
sambil menyeruput jahe hangatnya Zivannya melihat lalu lalang orang-orang yang masih sangat ramai malam itu, "apakah kita akan sampai malam kali ini" toleh Langit, Zivannya tersenyum melihat Langit.
"aku menikmati suasana ini kak, lebih terasa hidup dan hangat dimalam hari, apalagi ditemani dirimu yang membuatku nyaman" kata Zivannya, Langit mengunyah makanannya.
"baiklah, mungkin akan lama juga untuk kembali kesini karena kita akan sibuk di pusat" angguk Langit, Zivannya kembali melihat berbagai kalangan melintasi depan mereka.
"kamu di Jogja, Zi" sapa seseorang, Zivannya menoleh untuk melihat siapa yang menyapanya kali ini. Dimas menghempaskan tubuhnya disamping Langit, akan terjadi perkelahian sengit dan berujung dia yang akan babak belur bertarung dengan Langit jika dia duduk disebelah Zivannya dan mengabaikan Langit untuk berbincang-bincang.
"aku libur hingga minggu depan" senyum Dimas menatap Langit yang terlihat kesal karena mengganggu makan malam romantisnya, Zivannya tergelak melihat dua laki-laki yang sedang beradu mata seperti saling ingin melibas satu sama lain.
"tadi siang kami sampai Jogja, Dim. abis jemput kak Langit dari Surabaya setelah sebulan tugas ke negara Sakura" tatap Zivannya menyodorkan teh panasnya, Dimas tersenyum mengangguk meminum sedikit teh panas Zivannya.
"trus kamu ngapain sendirian disini" lirik Langit, Dimas menggeleng mengangkat bahunya tanda tidak berdaya.
"aku hanya kangen dengan rumah, Jogja dan suasananya" terawang Dimas kedepan, Zivannya menopang dagu menatap sahabat laki-laki nya yang sudah tidak lagi bersama sahabat perempuan nya Rara. "aku tau rasanya, Dim" jawab Zivannya datar. Langit menutup mata Zivannya dengan tangan kirinya agar tidak memikirkan dan membayangkan masa lalu.
"ada aku di sini, yang. nggak usah mikir yang macem-macem setidaknya kita akan selalu bersama sepanjang hayat" bisik Langit, Zivannya menepuk punggung tangan Langit agar melepaskan tangan nya dari kedua matanya.
"aku tidak memikirkan hal lain kak, aku hanya bisa merasakan apa yang Dimas pikirkan saat ini. kenapa memangnya" kerut Zivannya memegang tangan suaminya, Langit tersenyum lebar.
"Luv U mu sweetie honey bunny" tatap Langit, Dimas tersenyum disudut bibir melihat kelakuan pasangan yang sudah sah itu saling bersikap romantis.
"apa dia baik-baik saja" tatap Dimas kedepan tanpa menoleh melihat mereka berdua, Zivannya mengangguk. "sedikit lebih kurus karena harus berlari kesana kemari melakukan tugasnya, sama seperti kita saat dulu" jawab Zivannya mengenang saat dirinya dan Dimas berada di pedalaman untuk mengembangkan kemampuannya menerima teori saat kuliah.
"hhmm, baguslah. dia memang harus bisa berjuang sendiri sekarang" angguk-angguk Dimas memutar gelas teh yang dipegangnya.
"apa kamu tidak berencana untuk melihatnya" toleh Zivannya, Dimas kembali menyunggingkan senyum disudut bibir nya.
__ADS_1
"jika aku melihatnya justru aku takut tidak akan bisa melangkah lebih jauh darinya lagi" ujar Dimas pelan, Zivannya menghela nafasnya panjang.
"kenapa nggak kamu hadapi saja, apapun hasilnya itu urusan belakangan yang penting kamu sudah berusaha untuk tidak menyerah, apapun yang terjadi jangan takut untuk mencoba. kamu laki-laki yang akan jadi pemimpin nya, yang akan jadi imamnya kelak" jawab Langit pelan. Zivannya dan Dimas menoleh menatapnya. Langit memandang mereka bergantian berdua.
"aku hanya memberitahu, jika begitu saja tidak bisa menyelesaikan bagaimana dia akan membimbing anak-anak nya kelak saat ada sesuatu menimpa mereka, Rara bukannya tidak mau menemui mu bukan" kata Langit, Zivannya mengangguk membenarkan perkataan Langit.
"katakan yang memang mau kamu katakan, jika dia bersedia menemani mu kembali pasti dia akan mendukung apapun jalan yang kalian berdua pilih. tidak ada yang benar atau salah dalam hal perasaan" ujar Langit, Dimas mengangguk pelan.
"besuk pagi aku akan ke sana menemui dan berbicara dengannya, tidak mudah memang tapi jika tidak dicoba maka aku juga pasti akan merasa menyesal dikemudian hari. tidak ada yang perlu di sesali jika sudah mendengar dari hati kami masing-masing" hembus nafas Dimas, Zivannya terdiam tidak memperlihatkan reaksi apapun.
pagi hari
"yang, mau kemana pagi ini" peluk Langit dari belakang, Zivannya menggeleng dan kembali melanjutkan tidurnya untuk memulihkan kondisi tubuh nya yang kurang istirahat. Langit beranjak dari ranjang, memandang istrinya yang masih terlelap dalam tidur panjangnya, ia bergegas membersihkan dirinya sebelum keluar dari kamar untuk melihat makanan apa yang ada di box pendingin. dikeluarkannya beberapa bahan makanan dan segera mengolahnya menjadi makanan.
"yang, dimana" seru Zivannya, Langit tersenyum mendengar suara istrinya. "makan" seru Langit, terdengar pergerakan dari kamar tidur kemudian bathroom. Zivannya berjalan pelan kearah Langit hanya menggunakan t-shirt gombrong. Langit tersenyum melihat penampilan istrinya yang tidak berubah dan membuatnya selalu ingin melahapnya kalau dia begitu. Zivannya duduk disamping Langit segera menyodorkan air putih hangat ke mulut istrinya yang diteguknya hingga habis dan menyuapi Zivannya dengan makanan buatannya.
"setelah ini akan tidur lagi" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "kalau begitu, aku akan berkunjung ke kesatuan disini. dengan pakaian sipil saja" kata Langit. "apakah tidak apa-apa" topang dagu Zivannya, Langit manggut-manggut.
"ada surat yang harus ditandatangani" suapi Langit, Zivannya mengangguk. "jangan kemana mana saat aku keluar nanti" usap kepala Langit, Zivannya mengangguk.
"apa ikut saja dan tidur di mobil" tanya Langit, Zivannya menggeleng. Langit menatap istrinya yang terlihat menarik sebelum akhirnya menerima panggilan yang mengganggunya dari tadi. "ya" terima panggilan Langit. Zivannya mengambil alih alat makan dari tangan Langit dan segera menyuapi dirinya dengan makanan hingga habis saat Langit berbincang-bincang dengan seseorang, ia mencuci semua peralatan masak yang digunakan suaminya tadi. kembali masuk kedalam ruangan pribadinya untuk membersihkan dirinya karena ternyata waktu sudah beranjak siang. Zivannya memakai rok panjang yang ada di walk closet nya, Langit mengecup bibir istrinya yang terlihat mempesona sambil berkoordinasi dengan seseorang di ponselnya. Zivannya mempersiapkan kendaraan sebelum mereka pergi karena tahu pasti nanti Langit akan banyak menerima panggilan dan tidak akan mengendarai kendaraan saat melakukan panggilan.
"dah siap, yang" usap punggung Langit tersenyum. Zivannya mengangguk mengambil perlengkapan yang akan dibawanya. Langit segera membawa beberapa surat yang akan diberikan di kesatuan kota tempatnya singgah nantinya.
Zivannya melajukan kendaraan meninggalkan rumah dan mengantar Langit menuju kesatuan, Langit tersenyum mencium pipi istrinya karena tahu dia tidak akan tega melihatnya sendirian.
tiba di kesatuan, Langit segera melapor dan dibawa masuk kedalam. Zivannya menunggu di dalam kendaraan agar tidak memakan waktu lama bagi Langit menyelesaikan urusannya di dalam. Zivannya sampai tertidur menunggu Langit yang ternyata lama saat didalam, "maafkan yang, aku lama" usap rambut Langit membangunkan Zivannya, "udah selesai" kerjap mata Zivannya. Langit mengangguk menunggu istrinya agar sadar dulu dan melajukan kendaraannya dengan pelan meninggalkan kesatuan. "mau kemana lagi, kak" tanya Zivannya menyandarkan kepalanya kebelakang, "hhmm, makan. aku lapar" jawab Langit, Zivannya melihat keluar memastikan dimana mereka sekarang untuk mencari tempat makan yang dekat dari sana.
__ADS_1
"belok kiri, lurus nanti ada rumah makan seperti rumah biasa tapi masakan nya enak" toleh Zivannya, Langit mengangguk mengerti. mereka segera keluar dan mendapati kantin makanan terlihat ramai. "apa tidak apa-apa, yang" toleh Langit, Zivannya tersenyum keluar dari kendaraan. Langit meraih jemari istrinya agar tidak berjalan sendiri dan menarik perhatian laki-laki lain yang sudah melihatnya tanpa ragu walau ada dirinya disampingnya. Zivannya mengambilkan makanan untuk suaminya dan kemudian dirinya.
"kenapa dua" lihat Langit tajam. Zivannya menoleh, "kalau satu piring, lauknya nggak banyak, yang. udah penuh dengan nasi dan sayur" senyum Zivannya, Langit mengangguk membantu Zivannya mengambil beberapa lauk yang mereka mau. Zivannya memesan jeruk dan teh panas. Langit menanti Zivannya menyelesaikan pembayaran sebelum duduk di kursi yang Zivannya inginkan.
"apa kamu sering kesini, yang" tanya Langit menyuapi Zivannya yang manggut-manggut. "sering sih nggak, by. tapi sesekali dengan Dimas dan Rara saat masih giat kuliah" senyum Zivannya, Langit tersenyum.
"mau berapa hari disini, yang" tatap Langit, Zivannya memberi tanda tiga dengan jemari tangannya. Langit tersenyum mengangguk.
"kamu mau pake kendaraan sendiri atau mau naik kendaraan umum dan dipaketin" tanya Langit. "sendiri aja, kita bisa menikmati Travelling berdua, mampir ketempat ibu di Malang lagi" tanya Zivannya, Langit tertawa kecil mengangguk.
"sudah kangen dengan rumah" tanya Langit, Zivannya mengangguk. "aku kangen dengan ibu dan bunda. dimana ada mereka aku merasa tenang, by" jawab Zivannya pelan, Langit mengangguk. "dan aku juga kan" tanya Langit, Zivannya tersenyum melihat suaminya dan mengangguk.
"apa kita akan tetap di rumah dinas selama disana" topang dagu Zivannya. "apa kamu mau pindah keluar" kerut Langit, Zivannya menggeleng. "lebih menghemat waktu sebenarnya, yang. jika aku disana" tatap Langit. "terlebih lagi, aku merasa lingkungannya aman untuk mu jika nanti tiba-tiba aku harus ikut berkunjung ke suatu daerah dan meninggalkanmu sendirian, tidak menutup kemungkinan kamu akan pulang kerumah bunda dan ayah. akan aku ijinkan kapanpun itu. tapi jika tiba-tiba aku harus pergi dan minta untuk membawakan pakaian ganti maka kamu akan segera sampai. tidak apa jika kamu ingin sesekali menginap dirumah ayah. saat aku libur aku akan menemanimu kesana" kata Langit, Zivannya mengangguk menyeruput jeruk panasnya.
"yang, apa kamu juga kesini dengan Aga" tanya Langit penasaran, Zivannya menggeleng. "belum sempat kak, kita hanya beberapa bulan bersama secara sah tapi hanya sedikit waktu yang benar-benar kita jalani bersama" jawab Zivannya, Langit mengusap pipi istrinya. "maafkan aku menanyaimu hal yang nggak penting" kata Langit, Zivannya tersenyum mengangguk.
"aku tidak menganggap kalian berdua sama kak, kalian ada di waktu yang berbeda, sama-sama berharga dan sama-sama berarti dalam hidupku" jawab Zivannya, Langit mengangguk.
"yang, apa kamu sudah melihat kartumu" tanya Langit, Zivannya tersadar dan menggeleng pelan. "kan, pasti begitu" manyun Langit, Zivannya mencapit bibir Langit dengan jemarinya, Langit tertawa. "aku hanya ingin memastikan kamu menerima hakmu sebagai istriku atau tidak atau mau buat satu lagi dilainnya agar memudahkan mu" tanya Langit, Zivannya menggeleng tidak mau. "itu sudah cukup bagiku, by" jawab Zivannya, Langit segera memasukkan makanan ke dalam mulut istrinya itu.
"jika kita punya baby kelak, maka akan ada pemasukan sendiri untuk mereka, itu untukmu karena sudah menjadi ratuku" senyum Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang.
"makan kak, nggak usah bahas apapun yang berat-berat" gerakkan jemari Zivannya kekanan dan kekiri didepannya, Langit tergelak melihat istrinya yang jika makan tidak mau membahas sesuatu yang menurutnya tidak berarti.
Hai .... hai..... hai...... all readers, terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.
Luv.... Luv..... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all