
"pulang jam berapa by" tanya Zivannya saat terhubung dengan suaminya, Langit melihat ponselnya memastikan itu panggilan dari Zivannya, karena apa yang dilakukan istrinya itu sangat jarang dilakukan. "abis kewajiban petang, yang. ada apa" tanya Langit pelan.
"apa aku tidak boleh bertanya kapan kamu pulang" tanya Zivannya terlihat sedih. Langit kembali menatap layar ponselnya merasa ada sesuatu yang berbeda, tidak biasanya istrinya bersikap begitu.
"tentu saja boleh, yang. malah aku senang kamu menanyakan hal itu, mau aku bawakan apa saat pulang nanti" tanya Langit pelan. Zivannya menatap suaminya, "bisakah pulang sebelum itu, aku ingin memelukmu sambil tidur. aku tidak bisa tidur, by" hela nafas Zivannya, Langit mengerutkan keningnya melihat istrinya yang sembari duduk diranjang mereka.
"apa kamu baik-baik saja, yang" tanya Langit memastikan.
"apa aku terlihat tidak baik-baik saja, aku tidak tau kenapa aku ingin memelukmu sekarang" pandang Zivannya memelas. Langit menatap istrinya yang terlihat lemas.
"yang" panggil Langit, Zivannya memejamkan matanya tertidur. Langit menghela nafasnya melihat istrinya yang terlihat pucat.
"Bas" panggil Langit, Baskara mendekat segera.
"siap, ndan" pandang Baskara, Langit menopang tangan kanan dimulutnya menatap layar ponselnya.
"barusan Zi menghubungiku, menanyakan kapan aku pulang, dia ingin aku segera pulang dan memeluknya agar dia tertidur, padahal barusan dia langsung tidur saat menghubungiku" tatap Langit heran, Baskara menatap Langit lama.
"saya akan panggil Indira sebentar, ndan. karena dia yang lebih berkompeten" kata Baskara segera keluar untuk memanggil Indira.
"siap, ndan" salam Indira datang bersama Baskara. Langit menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya "istri ku agak aneh hari ini, Indira. barusan dia memintaku pulang cepat memeluknya agar dirinya bisa tidur, padahal belum selesai kita ngobrol di ponsel dia udah terlihat tidur. dua hari ini badannya nggak enak, demam. saat aku tinggal tadi dia pucat dan makannya semakin sulit" tatap Langit dingin. Indira mendengarkan dengan seksama.
"dan satu lagi, komandan sekarang suka kopi hitam. hal yang tidak dia sukai dari dulu, coklat panas bukan lagi minumannya dan sering meminta makanan yang asam" kata Baskara menambahkan, Indira menoleh terkejut mendengar perkataan Baskara.
Langit mengangguk mengiyakan, "Zi nggak mau ke dokter, karena ini mendekati siklus bulanan nya. biasanya dia akan merasa lemas dan tidur seharian jika hal itu terjadi" kata Langit.
"kalau melihat gejalanya kemungkinan ibu baru hamil muda, ndan. akan ada perubahan hormon dan badan yang membuatnya merasa tidak enak badan dan komandan sepertinya yang nyidam" senyum Indira, Langit menegakkan badannya mendengar ucapan Indira, ia memandang Baskara yang juga terlihat tidak percaya.
"untuk memastikan periksa ke dokter kandungan, ndan. atau kalo untuk pemeriksaan awal beli testpack untuk mengetahui ibu hamil atu tidak" pandang Indira.
Langit segera berdiri dan keluar ruangan dengan cepat meninggalkan mereka berdua yang terlihat bengong dengan sikap Langit, Baskara segera tersadar dan mengejar Langit keluar.
"ndan, saya antar naik kendaraan roda dua untuk memastikan dugaan Indira" jejeri langkah Baskara, Langit menoleh dan mengangguk. ia naik dibelakang Baskara yang segera melaju ke apotek terdekat untuk membeli alat tes kehamilan yang disarankan Indira tadi.
"Bas, sedikit lebih cepat kenapa" tepuk bahu Langit, Baskara menghela nafasnya dan mengangguk karena tidak mau berdebat. Langit segera turun dan melangkah menuju apotek untuk menanyakan keperluannya.
mereka segera menuju rumah dinas Langit, "Bas kamu kembali ke kesatuan, aku akan menemani Zivannya dulu. ini juga udah sore" kata Langit, Baskara mengangguk mengerti. Langit segera melepas sepatunya dan menemui istrinya didalam ruangan pribadi mereka.
__ADS_1
ia melihat Zivannya tertidur sambil bersandar duduk didinding, ia meletakkan alat tes kehamilan di nakas samping, segera melepas baju dinas abdi negara nya. membersihkan diri untuk menemani istrinya.
"udah pulang, yang" buka mata Zivannya pelan, Langit tersenyum mengangguk mengusap bahu istrinya berulangkali. "apa kamu mau ke bathroom" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "aku hanya ingin tidur mendekapmu" geleng Zivannya pelan dan segera kembali kedalam cover bed yang menutupi tubuhnya hingga hanya menampakkan sedikit kepalanya. Langit segera masuk dan memeluk istrinya itu erat hingga mereka tertidur bersama dengan tenang.
"kak, aku pingin ke bathroom buang air kecil" lepas tautan Zivannya beranjak dari ranjang, Langit membuka matanya cepat dan meraih tes kehamilan bergegas menyusul istrinya ke bathroom.
"kak Langit mau ngapain, aku hanya mau buang air kecil" kaget Zivannya, Langit mengikuti instruksi yang telah diberitahukan mengenai penggunaan testpack kehamilan. ia segera meletakkan alat dibawah area sensitif istrinya. "ngapain sih kak" kesal Zivannya setengah tertidur saat Langit mengganggunya. Langit hanya bisa mengecup bibir istrinya karena tidak tau harus menjawabnya bagaimana sebelum dia melihat hasilnya nanti, setelah beberapa menit ia melihat hasilnya. seketika ia melebarkan matanya tidak percaya dengan hasil yang tertera di alat tes kehamilan hingga tidak sadar terduduk saking terkejutnya.
Zivannya segera membersihkan dirinya dan berjalan meninggalkan suaminya yang terlihat aneh sejak tadi untuk kembali tidur diranjang nya yang empuk. Langit bergegas menyusul istrinya untuk memperlihatkan hasilnya.
"yang" usap perut Langit, Zivannya berdehem. Langit menyodorkan alat tes kehamilan ke paras istrinya. "kenapa, kak. apa ini" kerut Zivannya tidak mengerti apa yang dilakukan suaminya.
Langit membenarkan posisi istrinya untuk duduk dengan benar, Zivannya membuka matanya lebar menutup mulutnya menatap suaminya Langit yang tersenyum lebar mengangguk melihat ekspresi istrinya yang sama dengannya tadi. mereka saling bertatapan lama tanpa bereaksi apa-apa.
Zivannya menunjuk dirinya sendiri memastikan bahwa itu hasil dari dirinya. Langit mengangguk tertawa menitikkan air mata bahagia, Zivannya menatap suaminya menangis bahagia. mereka saling berpelukan dan menangis.
"terimakasih, yang. kamu memberiku hadiah terindah dan terbaik, jaga diri baik-baik. aku akan selalu menemanimu menjaga buah hati kita" usap air mata Langit di kedua pipi istrinya, Zivannya menangis deras tidak tahu harus berkata apa. Langit kembali memeluk istrinya dan mengecupi rambutnya berulangkali menenangkan tubuh istrinya yang terguncang saking senangnya.
"yang, kita beritahu semuanya sekarang. mumpung ini masih jam 8" tanya Langit pelan. Zivannya menangis sesenggukan menahan dadanya yang terasa sesak.
"ya" usap air mata Zivannya segera. Langit melakukan sujud syukur dan memanjatkan doa karena telah diberi kepercayaan yang begitu besar dari Tuhan kepada dirinya dan Zivannya. ia menyalakan penerangan kamar supaya lebih terang dan seraya mengambil ponselnya, meletakkannya didepan mereka berdua. ia segera membuat panggilan kepada keluarga Triastomo dan ibunya yang berada di Malang.
"maaf semua karena kami mengganggu istirahat kalian malam ini dan terimakasih sudah mau menjawab panggilan kami berdua saat ini" senyum Langit mengatupkan kedua tangannya didepan dada. Zivannya mengusap air matanya agar tidak jatuh deras.
"ada apa, apa Zivannya kenapa-kenapa" tanya ayah melihat dengan segera layar ponselnya, bunda segera datang duduk disebelah ayah. Langit tertawa pelan menggeleng.
"jangan yah, Zivannya tidak boleh kenapa-napa apalagi selama 9 bulan ke depan nanti" tatap Langit tersenyum. bunda dan ayah saling berpandangan belum paham dengan maksud ucapan Langit.
Langit tertawa lebar melihat mereka yang dilayar serius melihatnya. "maaf, Langit terlalu semangat" dehem Langit pelan. ia segera memperlihatkan hasil alat tes kehamilan Zivannya. ibu dan bunda segera berteriak pelan saat membaca hasil nya yang berjumlah dua.
"ya, Tuhan. selamat Zi, anakku" tawa ibu menangis bahagia. bunda meletakkan kedua tangannya di dada merasa tidak tahu harus berucap apa melihat kebahagiaan anak bungsunya.
"ma, sini sebentar" panggil Dirgantara tidak mengerti apa yang terjadi, Mentari memeluk Matahari saat melihat hasil yang diperlihatkan Langit di layar ponselnya. Valerie mendekat dan menutup mulutnya saat melihat tangan Langit, "Zi hamil anaknya Langit, pa" ucap Valerie menatap suaminya. Dirgantara membuka matanya lebar menatap istrinya dan bergantian menatap layar. mereka tertawa lebar mendengar kabar gembira yang diberikan oleh Zivannya dan Langit. "selamat Lang, selangkah lebih maju sekarang" senyum Dirgantara lebar melihat kedua adiknya itu.
"terimakasih kak, kami baru saja melakukan tes sendiri tadi. karena dua hari ini Zivannya mengatakan badannya tidak enak dan tidak mau ke dokter untuk diperiksa karena Zivannya berpikir sudah mau masuk siklus bulanannya. jadi kami berpikir itu karena hormon seperti biasanya" kata Langit.
"haa, adek badannya anget. bawa kesini aja, biar diurut kakinya sama mbak, badannya pasti sakit" kata bunda memastikan keadaan Zivannya.
__ADS_1
"benar apa yang dikatakan bunda, Zi. jika bisa antar istri mu kerumah bunda biar ada yang jaga, jika kamu dinas dari pagi sampai petang, Zivannya sendirian dan tidak ada yang menemaninya selama waktu itu, jika dia ingin kebelakang dan tidak kuat maka tidak akan ada yang menolongnya" kata ibu kuatir. Langit mengangguk mengerti.
"baik Bu, bund. Langit akan membawa Zi kerumah bunda, agar ada yang menjaganya jika Langit bekerja" jawab Langit. "tapi, Zi sudah tertidur lagi barusan, dia dua hari seperti ini. tiba-tiba tidur dengan lelap dan meminta Langit untuk memeluknya saat tidur" kata Langit memperlihatkan Zivannya yang tertidur sembari duduk. mereka tertawa melihat tingkah Zivannya yang tidak peduli dengan panggilan di ponsel mereka.
"pagi-pagi langsung kesini Lang, jika Zivannya bangun bawa ke mobil, biarkan dia tidur di mobil kembali. bunda kuatir jika dia sendirian saat kamu tinggal, kayaknya dia hamil yang tidak susah. maksudnya tidak mual dan muntah-muntah setiap pagi" kata bunda.
"dia mual bund, tapi aku yang merasakan hal yang membuatnya mual, secara tidak sadar aku sekarang minum kopi hitam, makan makanan yang asam dan eneg mencium aroma bawang putih" hela nafas Langit. mereka saling berpandangan dan menatap Langit yang akhirnya tertawa bersama mendengar keluhan Langit.
"bagus Lang, jadi kamu bisa merasakan betapa beratnya Zivannya membawa anakmu didalam" senyum ibu, Langit tersenyum.
"selamat, aku dulu juga begitu saat Riki ada diperut mama nya. aku yang merasakan mual dan muntah setiap pagi dan itu sangat menyiksaku karena tidak bisa segera masuk kerja" hembus nafas Dirgantara, Matahari tertawa lebar melihat dua saudara laki-laki istrinya itu.
"tunggu giliranmu bang, jangan senang dulu. jika kamu merasakan pasti tidak akan ketawa kenceng begitu" tatap Dirgantara, Mentari memukul dada Matahari pelan. "iya, aku tahu. maafkan aku, karena belum bisa berpikir sejauh itu. padahal istri kita yang mengandung kenapa jadi suaminya yang nyidam. aku belum paham sejauh itu" kata Matahari berdehem.
"karena suaminya terlalu sayang dengan istrinya, jadi tidak mau melihat istrinya menderita saat hamil" kata bunda. Mentari menatap suaminya kesal, Matahari tersenyum memeluk istrinya dan mengecup bibirnya sekilas.
"maafkan aku, yang. aku pasti akan berbagi beban denganmu saat ada junior didalam sini" tatap Matahari, Mentari tersenyum mengangguk.
"kenapa jadi kalian yang beradegan romantis begitu" kata Dirgantara. Mentari menjulurkan lidahnya melihat ekspresi kakak laki-laki satu-satunya yang tidak senang.
"udah, malu sama ibunya Langit melihat kalian udah pada tua malah seperti anak kecil begitu" kibas tangan bunda melihat anak-anak nya yang sedang bercanda. mereka tersenyum lebar.
"bentar lagi aku dapat cuti, segera terbang ke Jakarta untuk melihat perut Zi yang bertambah besar" senyum Matahari, mentari tertawa bertepuk tangan senang.
"baiklah, jangan lama-lama kesininya, keburu adek udah brojol duluan nanti" kata bunda tersenyum. mereka tertawa bersama.
pagi hari
Langit beranjak dari tidurnya karena merasakan mual yang teramat sangat. ia segera berlari ke dalam bathroom untuk mengeluarkan isi perutnya. Zivannya mengurut leher suaminya agar dapat mengeluarkan isi perutnya.
"udah, yang" isyarat Langit terduduk lemas disamping closet setelah mengeluarkan isi perutnya. Zivannya menekan tombol flush agar kembali bersih dan mengelap wajah Langit agar bersih.
"bisa berjalan, kak" tanya Zivannya berdiri tegak didepan Langit yang lemas, ia segera berpegangan dengan dinding kamar mandi dan berjalan pelan menuju ranjang. Zivannya berjalan keluar ruangan untuk memberi minuman jahe kepada Langit.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.
Luv.... Luv....Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all