
Zivannya tersenyum melihat Rara dan Dimas yang sedang berdebat mengenai makanan yang akan mereka pilih, Zivannya lebih memilih untuk memejamkan matanya menunggu kedua teman baiknya memilih menu, kejadian-kejadian kecil yang selalu membuat mereka bertambah kuat ikatan cintanya. Zivannya merasa senang dan bahagia melihat kedua sahabatnya itu, terkadang ia merindukan saat seperti ini bersama dengan Aga.
Zivannya sudah pulang dari peringatan kepergian mamanya dan sudah memasuki bab akhir mengerjakan tugas akhirnya, waktu berjalan lebih dari 3 bulan semenjak Zivannya terakhir kali bertemu suaminya. Zivannya berusaha agar secepatnya menyelesaikan tugas akhirnya dan menemani suaminya. Zivannya menemani Rara duduk dikelas.
minggu depan Zivannya akan sidang untuk tugas akhirnya, bunda dan Ayah akan datang untuk melihatnya sidang. satu hari sebelum sidang, Ayah dan bunda akan datang. saat ini Zivannya sedang menemani Rara untuk menghadiri kuliah siang hari karena tidak ada kerjaan.
Zivannya terlihat menatap kedepan namun pandangannya kosong, sehingga menarik perhatian dosen untuk memanggilnya dan memberinya pertanyaan. Zhivannya tersadar, menatap sesaat dan menghela nafasnya panjang, menjawab dengan singkat pertanyaan yang dosen muda itu berikan, dia tersenyum puas mendengar jawaban Zivannya yang tepat. namun sepertinya gadis itu tidak pernah ada dikelas ini sebelumnya, atau dia memang tidak memperhatikan sebelumnya.
Zivannya tidak menghiraukan tatapan menyelidik dosen muda itu. kelas telah usai, Rara meraih tangan Zivannya dan menggiringnya cepat keluar kelas sebelum dosen muda itu mencarinya. dia merasa bahwa dosen muda itu menyukai Zhivannya saat melihatnya tadi.
"hallo bang" lihat Zivannya saat melihat id caller dari ponselnya.
"masih dikampus, abang dimana" celingukan Zhivannya memperhatikan sekitarnya. Matahari melangkah masuk kedalam kampus Zivannya, melihat Zivannya dari belakang.
"belakangmu dek" kata matahari, Zivannya menoleh cepat. dan melihat Matahari yang tersenyum lebar menghampiri Zhivannya. Zhivannya memberi salam kepada matahari. "kak mentari nggak ikut bang" senyum Zivannya, "dinas dua hari dek, menemani komandan" senyum matahari. "ayo bang, kita makan di kantin. Rara dah nunggu disana" jalan Zivannya, matahari mengikuti Zivannya, "hai, bisa kita bicara sebentar. tadi kamu yang ikut kelasku kan. kayaknya kamu nggak ada didaftar mahasiswa yang mengambil mata kuliah ku semester ini" dekat seseorang, Zivannya berhenti tiba-tiba.
"ada apa dek" tanya matahari berdiri disamping Zhivannya yang menoleh menatap Matahari.
"maafkan kelancangan saya, perkenalkan nama saya Regan. saya dosen baru disini dan hari ini baru melihat nona ini ada didalam kelas saya tadi. jika boleh maukah nona menjadi asisten saya sementara. karena saya butuh asisten yang seperti anda" senyum Regan.
"makasih atas sanjungannya mas dosen. tapi adik saya tidak tertarik untuk menjadi asisten anda dan maafkan karena kami harus segera makan. ini sudah waktunya makan siang, oh ya satu lagi yang perlu anda ingat adik saya sudah punya suami, jadi jangan coba-coba untuk mendekatinya" kata Matahari tegas. Regan hanya diam mendengarkan. matahari meraih lengan tangan Zivannya agar segera pergi dari situ, Regan memandangi kedua orang yang berlalu barusan. ia ingin mengejar namun segera mengurungkan niatnya, hingga akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menjauh dari situ.
"hai bang, lama tidak jumpa" salam Rara tersenyum lebar, matahari melambaikan tangannya tertawa dan duduk disamping Zivannya.
"tumben bang nggak sama kak mentari" makan Rara.
"baru nemenin komandan Ra, jadi nggak ikut" senyum matahari.
"berarti besuk pulang bang" tanya Rara, "lusa siang" kata matahari. Zivannya meletakkan mangkuk bakso didepan matahari.
"makasih dek" angguk matahari.
"hai yang" senyum matahari, mentari tertawa melihat Rara dan Zivannya setelah matahari memindahkan kamera ponsel ke kamera belakang.
"makan yang banyak dek, lihat tuh badanmu lebih kurus" lihat mentari. Zivannya nyengir, mentari memajukan bibirnya kedepan, mereka tertawa.
"kamu makan apa, yang" tanya mentari, matahari menyandarkan ponselnya agar semua orang terlihat.
"bakso" suap matahari memperlihatkan mangkuknya. mentari tertawa, "tumben nggak trio tuh mereka" tanya mentari.
"Dimas besuk sidang sebelum Zivannya kak. udah nggak ngambil mata kuliah lagi. ini Zi nemenin Rara aja kan masih kuliah" kata Rara. "berarti kulih sendirian dong Ra" tanya Mentari. "he em, menyedihkan kak, sendirian padahal mereka selalu aku temenin lho, giliran sekarang aku ditinggal" angguk Rara, mereka tersenyum. "berarti kamu kurang ikhlas belajarnya jadi harus giat belajar" kata Zivannya, Rara manyun.
"tuh, giat belajar. deketin dosennya biar cepat lulus" kata Mentari tersenyum.
"oh iya, yang. barusan mau kesini ada pengajar muda yang mendekati adek, katanya minta adek jadi asisten nya sementara" pandang matahari. "apa" tanya Rara dan mentari bersamaan.
"ihhh.... udah kamu bilang kan, yang. jika adek punya suami" kesal Mentari, Matahari mengangguk.
__ADS_1
"tentu" jawab matahari menghabiskan baksonya.
"abang mau lagi" tanya Zivannya, matahari mengangguk. Zivannya akan beranjak dari tempatnya.
"biar aku aja Zi" lambai tangan Rara didepan mukanya dan beranjak dari tempat duduknya memesan bakso lagi.
"kak, besuk ikut bunda kesini" tanya Zivannya, "pasti dek, Abang nggak ikut kayaknya" kata Mentari. "nanti liat jadwalnya, wisudanya kapan" tanya matahari. "1bulan kemudian, Zi pinginnya kak Aga datang saat wisudanya aja" senyum Zivannya.
"semoga dia bisa dek, siapa tau dapat cuti" kata mentari tersenyum.
Rara datang membawa dua mangkuk bakso, "lho kok dua" lihat Zivannya, Rara nyengir dan menunjuk dirinya sendiri. matahari tertawa lebar. "kayaknya laper banget Ra" lihat Mentari, Rara mengangguk.
"persiapan mau jalan ama Zivannya nih kak" jawab Rara.
"ahhhh... pingin ikut" Rajuk mentari.
"aku wakilin yang, nanti aku ikut mereka" kata matahari, mentari manyun.
"aku mau ikut, yang. bukan kamu" kata Mentari merajuk, matahari tertawa. "bang nginep dimana" tanya Zivannya. "di mess dek" kata matahari. "kenapa nggak dirumah aja bang, ada Dimas nanti diruang tengah nemenin abang, Rara biasa nginep disana. daripada di mess" kata Zivannya. mentari mengangguk.
"baik" jawab matahari cepat, "baju gantiku ada di mess" jawab matahari.
"kita kesana sekarang, nanti ketemu Dimas dalam perjalanan. udah aku beritahu" angguk Rara. Zivannya tersenyum.
"abang berapa orang kesini" tanya Rara. "5" jawab matahari.
"trus pada di mess semua" tanya Rara. matahari mengangguk.
"gimana yang" tanya matahari menatap layar ponselnya.
"nggak papa, yang. rumah adek kan jarang ditempati. mereka juga berdua aja dirumah. kalo banyak orang lebih baik dan rame. teman-temanmu kan bisa mengurus diri mereka sendiri" kata mentari
"aku takutnya malah mereka pada ngliat Zivannya dengan maksud yang berbeda" kata matahari, yang lain tertawa mendengar perkataan matahari.
"aisssshhh bang, jangan kuatir ada Dimas dan aku yang selalu jaga Zivannya. nggak heran sih kalo ada yang suka. pasti ada aja mah kalo kayak gitu" lambai tangan Rara didepan wajahnya
"dia udah ada kuncinya jadi nggak akan berpaling lagi. ketemu kak Aga aja susah bukanya" kata Rara, matahari mengangguk dan tertawa.
"kak Dirgantara pasti pingin kesitu sekarang. liat kalian pada ngumpul" kata mentari. matahari tertawa lebar. mereka melaju menjemput teman-teman matahari yang berada di mess, Dimas datang membawa mobil untuk mengantar mereka.
"apa kabar bang" senyum Dimas menyapa matahari.
"baik dim, bagaimana kabarmu. tambah kurus malahan" senyum lebar matahari. Dimas tertawa pelan.
"ini teman-teman kesatuanku yang ikut kesini. kami rencananya akan nginep dirumah aga dan Zivannya. tapi pada mau jalan-jalan. mumpung kesini katanya" tawa matahari. Dimas mengangguk.
"tentu bang, dengan senang hati. aku juga ingin healing" tawa Dimas.
__ADS_1
"bang, biar aku aja yang membawanya. kita ketempat yang Rara paling banyak tau" kata Zivannya. matahari mengangguk.
"ini udah sore, mau pulang dulu atau mau langsung main aja" tanya Rara.
"langsung aja. sekalian nanti pulang langsung tidur" kata salah satu teman matahari.
"ok. kalo gitu kita ketempat nongkrong kekinian aja" angguk Rara tersenyum.
"3 ikut dengan mereka dan 2 ikut aku" tatap matahari, mereka mengangguk dan menempatkan diri masing-masing.
"kalo tentara cepet ya, kalo kita mah lelet ngapa-ngapain. jadi malu aku kalo gini" bisik Rara. Zivannya memeluk Rara sebelum menuju mobil.
"komandan Abang dimana" tanya Zivannya pelan.
"dia masih ada tugas. mempersilahkan kita untuk istirahat jalan-jalan. masih muda dek" masuk matahari disamping Zivannya. mobil melaju beriringan keluar dari mess.
mereka pergi kebukit tempat nongkrong kekinian yang disukai oleh banyak orang.
"wow, indahnya kala senja" lihat Matahari takjub, Zivannya menoleh. memakai topi.
"sering kesini dek" tanya matahari, berjalan mengikuti langkah Zivannya
"sekali dua kali dengan kak aga, bang. naik motor gedenya kalo nggak motor sports nya yang dijual" angguk Zivannya.
"sabar dek, jadi istri abdi negara memang harus siap ditinggal" kata matahari, Zivannya tersenyum mengangguk.
"abang dulu gimana ninggalin kak mentari" tanya Zivannya.
"berat, apalagi masih baru menikah juga. tapi mau gimana lagi, panggilan jiwaku memang disini. makanya bisa ketemu Mentari" kata matahari, Zivannya tertawa pelan.
"jika bisa aku ingin jadi orang biasa lagi aja bang. nggak tega liat kak Aga disana kemarin" kata Zivannya, matahari mengusap pelan rambut Zivannya.
"semuanya ada porsinya sendiri-sendiri dek, beruntung Aga menemukanmu sebelum pindah tugas. jika kalian bertemu saat berjauhan gini pasti tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang lama. tambah berat bukan" kata matahari, Zivannya mengangguk.
Rara melambaikan tangan agar mereka segera mendekat untuk mengabadikan moments mereka, Zivannya menolak dan hanya ingin mengabadikan moments mereka saja.
tiba hari dimana Zivannya akan sidang untuk ujian akhirnya bunda dan ayah sudah datang sehari sebelumnya. mentari datang dengan penerbangan pagi, dijemput oleh Dimas. mereka menuju kampus dan menunggu Zivannya diluar ruangan.
dosen muda yang menginginkan Zivannya kemarin untuk menjadi asistennya juga ikut menguji Zivannya, kemarin setelah mendengar perkataan matahari, Regan berusaha mencari tahu mengenai Zivannya, penasaran akan sosok Zivannya, dan kebetulan salah satu dosen penguji yang seharusnya hadir tiba-tiba sakit dan diganti oleh Regan. Zivannya menghela nafasnya panjang melihat kehadiran Regan yang menatapnya tanpa berkedip dan berpaling. Zivannya merasa tidak nyaman, namun berusaha untuk tetap tenang karena ingin semuanya cepat berakhir dan dapat menemani suaminya diperbatasan menjaga keamanan.
pertanyaaan demi pertanyaaan yang diajukan oleh masing-masing penguji sebisa mungkin Zivannya jawab. terutama pertanyaaan dari Regan yang cenderung mencecarnya dengan pertanyaan yang menuntut jawaban panjang dan runut. akhirnya dua jam pembantaian yang menyiksa Zivannya berakhir, Regan tersenyum senang melihat kemampuan Zivannya.
"makasih pak, atas bimbingannya" salam Zivannya kepada semua penguji.
"kesempatan itu masih berlaku lho Zi, kapan aja" senyum Regan. Zivannya hanya membungkukkan badan memberi hormat kepada semua pengujinya.
"hai...hai... hai.... all readers. dukung terus karyaku ya, biar aku tambah semangat untuk melanjutkan cerita ini. dengan dukungan kalian yang sangat berarti aku akan selalu terus berjuang....
__ADS_1
luv...luv..luv U all...
terimakasih sebelumnya...