraih jemari Zivannya agar mengikuti langkahnya, Zivannya mengangguk terpaksa mengikuti langkah suaminya. para abdi negara memberikan hormat kepada Langit saat mereka tiba di halaman tengah. Langit memberikan hormat kembali, acara segera dimulai, hingga Langit harus berbicara. ia memberikan beberapa perintah dan himbauan kepada abdi negara dibawah kendalinya, Zivannya menatap suaminya yang tampak garang dan dingin dihadapan yang lain, sedikit menyunggingkan senyum menatap Langit yang terlihat tampan dan gagah saat memberikan beberapa patah kata.


"hallo bund, hari ini Zi nggak pulang kerumah, besuk pagi ada acara. ini baru mau pulang" kata Zivannya, Langit menoleh tersenyum. "iya sampai besuk padat, hari ini ketemu dengan ibu-ibu kesatuan, pimpinan kesatuan bersama istri juga" angguk Zivannya. "belum, kak Langit baru menyampaikan wejangan buat yang lain barusan" jawab Zivannya "iya, ntar langsung dicuci" tawa Zivannya kecil, "baik bund, salam buat ayah" tutup Zivannya melepas pengikat rambutnya. "kita pulang kak, aku harus segera mandi" toleh Zivannya, Langit mengangguk. mobil tiba digarasi, Langit membantu istrinya melepas seat belt dan segera bergegas untuk masuk kedalam rumah. "yang, aku duluan yang kekamar mandi" lepas sepatu Langit, "tidak mau aku duluan" tutup pintu rumah Zivannya melepas baju seragam istri kesatuan, melepas sanggul kecilnya. Langit menggeram pelan melihat tubuh istrinya yang hanya memakai underwear. "udah berapa kali ku bilang, yang. gimana nanti kalo dilihat orang" peluk Langit dari belakang. Zivannya tertawa kecil.


"pintu sudah aku kunci, jendela tidak dibuka. aku mau membersihkan badanku dulu gerah" lari Zivannya. Langit tersenyum melihat tingkah istrinya itu. ia melepas seragamnya dan menaruh di box laundry. "yang" ketuk pintu kamar mandi Langit. "bentar lagi selesai kak" seru Zivannya tahu jika suaminya mencari kesempatan untuk menyentuhnya. "cepatan, udah kebelet" ketuk Langit, Zivannya tersenyum memakai bathrobe nya dan keluar. Langit menahan tubuh Zivannya agar tidak bergerak, "kak, bersihkan badanmu dulu" pandang Zivannya, Langit tersenyum mengangguk dan segera menutup pintu untuk membersihkan badannya, Zivannya merendam bajunya dan Langit karena besuk sudah harus dipakainya lagi, "yang. nanti kita beli box ajaib pencuci pakaian" pandang Langit mengusap wajahnya dengan handuk wajah.


"tidak usah kak, hanya sesekali saja kan kita mencuci" senyum Zivannya menjemur pakaian. Langit memeluk tubuh istrinya dari belakang, tapi pakaiannya lama kering kalau begini yang" pandang Langit. "beli tirai aja untuk jendela dan pintu untuk keruang tamu, kita lebih membutuhkannya agar tidak langsung melihat kedalam" elus pipi Zivannya. Langit mengecupi leher istrinya dan menyesapnya pelan. "aduh, yang.... lupa, ada bekasnya gimana nih. besuk kamu ada urusan dikesatuan kan" lihat Langit merasa bersalah, Zivannya membalikkan badannya dan melompat membuat Langit menahan pantat nya agar tidak jatuh "ha.... ha.... ha.... berarti aku nggak datang besuk" lingkarkan tangan Zivannya di leher suaminya.


"yang" gusar Langit menatap Zivannya, Zivannya tergelak hingga terhuyung kebelakang melihat suaminya yang panik. "jatuh, yang" kuatir Langit menahan tubuh istrinya lebih erat. "ijinkan aku berarti besuk" tawa Zivannya menatap suaminya, Langit tidak suka mendengar ucapan istrinya jika dia tidak ikut besuk. Zivannya mengecupi bibir suaminya beberapa kali. "yang....." pandang Langit, Zivannya memeluk suaminya. "ada make up yang menyamarkan nodanya nanti by, jangan terlalu kuatir" usap punggung Zivannya. Langit mengangkat tubuh istrinya masuk kedalam kamar mereka, "nggak capek, by" pandang Zivannya sayu, Langit mencium lembut istri nya seraya melepas bathrobe yang masih melekat, mengusap gundukan benda kenyal candu nya.


"luv U more, baby" bisik Langit, "me too dear" kecup kedua mata Zivannya. Langit mempercepat tempo pertempuran mereka saat Zivannya mulai terlihat lebih menggoda. seketika Langit menggeram pelan merasakan sesuatu bersama istrinya. menarik cover bed agar istrinya tidak kedinginan.

__ADS_1


suara ketukan terdengar dari pintu depan, Langit membuka pintu pelan. pagi ndan" salam Baskara berdiri dipintu masuk, "pagi. tunggu sebentar, Zi baru siap-siap" angguk Langit menyeruput coklat panasnya. Baskara mengangguk duduk dikursi teras. "yang" lihat Langit, Zivannya bergerak mendekati suaminya, melihat penampilan suaminya sebelum berangkat bersama. Baskara menghela nafasnya melihat kedua orang yang menjadi atasannya saling memadu kasih. Zivannya tertawa pelan saat melihat raut muka Baskara, "om.... nyari gih. ntar lumutan lho" goda Zivannya, Baskara tertawa pelan membukakan pintu mobil untuk keduanya masuk. "belum waktunya bu, belum ketemu yang pas takarannya kata komandan" lirik Baskara, Zivannya tertawa pelan.


"tanya komandanmu apa dia saat mencari takaran yang pas membutuhkan waktu berapa lama" kata Zivannya. "lumayan lama nunggunya" sahut Langit sembari duduk. "tuh kan om, nyarinya juga harus lebih awal agar nggak kelamaan nunggunya" kata Zivannya. Baskara menghela nafasnya mengangguk. "tapi ngomong-ngomong om, aku merasa nggak nyaman jika kamu memanggilku bu, bolehkah memanggilku seperti biasa aja by" topang dagu Zivannya, Langit menatap istrinya lama. "dia bisa memanggilku dengan sebutan yang sama dengan kakak dan abang" senyum Zivannya, Langit mengangguk. "karena dia yang aku temui pertama kali dikesatuan mu dan memberikan rasa nyaman saat mengenalnya" raih jemari Zivannya.


"hhhmmm....." dehem Langit mengiyakan perkataan istrinya. mereka bertiga tertawa tertahan melihat Langit yang tidak rela istrinya membela Baskara. "aahhh.... kamu memang laki-laki ku, by. selalu menyayangi mu" senyum Zivannya memeluk Langit yang tersenyum lebar mengelus punggung istri nya mengecup pipinya pelan. "adem kalo liat gini" celutuk Tio, Zivannya tertawa kecil. "biasanya gimana mas, kak Langit" penasaran Zivannya. "seram bu, liat aja udah segan" jawab Tio cepat dan segera tersadar karena Langit juga ada didalam mobil. "maaf Ndan, maaf bu" lemas Tio merasa mulutnya terlalu berani. Zivannya tertawa lebar menutup mulutnya melihat Langit yang terdiam. "don't be angry my husband, U always be my best man. aku lebih senang melihatmu begitu dengan orang lain, terlihat lebih menarik dimataku" raih jemari Zivannya Langit tersenyum menatap paras istrinya yang menyejukkan hati nya, Zivannya ditemani Indira dan Tio menuju ketempat pertemuan. Langit menuju ke pusat kesatuannya untuk berkoordinasi dengan pimpinan pusat.


"yang, udah selesai" tanya Langit menatap layar ponselnya. "belum by, masih mendengar pengarahan ketua" jawab Zivannya. Langit menghela nafasnya panjang. "sampai jam berapa" tanya Langit. katanya jam 2 an" jawab Zivannya, Langit mengangguk. "nanti pulang bareng. aku akan kesana" jawab Langit, Zivannya tersenyum mengangguk mematikan panggilan segera. "kenapa jadi dia yang lebih sibuk dariku" hela nafas Langit. "apa dia akan bertahan ya Bas" toleh Langit. "harusnya ndan, tapi kelihatannya Zi menikmati peran barunya, dia pandai membawa diri ndan" angguk Baskara, "hmmm..... itu yang terkadang membuatku kuatir, Bas. dia memang tidak gampang terpesona dengan laki-laki lain. tapi justru laki-laki lain yang terpesona padanya" usap dagu Langit. Baskara tertawa pelan. "komandan bercanda kan, memangnya Zivannya tidak berpikir yang sama apa" kata Baskara. Langit menoleh cepat, "apa Zivannya yang mengatakannya" tanya Langit penasaran. "terkadang gumaman perempuan membuat kita tahu banyak hal" angguk Baskara. Langit tertawa pelan. "tidak heran kamu bisa menjadi temannya disaat ini Bas" tepuk bahu Langit pelan. "tapi tetap saja dia memanggilku om" hembus nafas Baskara, mereka tertawa lucu.


"by"peluk Zivannya sesaat turun dari mobil disambut suaminya. "capek, yang" usap punggung Langit. "iya, yang. ingatkan aku untuk meminum vitamin" angguk Zivannya, Langit mengangguk mengecup kening Zivannya lama. "aahh.... lebih capek mana dengan mendaki" jalan Langit, "sebelas dua belas, by" senyum Zivannya menatap Langit suaminya. "lebih seru mana" tanya Zivannya, "dua-duanya. karena bertemu dengan orang-orang baru jadi merupakan pengalaman yang berharga" jawab Zivannya "memutuskan memakai sneakers warna hitam semua" pandang Langit. Zivannya memperlihatkan sepatu yang tertutup dengan rok panjang nya. "apakah terlihat, by" tanya Zivannya. "tidak" geleng Langit, Zivannya mengapit lengan suaminya. "terimakasih, by. membuatku merasa lebih baik" senyum Zivannya mengusap pipi suaminya, Langit tersenyum lebar.


hai..... hai.... hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


luv.... luv......luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2