
dua krucil berlarian kesana kemari mengamati berbagai miniatur kapal, melihat apa yang tidak ada di kesatuan papanya. Zivannya, Langit dan Dirgantara mengobrol banyak hal. "dek" seru Matahari, mereka menoleh. Raka melambaikan tangan agar Matahari segera mendekat untuk menunjukkan banyak hal. Matahari tertawa senang melihat dua jagoan kecil itu terlihat antusias memperlihatkan replika kapal yang ada didalam ruangan.
"keren kan kak Raka" senyum Matahari. Raka manggut-manggut, "besuk mau di laut apa di udara "tanya Matahari. "pingin dipasukan khusus aja om" jawab Raka mantap. Matahari memberikan dua acungan ibu jemarinya kearah Raka. "keren kak, semoga bisa. latihan yang lebih kuat lagi" kata Matahari, Raka mengangguk.
"udah berangkat Dimas nya, bang" tanya Zivannya. "aku langsung pulang dek, saat sudah sampai bandara. dia meminta aku begitu" jawab Matahari, Zivannya mengangguk.
"kalo tau kalian kemari tadi naik mobil aja bareng" usap kepala Matahari di kepala Riki. "dua anak ini tadi mintanya beli ice cream didepan begitu mau naik motor ganti haluan mau kesini, auto mandi cepat" isyarat dagu Zivannya. Matahari tertawa.
"harusnya mandinya nanti kalo berangkat kan" senyum Matahari, Zivannya nyengir mengangguk. "tadi Baskara ada" tanya Matahari, Zivannya mengangguk. "ketemu dan ngobrol sebentar" jawab Zivannya. Langit menoleh, "ketemu dia duluan dari pada aku" tanya Langit. "kan ruangannya dia dulu, baru kakak" bela diri Zivannya tidak mungkin menemui Langit duluan terus Baskara karena ruangannya lebih dekat Baskara, Langit mendengus.
Matahari tertawa lebar, "sabar.... om.... om.... lebih menggoda daripada lelaki muda bujang" kata Matahari mengompori Langit, Dirgantara tertawa ngakak. "senang banget kalian berdua kakaknya melihat aku menderita" pandang Langit. Zivannya memeluk tubuh Langit, "marah atau tenang" tanya Zivannya, "tenang" hembus nafas Langit. kedua kakak Zivannya tertawa lebar melihat Langit yang tidak berkutik jika berhadapan dengan Zivannya.
"kayak kakak dan abang berani aja sama kak Val dan kak Mentari" pegang ponsel Zivannya akan menghubungi kedua kakak perempuannya itu. Dirgantara dan Matahari segera diam dan menahan tangan Zivannya dan ponselnya agar tidak menghubungi istri mereka, "iya dek. kita sama aja" kata Dirgantara, Zivannya tersenyum.
kedua krucil sudah berlarian menuju koridor antara bangunan satu dengan bangunan lainnya. Zivannya setengah berlari mengejar kedua krucil takut terjatuh saat berlari kejar-kejaran. "kak Raka, makan ice cream di depan yuk" lari Zivannya setelah sampai ditempat kedua anak tersebut. "ayo onty" angguk Riki, "kalo gitu kita balapan yaa... papa sama om berdua harus ikut juga. nanti om Matahari yang traktir" seru Zivannya, Raka dan Riki melonjak kegirangan mendengar Zivannya. mereka segera bersiap-siap untuk berlari kedepan menuju penjual diluar.
Dirgantara berlari kecil mengikuti kaki kecil kedua jagoannya adu lari untuk siapa yang tercepat, Matahari berada disisi salah satunya. Langit meminta Zivannya naik keatas punggungnya dan berlari mendahului kedua jagoan kecil keluarga Triastomo.
Raka tertawa melihat Zivannya yang berlari dengan Langit yang membawanya dipunggung. Zivannya melambaikan tangannya tertawa melihat kedua jagoan berlari mengejarnya. Langit menurunkan tubuh Zivannya tidak jauh dari mereka, Raka segera memeluk kaki Zivannya setelah sampai duluan. "seru kak" senyum Zivannya, Raka mengangguk tertawa melakukan hi five dengan Langit.
"om Langit kuat bawa onty dibelakang, nanti Raka bilang Kakung biar lomba begitu" kata Raka, Langit menepuk keningnya sesaat mendengar ucapan Raka. "yah.... nanti hukumannya bawa pemberat dipunggung lari berapa putaran dong" pandang Langit, Zivannya tersenyum menepuk dada Langit dan meraih jemari Raka membawanya keluar, "kak Riki mau rasa apa" tunjuk Zivannya. Riki menunjuk kesebuah ice cream bergambar tokoh kartun. Zivannya mengambil dan menyerahkannya ke Riki.
"bawa ke penjual minta om Langit membayarnya" pesan Zivannya. Riki mengangguk dan berjalan kearah ketiga orang yang sedang duduk istirahat. Raka menunjuk ice cream kesukaannya dan segera menuju ketiga laki-laki keluarga Triastomo.
"kamu makan juga" lihat Langit saat Zivannya menyusul menaruh ice cream didepan kasir. Zivannya mengangguk dan segera membuka bungkusnya dan menjilatinya, menganggukkan kepalanya. Langit segera membayar pesanan mereka bertiga dan minuman untuk kedua kakak Zivannya. Zivannya duduk didepan kantin bersama kedua krucil sambil menikmati ice cream mereka.
__ADS_1
"beli tissue basah kak" toleh Zivannya. Langit mengangguk dan berjalan mengambil di rak dan menyerahkannya kepada Zivannya untuk mengelap kedua keponakannya. "Kak Riki mau makan apa lagi" tanya Zivannya, Riki menunjuk deretan Snack ringan yang ada didalam kantin. Dirgantara mendekat dan membawa anak bungsunya masuk untuk memilih makanan yang mau dibelinya. Raka ngobrol dengan Zivannya sambil makan ice creamnya, Riki datang membawa beberapa Snack ringan.
"onty habis ini mau kemana" tanya Raka. "hmmmm.... nunggu om Langit selesai dinas dulu, habis itu kerumah dinasnya seperti punya papa dan mama di Surabaya. mau nggak" senyum-senyum Zivannya. "mau" seru keduanya semangat, "nah. kita istirahat disana sebelum pulang ke Surabaya, nanti kita ketemu mama, Uti, Kakung dan nenek saat mau naik pesawat besar" kata Zivannya, Raka dan Riki mengangguk.
"kak, masih lama dinasnya" tanya Zivannya, "masih lah, yang. memangnya kenapa" tanya Langit. "aku mengajak mereka istirahat dirumah dinas mu. nunggu nanti siang berangkat ke bandara untuk ke Surabaya" pandang Zivannya. "kalian kesana aja dulu ntar aku nyusul abis tengah hari, ngantar kalian sekalian" jawab Langit, Zivannya mengangguk.
setelah selesai, kedua krucil berpamitan kepada Langit dan Matahari untuk kerumah dinas Langit. "dek, kakak disini aja. ntar pulangnya bareng Langit ato bang Matahari kesananya" pandang Dirgantara, "baik" angguk Zivannya membuka pintu mobil untuk mereka berdua dibelakang dan menjalankan mobil keluar dari halaman kesatuan Langit dan Matahari, Zivannya berbelok kekiri gedung dan memasuki kompleks perumahan dinas kesatuan Langit, ia segera masuk kedalam halaman rumah dinas dan memarkir disamping rumah.
Zivannya keluar dan membuka pintu belakang mobil untuk melepas seat belt mereka berdua. mereka kemudian masuk rumah dan beristirahat diruang tengah dengan TV kecil. Zivannya memberi alas untuk kepala mereka berdua agar dapat rebahan. tak lama mereka tertidur dengan pulas saat menonton TV, Zivannya tersenyum dan rebahan didekat mereka berdua.
mereka bertiga tertidur dengan lelap hingga usapan di pipi membuatnya membuka mata dengan cepat. "jam berapa kak" tanya Zivannya menatap Langit yang sudah bertumpu dengan kedua kakinya membangunkan Zivannya. "jam 11, kita harus kebandara" kata Langit, Zivannya mengangguk dan melihat dua keponakannya yang masih tertidur dengan nyenyak.
"kita bawa aja, yang. aku bawa kemobil" angkat Langit pelan, Zivannya segera bangun dan membuka pintu, membuka alarm mobil agar pintu belakang terbuka. Raka diletakkan Langit beralas kan kepalanya dibelakang, Riki ada didalam dekapan Zivannya yang duduk didepan. Langit mengunci pintu dan menjalankan mobil menuju bandara. "yang, kamu udah bawa baju ganti" toleh Langit Zivannya mengangguk. "ada diransel belakang" jawab Zivannya. Langit mengangguk.
"di almari pakaian dirumah Malang ada beberapa t-shirt baru dan celana joger" kata Langit, "hadiah lagi" toleh Zivannya. Langit tersenyum menatap sekilas kekasihnya, "tentu. kan aku udah bilang, aku tidak tahu siapa yang mengirimnya, sekarang berkurang banyak, yang. aku udah memberi pesan agar tidak lagi menerima pemberian dari orang yang tak dikenal" jawab Langit, Zivannya mengendikkan bahunya menatap keluar mobil.
"kak, aku minta ijin ke Malang hanya sebentar, pulang dari sana aku ikut ayah dan bunda ketempat dinas abang dan kakak yang baru, entah berapa lama. setelah itu, aku langsung pulang untuk melihat tempat peristirahatan keluargaku dan menemui keluarga papaku untuk meminta restu, karena bagaimanapun juga yang menjadi wali untuk menikahkan ku kembali adalah om Huda kakak dari papa. di sana akan ketemu Yuda untuk ngobrol juga pastinya. habis itu ke tempat kak Aga untuk meminta ijin melanjutkan hidup" hembus nafas Zivannya, Langit menoleh.
"berapa lama kamu akan pergi" tanya Langit. "selama kita belum menikah, waktuku hanya itu. karena aku tidak menyangka akan secepat ini" pandang Zivannya, Langit tersenyum.
"jika kamu bisa, temani aku untuk meminta restu kepada nenek dan kakek serta om Hadi dan meminta mereka datang ke Jakarta saat kita menikah nanti, yang" kata Zivannya pelan, Langit mengusap bibirnya pelan. "kabari, jika kamu sudah akan berangkat dari rumah dinas abang" kata Langit cepat. Zivannya mengangguk mengiyakan perkataan Langit.
"jadwalmu benar-benar padat, yang. kita belum melakukan prewed bukan" tanya Langit. Zivannya tersenyum, "apakah kamu lupa, kemarin kita lamaran berapa banyak moments yang diambil oleh fotografer, moments yang diambil saat kita dekat" toleh Zivannya , Langit menoleh menatap Zivannya. "sebisa mungkin aku harus pulang seminggu sebelum pernikahan" usap kepala Zivannya ke Riki, Langit mengangguk.
"jangan kaget dan heran saat bertemu keluarga papaku, aku tidak tahu bagaimana mereka sekarang memperlakukanku. apakah lebih baik atau sama aja yang terpenting adalah aku meminta ijin dan restu karena mereka adalah keluarga papaku" pandang Zivannya, Langit mengangguk.
__ADS_1
"aku ijinkan semuanya, yang. aku temani nanti saat ketemu dengan keluarga papamu, aku temani saat memberitahu Aga diperistirahatan nya yang terakhir" jawab Langit. Zivannya menoleh dan mengangguk. "terimakasih, kak. aku sangat menghargainya" kata Zivannya.
tiba di bandara, Langit membawa ransel Zivannya dibelakang dan mengangkat tubuh Raka untuk dibawa kedalam karena masih tidur, mereka masing-masing membawa krucil yang masih tertidur dengan lelap. Dirgantara melambaikan tangannya melihat keberadaan mereka, mengambil alih tubuh Raka dari dekapan Langit. Valerie mengambil Riki dari Zivannya.
Zivannya segera melakukan check in sedangkan Langit duduk disamping ibunya, Rara mengobrol dengan Zivannya setelah menyelesaikan semua prosedur keberangkatan.
"kak, pesawat akan berangkat" lihat pengumuman Rara, Valerie menoleh dan beranjak dari tempat duduknya. Langit mencium punggung tangan ibunya dan memeluknya pelan. Zivannya, Rara, Valerie dan Dirgantara juga melakukan hal yang sama dengan ayah dan bundanya. "hati-hati dijalan kak, dek. ketemu lagi saat pernikahan adek, kak" lambai tangan bunda. Zivannya memeluk Mentari dan Matahari sebelum berangkat, Langit tersenyum mencium kening Zivannya dan memeluknya erat karena dia yang terakhir di pamiti oleh kekasihnya "jaga kesehatan, yang" kata Langit, Zivannya tersenyum melambaikan tangannya.
pesawat berangkat tepat waktu, mereka segera tiba di bandara Surabaya. Dirgantara membawa tas bawaan keluarganya dan ibu Langit. Zhivannya menggenggam erat tangan Raka, Riki bersama Valerie, Rara bersama berjalan menemani ibu Langit. Dirgantara mengambil mobil yang dititipkan diparkiran bandara, karena hanya sebentar pulang ke Jakarta untuk menghadiri lamaran Zivannya.
"dek, mau diantar Arka nggak" lihat Dirgantara dari reflektor tengah ke belakang. Zivannya menggeleng "tidak usah kak, nanti aku gantian sama Rara, aku nanti nginap dirumah ibu dulu, besuk paginya baru balik kesini dan langsung ke bandara, nanti dari rumah kakak naik ojol aja biar nggak bolak-balik ngantar" kata Zivannya, Dirgantara mengangguk. mereka memasuki rumah dinas Dirgantara yang tidak terlalu jauh dari bandara, mereka keluar, Zivannya membantu kedua kakaknya menurunkan barang bersama Rara.
"kak, aku langsung berangkat nganter ibu dulu" kata Zivannya berpamitan. "hati-hati dijalan" angguk Valerie memeluk keduanya. Zivannya mengangguk. "onty nganter nenek pulang dulu sebentar, nanti onty kesini lagi" tumpu lutut Zivannya ketika sedang berbicara dengan kedua jagoan kecil Triastomo. mereka mengangguk dan berjalan masuk kedalam rumah. Zivannya segera melajukan mobil setelah berpamitan dengan Dirgantara.
"bu, minta ijin melajukan mobilnya lebih cepat dari yang lain, agar ibu segera sampai" toleh Zivannya sesaat. "baik maka, tetap hati-hati saat berkendara" angguk ibu Danti. "siap bu, ini karena jalannya sedikit lengang" senyum Zivannya menambah kecepatan. sesekali Zivannya ngobrol dengan Rara, selama dalam perjalanan yang memakan waktu setengah jam lebih cepat dari biasanya. Rara membuka pintu rumah untuk mempersilahkan ibu terlebih dahulu masuk.
"ibu, nggak usah repot-repot kepada kami, nanti kami akan melakukan apa-apa sendiri, ibu istirahat saja" kata Zivannya membawakan tas jinjing ibu Langit, ibu tersenyum mengangguk dan masuk kedalam kamar untuk berisitirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Zivannya membersihkan rumah dengan Rara dan berisitirahat diruang tengah untuk rebahan. "laper Zi" kata Rara, Zivannya nyengir, "aku juga. bentar kita nyari dekat sini ada yang jualan nggak. makan disana aja, biar pulang bisa tidur" kata Zivannya. kebetulan juga ibu keluar dari kamar.
"Bu, kita mau nyari makan di luar, ibu mau dibawaain apa jika kita keluar nanti" tanya Zivannya mendekat. "tidak usah nak, kalian makan aja. nanti kalo kalian keluar beli roti atau makanan basah lainnya agar kalian tidak kosong perutnya nanti. karena tidak ada yang makanan dirumah" kata ibu Danti. Zivannya mengangguk dan meminta ijin menggunakan motor ibu Langit untuk keluar, Zivannya mengeluarkan motor dari halaman dan melaju dengan santai.
"disini aja ya Ra, pecel lele" lihat Zivannya, Rara mengangguk. mereka berhenti dan masuk kedalam tenda untuk memesan makanan dan makan ditempat, hari belum begitu larut, mereka memutuskan untuk mencari roti basah seperti saran ibu Danti jika nanti malam mereka lapar setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.
"yaa.... komandan Langit meminta panggilan" perlihatkan Zivannya, Rara tertawa. "ya kak" pandang Zivannya. "dimana" lihat Langit, "baru makan pecel lele di dekat rumah ibu. laper" perlihatkan Zivannya, "abis ini mau kemana" tanya Langit. "mau nyari roti basah pesanan ibu" jawab Zivannya, Langit mengangguk. "pulang" kata Langit, "iya... iya..." putar bola mata Zivannya, "besuk kabari kalo mau berangkat lagi ke Surabaya" kata Langit. "iya, aku baru makan kak" pandang Zivannya, Langit nyengir.
hai....hai....hai.... all readers terimakasih sudah membaca karyaku, terimakasih juga selalu mendukung karyaku.
__ADS_1
luv....luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all