
setiba dicafe, suasana sudah mulai rame, tidak hanya anak muda saja yang datang, beberapa keluarga juga tampak menikmati suasana yang nyaman, mereka keluar dari mobil, Langit meraih jemari Zivannya menggenggamnya erat berjalan masuk menuju kedalam, Farhan melihat tempat duduk dua dari pinggir nyaman untuk mereka duduk, Zivannya lebih banyak terdiam saat mereka duduk menunggu penjaga cafe memperlihatkan menu, Langit memesan makanan berat. Zivannya melihat lalu lalang kendaraan yang melintas didepan mereka sambil bertopang dagu, "apa kamu bertemu Bima lagi" tanya Farhan tiba-tiba. Zivannya menoleh "tidak, kita tadi langsung kerumahmu trus bertemu kalian. memangnya kenapa" tanya Zivannya balik, "tidak apa-apa, hanya saja orangnya sedang berada disini juga" isyarat dagu Farhan.
mereka semua menoleh melihat kearah yang diisyaratkan Farhan, tampak seorang laki-laki yang sedang berjalan pelan masuk ke dalam cafe menghampiri mereka, Langit menatap dengan seksama laki-laki yang menjadi cinta pertama kekasihnya dan masih mengharapkan Zivannya untuk kembali. "lama tidak terlihat Zi, bagaimana kabarmu" senyum Bima duduk dengan mereka, Zivannya mengangguk "aku baik-baik saja, bagaimana denganmu" tanya Zivannya. "baik, berapa hari disini" tanya Bima. "besuk sudah pulang" jawab Zivannya. "udah lama pulangnya" tanya Bima, "sore tadi barusan datang, langsung diajak sama mereka berdua" geleng Zivannya, Bima tersenyum mengangguk.
"Zi, akan ada acara temu alumni di sekolah 2 bulan lagi, nanti akan diberitahu lewat media sosial" kata Bima, Zivannya menganggukkan kepalanya. Yuda menatap ke arah pemain musik yang sedang membawakan sebuah lagu. "mau main Zi" toleh Yuda, Zivannya tersenyum. "hmmm... boleh kak" toleh Zivannya, "tentu, apa yang kamu mainkan, yang" senyum Langit. "lihat nanti" senyum Zivannya beranjak mengikuti langkah Yuda dan Farhan, Bima mengikuti langkah mereka bertiga.
Langit sedikit menggeretakkan giginya melihat mereka berempat, Yuda berbicara sebentar dengan para pemain dan mereka menganggukkan kepalanya, ia memberi isyarat untuk Zivannya mengambil posisi, Zivannya mengangguk dan berjalan kebelakang. duduk dibelakang drum dan segera mencoba semua bagian drum dibantu pemain yang sebelumnya. "dah" angguk Zivannya memutar-mutar stik drum ditangannya sambil melihat Yuda yang baru mencoba bass, Bima dan Farhan meraih gitar. Yuda memberikan intro musik terlebih dahulu, Zivannya mengetukkan stik mengikuti irama teman-temannya, terlihat Zivannya bermain dengan semangat, ia menggebuk drum dengan penuh penghayatan seolah-olah sedang mengadakan konser sendiri, mereka bermain dengan apik, beberapa orang bahkan ikut bernyanyi bersama mereka. Langit tersenyum menatap kekasihnya yang terlihat jago memainkan drum, kelebihan Zivannya yang baru dilihatnya sekarang. Zivannya tertawa melihat teman-temannya melakukan aksi nya.
ia segera turun setelah memainkan dua buah lagu, tersenyum menatap Langit yang tertawa lebar dari jauh, Zivannya setengah berlari masuk kedalam pelukan Langit. "great, yang" usap-usap punggung Langit, "hmmm...." senyum Zivannya menatap Langit kemudian duduk disampingnya. "kenapa kamu nggak pernah bilang kalau bisa main" senyum Langit, "nggak juga kak, keseringan main dengan mereka berdua saat sekolah jadi daripada bengong mending ikut main" geleng Zivannya meminum coklat Langit. "mau makan sekarang" tanya Langit, "hmmmm..... " angguk-angguk Zivannya, Langit segera menyuapi kekasihnya dengan makanan pesanan mereka tadi.
"aahhh...." hempas tubuh Yuda dan Farhan. "lama nggak main, ternyata masih asyik" senyum Yuda melihat yang lain. "main ke Jakarta kapan-kapan, nyewa studio musik untuk main kembali" kunyah Zivannya, "baik. bisa diatur" angguk-angguk Yuda. "bikin gerah main gitu aja" kata Farhan meminum dengan cepat minumannya. "kapan acara kalian" tanya Yuda, Bima mengerutkan keningnya menatap Zivannya, "tanggalnya belum pasti, Da. nunggu titah dua ibu negara. baru kita kasih tau, yang sibuk beliau berdua" kata Zivannya menerima suapan Langit.
"maksud pembicaraan kalian apa nih" tanya Bima penasaran, Yuda menoleh menatap teman sekaligus rivalnya dulu untuk mendapatkan Zivannya, "mereka akan segera menikah" jawab Yuda santai. Bima melebarkan matanya tanpa bersuara, menatap Zivannya dan Langit bergantian. "aku kira kamu akan lebih lama untuk sendiri Zi" kata Bima, Langit meletakkan sendok menahan nafas. Zivannya meraih jemari Langit tersenyum. "ada seseorang yang mampu dan mau menerima keadaanku dan menjadikanku perempuan yang lebih baik lagi, lalu kenapa aku harus lebih lama untuk sendiri" jawab Zivannya menatap Langit, "hmmmm...." dehem Bima pelan, "aku kira hanya Yuda yang masih menjadi sainganku" pandang Bima menatap Yuda.
"aishhh.... kenapa kamu masih seperti dulu Bim, lihat lah Zivannya yang sudah jauh lebih baik daripada kita yang hanya terjebak di masa lalu. aku memang menyukainya, tapi dia berhak memilih pasangannya sendiri, dengan menjadi sahabatnya aku sudah merasa jauh lebih baik darimu" pandang Yuda. "apa kamu tau laki-laki ini" pandang Bima, "tau, aku beberapa kali bertemu dengannya saat menemui Zivannya, dia juga tahu aku menyukai Zi dari awal, nggak hanya kita yang bersaing untuk menarik perhatian Zivannya, masih ada dosennya dan juga anak buah kakak laki-laki Aga suaminya dulu. kamu kira laki-laki yang sudah melepaskan permata untuk batu kali berhak mendapatkannya kembali" pandang Yuda menatap Bima yang terdiam, Bima menatap Langit dan Zivannya bergantian, "selamat untuk kalian berdua, maafkan aku Zi karena dulu membuatmu terluka" pandang Bima tulus, Zivannya mengangguk.
__ADS_1
"terimakasih banyak atas doanya, doa yang sama untukmu agar menemukan pengganti Sita" jawab Zivannya, Bima mengangguk. "apa tadi kak Aisya juga bersikap sama seperti Bima" tanya Farhan tiba-tiba, Langit tertawa pelan. "sebenarnya aku ingin menanyai Zivannya nanti. tapi kamu sudah menyinggungnya, aku jadi bertanya-tanya, apakah sikapnya memang seperti itu dengan Zivannya selama ini" tanya Langit penasaran. "kak" kata Zivannya menatap Langit. "hanya bertanya, yang. tidak bermaksud apa-apa. apakah suaminya yang kita lihat di bandara saat di Kalimantan waktu itu" tatap Langit.
Farhan tertawa, "tidak apa bang, memang kenyataannya begitu, kak Sony lebih memilih selingkuhannya dari pada kak Aisya namun aku tidak bisa menyalahkan kak Sony sepenuhnya, terkadang kak Aisya terlalu tinggi hati untuk mengakui kelemahannya dan kesalahannya" kata Farhan. Langit manggut-manggut, "apa Zi selalu diam jika kakakmu begitu" tanya Langit, Zivannya melihat Langit kesal, "sebenarnya bukan diam bang, tapi lebih menghargai orang yang lebih tua, Tante Ranti yang mengajari Zivannya, bang. sebelumnya ijinkan aku untuk meminta maaf atas sikap keluargaku terhadap bang Langit, terutama Zivannya" pandang Farhan duduk dengan tegak, Zivannya tersenyum mengangguk. "aku mengerti Han, tidak apa-apa" kata Zivannya. "yang" protes Langit, "apa" senyum Zivannya, Langit terdiam melihatnya. "makan lagi" suapi Langit Zivannya menerimanya dengan kesal, Langit tersenyum lebar. "luv U, yang" tatap Langit, Zivannya memutar bola matanya jengah.
"aku benar-benar minta maaf bang, dulu dengan bang Aga. aku juga sudah meminta maaf atas sikap keluargaku" tunduk Farhan sesaat, Langit menepuk pundak Farhan, "tidak apa Han, aku juga meminta maaf telah menyudutkan kakakmu, tapi mulai sekarang aku tidak akan tinggal diam jika keluarga papanya Zivannya bertindak semena-mena terhadapnya" senyum Langit, "sepakat bang. kadang aku juga merasa kesal pada sikap Zivannya yang diam aja" angguk Yuda, Zivannya melebarkan matanya menatap Yuda, "hehehehe....." cengir Yuda minum.
"kita semua tahu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena nenek yang memegang kendali, ditambah kakak selalu dimanja oleh mama dan nenek" hembus nafas Farhan. "untung tidak dekat mereka, jika iya gimana aku menahan diri kalau mereka begitu setiap hari" gumam Langit, Zivannya memukul bahu Langit keras. "yang" senyum Langit terpaksa. "nenek sudah berubah banyak, sejak kepergian mama terlihat mereka sangat menyesal, terutama saat ayah dan bunda kak Aga tidak memperbolehkan ku kembali kesini, terlihat penyesalan semakin dalam, jadi jangan menambah beban mereka di hari tuanya, jika mama bisa dengan lapang dada menerimanya sepanjang hidupnya, maka aku sebagai anaknya juga harus meneruskan baktinya bukan" senyum Zivannya.
"lihat kan bang.... kenapa aku kadang tidak habis pikir dengan sikap dia" pandang Yuda kesal. "apalagi kamu Da, yang dari dulu berteman dengannya, aku yang baru masuk dalam hidupnya terkadang geregetan lihat sikapnya" pandang Langit, Zivannya tertawa "masa sih, perasaan biasa aja" kerut Zivannya, Langit meminum coklat panasnya yang mulai hangat. "makanya kamu punya aku yang selalu melindungimu" usap kepala Langit. "terus... terusin.... bang.... biarin kita-kita aja yang single yang gigit jari" lirik Farhan. mereka tertawa bersama.
Bima menghela nafasnya berat, "Sita mengkhianati ku dengan ada main bersama seorang pilot, jadi aku memutuskan untuk mengakhirinya" kata Bima, "aahhh.... aku turut berduka..." angguk-angguk Zivannya, "dia pernah bercerita jika bertemu dengan suami pertamamu saat kalian pergi berlibur" kata Bima menatap Zivannya, "benar, dia menyampaikan turut berbela sungkawa atas kepergian mama Ranti" jawab Zivannya. "jika aku tidak mengatakannya apakah kamu akan bercerita pada semuanya" senyum Bima disudut bibirnya. Zivannya menatap Langit, menggelengkan kepalanya memberitahu bahwa dia sudah kenyang. Langit mengangguk dan menghabiskan makanan dengan tenang.
"tidak, karena itu bukan hal yang penting bagiku, asalkan kak Aga mengetahuinya waktu itu, bagiku itu sudah cukup dan sekarang kak Langit sudah melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri. itu juga sudah cukup buatku" jawab Zivannya menatap Langit yang menganggukkan kepalanya tersenyum. "see... orang yang aku sayangi mempercayaiku jadi kenapa harus ada orang lain yang butuh penjelasan ku" pandang Zivannya. Bima menghela nafas nya kembali.
"kayak orang tua aja sering banget hela nafas" tepuk bahu Farhan. Bima menyunggingkan senyum disudut bibirnya. "kita sebelumnya juga teman Bim, jadi nggak usah mengingat masa lalu. kita sudah lebih dewasa dan sudah pernah merasakan kehilangan seseorang bukan, anggap itu pembelajaran untuk menjadi laki-laki tangguh sekarang. kita akan selalu menjadi teman" tepuk-tepuk bahu Yuda menatap Bima, "baiklah" kata Bima mengangguk pada akhirnya dengan menegakkan duduknya. Yuda dan Farhan tertawa senang. Zivannya tersenyum menatap Langit. "makasih kak, menemaniku pulang kali ini" raih jemari Zivannya, Langit tersenyum meraih bahu Zivannya untuk dibawa kedalam dekapannya, mencium keningnya lembut. "ya elah.... kelamaan jomblo liat pasangan gini jadi nggak tenang" pandang Farhan mereka tersenyum lebar.
__ADS_1
Langit tersenyum lebar melihat kekasihnya lebih seperti melepas beban ketika berkumpul bersama teman-teman yang dulu selalu bersamanya, Zivannya meraih jemari Langit menggenggamnya erat sambil mengobrol bersama.
"bisakah kita pulang, ini udah jam 1 dini hari. aku ingin tidur, sore nanti kita harus pulang" pandang Zivannya, Langit menoleh mengangguk. "baiklah... karena kita juga sudah selesai" lihat Yuda, mereka segera beranjak menuju mobil. "kali ini, biarkan aku yang membayar" kata Yuda melangkah menuju kasir. "Zivannya Fritscha" hembus nafas Yuda, Zivannya tersenyum dan masuk mobil setelah Yuda mengetahui bahwa Zivannya telah membayar semuanya "aku menjadi perempuan kaya sekarang Da" kata Zivannya sarkas, Yuda tertawa hambar. "tentu" jalankan mobil Yuda meninggalkan parkiran, Zivannya tertawa kecil mendengar jawaban sarkas Yuda.
"yang...." sentuh kepala Langit. Zivannya mendongakkan kepalanya menatap kekasihnya. "udah jam 9 pagi, kita keperistirahatan sekarang" tanya Langit, Zivannya beranjak mengganti pakaiannya. mereka keluar dan berjalan kaki menuju keperistirahatan yang tidak terlalu jauh. Zivannya dengan khusyuk mendoakan keluarganya, mengenalkan Langit yang akan menjadi suaminya. Langit menghapus airmata Zivannya, menggenggam tangannya memberi kekuatan. "kita berangkat sambil nyari makan, yang" pandang Langit. Zivannya mengangguk. sesampainya dirumah, dilihatnya Yuda sudah duduk diteras dengan membawa sarapan. "bisa bangun pagi pak" buka pintu rumah Zivannya. Yuda membawa masuk bungkusan makanan yang tadi dibawanya. "bisa dong, karena harus mengantar emak-emak yang ingin diantar anak laki-laki nya ketemu temannya" hembus nafas Yuda, Zivannya tertawa sarkas. "dijodohin lagi pak" datang Zivannya mengambil air mineral dalam botol untuk Langit. "makasih, yang" kata Langit, Zivannya mengangguk mengeluarkan makanan yang dibawa Yuda.
"hmmm.... pingin segera laku anak laki-laki nya" ambil bungkusan Yuda dari tangan Zivannya. "siapa yang datang" toleh Langit. Zivannya menggeleng dan beranjak ke pintu. "aku belum telat kan, makanannya masih ada" matikan motor Farhan segera masuk, Zivannya tersenyum menggeleng. Farhan segera masuk dan menempatkan dirinya disebelah Langit. "kalo makan aja gerak cepat" pandang Yuda, Farhan tertawa membuka bungkus makanannya.
"kenapa tadi nggak ke mamang soto aja" tanya Zivannya menerima suapan Langit. "kelamaan nunggu kamu jawab panggilanku" pandang Yuda, Zivannya menoleh meraih ponselnya. "maaf, tadi nggak bawa, jadi nggak tau" lihat layar ponsel Zivannya. Yuda tersenyum mengunyah makanannya.
hai.... hai.... hai... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
luv..... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1