Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 119


__ADS_3

Zivannya segera menutup pintu dan pagar setelah Langit keluar membawa tas jinjing. "lumayan, 15 menit tidak terlalu lama untuk melakukan adegan romantis" senyum-senyum Rara, Zivannya memutar bola matanya tak menggubris Rara. "kalo melihat semakin malam gini, mending naik mobil kak. Zivannya bisa gantian mengemudi agar mempercepat jarak tempuh perjalanan" kata Dimas, Langit mengangguk membenarkan Dimas.


"pake mobil yang satunya aja berarti, lebih kecil" kata Rara, Zivannya sedang menatap keluar jendela saat mereka berbincang tanpa menghiraukan yang mereka katakan. "masa kuliah yang menyenangkan" gumam Zivannya menghembuskan nafasnya mengingat perjalanannya menjadi seorang mahasiswa baru hingga akhirnya lulus sesuai dengan yang diharapkan.


Langit mengusap punggung tangan Zivannya, Zivannya menoleh tidak lama kemudian. "apa yang kamu lamunkan" tanya Langit, Zivannya menggeleng. "hanya mengingat jalan ke kampus, ternyata ngangenin. pagi-pagi udah berangkat naik motor matic bulat, absenin Rara jika tidak berangkat, nebeng Dimas ngerjain tugas jika tidak bawa laptop. sungguh perjuangan yang menyenangkan. rasanya cepet banget jadi mahasiswa. apa kuliah lagi ya" tanya Zivannya, "mau ke luar aja, sekolah disana bareng aku" tanya Langit. "emang kamu mau di tugasin disana" tanya Zivannya, "mungkin, apa kamu mau" tanya Langit, Zivannya mengangguk tersenyum. "kemana kamu pergi tentu saja aku akan menemanimu kak" angguk Zivannya, Langit mengangguk mengelus rambutnya.


"bawa makanan kecil nggak Zi" tanya Rara, "ntar beli aja dijalan. palingan juga nggak banyak" kata Zivannya. "bawa makanan yang tadi aja ya, biar kalian bisa segera berangkat dan sampai disana jangan terlalu malam. ingat, lusa besuk aku sidang" kata Rara. "siap bu" angguk Zivannya mengerti. "terimakasih kalian sudah menjemput dan meminjami kami kendaraan" kata Langit. "tidak masalah kak. kita adalah keluarga, Zivannya banyak membantuku melewati masa-masa sulit, kami saling menjaga selama beberapa tahun bersama. jangan merasa sungkan kepada kami" senyum Rara, Langit tersenyum mengangguk.


mereka sampai dirumah Rara, Langit menatap rumah Rara karena baru pertama kali datang kerumahnya, "masuk dulu kak. ya gini rumahnya besar tapi sepi. entah penghuninya pada sibuk kemana" senyum sinis Rara. Langit memandang Zivannya sesaat, mereka berjalan masuk kedalam mengikuti Rara. "kunci mobil dan surat-surat nya" serah Rara dimeja ruang tamu, bibik membuatkan mereka minuman dingin.


"makanan yang bisa kalian bawa" kata Dimas meletakkan paperbag berisi Snack ringan. "haaa..... banyak banget sih Dim, emang kita mau kemana pak" pandang Zivannya tidak percaya. "tuh, ibu bagian dapur umum. kalo nimbun makanan nggak kira-kira, tau kamu pulang langsung kalap beli makanan" hempas tubuh Dimas. Zivannya membuang nafasnya. "bisa sekalian dibeliin motor gede nggak pak, buat aku touring" usap kening Zivannya pelan. "kenapa harus motor gede sih, yang" topang dagu Langit dilengan kursi. "motor klasik pun oke, kak. lebih ngerasa nyaman" senyum Zivannya, Langit memejamkan matanya sesaat.


"jika sudah nggak ada apa-apa lagi, kenapa masih disini" datang Rara duduk menemani. "aahhh... iya, lupa. kenapa malah nongki disini sih kak, ayo ah... udah diminta pergi sama yang punya rumah" angguk Zivannya mengetuk keningnya. Rara memajukan bibirnya, "eh... Zi jangan lupa bawa oleh-oleh" kata Rara.


"yaahhh... bu dapur umum... nggak kira-kira kalo ngasih amanah ntar liat aja pulangnya, bau nggak kalo beli malam-malam" kata Zivannya. "iya... ya... kalian kan sampai sana udah malam. balik juga udah malam banget" angguk-angguk Rara ingat. Langit sedang mengecek kondisi mobil bersama Dimas. "lha mobil buat kuliah Ra" tawa Zivannya, Rara tersenyum mengangguk.


"banyak kenangan yang tak terlupakan Zi, nanti deh kalo hatiku udah ikhlas melepasnya kalo sekarang aku masih belum bisa" kata Rara, Zivannya mengelus bahu Rara "makasih ya Ra, udah menemani saat aku benar-benar kehilangan dan diam ditempat" kata Zivannya, Rara memeluk Zivannya erat. "kamu adalah saudara perempuanku yang beda ibu dan ayah Zi" pandang Rara. mereka tertawa ngakak berdua meributkan hal yang tidak penting.


"yang, katanya udah disuruh pergi, kenapa masih mojok berdua" tatap Langit, Rara komat-kamit mengatakan sesuatu. Zivannya tertawa lebar mendengar omelan Rara "ngomong apa, yang" tanya Langit memasang seat belt Zivannya, Zivannya melambaikan tangan kearah kedua sahabatnya saat mobil bergerak meninggalkan halaman rumah Rara. Zivannya memberi salam kepada penjaga rumah Rara.


"Rara ngedumel, nggak komandan polisi nggak komandan laut sama aja bucin parah" senyum Zivannya, Langit tertawa lebar "begitu yaa.. apa terlalu berlebihan" tatap Langit. "banget" tatap jalanan Zivannya. "kamu nyaman nggak" goda Langit. "banget" tawa Zivannya, Langit tersenyum lebar.

__ADS_1


"Rara selalu ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya, kak. makanya dia seringkali pergi ke tempat malam untuk melepas penat, Dimas dan aku yang selalu menemaninya saat-saat seperti itu, kami tidak menyalahkannya atau memojokkan dirinya kenapa dia melampiaskannya disana. seiring waktu tabiatnya berubah menjadi lebih bisa mengontrol dirinya. bukan karena kami, tapi dia memilih untuk menjadi lebih baik. kita sering hangout bertiga, dulu sebelum negara api menyerang" kata Zivannya kelepasan omongan. "apa tuh" kerut kening Langit tidak mengerti. "aishh... lupa, itu kata-kata legend dari film kartun Avatar" jawab Zivannya, Langit menggeleng. "untuk menekankan sesuatu yang diluar kebiasaan kak" toleh Zivannya, Langit manggut-manggut paham.


"dulu bertiga, setelah ada kak Aga dan dirimu jadi berempat" senyum Zivannya, Langit tersenyum. "aku mengerti, yang" kata Langit, "terimakasih" angguk Zivannya. "selalu sayangku" pandang Langit penuh cinta.


"nanti kita akan masuk tempat aku biasa saat berada dilautan, yang. kamu akan tau kerjaan suamimu" kata Langit. "sah aja belum" gumam Zivannya, "yang" kata Langit pelan. "hmmm... " dehem Zivannya tidak mau memperpanjang omelan Langit.


"tumben tidak ada yang menghubungimu" tanya Langit. "karena aku me non-aktifkan ponselku kak" senyum Zivannya memperlihatkan ponselnya yang layarnya hitam. "pantesan ponselku sepi" kata Langit pelan. "he em... jadi tenang kan" kata Zivannya tersenyum kembali. Langit menoleh sesaat memandang kekasihnya yang terlihat tenang. Langit memberikan ponselnya kepada Zivannya untuk mengecek beberapa email dan pesan yang masuk.


"kak, mendingan aku yang membawa mobilnya deh, kakak bisa fokus kerjaan. nggak apa-apa, biar cepat sampai dan cepat selesai kerjaannya, kita bisa tidur nyenyak" kata Zivannya, Langit menatap Zivannya. "aku nggak mau, yang. nanti kamu capek" toleh Langit, Zivannya tersenyum. "kalo gini nanti malah aku yang capek lho kak, kerjaan kakak nggak kelar-kelar, malah aku nanti nggak bisa tidur mikirin kakak kerja sampai larut sesampainya disana" pandang Zivannya.


"tapi, yang..." keberatan Langit. "mau tidur nyenyak bareng aku nanti malam atau masih kerja" tanya Zivannya memberi pilihan kepada Langit. "tidur bareng kamu lah" kata Langit cepat, "nah.... kan. ayo ketepi kita tukeran tempat, kakak bisa pake ponselku jika memang membutuhkan" kata Zivannya. Langit mencari bahu jalan untuk menepikan mobilnya dan berpindah tempat dengan kekasihnya agar mereka segera sampai, Zivannya melajukan mobilnya kembali dengan cepat mencari jalan agar segera lolos di titik-titik kemacetan panjang. Langit melakukan beberapa koordinasi dengan anggotanya yang berada disana duluan. "yang, makan rotinya" suapi Langit, Zivannya mengunyahnya dengan cepat. Langit dengan telaten memberi beberapa makanan kepada Zivannya yang tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit laju. "apakah mereka masih menunggumu kak" tanya Zivannya, "masih ini juga baru jam berapa, ah... yang. masuk kewajiban petang" dengarkan Langit, Zivannya mengangguk dan melajukan mobilnya sedikit lebih lambat untuk mencari bangunan tempat ibadah.


Zivannya kembali memakai sneakers nya setelah tampak Langit keluar dari pintu, Zivannya mencium punggung tangan Langit yang segera mengecup keningnya. "masih setengah perjalanan kak" ingatkan Zivannya, Langit mengangguk dan memakai sneakers nya kembali. mereka berjalan menuju kendaraan membelah hari yang mulai gelap. Zivannya menambah kecepatan saat jalan mulai lengang.


"hanya aku yang boleh menyuapimu, yang. ingat itu" pandang Langit. "copy" jawab Zivannya membelok kearah kanan sesuai arahan peta digital, Langit memperhatikan jalan yang mulai terlihat sepi. "kenapa sepi gini, bener nggak, yang" tanya Langit. "bener, udah ah... ngikut aja" senyum Zivannya melakukannya lebih cepat. kita hampir sampai kak, beritahu dimana titik ketemunya" lihat sekitar Zivannya.


Langit menghubungi anggotanya dan memberi arahan agar Zivannya langsung masuk saja ke pelabuhan. mereka turun tidak jauh dari beberapa orang yang menunggu kedatangan mereka. Zivannya segera memakai jaketnya dan topi saat keluar dari dalam mobil menyusul Langit yang sudah menghampiri anggotanya,


"yang, mana tasnya" pandang Langit, Zivannya mengangguk dan kembali lagi kearah mobil untuk mengambil tas berisi pakaian mereka. Langit meraih tas jinjing kecil Zivannya dan meraih jemarinya melangkah menuju kapal kecil untuk sedikit ketengah karena kapal induk yang mereka tuju tidak bisa terlalu rapat ketepian.


Zivannya menggenggam erat jemari Langit karena ini pengalaman pertamanya, Langit menoleh dan merapatkan tubuh Zivannya memberi ketenangan. Zivannya tersenyum menatap wajah Langit yang terlihat tegas saat bersama anggotanya yang lain. Langit lebih dulu naik anak tangga yang terbuat dari tali besar untuk dapat menarik tangan Zivannya menuju keatas kapal besar, mereka menuju ruang makan dan dipersilahkan untuk minum, Langit membuat coklat panas dan meletakkannya didepan Zivannya.

__ADS_1


"makasih kak" tatap Zivannya, Langit tersenyum. "tunggu aku bentar, yang. jangan kemana-mana. aku segera kembali" kata Langit menepuk bahu Zivannya, Zivannya memandang kepergian Langit untuk melaksanakan tugasnya. Zivannya melihat kesekeliling ruang makan.


"mau melihat bagian-bagian tugas kami, mbak" tanya seseorang yang masuk ke dalam ruang makan, Zivannya menoleh cepat menatap seorang laki-laki yang umurnya diatasnya jauh. "apakah tidak merepotkan" senyum Zivannya. "tentu tidak, komandan Langit meminta kami untuk menemani jika ingin melihat bagian yang ada di dalam sini" gelengnya tersenyum. Zivannya mengangguk. "panggil Zi saja" kata Zivannya. "kalo begitu, panggil saja bas" jawab Baskara. Zivannya mengangguk mengikuti langkah Baskara menaiki tangga menuju bagian paling atas.


"inilah tempat kami mengarungi lautan untuk membela tanah air" senyum Baskara, Zivannya melihat air dimana-mana dalam kegelapan malam.


"apakah menakutkan saat hanya terlihat air dimana-mana" tanya Zivannya, Baskara tertawa pelan, "bagi kami tidak, karena air adalah bagian dari raga kami untuk membela tanah air" geleng Baskara. "sudah berapa lama di sini" tanya Zivannya menatap lautan lepas. "kurang lebih sudah 3 tahun jawab Baskara. Zivannya menganggukkan kepalanya.


"apakah komandan sudah menikah, kenapa tidak mendengarnya" tanya Baskara penasaran. Zivannya tersenyum, "karena memang belum" jawab Zivannya, Baskara mengangguk. "apakah baru mengurus surat-surat legalitas untuk sidang pra nikah" tanya Baskara, Zivannya mengangguk. Baskara menatap lautan yang tenang. "selamat, komandan Langit tidak pernah memperkenalkan kepada kami, siapa calon istri nya" tawa Baskara, Zivannya tersenyum. "orangnya terlalu dingin ketika bertemu dengan lawan jenis, malah dikira akan lama untuk menikah, ternyata sudah memiliki tambatan hati rupanya, rupanya dia pandai untuk menyembunyikan calonnya" kata Baskara, Zivannya tertawa pelan.


"apakah tidak pernah melihatnya bersama perempuan" tanya Zivannya, "secara spesifik tidak, karena itu tadi, terlalu dingin. jika ada yang mendekati hanya akan dijawab dengan seperlunya tanpa bermaksud untuk berbicara lebih jauh" jawab Baskara. Zivannya terdiam, jika bersamanya Langit akan berubah menjadi orang yang banyak sekali bicara. terkadang Zivannya sampai tidak tau lagi harus menjawab setiap kalimat yang dilontarkan Langit kepadanya.


"apa Zi baru awal kuliah" tanya Baskara memecah kesunyian. Zivannya tersenyum. "sudah lulus belum lama" kata Zivannya, Baskara menoleh menatap Zivannya.


"aahh... aku kira baru saja selesai sekolah dan masuk kuliah" senyum Baskara, "kenal komandan berarti sudah lama, sejak awal kuliah dan menunggu hingga ,selesai kuliah baru diperkenalkan" tanya Baskara, "belum ada setahun kita mengenal satu sama lain" jawab Zivannya menggeleng, Baskara mengerutkan keningnya. "gerak cepat dong komandan" sandaran Baskara digalangan kapal sambil tertawa.


"termasuk lambat, karena dia tidak mau melihatku" datang Langit tiba-tiba melangkah menuju samping Zivannya, Baskara tertawa lebar "aku kira komandan akan dengan mudah menaklukkan hati Zi" kata Baskara, Langit memandang Zivannya sesaat "sangat menguras tenaga dan pikiran malahan bas" senyum Langit, Baskara tertawa meledek.


Langit tersenyum menatap Zivannya, "ternyata setelah menemukan perempuan yang tepat, butuh perjuangan yang tidak sebentar dan sulit, bas" kata Langit, Baskara tertawa, "malah ditinggal pergi, ndan" kata Baskara. "berarti dia bukan pilihan yang tepat untukmu, bas" kata Langit. Baskara tersenyum lebar. "benar, ndan. berarti dia bukan pilihan, hanya barang obralan" kata Baskara. mereka berdua tertawa lebar, Zivannya hanya mendengarkan dengan diam.


"hai.... hai.... hai.... all readers terus dukung karyaku, terimakasih banyak sudah mampir untuk membaca karyaku ini.

__ADS_1


luv.... luv.... luv U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2