Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 139


__ADS_3

Zivannya segera memakan makanan yang dipesan lewat aplikasi online tadi dengan sedikit cepat karena lapar sambil melihat ponsel dan mengecek beberapa chat dan media sosial miliknya, ia mengerutkan keningnya saat melihat media sosial Langit yang memperlihatkan dirinya sedang sakit tadi malam. beberapa komentar yang ditinggalkan memberinya doa untuk segera sembuh dengan berbagai emoticon lucu, Langit hanya membalas dengan jawaban iya, tanpa kalimat lainnya. Zivannya tertawa kecil melihat balasan komentar mereka yang kesal terhadap jawaban langit. Zivannya memberi emoticon hati.


Zivannya melihat panggilan video dari Arka. "hallo Ka" salam Zivannya melambaikan tangannya.


"apa kamu sakit" tatap Arka, Zivannya mengangguk sambil mengunyah makanannya.


"habis tiba di Jakarta demam, karena terlalu capek jadinya badan melarang untuk bepergian dulu" jawab Zivannya tersenyum.


"apa kamu dirumah sendirian, keluarga kak Dirgantara udah berangkat" tanya Arka melihat Zivannya yang sedang makan.


"hmmmm... tadi pagi abis sarapan, barengan kak Langit berangkat dinas juga. tadi malam dia yang njagain jadi sekalian ngantar paginya" angguk Zivannya, Arka terdiam sesaat.


"apa kamu akan segera menikah dengannya Zi" pandang Arka, Zivannya menatap Arka balik.


"iya, dia sudah mengajukan lamaran ke keluarga Triastomo minggu lalu tanpa aku tahu.... hanya aku yang tidak tahu sedang yang lain sudah mengetahuinya lama" jawab Zivannya tenang. Arka menatap Zivannya lama.


"apa kamu sungguh-sungguh mencintainya Zi" ulang Arka, Zivannya tersenyum.


"apa ada keharusan aku untuk tidak menyayanginya Ka" tatap Zivannya, "aku udah pernah bilang kan, hanya dia yang bertahan disaat melihatku hilang akal sehatku, saat aku tiba-tiba menangis, tiba-tiba berteriak. itu sudah membuatnya lebih dimataku Ka" senyum Zivannya.


"apa jika aku memilih laki-laki lain, keluarganya akan menerimaku dengan baik dan tidak mengungkit bahwa aku dulu pernah menikah. apapun alasannya orang lain hanya akan mengatakan aku sudah menikah untuk kedua kalinya, apa mereka mau tau kenapa aku bisa menikah untuk kedua kalinya. anggapan mereka adalah aku yang tidak baik bukan, aku bukanlah tipikal perempuan baik-baik sehingga menikah kembali, mereka tidak mau tahu kalo aku menikah lagi karena ditinggal selama-lamanya oleh suamiku saat bertugas. tidak kan...." senyum Zivannya. Arka menghela nafasnya panjang.


"maafkan aku Zi, aku benar-benar minta maaf" pandang Arka nanar.


"hey.... apaan sih Ka, kamu adalah teman baikku. aku malah berterima kasih kepada mu karena kita bisa berbagi cerita, aku yang harusnya meminta maaf karena kamu dekat denganku membuatmu tidak dekat dengan perempuan lain. aku benar-benar minta maaf" lambai tangan Zivannya dilayar ponselnya.


"no matter what happens we will forever be best friends Ka, kak Langit tidak mempermasalahkannya. sepanjang aku bisa menjaga diri maka aku boleh berteman dengan siapa aja" senyum Zivannya. Arka tersenyum menatap Zivannya.


"are U happy now with all of this" tanya Arka, "nope" geleng Zivannya.

__ADS_1


"do you feel peace now Zi" senyum Arka. "I feel calmer in my heart Ka, is it Ok for U" hembus nafas Zivannya. Arka mengangguk. "aku senang telah mengenalmu Zivannya Fritscha, senang telah dekat dengan seorang gadis yang tidak hanya cantik parasnya tapi juga cantik hatinya" kata Arka. Zivannya tergelak sesaat.


"it it's an honor for me to know you too and be one of U best friends" angguk Zivannya, Arka tersenyum lebar mengangguk. "apa Rara masih disana" tanya Arka, "cie... cie... cie.... kayaknya ada yang suka nih" kata Zivannya menaik turunkan alis matanya. Arka tersenyum kecil.


"hanya bertanya sambil lalu aja Zi, kemarin dia ngobrol banyak denganku jadi sedikit banyak kita bertukar cerita" geleng Arka, "tentu, aku senang jika kedua sahabatku bisa saling mengenal satu sama lain jika ada kecocokan. entah itu dengan Dimas atau denganmu jika berjodoh pasti akan bertemu bukan" senyum Zivannya, Arka tersenyum membalas senyuman Zivannya.


"yang" seru Langit mencari sosok Zivannya yang dipanggilnya dari tadi tapi tidak ada jawaban darinya, dicarinya didua kamar yang ada dirumah, diruang belakang namun kekasihnya tidak tampak. ponsel Zivannya tergeletak didalam kamar, Langit bergegas keluar dan melihat sekeliling rumah mencari Zivannya. dilihatnya Zivannya sedang berbincang dengan dua orang istri abdi negara lainnya.


"yang" sapa Langit pelan. mereka menoleh cepat segera mengangguk memberi salam hormat kepada atasan suami mereka. "saya pulang dulu kak. makasih atas waktunya" senyum Zivannya menatap kedua perempuan yang telah menemaninya mengobrol dari tadi. Zivannya menghampiri Langit dan mencium punggung tangannya. "kenapa nggak bilang kalo udah pulang, ini jam berapa kok udah pulang aja" tanya Zivannya, Langit tersenyum. "ponselmu ada dikamar, dari tadi aku juga mengirim pesan tapi nggak kamu balas, taunya ngobrol bareng ibu-ibu kompleks" toleh Langit menatap kekasihnya. "bosen tidur melulu, iseng tadi bersihin tanaman, ada ibu-ibu yang mendekat trus ngobrol dan diajak main kerumahnya. daripada sendirian, mending ngobrol bersama mereka" jawab Zivannya.


Langit melepas sepatunya dan berjalan masuk kedalam rumah, Zivannya membawa sepatu Langit masuk dan menaruhnya di rak sepatu yang ada disebelah pintu masuk. ia segera kebelakang untuk membuat coklat panas untuk Langit. "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh "apa sih kak" tanya Zivannya mengeluarkan roti basah dari dalam box pendingin. "adakah barang yang kamu perlukan lagi didalam rumah, kita akan tinggal disini agak lama. jika tidak ada tugas mendadak lainnya seperti bang Matahari" tanya Langit, "ini sudah cukup bagiku kak, kita hanya berdua, jadi nggak usah banyak barang" geleng Zivannya, Langit menatap Zivannya. "apa kamu nggak memerlukan box pencuci pakaian" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "belum perlu banget kak, jika sudah waktunya nanti kita beli. untuk sekarang biarkan seperti ini dulu" kata Zivannya, Langit duduk dan menyeruput coklat panas buatan Zivannya. "aku nggak mau melihatmu capek mengerjakan sesuatu, yang" elus kepala Langit. "kamu selalu membuatku capek dalam hal lain kak" pandang Zivannya, Langit tergelak. "itu capek yang membuat imun tubuh meningkat dan membuatku semangat, yang" makan cemilan Langit.


"tadi Arka menghubungiku menanyakan apa aku sakit setelah pulang dari Surabaya, dia sudah tahu jika kamu melamarku minggu lalu dan menanyakan apa aku bahagia dengan semuanya" pandang Zivannya, Langit menghentikan makannya dan menatap kekasihnya lekat.


"aku bilang jika aku merasa lebih tenang saat ini, jauh lebih kalem jika ada kak Langit. karena hanya kakak yang tetap berada disaat aku berteriak kesakitan, menangis dalam diam" senyum Zivannya, "dia bilang apa" pandang Langit.


"apa dia tau kita akan segera menikah" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "tentu kak, tapi dia nggak bisa janji apakah akan datang atau tidak nantinya. jika bukan hari libur maka akan sangat sulit datang" jawab Zivannya, Langit mengangguk.


"aku senang kamu mau bercerita kepadaku jika ada temanmu yang menghubungimu" elus punggung tangan Langit, "terkadang aku pikir itu bukan apa-apa kak, asalkan aku tidak menanggapi berlebihan" jawab Zivannya.


"aku ingin kamu menceritakan harimu selalu kepadaku, agar aku tau kamu baik-baik saja jika tidak ada aku bersamamu" elus kepala Langit, "hmmm... " angguk Zivannya. "apa kakak selalu menantiku untuk mengatakannya" tanya Zivannya, Langit mengangguk meminum coklat panasnya.


"he em... aku selalu menunggumu untuk bercerita banyak hal mengenai hari yang kamu lalui saat itu. serasa aku menjadi bagian dari harimu, apalagi jika kita tetap terhubung saat kita sama-sama melakukan aktifitas yang berbeda" jawab Langit, Zivannya mengerutkan keningnya sesaat.


"apa bukan karena kakak tidak suka aku dekat dengan laki-laki lain" jawab Zivannya, Langit tertawa mengangguk. "itu alasan utama, tapi setidaknya aku bisa melihat kebahagiaan mu saat berkumpul bersama teman-teman mu saat itu. itu membuatku merasa berarti, yang" jawab Langit, Zivannya menatap Langit lekat. "sebegitu pentingnya kah aku" senyum Zivannya, Langit tersedak.


"penting lah, siapa bilang nggak penting sih, yang. kamu yang membuatku untuk menatap perempuan lebih lama, yang membuatku tidak bisa tidur, yang memiliki magnet kuat agar aku tidak bisa jauh darimu" kata Langit tersenyum. "masa" majukan bibir Zivannya.


"jangan mancing-mancing, yang" sodorkan coklat panas Langit, Zivannya menyeruputnya pelan. "panas" geleng Zivannya menutup mulutnya sedikit terbakar. Langit menyingkirkan tangan Zivannya dan meniupnya.

__ADS_1


"maaf, yang" usap-usap bibir Langit, Zivannya mengangguk tersenyum. "kita mau kemana nanti malam" pandang Langit, "hmmmm rumah.... rumah.... rumah.... lebih seneng dirumah aja" geleng Zivannya, Langit menghela nafasnya. "padahal aku berencana mau ngajak nonton lho, yang. pengen seperti pasangan lain yang ngajak nonton kekasihnya" jawab Langit lesu. "kalo gitu, ayo. kenapa nggak bilang aja ngajak nonton. aku kira kakak pingin dirumah karena selalu kerja pasti capek kan pingin istirahat dirumah aja" anjak Zivannya, "mau kemana, yang" tanya Langit menatap Zhivannya. "membersihkan diri, kan mau diajak nge date. masak bau asem. nggak asik dong nanti nggak bisa larak lirik cowok-cowok ganteng" naik turunkan alis mata Zivannya menggoda Langit.


"aku potong aset cowok itu jika berani mendekatimu" kata Langit sarkas. Zivannya melambaikan tangannya menuju kebelakang untuk membersihkan dirinya. "udah kak, gantian gih biar nggak kelamaan perginya" pandang Zivannya yang memakai bathrobe, Langit memandang Zivannya. "ingatkan aku untuk membeli tirai agar tidak terlihat dari luar jika kamu memakai itu" kata Langit. Zivannya nyengir menyengkeram bathrobe nya. "maaf kak, aku akan lebih berhati-hati" kata Zivannya, Langit menggeleng "tidak, yang. aku yang terlalu mengkhawatirkan mu. aku nggak mau mereka melihatmu dalam keadaan apapun" usap pipi Langit.


"aahhh... baiklah. aku lupa kakak terlalu posesif" kata Zivannya berlalu menuju kamar, "yang" panggil Langit. "handukmu udah ada dikamar mandi kak" lambai tangan Zivannya membiarkan panggilan Langit. Zivannya segera melihat pakaian yang akan dikenakannya yang ada di almari Langit.


"yang, pakaianku" buka kamar Langit, Zivannya memperlihatkan pakaian yang ada ditepi ranjang. "nggak usah keluar, tutup mata sebentar" tutupi handuk Langit di paras Zivannya yang tersenyum memegang handuk Langit agar tidak jatuh.


"naik apa kak" tanya Zivannya disela-sela Langit berganti pakaian. "naik kendaraan roda dua lebih asyik kan, yang. nggak terlalu lama dijalan karena ini Sabtu malam, jadi pasti banyak yang keluar" kata Langit, Zivannya membuka handuk Langit. "aku lupa, ini Sabtu malam. berarti sangat rame nanti dijalan" tersadar Zivannya. "hmmmm...." dehem Langit merapikan t-shirt kerah polonya. "kamu terlihat ganteng, yang" tepuk Zivannya di dada Langit tersenyum. Langit menahan tangan Zivannya, menarik pinggangnya dan mencium lembut bibir kekasihnya.


"jika diteruskan maka kita nggak akan jadi nge date lho kak, kamu akan tambah susah untuk berjalan dan aku akan berantakan kembali" sugar rambut Zivannya dikepala Langit yang cepak. "isshhh.... godaannya terlalu dalam" tiup nafas Langit diparas kekasihnya. Zivannya tertawa kecil mengambil jaket kulit miliknya dan Langit yang ada dibelakang. Langit memakaikan helmet Zivannya dan merapikannya menaiki motor dan mulai melajukan motor setelah Zivannya naik dibelakangnya.


"malam ndan, selamat bersenang-senang" salam penjaga pos. Langit membalas salam penjaga,


"agak malam pulangnya" senyum Langit. "siap ndan" salam nya, langit melajukan motor lebih cepat mereka berkendara lumayan jauh ke pusat keramaian anak muda. Langit melepas helmet Zivannya, merapikan anak rambut kekasihnya agar rapi kembali. melepaskan helmetnya dan jaket kulitnya merapikan dimotor dan meraih jemari Zivannya untuk membawanya kedalam pusat keramaian.


Langit melihat kedepan untuk mencari jalan yang tidak terlalu padat oleh pengunjung. Zivannya lebih banyak melihat sekeliling untuk melihat apa saja yang menarik perhatiannya, "yang mau makan dulu nggak" toleh Langit menatap Zhivannya. "kakak lapar" tanya Zivannya. Langit mengangguk, Zivannya memutar kepalanya mencari tempat makan yang nyaman. "kita kelantai atas aja kak, lebih nyaman kayaknya untuk kita makan" isyarat Zivannya melihat kelantai atas. Langit mengangguk dan melangkah menuju box ajaib yang akan membawa mereka ke lantai atas.


setiap mata yang beradu menatap mereka penuh kasih, setiap lirikan mata menaruh asa untuk mencoba menarik hati, setiap kedipan mata mencoba untuk melihat dengan diam-diam penuh kekaguman. Zivannya tidak peduli dengan tatapan mereka, kebiasaan untuk tidak menghiraukan pandangan yang melihatnya begitu membuat batin dan raganya sudah terbiasa dan tidak lagi merasa seperti orang yang berasal dari planet luar. Langit meraih pinggang Zivannya untuk lebih merapat ketubuhnya agar tidak merasa sendiri, Zivannya tersenyum mengerti kekasihnya memberinya kehangatan dan kasih sayang agar dia tidak merasa sendiri.


mereka tiba di dua lantai dari bawah untuk makan terlebih dahulu sebelum menonton di bioskop yang terdapat dilantai atas gedung keramaian. Zivannya melihat menu dan menanyakan nya terlebih dahulu apakah Langit mau dengan makanan yang dipilihnya, Langit mengangguk mengiyakan, mereka mengobrol sambil menunggu makanan yang mereka pesan. "kak jadi beli tirai untuk menutup rumah" pandang Zivannya, Langit mengangguk. "kita membeli setelah nonton di bioskop" angguk Langit.


"keburu tutup retailnya jika kita nonton dulu" topang dagu Zivannya di meja. Langit mengelus punggung Zivannya pelan berulang kali


hai...hai...hai.. all readers terimakasih banyak telah berkunjung untuk membaca karyaku. terimakasih atas dukungannya selama ini.


luv.... luv.... luv.., U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2