Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 28


__ADS_3

"pagi ma" senyum Zivannya melihat mamanya sesaat sambil membaca kitab suci disamping mama, mama tersenyum dan meminta air putih. Zivannya segera mengambil dan menyerahkannya ke mamanya. mama melihat sekeliling ruangan, dilihatnya Aga masih tertidur dengan pulas disofa panjang.


"jam berapa Zi" pejam mata mama kembali.


"jam 5 ma, istirahat lagi aja. tadi malam mama balik kekamar terlalu malam, Zi sudah tidur duluan kak Aga yang masih terjaga" kata Zivannya.


"mama juga nggak tau sampai kamar jam berapa, tau-tau denger suara kamu ngaji" gumam mama tertidur kembali. Zivannya memandang mamanya sambil meneteskan air mata, kembali melantunkan ayat-ayat yang membuat hatinya jauh lebih tenang dan ikhlas. hingga akhirnya seorang perawat mengetuk pintu kamar meminta ijin masuk untuk mengecek keadaan mama sebelum dokter visit hari ini.


"aahh... kakaknya masih tidur ya, gantian jaga dengan adiknya" senyum perawat menatap Zivannya sambil memeriksa peralatan kesehatan yang dipakai mama Ranti. Zivannya mengerutkan kening sesaat dan akhirnya tersenyum.


"iya suster. gantian biar mama tetap ada yang memantau" angguk Zivannya menutup kitabnya dan melepas mukena.


"kalo boleh tau, jam berapa mama saya kembali kekamar ya suster" tanya Zivannya duduk disofa tempat Aga tidur.


"sekitar jam 11 malam, kakaknya yang masih menunggu" senyum perawat, Zivannya mengangguk.


"jam berapa dokter visit, sus" tanya Zivannya, "biasanya jam 8 pagi sudah dimulai pemeriksaan, mungkin nanti ada beberapa dokter yang mengunjungi pasien untuk mengecek keadaan pasien setelah hasil CT scan keluar" kata perawat.


"mama saya tadi bangun cuman minum terus tidur lagi, sus. kenapa ya" tanya Zivannya menatap perawat.


"mungkin karena efek bius yang masih tersisa, masih membuat badan menjadi lemas dan ingin tidur terus" jawab perawat, Zivannya mengangguk tersenyum.


"terimakasih sus, semoga mama saya segera diangkat penyakitnya" doa Zivannya, perawat mengamini doa dan harapan Zivannya, segera keluar setelah selesai melakukan tugasnya.


Zivannya membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan yang masuk diruang chat nya, membalas beberapa teman yang mengiriminya pesan. Zivannya memotret peralatan medis mama Ranti dan mengirim status akan bermalam disini beberapa hari. Zivannya segera me non aktif kan ponselnya. menghembuskan nafas pelan, menonton TV dengan bolak-balik mengganti saluran stasiun TV.


Aga mengerjapkan mata sesaat menyesuaikan cahaya lampu yang tidak terlalu terang. "jam berapa Zi" pejam mata Aga kembali.


"jam 5.45 pagi kak" jawab Zivannya, Aga berdehem dan tidak bergerak lagi. Zivannya meraih ponsel Aga dan melihat media sosial milik Aga, beberapa pesan masuk secara bersamaan, Zivannya asyik bermain permainan didalam ponsel Aga hingga tidak menyadari yang punya ponsel sudah bangun, habis dari kamar mandi dan duduk disampingnya.


"mau aku masukin permainan itu ke ponsel mu Zi" topang dagu Aga, Zivannya menoleh seketika dan kembali memainkan permainan. Aga menghela nafas panjang.


"jadi keranjingan kan" raih tubuh Aga, Zivannya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya, Aga menyusupkan tangannya dibalik t-shirt yang dikenakan Zivannya, mengusap-usap perut Zivannya yang datar, mengusap-usap benda kenyal candunya, Zivannya menepuk tangan Aga pelan agar jangan mengganggu konsentrasinya.


"awas kak, Zi naik level terus nih" kata Zivannya menjauh, Aga menahan tubuh Zivannya agar dekat dengannya.


"tadi ada perawat yang menanyakanmu kak, kayaknya suka, dia kira kita kakak adik. yang tadi malam mengantar mama kekamar" ucap Zivannya, Aga semakin merengkuh tubuh Zivannya erat. Zivannya mengecup pipi Aga pelan.


"dah kak, jangan sampai mama melihatmu begini" bisik Zivannya pelan sambil menggigit kuping Aga, Aga menggeram pelan karena perlakuan Zivannya yang sengaja memancingnya karena tahu dia tidak bisa berbuat lebih karena ada mama diruangan yang sama.


"aku akan memakanmu jika kamu sah menjadi istriku" bisik Aga, Zivannya tertawa pelan sembari menyerahkan ponsel Aga.


"kenapa ponselmu mati Zi" pandang Aga melihat ponsel Zivannya yang tergeletak tak bernyawa diatas nakas.


"malas kak, tadi cuman liat sebentar chat dari beberapa orang" geleng Zivannya menyandarkan kepalanya ke dinding, Aga meraih ponsel Zivannya dan menyalakannya segera.

__ADS_1


"saat seperti ini, jangan matikan alat komunikasi. jika terjadi sesuatu maka akan segera dapat memberitahu dan diberitahu" kata Aga, Zivannya hanya memandang mamanya yang masih tertidur dengan lelap.


"jam 8.20 pagi kenapa dokter belum visit" ujar Zivannya beranjak dari duduknya dan melangkah kearah pintu. Aga memperhatikan tingkah laku Zivannya.


"aku keluar dulu kak" buka pintu Zivannya bersamaan dengan dokter yang akan masuk untuk visit, Zivannya membuka pintu lebar dan mempersilahkan dokter dan perawat untuk masuk, Aga seketika berdiri mendekat kearah tempat tidur pasien. dokter yang biasanya memeriksa mama Ranti segera mengecek keadaan mama Zivannya.


"dari tadi tidur dok, hanya bangun sebentar untuk minum" kata Zivannya, dokter mengangguk dan tersenyum.


"mamamu memang harus banyak istirahat, terlalu gembira dan bahagia membuat beberapa hari belakangan membuat tubuhnya lelah" jelas dokter. Zivannya mengangguk.


"hasil pemeriksaan kemarin gimana dok" tanya Zivannya menatap dokter.


"sebenarnya keadaannya tidak begitu baik, cairan yang ada di paru-paru hampir memenuhi rongga dan sebagian besar sudah berupa nanah" hembus nafas dokter. Zivannya sedikit pusing dan serasa ingin jatuh, Aga berdiri disamping Zivannya dan menopangnya dengan cepat.


"maafkan Zi, mamamu tidak bisa melakukan perjalanan jika ingin membawanya berobat keluar. kondisinya semakin menurun karena oksigen yang masuk semakin berkurang, mamamu ingin bersamamu dulu beberapa minggu ini dan beliau belum mau untuk dirawat sebelumnya" kata dokter menatap Zivannya.


"jadi kita harus bagaimana dok" tanya Aga melihat dokter dengan tenang.


"kita tunggu keadaannya pasien dulu, jika kondisinya memungkinkan untuk penanganan lebih lanjut maka akan kita lakukan prosedur yang berlaku. tapi jika kondisinya tidak memungkinkan kita hanya bisa menunggunya untuk sedikit sehat dan melakukan prosedur lebih lanjut. tergantung kondisi mama Zivannya" kata dokter, Aga mengangguk mengerti.


"mamamu selalu mementingkan dirimu Zi, beliau bercerita banyak mengenai keinginannya memberikan yang terbaik untukmu, makanya tidak memberitahu penyakitnya adalah salah satu keinginannya selama ini. betapa senangnya saat mengetahui dirimu pulang dan bersamamu beberapa minggu membuat semangatnya hidup. jadi beliau meminta dosis obat yang sedikit lebih banyak untuk tidak terlalu sering mengunjungi rumah sakit" kata dokter pada akhirnya. Zivannya seperti tidak mempunyai tenaga untuk berdiri setelah mendengar perkataan dokter barusan. Aga segera membawa tubuh Zivannya dan membawanya kesofa panjang untuk dibaringkan.


"beliau tidak mau membuatmu kuatir atau merasa bersalah ketika tahu kondisinya, dia sudah merasa senang menjaga dan merawatmu hingga seperti sekarang" kata dokter. Zivannya merasakan kepalanya pening sekali dan tidak mampu untuk membuka matanya sama sekali.


"maafkan Zi ma... maafkan Zi..." tangis Zivannya, mama mengangguk dan mengusap airmata Zivannya yang mengalir deras, Aga menyentuh bahu Zivannya pelan.


"Zi, mama menginginkan kita menikah sekarang" bisik Aga, Zivannya menghapus airmatanya melihat mamanya yang menganggukkan kepala.


"mama merasa sehat Zi, jangan berpikir terlalu berat, Tuhan memiliki mukjizat yang tidak pernah kita duga" senyum mama Zivannya.


"dokter hanya bisa melakukan hal medis, tapi Tuhan yang mempunyai kuasa, jangan mendahului Tuhan berencana" tangkup pipi mama Ranti, Zivannya mengangguk kuat-kuat dan menghapus airmatanya dengan t-shirt lengannya. Mentari mendekati Zivannya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"kak, kapan datang" tanya Zivannya membasuh mukanya dan mengeringkan dengan handuk wajahnya.


"kemarin malam, kami menginap didekat sini dek, adek meminta bang Matahari untuk menyaksikan akadnya, aku ingin ikut karena dia satu-satunya adikku" senyum Mentari membantu Zivannya memakai gamis warna soft pink yang senada dengan Mentari dengan model yang berbeda.


"bunda yang mengharuskan kita memakai ini" senyum Mentari menaikkan resleting gamis Zivannya yang pas di badannya.


"ini sama aja dengan memakai kebaya kak" pandang Zivannya menatap Mentari yang tertawa pelan.


"tau sendiri kan bunda gimana, kita istri tentara" balik badan Mentari, Zivannya membelakangi mentari yang mengatur rambutnya, diikat model bun hingga terlihat seperti disanggul. Mentari segera merias Zivannya agar terlihat tidak pucat.


"done dek, kapan-kapan kita tutorial make up bareng, biasanya dengan kak Val, tapi karena ada Riki adiknya Raka jadi terkadang susah" senyum Mentari. Zivannya tersenyum dan mengangguk, mereka segera keluar dari kamar mandi dan sudah ditatap oleh sepasang mata beberapa orang.


Zivannya duduk disebelah Aga yang sudah mengenakan setelan jas hitam sama dengan Dirgantara dan Matahari. mama tersenyum menggenggam tangan Zivannya yang berkeringat dingin saat prosesi akad berlangsung. Dirgantara, Matahari, penghulu, om Hadi, ayah Aris, Mentari, mama Ranti. menjadi saksi pernikahan sederhana Aga dan Zivannya didepan penghulu.

__ADS_1


Aga mengucapkan janji akad dengan sekali tarikan nafas dan Zivannya telah sah menjadi istrinya, semua orang mengamini doa yang dipanjatkan oleh penghulu setelah Aga dan Zivannya resmi menjadi suami istri.


Zivannya mencium punggung tangan Aga pertama kalinya setelah resmi menjadi suaminya, Aga mencium kening Zivannya sesaat setelahnya. Mentari memberikan kotak perhiasan kepada Aga, Aga segera menyematkan cincin pernikahan berlian kecil di tengah emas putih.


"aku sudah menyiapkannya dari dua Minggu yang lalu, jadi didalamnya ada nama kita" senyum Aga, Zivannya tersenyum. mama memeluk Zivannya erat dan mencium seluruh wajah Zivannya.


"terimakasih Zi, memberi mama kesempatan untuk melihatmu bahagia bersama suamimu. jangan membantah apapun yang dikatakan suamimu" pandang mama Ranti menghapus airmata Zivannya yang turun kembali, Zivannya mengangguk dan memeluk mamanya erat. Aga bergantian untuk memeluk mama Ranti yang sekarang telah resmi menjadi mama mertuanya.


"titip Zivannya ya nak Aga" senyum mama Ranti mengusap punggung Aga.


"pasti ma, dengan segenap jiwa dan raga" angguk Aga tertawa hangat, mama Zivannya tertawa.


mereka mengabadikan beberapa moment setelah selesai akad, mengobrol sebentar dengan penghulu dan ayah Aris serta om Hadi yang menjadi wali nikah Zivannya mengenai beberapa hal yang harus dilakukan dan diurus setelah acara akad.


Dirgantara dan Matahari menyalami penghulu dan ayah Aris setelah pekerjaan mereka selesai, mereka berpamitan karena harus kembali kekantor pemerintahan. Aga mengucapkan terimakasih atas segala bantuan yang ayah Aris berikan. Mentari mengantar kepergian penghulu dan ayah Aris keluar ruangan.


Dirgantara dan Matahari memberi selamat kepada Zivannya dan Aga yang telah resmi menjadi suami istri. "selamat ya dek, udah nggak jomblo lagi. nggak kedinginan kalo malam lagi" goda matahari menaik turunkan alisnya. mereka bertiga tertawa pelan, Zivannya tersenyum malu lalu menghampiri mamanya yang menatapnya bahagia.


"mama senang" tanya Zivannya duduk disamping tempat tidur dan memijit kaki mamanya, mama tersenyum lebar mengangguk.


"kenapa mama tidak memberitahu Zivannya tentang ini ma" tanya Zivannya pelan.


"mama tidak mau kamu menyimpan rasa kuatir yang berlebihan Zi, biarkan Tuhan bekerja dengan kuasanya, kita hanya bisa berdoa dan memohon yang terbaik menurut Tuhan bukan menurut kita hambanya. kamu harus fokus sekolah, hanya doa yang bisa kamu berikan kepada mama untuk sembuh. mama juga menemanimu disaat kamu kuliah disana bukan. jadi jangan merasa bersalah jika kamu tidak bisa menemani mama setahun ini, hampir sebulan kamu bersama mama" kata mama, Zivannya terdiam.


"jangan lama-lama kasih mama cucu, biar mama tambah semangat untuk sembuh. jika ada mereka mama ada yang menemani" senyum mama Ranti, Zivannya mengangguk. pintu ruangan rawat inap terbuka, Mentari kembali setelah mengantar ayah Aris dan penghulu.


"makan siang dulu" senyum Mentari meletakkan makanan diatas meja.


"mama mau makan apa" tanya Zivannya menunjuk makanan yang ada dimeja.


"tidak Zi mama sudah makan yang disediakan rumah sakit tadi, mama hanya ingin minum saja" kata mama, Zivannya beranjak dari duduknya dan memberi mama air mineral dalam botol.


"mama istirahat dulu Zi, kalian ngobrol aja. mama merasa senang jika kalian bersuara. mama seperti ditemani" kata mama, Zivannya mengangguk dan menutup badan mama dengan selimut hingga keperut, menghampiri keluarga suaminya yang sedang berbincang seru. Aga tersenyum melihat istrinya yang duduk disebelahnya kemudian mengulurkan burger yang telah digigitnya. Zivannya meraihnya dan segera memakannya.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita kedua kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya kedua ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘

__ADS_1


__ADS_2