Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 113


__ADS_3

Zivannya dan Langit berjalan menyusuri peron kereta, mereka menggunakan mode transportasi yang berbeda kali ini, Zivannya membeli tiket kereta diloket yang tersedia. Langit menenteng ransel Zivannya berisi pakaian, selalu menggenggam erat jemari kekasihnya agar tidak terpisah, karena peron terlihat penuh penumpang dengan keberangkatan berbagai kereta.


Langit melihat tiket yang ditunjukkan Zivannya, menanyakan kepada petugas yang berjaga di titik-titik tertentu di peron. Langit dan Zivannya segera beranjak menuju peron yang dimaksud oleh petugas kereta api karena kereta mereka akan segera berangkat.


gerbong yang mereka tumpangi sudah banyak terisi oleh para calon penumpang, Zivannya duduk disisi dalam menghadap jendela, Langit berada disisinya. "yang" panggil Langit, Zivannya menoleh dan bergeser saat Langit menaruh bantalan didekat dinding kereta tempat Zivannya duduk. Zivannya menghembuskan nafasnya menyandarkan tubuhnya ke dinding samping yang telah diletakkan bantal oleh Langit. "naikkan kakimu, yang" kata Langit meletakkan kaki Zivannya diatas kaki bagian atasnya, Zivannya menekuk kakinya karena sampai keluar lengan kursi Langit.


"nyamannya naik kereta. aku dulu sering menggunakan mode transportasi ini bersama mama untuk berkunjung setiap tahun menemui kakek dan nenek dari papa setelah menunaikan kewajiban hari raya" senyum Zivannya tipis. "ke orang tua papa kandung Zi, yang nggak menganggap mama sebagai anaknya juga, yang selalu membandingkan cucunya" kata Zivannya pelan. Langit menggenggam jemari Zivannya erat sambil mendengarkan perjalanan hidupnya.


Zivannya menatap Langit, "mama tidak pernah berkata tidak pada kakek dan nenek sampai mama nggak ada, mereka menutup mata bagaimana kami melalui hari berdua tanpa papa, bagaimana kami dihina keluarga Bima hanya karena kedua orangtuanya merasa aku tidak berharga, gadis yang tidak sebanding dengan keluarga kaya mereka" hembus nafas Zivannya pelan. "apa kamu menyesali semuanya" tanya Langit. "tidak sama sekali, Tuhan mempunyai jalannya untuk membuat umat nya lebih kuat. jika tidak ada ujian itu maka mama dan aku tidak akan saling menguatkan, tidak akan saling mengingatkan" kata Zivannya.


"aku juga tidak akan berdiri tegak sampai sekarang, tidak akan bisa melihat Bima dan Sita yang berkhianat di belakangku, tidak akan melihat kepergian mama yang menyembunyikan sakitnya, tidak akan melihat kepergian kak Aga yang tiba-tiba, tidak akan melihat pernikahan kak Aisya dan kak Sony yang penuh dengan pertengkaran, tidak akan melihat bagaimana penyesalan yang tampak di wajah nenek dan kakek setelah kepergian mama dan papa" kata Zivannya. Langit menghela nafasnya.


"apa kita harus segera berkunjung kerumah kakek dan nenekmu serta om Hadi" tanya Langit. Zivannya tersenyum, "cepat atau lambat kita tetap harus menemui mereka, apa kamu benar-benar sudah siap menemui mereka yang mengabaikan ku dan menganggap ku tidak ada, kak" tanya Zivannya, Langit mengusap pipi Zivannya.


"aku tidak takut mereka akan memandang rendah diriku yang aku takutkan adalah aku tidak bisa menahan diriku melihatmu direndahkan mereka" kata Langit menatap wajah kekasihnya, Zivannya tertawa pelan melihat kereta berjalan dengan cepat.


"apa semua keluarga papamu seperti itu" tanya Langit. Zivannya menggeleng, "om Hadi kakak kandung papa sedikit lebih baik, dia tidak pernah berkata kasar atau memasang muka tidak senang, anak laki-laki om Hadi, Fauzan tidak ikut memusuhi kami. dia setahun lebih muda dariku" jawab Zivannya.

__ADS_1


"Fauzan yang mengenalkan ku pada Yuda, karena sering diajak Fauzan nongkrong bareng jadi akrab dengan Yuda dan teman-temannya yang lain. tapi hanya Yuda yang akrab denganku, dia yang membantuku saat Bima tidak mau putus denganku walau sudah membuat Sita sahabatku waktu itu hamil. jadi aku berhutang budi padanya karena hal itu sebenarnya" pandang Zivannya.


"saat aku mau menikah dengan kak Aga, mereka tidak tau jika keluarga Triastomo lebih segala-galanya dari kak Sony tunangannya kak Aisya waktu itu. mereka menganggap kak Aisya lebih beruntung dariku karena memiliki kak Sony daripada aku yang memilih kak Aga yang tidak diketahui asal-usulnya" kata Zivannya getir.


"dan sekarang mereka juga tidak tahu jika aku mempunyai dirimu, jika mereka tau mengenai mu entah bagaimana reaksi mereka. apa masih seperti dulu atau tidak, apa mereka menganggap ku telah menggodamu karena status baruku. apa mereka akan meminta mu untuk meninggalkanku dan memilih Aisya yang lebih baik dariku" kata Zivannya. Langit tersenyum mengusap jemari Zivannya berulangkali.


kereta sampai dikota Langit dibesarkan, Langit melangkah dengan gagah sambil menautkan jemarinya dengan Zivannya, banyak orang yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit untuk mereka berdua artikan, Zivannya memakai topinya untuk menghindari tatapan mereka yang melihatnya dan Langit yang tampak sedikit berbeda diantara yang lain, dia tahu mereka melihat kehidupan nya pasti lebih baik karena mempunyai Langit yang tampan dan gagah idaman para perempuan, dia tahu mereka pasti melihatnya sebagai gadis kaya yang dari lahir tidak pernah susah seperti mereka, ada perasaan sakit ketika mereka melihatnya seperti itu. mereka tidak tahu bagaimana dia melalui kehidupannya hingga saat ini.


Langit menoleh menatap Zivannya yang terlihat tidak nyaman saat orang-orang sedikit banyak melirik mereka. "don't be so hard on yourself Zi, everyone has their own destiny. so stay strong" pandang Langit, Zivannya mendongak dan tersenyum mengangguk, menatap kearah depan mengikuti langkah kaki Langit. mereka mencari taksi untuk membawa pulang kerumah ibu Danti.


taksi masuk ke pekarangan rumah ibu Langit, Zivannya membayar dan melangkah keluar dengan Langit yang membukakan pintu mobil. mereka melangkah menuju pintu yang telah dibuka ibu saat mendengar deru mesin mobil berhenti di halamannya. Langit dan Zivannya menyalami punggung tangan ibu dan memeluknya erat.


"berangkat jam berapa kalian tadi" tanya ibu mengelus punggung Langit. "habis kewajiban sore bu, Langit menjemput Zivannya siang. seminggu ini Langit tidak bisa menemui Zivannya karena sedang sibuk mengurus rotasi penugasan akibat kepindahan bang Matahari, abang nya Zivannya" jawab Langit. ibu mengangguk, Langit meminum teh hangat buatan ibunya, "ibu udah makan" tanya Langit. "ibu menunggu kalian pulang" geleng ibu. Langit mengambilkan nasi untuk ibunya dan dirinya, mereka segera makan karena waktu telah larut.


Zivannya tersenyum melihat ibu dan anak makan dengan saling bercerita, "udah selesai, yang. duduk, makan" pandang Langit. Zivannya mengangguk dan duduk disamping Langit yang langsung menyuapi Zivannya, ibu tersenyum melihat Langit yang memperlakukan Zivannya. "ibu senang melihat kalian saling memerlukan satu sama lain" kata ibu Danti. "kak Langit selalu memperlakukan Zi dengan baik bu" angguk Zivannya, "iya, kamu nya yang nggak peka kalo aku baik" senyum Langit, Zivannya tersenyum menatap Langit. "kamu nya aja yang sradak-sruduk deketin anak orang" bela ibu Langit, Zivannya mengangguk membenarkan ucapan ibu Langit. "isshh.... senangnya kalo ada yang mbela" acak rambut Langit, mereka tertawa bersama.


Zivannya dan Langit tidur di ruang tengah dengan TV yang menyala. ibu menggelengkan kepala melihat mereka yang tidur dengan nyenyak. "kewajiban pagi anakku" usap kepala ibu, Zivannya mengerjapkan matanya, duduk dan beranjak menuju kamar mandi. Langit menyusul Zivannya bergantian. mereka menuju tempat ibadah yang ada di ujung gang. "yang, jalan pagi yuk" kata Langit sesaat setelah keluar dari bangunan tempat ibadah.

__ADS_1


"naik motor ibu aja kak" cengir Zivannya. "ishhh.... naik gunung aja semangat, jalan pagi nolak" kata Langit, Zivannya bergegas melangkah mendahului Langit merapat pada ibu. Langit tertawa kecil melihat tingkah Zivannya. "nak Zi, jalan pagi yuk sama ibu" kata ibu Danti, Langit tertawa mendengar ajakan ibunya. "tadi udah Langit ajak bu, tapi dia nggak mau. sekarang di ajak ibu dia nggak akan berkutik" kata Langit menjulurkan lidahnya mengejek Zivannya. Zivannya membalasnya, ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anak yang sudah dewasa.


"perjalanan pagi yang lama tidak ibu lakukan" kata ibu Danti melihat sekeliling, Zivannya tersenyum melihat beberapa orang yang menyapa mereka. "nak Langit pulang bu" tanya seorang tetangga. "iya, Bu Ani. saya suruh pulang sebentar. karena ada acara besuk pagi" senyum ibu Danti. "oh iya, selamat ya Bu. saya turut berbahagia mendengar kabar jika nak Langit sudah menemukan belahan hatinya. saya kira malah sama anaknya bu Rina, santi. yang sering kerumah" kata ibu Ani, tetangga yang sedang menyapu halaman, ibu Danti tersenyum menatap Langit. "dia sudah ketemu seorang gadis yang membuatnya jatuh hati bu, jadi nggak usah menunggu lama. mereka sudah merasa cocok, ini anaknya" kenalkan ibu Danti, Zivannya tersenyum memberi salam kepada Bu Ani.


"walah... lha cantik banget gini, nggak salah pilih nak Langit nya" lihat Bu Ani menatap Zivannya, Langit tersenyum mengangguk. "ini mah rencana ibu untuk mengenalkan Zivannya keseluruh kampung" gumam Langit, Zivannya mengangguk. "sama kayak mama dulu. setelah keluar dari rumah sakit dan kak Aga secara agama sudah menikahiku" gumam Zivannya pelan, Langit menoleh. "berarti gantian dong sekarang" cengir Langit, Zivannya ikutan nyengir.


"nikmati prosesnya kak, kan kamu yang bilang begitu" naik turunkan alis Zivannya menggoda Langit. Langit tertawa pelan "tentu, setelah itu aku akan memakanmu bulat-bulat" bisik Langit. "emang aku tahu bulat, digoreng dadakan" jalan Zivannya cepat. "eehhh.... mau kemana, yang. arah sana keperistirahatan terakhir warga kampung. kita akan belok sini" cekal tangan Langit, Zivannya segera mengikuti langkah Langit. "kebanyakan drama pagi-pagi" sentil kening Langit, Zivannya mengusap keningnya pelan. beberapa kali Bu Danti mengobrol dengan para tetangga dan mengenalkan Zivannya kepada mereka, Langit sering mengobrol dengan bapak-bapak yang ikut menemui mereka, Zivannya sering tersenyum mendengar pembicaraan para tetangga.


"ini bukannya jalan pagi bu, tapi pamer menantu" kata Langit terlentang di ruang tengah. Bu Danti tertawa kecil, "sekalian, Lang. biar mereka melihat kalian berdua, biar ibu juga tenang jika mereka melihat kita baik-baik saja. terkadang dengan tindakan kecil bisa membuat semua prasangka menjadi hilang dengan sendirinya" minum air putih ibu Danti, Langit menoleh menatap ibunya. "ada perkataan yang sampai ke telinga ibu" tanya Langit, "terkadang omongan orang selalu dianggap paling benar, padahal kita nggak pernah mengatakan apapun, berhembus kabar kamu akan menikah dengan Santi karena dia sering kesini, padahal jika dia kesini itu jika kamu pulang atau memang ada keperluan dengan ibu, tapi para tetangga melihatnya dengan pandangan yang berbeda" angguk ibu. "pantesan tadi banyak yang mengatakan mengenai Santi" senyum masam Langit.


"seperti yang ibu katakan tadi malam, besuk pagi memang ada pengajian pagi, sekalian ibu mengajukan untuk melaksanakan dirumah aja sekalian meminta doa agar proses pernikahan kalian lancar dan jika Tuhan memberi ijin, setelah semua acara selesai dirumah keluarga Zivannya. kita akan mengadakan syukuran kecil dirumah ini" kata ibu Danti. Langit bangun dan duduk bersila mendengarkan ibunya.


"ibu hanya punya satu putra, jadi ibu akan berbuat yang terbaik untuk kalian, jangan berpikir ibu melakukan ini untuk membalas omongan mereka, setidaknya ibu merasa senang dan bahagia melihat kalian berdua datang dengan status suami istri" senyum ibu Danti, Zivannya memeluk ibu Langit mengerti. "terimakasih Bu, memberi restu kepada kami berdua. semoga doa ibu menjadi landasan kami memiliki keluarga yang selalu di jalan Nya" kata Zivannya. ibu mengelus punggung Zivannya. "tentu nak, restu ibu selalu bersama dengan langkah kalian bersama" kata ibu. Langit memeluk kedua perempuan dalam hidupnya. "aaahhh... kak.... lepas... terlalu erat ini..." kata Zivannya pengap. Langit melepas pelukannya sambil nyengir.


hai....hai... hai.... all readers. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini. terimakasih sudah membaca karya ku


luv.... luv.... luv U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak. semua....

__ADS_1


stay healthy all...


__ADS_2