
Zivannya menghembuskan nafasnya melihat bangunan kampus tempatnya menimba ilmu dulu, ia berjalan pelan mengikuti langkah Rara yang berjalan dengan tenang melihat sekitar "akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bukan" senyum Rara, Zivannya tersenyum mengangguk menyentuh setiap bangunan yang mengikat rasa menyatukan asa melihat tempatnya belajar.
"kangen suasana kelas nggak" datang Regan tiba-tiba Zivannya menoleh sesaat "terkadang sih mas dosen, seperti saat kita melangkah pertama kali masuk kesini dulu" angguk Zivannya berjalan pelan "kenapa nggak sekolah lagi dan mengajar disini" senyum Regan Zivannya mengangguk pelan. "tentu, jika Tuhan memberi ijin maka akan terjadi mas dosen" jawab Zivannya "berapa hari kamu disini" tanya Regan, "hanya setelah Rara wisuda" jawab Zivannya menatap Regan "kenapa kamu tidak pernah memberiku kesempatan Zi" hembus nafas Regan berjalan "karena dia lebih mencintaiku" senyum Zivannya "kenapa bisa..... aku juga mencintaimu dengan sepenuh hati. kamu juga tahu itu" jawab Regan cepat. "hanya dia yang tidak memalingkan wajahnya saat aku berada di dunia lain" jawab Zivannya pelan, Regan menoleh cepat "setelah kepergian suamiku terdahulu aku tidak bisa melihat orang lain kecuali keluarga suamiku. saat itu bukan karena kemauan ku tapi alam bawah sadar ku yang menguasai jiwa dan ragaku selama kepergiannya" terangkan Zivannya
"mama ku orang tua satu-satunya yang aku miliki pergi selama-lamanya beberapa bulan sebelum suamiku pergi meninggalkan ku juga, ketika mereka ingin mengatakan sesuatu kepadaku harus berada dekat dengan wajahku dan menyentuh kepalaku agar aku merespon perkataan mereka dan melihat apa yang mereka inginkan" tunjuk Zivannya ke arah Rara, Regan menatap Zivannya terkejut. "hanya dia yang mau melihatku, menemaniku dan menjagaku selain mereka bukan aku yang meminta, bukan aku yang menginginkannya ada disampingku karena selama itu pula aku tidak bisa melihatnya walau dia berada di depanku" senyum Zivannya.
"jadi bukan aku yang menentukan takdirku, itu karena karena Tuhan yang menunjukkannya kepadaku, terimakasih banyak mas dosen telah membuatku merasa tersanjung tapi ada seorang laki-laki yang jauh lebih membuatku sebagai perempuan yang istimewa dihatinya" senyum Zivannya menundukkan kepalanya sedikit tanda menghormati Regan, ia berjalan pelan mendahului Regan yang hanya bisa memandang Zivannya berjalan di koridor kampus bersama Rara.
"hallo, by" salam Zivannya
"dimana, yang. dikampus" tanya Langit
"hhhmmm..... sudah ketemu juga dengan mas Regan jika kakak penasaran dengan hal itu" tawa Zivannya.
"tidak" jawab Langit cepat.
"ooohhh..... begitu, baiklah berarti aku tidak akan cerita mengenai pembicaraan kami barusan jika kakak tidak ingin tahu" senyum Zivannya.
"yaaanggg......" ujar Langit kesal, Zivannya tertawa lebar mendengar kekesalan suaminya.
"tadi malam kita juga bertemu dicafe saat makan ketika keluar dari bandara, kebetulan by..... kami makan di cafe yang sama" jawab Zivannya
"hhhmmm...." dehem Langit.
"ini aku menemani Rara ngambil toga untuk besuk pagi dan ketemu mas dosen saat berjalan masuk. ntar aku kirim percakapan kami tadi. jadi hubby bisa mendengar sendiri apa yang membuat dirimu lebih darinya" lambai tangan Zivannya saat Rara ingin masuk kedalam ruangan mengambil toga.
"kamu merekamnya" tanya Langit
"he em..... karena aku menjelaskan semuanya dengan jelas agar tidak lagi membuat rasa yang keliru" jawab Zivannya, Langit tertawa kecil.
"apakah dia tahu kamu sudah menikah" tanya Langit
__ADS_1
"ya, semalam dia mengatakan bahwa aku tidak memberinya kesempatan untuk mengenal nya lebih dalam dan lebih suka memilih abdi negara sebagai pendamping hidup ku" jawab Zivannya pelan.
"aku kesana sekarang yaa...." kata Langit, Zivannya tertawa lebar
"buat apa, emang benar perkataannya bahwa aku lebih memilih abdi negara dibanding dia bukan karena profesinya tapi karena suamiku adalah orang yang istimewa jauh lebih dari dia" jawab Zivannya, Langit terdiam lama.
"by....." panggil Zivannya
"aku disini, yang..... hanya merasa sangat senang dengan perkataan mu barusan" jawab Langit
"udahan dulu, by..... aku dan Rara akan ke kantin dulu untuk sarapan. oh yaa..... aku udah ke tempat kak Aga tadi pagi, aku tidur dirumah dengan Rara beberapa hari kedepan" kata Zivannya.
"baiklah, jaga diri baik-baik, yang. pulang dengan utuh" pamit Langit, Zivannya mengirim percakapannya tadi dengan regan kepada suaminya segera memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.
"udahan" senyum Rara berjalan ke arah kantin, Zivannya mengangguk menyamakan langkah dengan sahabatnya "dia takut jika aku pergi dan tidak bisa dia hubungi" senyum Zivannya, Rara tersenyum melihat suasana kantin yang sudah mulai ramai.
mereka memesan bakso, rujak ice cream dan makanan kecil, "kamu ngobrol banyak dengan mas Regan Zi" tanya Rara, "hhhmmm.... karena aku mengatakan hal yang harus aku katakan mengenai Langit dan pernikahan kami" jawab Zivannya, Rara mengangguk memakan bakso dengan kuah pedas yang menggugah selera.
"beri alasan untuk tidak kembali ke Jogja lagi jika semuanya ada disini" ucap Zivannya, Rara manggut-manggut "boleh gabung" tanya Regan "tentu mas silahkan tidak ada tulisannya milik pribadi bukan" senyum terpaksa Rara sarkas Regan tersenyum menatap Rara dan Zivannya bergantian.
"terimakasih Zi telah menjelaskan semuanya padaku tentang dirimu dan suamimu. sampaikan salamku untuk nya karena dia memiliki perempuan yang hebat dan cantik" senyum Regan. Zivannya tersenyum mengangguk, "tentu mas dosen akan aku sampaikan kepadanya nanti" angguk Zivannya.
"mas Regan mau makan apa biar ditraktir ibu komandan" senyum Rara "komandan kah suaminya" tanya Regan terkejut "hhhmmm.... jangan didengarkan perkataan Rara mas dosen" geleng Zivannya meminum air mineralnya
"beneran mas, suaminya dinas di kelautan kakak pertamanya di udara abangnya di laut juga ayahnya jenderal di darat suaminya yang terdahulu adalah komandan khusus di kesatuan berseragam coklat" jawab Rara memakan baksonya santai.
"aaahhh..... jadi masuk akal kenapa kamu tidak bisa lepas dari abdi negara" angguk-angguk Regan, Zivannya dan Rara tertawa "teman baiknya semuanya bukan abdi negara mas, sejak dia sekolah ada seorang anak pejabat, aku dan dimas juga bukan" geleng Rara Regan tersenyum "yang dia mau hanya abdi negara" kata Regan. "karena hanya mereka yang mampu membuatnya tegak berdiri hingga sekarang dalam keadaan yang waras" jawab Rara sarkas
Regan terdiam lama "maafkan aku" kata Regan pelan Zivannya menggeleng memakan baksonya "tidak apa mas dosen untuk apa meminta maaf kita punya Tuhan yang memiliki kuasa hidup masing-masing dari hambanya bukan, cukup ikhlas menjalani tidak ada yang harus ditakuti dan di sesali" jawab Zivannya.
"apa kita akan pergi keluar sore ini Ra" tanya Zivannya menatap para mahasiswa yang berlalu lalang di depannya. "tentu, tapi nikmati suasana kampus yang bakal kita tinggalkan ini" pejam mata Rara menghirup udara disekitarnya Zivannya menopang dagu melihat kesibukan anak tehnik yang sedang mengerjakan tugas dimana aja "jadi inget bisa semalaman nggak tidur karena ngerjain tugas, lihat mereka tuh dengan langkah gontai menenteng tugas setelah seharian mengerjakannya mata-mata yang butuh untuk tenggelam dalam indahnya mimpi" isyarat dagu Zivannya, Rara membuka matanya dan melihat gerombolan mahasiswa menenteng tugas setelah lembur semalaman.
__ADS_1
Rara tersenyum menatap mereka dirinya dan Zivannya telah melampaui tahapan itu, sekarang mereka berdua akan melewati tahapan selanjutnya dalam fase hidup mereka.
"ada dimana Zi" tanya Yuda.
"dikampus, dimana" tanya Zivannya menoleh ke kanan dan ke kiri ia merentangkan tangannya keatas melihat Yuda yang mencari mereka Rara tersenyum melambaikan tangannya melihat kedatangan teman baik sahabatnya.
"darimana" tanya Rara menyodorkan minuman dingin Yuda duduk didepan mereka meminum segera "barusan datang lihat media sosial kalian berdua disini langsung kesini aja dulu" kata Yuda Rara memesan bakso untuk Yuda. Zivannya memperhatikan tingkah mereka berdua "bang Langit nggak ikut" tanya Yuda, Zivannya menggeleng "tugas negara lebih penting dari isterinya" jawab Zivannya Yuda tertawa pelan, "pilihanmu lebih mencintai kesatuannya daripada dirimu" tatap Yuda, Zivannya tersenyum mengangguk.
"sejak kapan kalian saling bertukar kabar" tanya Zivannya pelan "sejak tidak sengaja ketemu di Bali kemarin" makan Yuda, Zivannya mengangguk menatap mereka "aku ikut senang mendengarnya benar-benar bersyukur jika doaku terkabul" senyum Zivannya Yuda mengangguk "apaan sih kalian berdua nggak usah banyakan berharap nanti kalo jatuh sakit rasanya" sarkas Rara, Yuda dan Zivannya mengangguk.
"sampai besuk berarti disini nya" tanya Zivannya "he em....." angguk Yuda. "nginep dirumah aja sekalian biar besuk berangkat bareng dengan kita" jawab Zivannya "jadi pengantar kemana aja" kata Rara tertawa "baik" selesai makan Yuda.
Zivannya berdiri seketika Rara kaget dan menatap sahabatnya yang beranjak dari duduknya menoleh melihat ke arah Zivannya menatap yang segera berlari membantu seorang gadis yang kesulitan mengumpulkan paper tugas-tugasnya. "kebiasaan" seruput minuman Rara Zivannya tertawa kecil melihat Rara yang tanpa ekspresi "nggak nyangka ada pengulangan memori" peluk Zivannya Rara menggoyang tubuh Zivannya ke kiri dan ke kanan "ya.... dengan sigap gadis yang suka naik gunung mengejar tugas yang beterbangan kemana-mana" tawa Rara Zivannya tertawa menitikkan air mata "he emm..... dengan penuh perjuangan dimarahi habis-habisan oleh dosen killer yang seenaknya ngomong apapun" hapus airmata Zivannya disudut matanya sambil tertawa mereka berdua tertawa lebar.
"sekarang gadis itu malah jadi ibu ketua wanita di kesatuan suaminya apa mereka nggak tau ya.... gimana ibu ketua kalo kuliah" angguk Rara sarkas mereka tertawa bahagia, Yuda hanya diam memperhatikan dua perempuan yang sedang melepas kerinduan "pergi ke pantai yuk" kata Rara Zivannya menggeleng "kalo mau pergi dekat-dekat aja besuk pagi kamu harus kliatan cantik untuk melepas status mahasiswa yang melekat dipundak mu" geleng Zivannya, Rara menghembuskan nafasnya "baiklah, abis kewajiban siang kita ke pusat keramaian main game" usul Rara, Zivannya mengangguk memberi tanda Ok dengan jemarinya "siapkan mental mu untuk bertanding denganku" naikkan lengan baju Rara, Zivannya tertawa melakukan hal yang sama. "aisshhh..... komandan satu ini nggak bisa liat istrinya senang apa ya...." lihat layar ponsel Zivannya.
"aku mau kewajiban siang kak" salam Zivannya.
"chat aja, habis ini mau ke pusat keramaian sama Rara" hembus nafas Zivannya menghadapi suaminya.
"aku matikan daya jika tidak bisa menghentikan jarimu menghubungiku terus" garuk-garuk kening Zivannya
"iya, baiklah..... hhhmmmm..... iya..... luv U" akhiri Zivannya
Rara tertawa ngakak "baguslah kalo selalu ingin tahu keadaan mu Zi" tepuk-tepuk bahu Rara, "sayangnya kita bukan perempuan yang suka begitu kan" pandang Rara Zivannya mengangguk menyetujui "keberadaan laki-laki bikin ribet kan" tanya Rara Zivannya mengangguk tersenyum "terkadang malah mereka yang membuat sesuatu jadi gede masalahnya" kata Rara, Zivannya mengangguk "lupa kalo ada laki-laki didepan kalian" tatap Yuda Rara dan Zivannya menoleh "lupa" cengir Rara dan Zivannya kompak, Yuda menghela nafasnya mengusap dagunya melihat kedua gadis itu yang sebelas dua belas kelakuannya.
hai...... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku terimakasih atas dukungannya selama ini.
luv..... luv..... luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1