
hai..... hai.... hai..... all readers
terimakasih banyak atas segala yang kalian berikan terhadap karyaku "jika aku jodohmu maka akan jadi milikmu"
terimakasih dukungan kalian semua atas karyaku ini, sungguh diluar ekspektasi yang aku harapkan.
luv.... luv.... U all readers, tanpa kalian maka aku tidak akan berani untuk menulis seperti ini.
tanpa kalian aku tidak akan semangat dalam menuangkan ide tulisan.
jadi tetep semangat semuanya...
namun tidak terasa ternyata sudah mau memasuki chapter-chapter akhir untuk novel ini.....
tidak rela sih sebenarnya jika harus meninggalkan kebucinan seorang satria Langit terhadap Zivannya atau keseruan kisah cinta lainnya yang menggemaskan.
sekali lagi terimakasih banyak semuanya, sampai aku tidak bisa berkata-kata saking sedihnya.
belum berakhir rasanya nge ship percintaan Langit dan Zivannya, belum rela sebenarnya untuk mengakhiri kebersamaan kita di novel ini.
sedih..... pasti....
nggak rela..... apalagi.....
tapi mau dikata apalagi genks....
__ADS_1
setiap awal pasti ada akhir kan....
eeeitttsss ..... tenang dong tenang.....
masih ada karya selanjutnya tapi jangan lupa baca juga karyaku "bos CEO bucin" jangan sampai ketinggalan ceritanya genks...... seru juga lho....
mohon maaf jika selama ini membuat banyak salah kepada kalian semua.
nantikan cerita seru lainnya dariku. jangan sampai melewatkan cerita seru lainnya dariku..
luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng.
stay healthy all 😘
💧
💧
💧
Langit menoleh dan melihat kedua mertuanya sedang menatap dirinya yang merayu istrinya Zivannya beranjak untuk mengambil jahe hangat di dapur Langit mengekor kemana istrinya melangkah, "kakak tunggu sana aja, ntar Zi kesana" berhenti Zivannya di tengah jalan, Langit menggeleng Zivannya kembali melangkah untuk membuat jahe hangat untuknya sendiri kemudian melangkah menuju ayah dan bunda menikmati sore hari. "berapa hari di Jogja dek" tanya ayah, dua tiga hari yah, karena biasanya setelah wisuda ada acara di kampus bareng teman-teman yang wisuda" jawab Zivannya. "lha kan kamu nggak wisuda, yang. pulang aja langsung" kata Langit memohon, Zivannya menghembuskan nafas pelan. "iya" angguk Zivannya akhirnya, "jadi berapa hari disana" tanya Langit memastikan sekali lagi kepergian istrinya kali ini.
"jika besuk pagi berangkat maka akan dua hari disana kak" minum jahe hangat Zivannya "pulang malamnya aja, yang. penerbangan terakhir jadi nggak kelamaan" pandang Langit, Zivannya mengangguk mengiyakan ayah tertawa melihat keposesifan anak laki-lakinya itu. "mau disadap nggak ponselnya sekalian Lang" celutuk ayah. "udah sejak lama, yah. saat dia nggak mau bertemu lama dulu" topang dagu Langit dibahu sofa, ayah membuka matanya lebar dan tertawa lebar " benar-benar sigap kamu Lang, pantesan pada mundur semua" angguk-angguk ayah, Langit tersenyum lebar "maklum, yah. saat Langit tugas hati selalu kuatir kalo dia kenapa-kenapa dan Langit kehilangan nantinya" jawab Langit, ayah tersenyum "tentu ayah mengerti" jawab ayah, Zivannya melihat ponselnya yang bergetar. "hallo, kenapa" salam Zivannya
"kamu mau berangkat kapan" tanya Zivannya pelan mengusap keningnya yang tidak gatal.
__ADS_1
"besuk pagi dengan penerbangan jam 10" angguk Zivannya.
"tidak, baiklah ketemu disana aja berarti kalo begitu" angguk Zivannya lagi.
"hhhmmmm...." tutup Zivannya meletakkan ponselnya kembali ke meja tengah. "Rara langsung pulang dari Bali besuk siang juga. jadi ketemu di Jogja aja dia nggak jadi mampir kesini. Zi langsung kerumah dulu baru malamnya kerumah Rara" pandang Zivannya ke arah tiga orang yang menunggu jawabannya. "jangan lupa ke Aga dulu" pandang Langit, "iya" angguk Zivannya cepat. ayah dan bunda hanya saling pandang melihat mereka berdua yang tidak lupa akan keberadaan Aga.
"apa kedua orang tua Rara akan hadir dek" tanya bunda, "kalo itu belum tau bund karena mereka dari dulu Zi kenal Rara jarang bertemu dengan mereka" geleng Zivannya. "makanya Zi sering nginep disana dan menemani dia di tempat malam untuk melampiaskan penatnya" jawab Zivannya pelan. "apa dia terlibat hal-hal yang berbahaya" tanya bunda, Zivannya tersenyum menggeleng. "nggak bund, dia bersih hanya suka jingkrak-jingkrak dengan musik yang membuat jantung sakit" jawab Zivannya. "setelah kepergian kak Aga, dia sama sekali nggak pernah lagi keluar malam karena menemani Zi dirumah, lebih seru nonton drakor dan ngobrol sama Zi walau lebih banyak nggak Zi perhatikan" jawab Zivannya bunda tersenyum mengerti.
Langit memeluk istrinya dari samping dan mengecup ubun-ubun kepalanya. "besuk mau pulang kapan aja nggak papa, yang. kabari jika sudah selesai semuanya aku bisa menjemput kapan aja" kata Langit. Zivannya mendongak dan tersenyum lebar "makasih kak, nggak boleh rubah lagi perintahnya" ingatkan Zivannya, Langit mendesah panjang mengangguk. "ada ayah dan bunda yang jadi saksinya" kata ayah cepat, Zivannya tertawa bersama ayah yang melihat langit tidak berkutik lagi. bunda mengelus bahu putra laki-lakinya itu "tenang Lang, Jakarta-Jogja hanya satu jam, gampang" senyum bunda menyemangati. Langit tertawa mengangguk seperti mendapatkan ide untuk menemui istrinya nanti.
"nggak usah kebanyakan ide kak, nggak usah pulang pergi Jakarta Jogja setiap pulang dinas" pandang Zivannya seperti mengerti pikiran Langit, "kenapa tau sih, yang" senyum Langit. "kliatan di kening mu itu tercetak jelas disana" kata Zivannya kesal Langit memeluk istrinya tertawa bahagia. "makan diluar yuk dek" pandang bunda "bilang aja bund mau diantar jalan-jalan liat mall" elus punggung ayah Zivannya dan bunda tertawa mendengar tebakan ayah yang benar. "Zi siap-siap dulu kalo gitu"angguk Zivannya beranjak dari sofa. Langit menghabiskan minuman jahe istrinya dan membawa gelas ke dapur.
"yang, make gaun aja" peluk Langit dari belakang saat Zivannya mengambil celana panjang. "hhhmmm..... angguk Zivannya bergeser ke arah deretan gaun miliknya ia mengambil gaun terusan warna biru. "kakak pake ini aja ya" perlihatkan Zivannya dari kaca cermin besar yang ada disana langit menganggukkan kepalanya mengiyakan. "ya udah kalo gitu mari kita ganti" kata Zivannya karena Langit yang menempel erat dibelakangnya. "copotin, yang" senyum Langit, Zivannya menghela nafasnya panjang karena makin kesini suaminya itu semakin manja kepada nya terkadang didepan orang lain terlihat keposesifan nya. ia segera membuka t-shirt Langit memperlihatkan otot-otot idaman para wanita "kenapa begitu melihatnya, apa ingin menyentuhnya" senyum Langit menggoda istrinya dengan memegang jemari istrinya dan meletakkan nya didadanya yang bidang. "udah ah by.... nggodain aja" tatap Zivannya malu, Langit tertawa dan membawa jemari istrinya menuju bagian bawahnya yang sudah meminta lebih Zivannya menatap Langit yang tersenyum manis melingkarkan tangannya dipinggang Zivannya agar tidak bergerak menjauh.
"by..... ayah dan bunda nungguin kita lho" pasrah Zivannya saat Langit melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuhnya, Langit mencium lembut bibir istrinya, saling menyesap dan merasa hingga bergerak turun menikmati setiap lekuk tubuh istrinya yang menggodanya Zivannya menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi yang diberikan suaminya saat ini.
"yang" dongak Langit, Zivannya membuka matanya yang sayu meremas rambut suaminya. Langit membawa tubuh Zivannya duduk disofa panjang ditengah walk closet, mereka melakukannya dengan perasaan yang penuh, pertempuran kali ini Zivannya yang melakukan banyak gerakan, sesekali Langit mengerang merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh istrinya. Langit melakukannya dengan cepat saat melihat istrinya sudah akan mencapai kenikmatan, Zivannya menjerit kecil dan memeluk tubuh suaminya erat menatap paras Langit yang tersenyum mencium bibirnya lembut "aku belum sampai, yang" elus pipi Langit Zivannya mengangguk menyandarkan kepalanya dibahu suaminya saat ia dibawa keluar menuju ranjang, Langit menidurkan istrinya ditepi ranjang menautkan jemari mereka dan segera memulai pertempuran yang sempat tertunda, Zivannya berteriak saat mereka kembali menyatu.
Langit menatap istrinya yang tergeletak lemas dengan rambut yang berantakan "temani aku sampai nanti, yang" satukan kening Langit Zivannya mengangguk pelan. "aku bisa gila jika kamu tidak disampingku, yang" hembus nafas Langit Zivannya mengusap dada suaminya yang terlihat bidang Zivannya mengangguk bergerak pelan mencium bibir Langit intens "jika kita lama tidak bertemu maka sekali bertemu akan terasa lebih indah" senyum Zivannya, Langit membawa istri nya untuk membersihkan dirinya di dalam bathroom, "aku jemput kalo kamu kelamaan jauh dariku"pandang Langit mendudukkan Zivannya diatas closet dan membersihkan area sensitifnya dengan shower. Zivannya mengangguk mengelus rambut suaminya.
"seminggu ya" pandang Zivannya, Langit menghentikan aktivitasnya sesaat "lima hari tidak lebih" jawab Langit kembali membersihkan area sensitif istrinya, Zivannya memberi tanda Ok dengan jemarinya.
"udah dek" lihat bunda saat mereka keluar dari kamar "sudah bunda" angguk Zivannya memakai sneakers nya, Langit melajukan mobil meninggalkan kediaman Triastomo.
hai..... hai.... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv..... luv.... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya
stay healthy all