
Aga tersenyum menatap bundanya, Zivannya beranjak dari tempat duduknya menuju kamar untuk membersihkan dirinya, Aga menyusul Zivannya yang masuk kamar, bunda geleng-geleng kepala melihat sikap Aga, "sekalinya ketemu jodohnya, posesifnya kebangetan yah, nggak nyangka anak yang dulunya cuek banget bisa bucin gitu" pandang bunda.
"gaul banget nih bunda tau bucin segala" peluk Dirgantara. bunda tertawa mengelus rambut Dirgantara.
"keseringan ngumpul ama mak-mak kompleks yang suka liat tik-tuk an" jawab bunda, Dirgantara tertawa lebar.
"buat konten ntar bund sama kakak dan adek" duduk Mentari, bunda terdiam sebentar, "ide bagus kak untung diingetin, mumpung lengkap nih" angguk bunda bersemangat. Dirgantara mengacak rambut Mentari gemas.
"kebanyakan ide sih" manyun Dirgantara. Mentari tertawa lebar.
"nanti sekalian pas kita pakai pakaian yang beda-beda bund, kan jadi lebih kreatif, kayak gini bund" perlihatkan Mentari, bunda melihat dengan seksama.
"ok, siapa takut, nanti sebelum kita berangkat buat dulu, setelah ganti baju kita lakukan lagi" senyum bunda, Mentari tertawa mengangguk.
"pusing aku" jauh Ayah menuju kamar, bunda geleng-geleng kepala, "terima beres aja yah, santai" seru bunda, Ayah memberi tanda dengan ibu jarinya untuk Ok. Mentari dan Dirgantara tersenyum melihat ayah dan bundanya yang selalu memberi kehangatan.
"yang" ketuk Aga dipintu kamar mandi, Zivannya membuka pintu sedikit, memperlihatkan kepalanya saja.
"ada apa by" pandang Zivannya heran.
"ada yang menyentuhmu nggak tadi" pandang Aga, Zivannya mengkerutkan keningnya, menggeleng. "tidak ada yang terlalu dekat, it's ok" jawab Zivannya, Aga menghela nafas tenang.
"beneran kan, nggak ada yang nyentuh" ulang Aga, Zivannya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda tidak terjadi apa-apa. Aga mengangguk dan berbalik agar Zivannya meneruskan mandinya.
"by, nggak mandi nanti ada acara kan" kata Zivannya keluar kamar mandi.
"nanti aja kalo pulang, gerah lagi nanti" kata Aga melihat ponselnya.
"serius amat, kayak dapat undian" dekat Zivannya, Aga meraih tubuh Zivannya dan memeluknya erat. "kangen tubuhmu, yang" dusel Aga diperut Zivannya.
"lha ini lho udah deket gini, kangen apaan. orang tiap hari juga udah nempel aja" kata Zivannya, Aga menciumi perut Zivannya.
"kangen yang itu" senyum Aga menatap Zivannya, Zivannya mengelus rambut cepak Aga. "ishhh... udah kodrat wanita by harus ada masa periode nya"senyum Zivannya.
"tapi kan nggak harus pas saat kita bersama setelah melewati malam yang sendirian" kata Aga tidak terima.
"lha anak ini main ngatur periode nya anak gadis orang" tawa Zivannya, Aga menarik tubuh Zivannya agar berbaring disampingnya.
"by, bentar lagi masuk kewajiban petang. ishhh... nggak enak nanti sama ayah sama bunda" kata Zivannya mencoba melepaskan pelukan Aga yang segera mencium lembut bibirnya, Zivannya mengatur nafasnya setelah sekian detik.
"emang kamu nggak ngerasa punyaku sudah mengeras, yang" hembus nafas Aga pelan, Zivannya tertawa menutup mulutnya.
"tidurin lagi gih, yang, jangan disuruh bangun kalo aku belum bersih dan selesai periodenya" tawa lebar Zivannya, Aga tersenyum menggeser tubuhnya agar berada diatas tubuh Zivannya.
"nggak bisa, yang, malah semakin keras" geleng Aga, Zivannya memukul bahu Aga. "dari sana nya, yang... kalo dekat kamu bawaannya tegang mlulu" pandang Aga, Zivannya membelalakkan matanya tidak percaya dengan perkataan Aga
"jadi kalo gitu jangan dekat-dekat denganku dulu" pejam mata Zivannya, "gimana nggak dekat, kalo jauh lagi aku bisa mati yang" turun Aga dan duduk disamping Zivannya.
"kebiasaan kalo ngomong nggak liat-liat orang yang diajak ngomong sih by" pandang Zivannya, Aga nyengir.
__ADS_1
"maaf, yang. bukan maksud nya begitu, tapi kalo aku jauh darimu lagi aku nggak tau kuat apa nggak" pandang Aga, Zivannya tersenyum.
"bisa by.... ingetkan berapa lama kita terpisah saat ada mama, saat mama nggak ada dan besuk saat KKN" pandang Zivannya, Aga menghela nafasnya kesal.
"berapa lama besuk KKN nya" tanya Aga, Zivannya memberi isyarat dengan jari telunjuknya.
"satu minggu" tanya Aga, Zivannya menggeleng. "satu bulan" tanya Aga. Zivannya mengangguk mantap.
"satu bulan... aishhh.... lama banget sih, yang" desah Aga kesal, Zivannya segera turun dari ranjang karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"dek keluar sebentar, kita akan bermain sebentar" ketuk bunda, Zivannya segera berlari membuka pintu. "main apa bund" buka lebar Zivannya, bunda meraih tangan Zivannya dan membawanya ke taman belakang.
Mentari memperlihatkan tik tuk yang lagi trending Zivannya mengangguk mengerti, Aga keluar dan duduk disamping 3 pria lain yang memandang wanita mereka melakukan aksinya.
"sedang apa mereka" tanya Aga meminum kopi panas yang ada dimeja, Matahari menggelengkan kepalanya tanda nggak mau membahasnya.
"kalian ngapain disitu, mau tidur diluar semua nanti malam" pandang bunda, mereka segera beranjak dan berhamburan menghampiri bunda dan yang lainnya.
"ishhh ngeri banget ancaman ibu negara" bergidik Matahari.
"lama nggak denger ibu negara ngasih kode" angguk Aga, bunda memukul bahu kedua putranya pelan.
"jangan lupa ekspresinya ya.. nanti setelah kita ganti baju dengan latar belakang pesta, kita akan melakukan setengah babak lagi" kata Mentari mengingatkan sebelum dimulai.
"kita coba dulu sebelum beneran" kata bunda, mereka mengangguk.
"done" senyum Mentari, "nggak diulang lagi kak" tanya Aga, Mentari menggeleng memperlihatkan pengambilan moments tadi, "udah ok kan" pandang Mentari, Matahari memeluk Mentari.
"kita lakukan bertiga dulu, setelah dari bawah keatas, kalian baru muncul" pandang Matahari, Mentari mengangguk.
"ok, siap. 86" hormat ketiga perempuan itu cepat. mereka segera pergi dari situ, merencanakan sesuatu yang membuat prianya nanti akan kalang kabut.
"kalian siap kan" seru Matahari.
"Ok" jawab Mentari. Matahari mulai merekam moments tik-tuk mereka bertiga dari bawah, ke atas dan tiga perempuan itu masuk saat pengambilan terakhir, namun penampilan mereka yang menggoda membuat ketiganya terbelalak dan segera berbalik dan memeluk wanitanya erat.
"kalian mau ngapain" kaget Dirgantara memeluk Valerie erat. Matahari segera memeluk istrinya dan menatap Mentari tajam. Aga membenamkan wajah istrinya ke dadanya.
"nggak ngapa-ngapain, yang. mbenerin kemejanya aja" manyun Mentari menatap Matahari yang mengancingkan kemeja istrinya,
"yang, kamu mau buat suamimu mati muda lihat tingkahmu kayak gini" satukan kening Aga.
"ishh... cuman benerin kancing satu diatas aja lho pa, nggak ngapa-ngapain" kata Valerie. Dirgantara terduduk lemas mendengar penjelasan istrinya.
"kalo gini lagi aku nggak mau dan nggak ngijinin buat konten lagi" lambai tangan Dirgantara, Valerie tertawa.
"baguslah reaksi kalian cepat kalo istri kalian berbuat yang macam-macam. kalo kalian berbuat yang macam-macam diluar maka akan bunda suruh motong aset kalian biar tau gimana rasanya dikhianati" silang tangan bunda didada, mereka saling bertatapan mengangguk ngeri.
"nggak bund, nggak liat apa kita sayang banget" geleng Aga ngeri, bunda mengangguk senang. "baguslah kalo begitu, lepasin istri kalian, jangan sampai mata kalian copot nanti kalo liat istri kalian nanti setelah berdandan. jangan ada yang protes" ingatkan bunda.
__ADS_1
"aduh, mati aku" terlentang Dirgantara mendengar ancaman bundanya yang pasti nggak main-main, Matahari segera melorot kebawah mendengar perkataan bunda, Aga mendadak lemas tidak bertenaga bersandar pada Zivannya.
"rasain pa" tepuk pipi Valerie pelan dan pergi dari situ, Mentari mengusap rambut suaminya dan melangkah pergi.
"Zi, tinggalin mereka. kita harus siap-siap untuk pergi" kata bunda, Zivannya mengangguk dan melepaskan tubuh Aga untuk mengikuti bunda. "kalian ngapain begitu, ayo siap-siap udah waktunya" kata Ayah. "yah, bunda niat banget ya berangkat" kata Matahari, Ayah mengangguk. "kalo kita aja gimana yah, perempuan nggak usah ikut" bujuk Dirgantara, ayah tertawa terbahak-bahak berlalu meninggalkan mereka bertiga yang tak rela jika istrinya dilihat banyak orang.
"kalian nggak siap-siap. kewajiban dulu, anak-anak udah tidur ditemani mbok sama Marni. kalian ngapain masih disitu" kata bunda membawa 4 kemeja batik yang digantung didinding.
"ukurannya sama untuk kalian bertiga. ayah yang sedikit lebih besar" kata bunda, Dirgantara duduk dan mengangguk pelan. "pasti nih yang menyiapkan segalanya bunda" berdiri Dirgantara ke dalam ruangan untuk melaksanakan kewajiban bersama.
mereka bertiga keluar dari ruangan bunda setelah bersiap-siap, Valerie yang lebih dulu keluar, Mentari menyusul kemudian dan yang terakhir Zivannya, Aga menatap istrinya dengan perasaan tak menentu.
"inget lho, yang. nggak usah tebar pesona" kata Matahari, Mentari menepuk pipi Matahari agak keras, tersenyum kecut.
"kamu mau jalan dengan istrimu yang kumal dan dekil trus diomongin nggak becus punya istri" pandang Mentari tajam, Matahari menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengusap punggung Mentari.
"kalian ini, terlalu posesif. kalian kan juga tampan jadi istri kalian juga harus cantik. aahhh.... anak-anak bunda, kalian memang anugerah Tuhan..."senyum bunda berkaca-kaca, mereka memeluk bunda bersama-sama.
"yang, sesak ini. kusut nanti" tepuk Mentari. Matahari tertawa lebar, melonggarkan tubuhnya kebelakang. Aga meraih jemari Zivannya membantunya untuk berjalan dengan tegak.
"siapa yang didepan" kata Ayah, Matahari dan Dirgantara menunjuk Aga yang segera kedepan. "kita berangkat" lihat Aga dari kaca, mereka mengangguk.
"kak, nanti ketemu keluarga preman itu lho" bisik bunda, Mentari menoleh dan mengangguk cepat.
"nggak kenapa-kenapa bund, nyantai aja. kita udah punya keluarga sendiri-sendiri" kata Mentari.
"banyak banget bund, undangannya" tanya Valerie menatap bundanya yang mengangguk.
"katanya sih begitu, maklum kan orang terpandang" jawab bunda. "ketemu para mantan nih" lirik Dirgantara, Matahari tertawa pelan.
"sad boy nih" kata Ayah, Matahari tersenyum mengangguk, "yang penting akhirnya jadi pemenang ya kan, yang" toleh Mentari, Matahari tersenyum ceria mendengar pembelaan Mentari kepada dirinya.
"kak, dek... terimakasih kalian selalu menuruti kata ayah dan bunda. jadilah seperti ini terus, selalu rukun dan selalu bersama, jika ada apa-apa jangan mengedepankan emosi. kalian adalah saudara kandung, yang jelek, baik, buruk akan kalian tanggung bersama" kata bunda memegang tangan Valerie dan Mentari yang duduk disampingnya.
"kalian berenam harus saling menguatkan satu sama lain. tidak ada yang beda, semua sama" kata bunda.
"ikkkkhhhh bund... nanti Zi nangis. luntur nanti" tunjuk mentari, Zivannya nyengir. "bagaimanapun kita nanti adakan pesta untuk mereka berdua, jangan membantah" kata bunda menatap kaca ketika Aga hendak membalasnya, Aga tertawa.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya kedua ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1