
Zivannya mengunyah dengan cepat buah potong yang dimasukkan Aga kedalam mulutnya, "lagi kak" senyum Zivannya, Aga menatap Zivannya tajam. "kamu panggil suamimu apa" tanya Aga menekan pipi Zivannya hingga mulutnya mengerucut. "by, lagi" ulang Zivannya lucu. Aga tersenyum dan mengangguk. "ishhh gitu aja lebay" kata mentari. Aga menjulurkan lidahnya tidak peduli.
"coba panggil Abang dengan namanya, marah nggak" tantang Aga, matahari menatap mentari lebih dulu sebelum mentari membuka mulutnya. "hehehehe.... nggak yang" geleng mentari mengusap bibir Matahari tahu jika dirinya melanggar batas matahari.
"ma, anak-anak nggak dikasih makan" tanya dirgantara kepada Valerie. "udah itu, sama mbok. kalo disini mbok adalah segalanya" perlihatkan Valerie, dirgantara tersenyum.
"berarti kita bisa honeymoon dong bikin anak cewek" naik turunkan alis Dirgantara menatap Valerie.
"ishhh... malu sama pengantin baru" sambar bunda. Zivannya tersedak mendengar ucapan bunda.
"lha orang pengantin barunya baru dapat periode nya bund, jadi nggak bisa membobol gawang" celutuk Mentari, Zivannya tersedak kembali mendengar ucapan mentari. mereka tertawa riang, Aga menepuk punggung Zivannya pelan dan memberikan gelas air mineral kemulut Zivannya.
"pelan-pelan yang" senyum Aga.
"berarti Zi bisa tinggal disini lebih lama dong, kan Aga nggak bisa ngapa-ngapain Zivannya, yaa.... yaa... rumah sepi kalo nanti pada pergi semua lagi" bujuk bunda.
"Zi udah mulai kuliah bund" kata Aga.
"Kamis baru mulai bund, jadi Zi ada waktu longgar 3 hari" angguk Zivannya. bunda menatap Aga berharap agar Aga mengijinkan Zivannya untuk disini dulu sementara. Aga menatap bundanya lama dan akhirnya mengangguk mengiyakan, bunda tersenyum dengan ceria, memeluk Zivannya erat.
"aaahhh... sore yang cerah ceria" tawa bunda kembali kedapur, Ayah melihat bunda yang bersemangat dan terlihat bahagia merasa senang. "terimakasih kalian membuat bundamu bahagia, dari pagi sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian. senyum lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Ayah merasa bahagia jika bunda kalian juga bahagia" pandang Ayah, Zivannya beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Ayah erat.
"terimakasih juga buat ayah dan bunda yang melahirkan dan membesarkan anak-anak yang membuat kami merasa bahagia" senyum Zivannya menitikkan air mata. Ayah tersenyum menahan airmatanya yang akan keluar.
"jika Ayah dan bunda bosan sendirian disini dan berkenan berkunjung ketempat kami bertiga, kami akan sangat senang yah, jangan merasa kami jauh karena jarak. kami juga mengemban tugas ditempat yang memerlukan tenaga kami. jadi Ayah dan bunda sering-sering untuk melihat kami disana" elus bahu Zivannya yang berlutut didepan Ayah. Ayah menganggukkan kepalanya dan memeluk Zivannya erat, Valerie dan mentari mendekat dan memeluk ayah mereka. ketiga laki-laki muda itu hanya memandang orang-orang itu berinteraksi.
"ada apa dengan kalian" datang bunda membawa es buah yang segar dengan Marni. Zivannya tersenyum dan memeluk bunda sesaat kemudian. "nggak papa bund, Zivannya berterimakasih kepada ayah dan bunda mau menerima Zi didalam keluarga yang hangat dan penuh canda ini" geleng Zivannya mencium kedua pipi bundanya.
"terimakasih juga Zi, bunda tau Aga tidak gampang untuk diurus, sering memaksakan kehendaknya saat mendekatimu dan mendapatkanmu" kata bunda, Zivannya nyengir mendengar ucapan bunda. "tapi kan sekarang udah nggak bund" sanggah Aga tidak terima dengan perkataan bundanya walau memang benar dirinya seperti orang yang nggak punya lelah dan pikiran panjang saat mendapatkan Zivannya.
"ishh... anak ini" pukul bahu bunda pelan.
"marahin bund, dia lupa kalo tiba-tiba datang kerumah tengah malam tanpa ujan tanpa angin minjem motor cuman buat mastiin Zi nggak sama laki-laki lain saat di Malang" minum es buah Dirgantara, Aga tertawa kecil. "nggak inget juga pulang kerumah udah kayak hantu nggak ada nyawanya, badan penuh jambang, pakaian nggak beraturan. persis kayak gelandangan yang kehilangan harta bendanya" tambah mentari.
"satu lagi, selalu memarahi anak buahnya saat melakukan kesalahan kecil, jadi mereka saat itu agak diujung tanduk jika melibatkan Aga dalam operasi penangkapan tangan tersangka. takut Aga akan melampiaskan kemarahannya kepada tersangka hingga babak belur" kata Ayah, Aga tersenyum lebar. Zivannya menatap Aga sesaat,
"tapi saat kelahi dengan anak buah temannya Yuda, Aga terlihat lebih tenang lho" bela matahari.
"gimana nggak tenang, orang pawangnya liatin. harus cool dong" senyum mentari. Aga memberi tanda dengan ibu jarinya.
"kalian berdua bertengkar lagi" tanya bunda menatap Aga dan matahari.
"mereka yang mulai duluan bund, bukan kita" geleng Aga. bunda menopang dagu diatas meja.
"ishhh... kesel aku waktu itu barusan naik kereta api. kalo nggak kan, ikutan olahraga malam" kata Dirgantara, Valerie menatap dirgantara lama, "hehehehe.... biasa ma, masak mau lari kalo ditantangin gitu" senyum dirgantara memberi ciuman jarak jauh.
__ADS_1
"kalian itu udah gede-gede, udah pada nikah lagi, masak masih berantem aja. nggak malu sama umur haa..." tanya bunda kalem.
"mereka mengganggu Dimas duluan bund, saat kita keluar malam nyari makan. Dimas baru pesen makan mereka yang rese mengganggu" jawab Aga. bunda menggelengkan kepalanya. "Zivannya reaksinya gimana ngliat kamu kayak gitu, pasti ketakutan kan liat kamu babak belur kayak gitu" kata bunda.
"takut apanya, dia dengan santai malah melihat dan nunggu adek selesai kelahi dengan abang, abis itu bayarin kerusakan dan makan bareng sama yang mereka berdua hajar" geleng mentari. bunda menoleh, "kamu nggak ngeri gitu dek liat suamimu gitu" tanya bunda, Zivannya nyengir.
"sebenarnya ngeri bund, liat orang berantem gitu. tapi kalo Zi panik dan teriak-teriak malah membuat kak Aga nggak konsentrasi saat berkelahi nanti ujungnya banyak luka juga. jadi Zi cuman bisa diam dan menunggu selesai aja" kata Zivannya, Aga mencium pipi Zivannya tiba-tiba. bunda menggelengkan kepalanya. "ternyata benar ya, suami istri itu seperti botol dengan tutupnya. pas gitu nggak longgar nggak sempit" hembus nafas bunda, Zivannya tertawa pelan.
"kak val kalem banget, sedang kak dirgantara cenderung nggak bisa diem tuh bund" toleh Zivannya. bunda tertawa lebar. "sama aja, nggak ada bedanya dengan dirgantara. dulu juga cewek badas kayak kamu, heran deh yah bunda... punya anak gadis kok tiga-tiganya nggak ada yang kalem yaa... Valerie suka naik motor balap, mentari suka traveling, lha anak gadis terakhir suka naik gunung juga" kata bunda menghela nafas.
"ishhh bunda suka buka aib anak sendiri" manyun mentari.
"aib dari mana coba, keren lho itu kak. berbeda dari yang lain adalah kelebihan yang kita miliki" kata bunda.
"tapi ya jangan punya pacar preman juga sih kak" goda Ayah, mentari melirik Ayah tertawa.
"pertama kali ketemu nggak tau yah kalo keluarga preman, karena ketemu pas traveling bareng ngerasa cocok ya udah jalan aja" hembus nafas Mentari.
"kalo dikasih tau kamu ngeles sih. main kabur aja" kata dirgantara.
"yaaahhh kak... namanya juga baru kasmaran, dikasih tau juga nggak bakal didengerin" tatap mentari.
"sama nohh... dengan adek saat nggak ketemu Zivannya yang ngilang tiba-tiba" kata mentari menatap Aga, Aga mengangkat tangannya tanda nggak mau ikut campur.
"ya nggak gimana-gimana sih yah... nyatanya dia juga udah nikah juga dengan gadis yang menurut nya pas" Hela nafas Mentari.
"masih ada rasa sama dia" tanya Ayah, mentari menggeleng. "aku sudah belajar banyak dari pengalaman itu. bahwa yang kita lihat belum tentu benar menurut kita, yang kita rasa belum tentu pas di diri kita" senyum mentari menatap Matahari. matahari memeluk mentari dan memberi ciuman dikeningnya lama.
"ahhh .... so sweet banget sih anak-anak bunda, jadi pengen peluk Ayah" tatap bunda. Ayah mendekat dan memeluk bunda. Aga memeluk Zivannya, dirgantara melihat mereka dan beranjak memeluk istrinya yang duduk didepannya.
"Kakung, pada ngapain" datang Raka. mereka menoleh dan tertawa lebar.
"uti peluk yaa... ganteng banget sih cucu Uti..."cium pipi bunda berulangkali. Raka kegelian dan tertawa.
"kakak, kita keliling komplek yuk" ajak Ayah.
"ikut" datang Riki memegang kaki Ayah. Ayah mengangkat tubuh Riki.
"Ayuk.... kita beli apa" senyum Ayah mengajak dua cucunya berjalan keluar rumah. mereka berseru kegirangan, "ikut yah" seru Zivannya berlari keluar. Aga menghela nafasnya pelan.
"kita tunggu laporan ayah" gumam Aga.
"kenapa memang" kerut dirgantara menatap Aga.
"dikira anak gadis ayah, pasti digodain cowok" kata Aga, matahari tertawa.
__ADS_1
"sebenarnya sama lho dek. abang dan kakak juga was-was kalo mereka jalan sendiri, usia matang kita saat bertemu mereka juga selisih banyak kan. mentari umur 24 saat menikah, umurku 28. sebagai cewek umur 20-25 kan baru mekar-mekarnya sebagai bunga yang dikerubungi kumbang" kata Matahari.
"kita menikah dengan perbedaan umur 4 tahunan lho dek, mentari 24, Valerie juga mau menikah umur 23 setelah lulus, Zivannya baru mau 21 saat menikah. kamu aja yang tergesa-gesa menikahi Zivannya, walau ada kesempatan juga sih. mama Zivannya menitipkan dia duluan" pandang dirgantara, Aga terdiam.
"eh iya ya kak, 3-4 tahun. baru kepikiran lho aku sekarang, kakak dengan kak val juga, kak mentari dengan Abang juga. aku dan Zi juga sama" kata Aga sadar, dirgantara mengangguk.
"wajar jika Zi masih banyak yang mengejar, usianya baru diawal 20an. yang penting kan dia nggak terpikat dengan lelaki lain dan nggak menggoda laki-laki lain, Zi terlihat cuek dengan cowok kayaknya" kata matahari. mentari mengangguk dan melingkarkan tangannya dipinggang Matahari.
"setiap pasangan pasti akan bersikap posesif satu sama lain dek, bagaimana kita mengontrol nya aja. awal nikah semua pria sama. ingin agar istrinya tidak pergi-pergi saat suaminya tidak disampingnya. tapi justru itu menjadi tantangan buat kita menaklukkan ego kita sebagai laki-laki" kata Dirgantara.
"omongan bapak beranak dua dengan yang belum memang beda ya dek, penuh filosofi" tawa matahari. mereka tertawa lebar, mengobrol beberapa hal hingga kewajiban sore tiba.
Ayah dan Zivannya belum kembali hingga jam 4. Aga beberapa kali melihat kearah pintu depan, mengecek apakah Zi udah pulang apa belum.
jam 5 sorean, motor memasuki halaman, Zivannya dan Riki tertawa kegirangan menceritakan keseruannya tadi nongkrong dan main ditaman.
"seneng banget anak mama main dengan onty Zi" sambut Valerie menyeka keringat Riki yang tertawa kesenangan.
"seru ma main sama temen-temen dilapangan sana. banyak yang main bola dan kejar-kejaran. onty yang jaga terus tadi" cerita Raka, Zivannya tersenyum, duduk dimeja makan mengambil gelas air mineral.
"banyak yang ikut main jadinya, ada abang-abang yang nemenin adiknya ikutan main" kata Raka, Aga mendengar dengan seksama.
"seru dong, mainnya lama" kata dirgantara, Riki dan Raka mengangguk.
"sekarang mandi dulu sama mama dan makan sesudahnya... oke boys" senyum dirgantara mengusap rambut kedua anaknya. mereka mengangguk dan berlari menuju kamar.
"ahhh..." duduk Ayah diruang tengah merasa kecapekan.
"anak dua itu nggak ada capek-capek nya lari sini-sana. untung ada Zi yang nemenin. tenaganya masih kuat" minum Ayah setelah Marni meletakkan air minum mineral didepan Ayah.
"lha udah tau tenaganya berkurang banyak masih aja lari-larian kata bunda.
"seru bund, lama nggak main begini sama anak dua itu" senyum Ayah.
"lama banget yah" tanya Dirgantara.
"anakmu nggak mau diajak pulang kak, kalo Zi nggak bujuk untuk pulang mereka nggak mau pulang" jawab Ayah.
"Ayah tambah pusing saat melihat beberapa pemuda yang ikutan bermain bola dengan anak-anak karena Zivannya" geleng kepala Ayah, dirgantara tergelak.
"pantesan Aga dari tadi mondar-mandir nunggu ayah pulang, ternyata dugaannya bener kalo Zi digoda cowok" kata Dirgantara. Ayah tertawa lebar, bunda menepuk bahu Aga pelan.
terimakasih atas dukungannya... reader...
dukung terus karya-karya kalang. luv U all...
__ADS_1