
Zivannya keluar ruangan disambut dengan suka cita oleh keluarganya yang menunggunya diluar, Zivannya tersenyum lebar melihat ayah dan bundanya yang dengan sabar menantinya selama pengujian, mencium tangan kedua orang tua suaminya dan memeluk mereka erat, mentari dan Rara memberi pelukan hangat atas keberhasilannya, Rara membawa buket makanan ringan untuk keberhasilan Zivannya yang tertawa lebar menerima buket itu.
"makasih banyak, kalian sungguh menghabiskan banyak uang untukku" peluk Zivannya, Rara tersenyum senang. Dimas memberikan selamat kepadanya.
"dek udah selesai kan sidangnya, makan yuk bunda laper. tadi ikut deg-degan sekarang udah lega rasanya" senyum bunda, Zivannya mengangguk mengiyakan. mereka segera beranjak meninggalkan Selasar kampus. "Zivannya" seru seseorang yang berlari kecil menuju ke arah mereka, mereka menoleh kearah suara.
"selamat atas perjuanganmu barusan, jika bisa pertimbangkan lagi untuk menjadi asistenku dan lanjut S2" kejar Regan.
Zivannya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. Rara mendekat dan berbisik pelan kepada Regan. Regan terkejut sesaat dan menundukkan kepalanya memberi salam kepada kedua orang tua Zivannya.
Ayah tersenyum lebar menepuk bahu Regan pelan. "terimakasih anak muda, telah menghargai anak kami dalam belajar. kita tunggu saja apa nanti jawabannya, nah sekarang biarkan kami untuk merayakan keberhasilan anak kami sebentar" kata Ayah, Regan mengangguk hormat dan menepi untuk mempersilahkan mereka pergi. Regan menghembuskan nafasnya panjang, menatap kepergian Zivannya dan keluarganya hingga tidak terlihat lagi.
"apa itu dosen muda yang dibilang bang matahari" tanya Mentari ingin tahu, Rara mengangguk.
"iya, dia memang baru dua kali ini bertemu dengan Zivannya, tapi sudah mantap banget menginginkan Zivannya untuk membantunya" jawab Rara.
"bund, mau makanan yang seperti apa" toleh Zivannya, masakan apa aja deh dek yang penting dekat" kata bunda, Zivannya mengangguk. "kita ke kantin aja bund, makanan apa aja ada, pake gerobak lagi. berjejer-jejer" senyum Zivannya. bunda memberi tanda Ok.
Dimas dan Rara segera melangkah lebih dulu ke arah kantin, agar keluarga Zivannya mengikuti dari belakang. Ayah antusias melihat suasana kampus saat menyantap makanan yang berjejer rapi di area kantin. "dek, Aga sering makan disini" tanya Ayah, Zivannya mengangguk. "iya yah, seringkali tiba-tiba datang, kalo nggak Zi yang kesana" jawab Zivannya.
"ketemu dengan dosen muda tadi nggak" tanya bunda kepo, "Zi baru ketemu setelah ikut kelas Rara Minggu kemarin bund, jadi kak Aga juga belum pernah ketemu. kemarin waktu bang matahari kesini, Rara dan Zi baru keluar dari kelas dia" jawab Zivannya.
"kalo adek nggak pulang, banyak yang ngira kamu masih single dong" tawa mentari.
"emang dulu kakak waktu abang tugas, pasti banyak yang mengira masih sendiri kan" goda Zivannya, mentari kembali tertawa.
"banget dek. kadang bunda sampai kesel sendiri. sama kayak kamu waktu bunda ajak pergi" angguk bunda.
"besuk ngajak Rara aja bund, biar aman" celutuk Rara. "aahhh.... bisa tuh, kalo adek pulang ikut aja dong biar tambah seru, kak mentari terkadang udah sama Abang, jadi bunda nggak ada temennya" angguk bunda.
"kakak manggil nih" kata mentari menerima video call dari Dirgantara, mentari meletakkan disudut agar semua kelihatan.
"waa.... waa... lengkap nih, aku nggak diajak" tawa dirgantara melihat mereka semua.
"aisshhh.... makan bakso lagi, nggak ngajak-ngajak" tatap Dirgantara seksama. bunda menyodorkan sendok berisi bakso bulat ke depan kamera mentari.
"bund, tega banget sama anak sendiri. makan bakso dipamerin lagi" tawa dirgantara sambil mengecek berkas.
"kerja melulu, liburan dong" goda Ayah, Dirgantara tertawa tambah lebar. "baik jenderal, ijin satu bulan lagi mau cuti dua hari untuk menghadiri wisuda adek" hormat Dirgantara, "diterima" angguk-angguk Ayah sambil memakan baksonya.
__ADS_1
"ayah udah berapa mangkuk tuh" lihat Dirgantara. ayah memberi dua jari tangannya keatas. dirgantara tertawa lebar.
"abang manggil nih kak, aku bilang biar join grup aja ya sama kakak" perlihatkan layar Zivannya pada mentari, mentari mengangguk dan beberapa saat kemudian menambahkan matahari kedalam percakapan dengan mereka.
"bang..."seru Dirgantara. "waahhh... kakak udah duluan" tawa matahari, dirgantara tertawa.
"selamat dek, udah selesai sidang, sidang pra nikah udah, sidang kuliah udah. tinggal wisuda dan resepsi nih" goda matahari, mereka tertawa lebar. Rara yang melihatnya tertawa senang. "nggak nyangka Nemu keluarga yang begini rukunnya, coba kalo mama dan papa kayak mereka" gumam Rara, "kamu kan ada aku, belajar jadi istri yang baik mulai sekarang. maka kamu akan terbiasa untuk membimbing anak-anak kita menjadi lebih baik dari kedua orangtuamu" senyum Dimas. Rara menatap Dimas.
"seandainya kita nggak bisa sama-sama lagi apakah kita bisa bertiga seperti sekarang dim, kita nggak tau apa yang nanti akan terjadi bukan" kata Rara, Dimas terdiam lama. "mungkin kita nggak seperti sekarang, tapi setidaknya kita masih bisa bertemu hanya untuk bertegur sapa" kata Dimas tidak tahu harus berkata apa. Rara manggut-manggut
"Tuhan pasti punya rencana, jika rencana kita tidak seperti yang Tuhan rencanakan" kata Dimas, Zivannya menepuk bahu Dimas.
"jalani saja, berjodoh atau tidak itu tangan Tuhan yang bergerak" senyum Zivannya.
"apapun itu Zi, apakah kamu sanggup" tanya Rara. "mungkin aku tidak akan sanggup Ra, terkadang tangan Tuhan yang membantuku untuk tegak berdiri. Tuhan adalah tempat menyandarkan seluruh duka dan lara serta bahagia" kata Zivannya menatap langit sesaat sebelum melihat Rara kembali. bunda mengelus punggung Zivannya.
"benar, terkadang hati tidak dapat menerima tapi Tuhan tahu yang terbaik disaat kita tidak mampu sekalipun" senyum bunda.
Ayah menerima panggilan dari ponselnya dan segera menjauh dari keluarganya, Ayah memandang Zivannya dan istrinya bergantian tanpa kata, menarik nafas panjang dan mendekat kearah Mentari.
"kak pinjam ponselmu sebentar" kata ayah bergetar. mentari berkerut menatap ayahnya dan segera mengambil ponselnya walau sedang ada dalam panggilan dengan suami dan kakaknya, ayah segera menjauh dari mereka.
"kenapa bund" tanya Zivannya, bunda menggeleng "nanti ayah akan bilang" senyum bunda. mentari samar-samar mendengar pembicaraan ayah dan kedua putranya itu.
"kenapa yah, siapa yang terluka" kata mentari dibelakang ayah yang segera menoleh terkejut melihat kehadiran putrinya, dari layar ponsel terlihat Matahari dan Dirgantara sedang melakukan panggilan kepada orang lain. ayah memegang pundak mentari lembut.
"adek tertembak dibagian dadanya, kita belum tahu pasti bagaimana kejadiannya dan bagaimana keadaannya sekarang. ayah meminta bantuan kedua anak laki-laki ayah untuk segera membawa adek pulang. ayah juga menggunakan kekuatan yang ayah punya untuk segera melakukan evakuasi" pandang ayah. mentari membuka matanya lebar mendengar perkataan ayahnya yang seperti sambaran petir.
"kita tunggu dulu situasinya sebelum memberitahu bunda dan adikmu Zivannya, ayah tahu mereka kuat tapi kita tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada Aga" kata Ayah. Mentari mencari pegangan agar dirinya tidak jatuh dan menimbulkan kepanikan.
"kapan kejadiannya yah, bagaimana dengan adek" tanya mentari bergetar hebat dan mulai menangis, ayah memeluk putrinya erat dan menahan nafasnya untuk meredam hatinya.
"dini hari, mereka terlibat penembakan dengan pemberontak dan mengakibatkan beberapa orang luka parah termasuk adek" elus kepala Ayah.
"ahhhh... "tangis mentari seketika.
"yah, kita mau pulang" hampiri Zivannya. ayah mengangguk dan tersenyum.
"ayo kita pulang dulu" senyum Ayah memeluk kedua putrinya.
__ADS_1
"kenapa kak, kenapa menangis. apa kak mentari sakit, kita kerumah sakit sekarang ya" tanya Zivannya memegang bahu Mentari kuatir, mentari menggeleng dan memeluk Zivannya erat dengan deraian airmata yang tidak dapat dibendung lagi.
"ayo kita kemobil sekarang. tidak baik jika dilihat banyak orang" kata ayah. Zivannya mengangguk dan membawa mentari menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari kantin.
ayah berbicara dengan Dimas sebentar yang seketika membeku mendengar ayah Aga berbicara dan mengangguk segera.
"Zi, ikut aku bentar, biar mobil dibawa kak Mentari, dia tahu jalan pulang kerumahmu, mau mengantar ayah dan bunda sebentar" tergesa-gesa Dimas.
"kenapa kita nggak ikut aja dim, kan biasanya bunda juga ngajak" kerut Zivannya nggak ngerti. Dimas menggeleng dan mengambil kunci dari tangan Zivannya, berlari menyerahkannya kepada mentari.
"titip Zivannya sebentar ya dim, jangan biarin dia sendiri dulu" hapus airmata Mentari. Dimas mengangguk dan segera menghampiri mobil Rara kembali. Dimas melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya.
"kenapa dim, nggak usah ngebut dong, kayak ada yang mau lairan aja" sungut Rara. Dimas melirik Rara sekilas dan segera menuju bukit yang sepi karena hari itu hari biasa dan banyak orang yang bekerja.Dimas berhenti ditepi bukit dan keluar membuka pintu untuk kedua sahabatnya itu.
Zivannya menghirup udara yang segar. "ahhhh.... jadi kangen naik gunung nih" kata Zivannya merentangkan tangannya lebar-lebar. Dimas memandang Rara yang menatapnya seperti bertanya ada apa. Dimas meraih jemari Rara dan juga jemari Zivannya. Zivannya terkejut dan menatap Dimas yang tidak pernah begini sebelumnya.
"ada apa dim, tumben kamu romantis gini" goda Zivannya. Rara tertawa pelan. Dimas menatap keduanya dengan tatapan yang sulit ditebak.
"maafkan aku Zi, tapi aku sungguh tidak bermaksud kurang ajar" kata Dimas, Zivannya mengangguk menatap Rara yang manyun.
"isshh.... kalo diliat orang dikira kita poligami tau nggak, untung dikamu berat dikira ya Zi" celutuk Rara, Zivannya manggut-manggut. Dimas menggenggam jemari mereka berdua lebih erat lagi.
"auuu.... dim sakit nih jariku kalo kamu pegangnya kenceng gini" ringis Rara mencoba melepaskan tautan jemari Dimas.
"Zi, kak Aga terkena luka tembak dini hari tadi" ucap Dimas sedikit keras sambil menatap Zivannya.
Rara membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan jemari tangannya yang bebas. Zivannya menatap Dimas dengan pandangan yang penuh dengan sejuta pertanyaan. Dimas menjelaskan dengan panjang lebar apa yang ayah Aga katakan tadi sebelum berangkat.
Zivannya tertawa kecil sambil menangis. "kamu sedang bercanda kan dim, nggak lucu lho. beneran, nggak lucu sama sekali, garing tau nggak dim" pandang Zivannya. Dimas menggeleng lemah menatap Zivannya lekat. Rara seketika lemas dan terduduk dengan memeluk kedua lututnya. Dimas menaikkan tubuh Rara dan memeluk kedua dengan erat.
"maafkan aku jika aku harus membawa kalian kesini, maafkan aku jika ini tidak nyaman untuk kalian. tapi hanya ini yang bisa kulakukan" kata Dimas, Zivannya menangis tanpa kata, tubuhnya seketika ambruk, Dimas dan Rara segera menopang tubuh Zivannya.
hai...hai....hai.... all readers... terimakasih atas dukungannya.
selalu dukung terus karyaku ini, dengan dukungan kalian semua maka aku tambah semangat untuk terus update....
"luv....luv...luv... U all sekebon pisang...
terimakasih atas dukungan dan like nya...
__ADS_1