Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu

Jika Aku Jodohmu, Maka Akan Jadi Milikmu
chapter 171


__ADS_3

"Apa Langit belum selesai membersihkan dirinya" datang ayah dari dalam ruangan pribadinya, Zivannya menggeleng meletakkan piring untuk ayahnya sarapan. Bunda mengambilkan kopi hitam ayah dari dapur.


"mungkin masih asyik berendam saking lelahnya berlari dan tebar pesona, yah" kata bunda menggoda. Zivannya tersenyum lebar. "biasanya juga gitu bund" angguk Zivannya.


"kak" seru Zivannya, "apa" kata Langit tiba-tiba didekatnya, Zivannya berjenggit kaget meraba jantungnya yang seperti mau lepas. "jangan kebanyakan teriak" kecup rambut Langit dari belakang memeluk erat istrinya. "duh, yang. malah ada yang bangun nih" bisik Langit, Zivannya bergerak melepas pelukan suaminya namun Langit mempererat pelukannya dan mengangkat tubuh istrinya.


"kak, udah siang ini" ronta Zivannya agar terlepas, Langit tertawa tetap membawa istrinya ke ranjang mereka. "jangan kemana-mana. Aku segera kembali" senyum smirk Langit bergegas mengunci ruangan mereka.


Langit melepas kembali t-shirt yang baru saja dipakainya, memperlihatkan badannya yang proporsi karena latihan fisik yang dijalaninya. Zivannya tertawa melihat kelakuan suaminya saat melepas satu persatu pakaian yang baru saja dipakainya sehabis membersihkan dirinya tadi.


"nanti kalo sampai hotel kan bisa" tatap Zivannya, Langit tersenyum mencium lembut bibir istrinya, "itu ekstra time, yang. Ini nggak bisa ditahan lagi. Udah nggak mau diajak kompromi" belai rambut Langit menatap manik mata istrinya dengan penuh kasih sayang. Zivannya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan suaminya. Langit menyerang Zivannya dengan segera, hingga membuat istrinya tertawa lebih lebar melihat kelakuan suaminya.


Mereka saling memberikan sentuhan dan serangan yang memabukkan, saling melengkapi satu dengan yang lainnya hingga Zivannya merasa tidak kuat untuk melakukannya lebih lama lagi.


"luv U, yang. Jaga diri baik-baik saat aku tidak ada nanti" kata Langit memeluk istrinya setelah pertempuran mereka yang menggelora, Zivannya mengangguk memejamkan matanya didada suaminya. Langit menyelimuti tubuh mereka dengan cover hingga hanya terlihat bahu dan kepala mereka saja.


"jika dirimu lelah, berhenti sejenak jangan terlalu memforsir tubuh untuk selalu bergerak" kecup kening Langit, Zivannya mengangguk. "ini waktu yang lama untuk membuatku tersiksa" hela nafas Langit, Zivannya tertawa pelan. "udah tau, yang. Nggak usah di ulang-ulang" kata Zivannya, Langit memeluk istrinya lebih erat, Zivannya menepuk punggung langit agar melepaskan dirinya karena sudah bernafas.


"jaga diri selama di sana, kak. Kesehatan harus benar-benar diperhatikan, makan dengan benar dan teratur. Aku tidak ingin melihatmu sakit dan terjadi hal yang tidak aku inginkan" kata Zivannya, Langit mengangguk.


"nggak lama hanya sebulan. Waktu berjalan dengan cepat" elus kepala Langit, Zivannya tertidur dengan segera. Langit ikut tertidur dengan nyenyak nya.


"jangan lama-lama di Surabaya dek" peluk ayah sebelum mereka meninggalkan rumah keluarga Triastomo, Zivannya tersenyum.


"ayah, biarin adek kemana aja kenapa sih. Kak mentari juga gitu deh perasaan kalo mau pergi" tepuk bahu bunda.


"itu tandanya ayah kuatir bund, sama anak perempuan ayah. Walau udah pada nikah tapi kan tetep anak perempuan ayah" kata ayah.


"iya, tau. Anak ayah" angguk-angguk bunda menghela nafasnya tanda pasrah. Zivannya tergelak mendengar kedua orangtua yang sedang bermanja-manja satu sama lainnya


"Zi berangkat dulu yah, bund. Akan segera pulang mengejar trip yang menanti" senyum smirk Zivannya melambaikan tangannya. Ayah dan bunda melambaikan tangannya melepas kepergian anak bungsunya itu.


"yang, kita ke gate itu" isyarat dagu Langit menarik kedua tas jinjingnya, Zivannya berjalan mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka segera melakukan check in dan bergegas menuju ke pesawat. Langit menatap istrinya sesaat setelah pesawat lepas landas, sejam kemudian mereka telah tiba di Surabaya. Seorang anak kapal telah menjemput mereka di bandara. Mereka segera menuju hotel yang telah di book sebelumnya.


"yang, ini perwira Budi, perwira Samuel" perkenalkan Langit saat tiba di lobi hotel melihat kedua perwira yang tengah santai di lobi hotel sedang mengobrol, Zivannya tersenyum menyalami keduanya. "dapat daun muda kau Lang" goda Samuel melihat Langit, "aku kan masih muda, bang" senyum Langit membalas gurauan Samuel yang tertawa lebar.


"nggak nyangka cepet juga laki-laki lurus macam kau ini. Aku kira terlalu banyak pilihan malah makin lama" goda Budi. Mereka bertiga tertawa lebar.


"udah harus diikat agar tidak lari menjauh. Saingannya lebih berat kalo lama-lama" angguk Langit, mereka tertawa.

__ADS_1


Zivannya duduk di sofa menunggu mereka ngobrol dulu sebelum masuk kedalam kamar yang mereka pesan.


"hallo Ra" salam Zivannya


"hhmmm, udah sampai hotel. Baru ngobrol dengan teman-teman nya dilobi" jawab Zivannya.


"barusan nyampai, ada yang jemput. Jadi nggak nunggu lama langsung sampai hotel" jawab Zivannya.


"mungkin siang mereka akan naik kedalam kapal jadi ada pelepasan gitu" pejam mata Zivannya mengusap keningnya berulangkali. Zivannya menoleh kekanan dan kekiri memperhatikan sekitar yang terlihat sibuk akibat banyaknya abdi negara yang sedang berdatangan menginap disana. Beberapa melintas dengan memberi hormat kepada mereka bertiga yang sedang mengobrol.


Zivannya menaikkan tudung Hoodie nya agar tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Langit menggenggam jemari tangannya sesaat setelah usai berbicara dengan kedua rekannya barusan.


"kita kekamar dulu baru jalan menikmati Surabaya disekitar hotel" senyum Langit, Zivannya beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah kaki suaminya.


"kami bertiga yang akan menjalankan tugas sesuai arahan komandan tertinggi kemarin. Kita akan naik sekitar pukul 2 siang setelah mengecek semua kelengkapan dan persyaratan layar" jelas Langit masuk kedalam box ajaib. Langit memeluk pinggang istrinya ketika beberapa abdi negara lain sedang berusaha masuk dan memberi salam pada Langit.


"Rara akan menjemput ketika kakak sudah berangkat" kata Zivannya menatap Langit. "apa dengan Dimas" tanya Langit spontan, Zivannya menggeleng.


"aku lupa, mereka sudah tidak lagi berhubungan" kata Langit cepat. Zivannya mengangguk.


"yang, kita dilantai ini" kata Langit, Zivannya mengangguk mengikuti langkah Langit keluar dari box ajaib. Zivannya membuka pintu kamar, mereka masuk, ia segera meletakkan tas ranselnya ke kursi yang ada didalam ruangan dan segera merebahkan dirinya di atas ranjang.


"aku akan memakan gadis bertopi merah" gigit pipi Langit gemas. Zivannya tertawa kecil melihat sikap suaminya itu.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Langit mencium bibir istrinya lembut dan segera menuju ke pintu.


"ada koordinasi dengan semua, ndan" hormat seorang abdi negara. Langit mengangguk dan menutup pintu segera.


"yang, aku ke lobi bentar. Apa kamu mau ikut dan jalan keluar" tanya Langit mengelus rambut istrinya.


"ntar nyusul aja, jika tidak terlihat berarti aku ada di sini" kata Zivannya. Langit mengangguk mengecup bibir istrinya sesaat dan segera keluar dari kamar.


Zivannya melepas sneaker nya dan segera memposisikan badannya untuk segera lelap dalam tidur.


Pagi hari


Matahari sudah mulai tampak, Langit sudah terlihat gagah dengan seragam kesatuannya, Zivannya memakai pakaian panjang yang nyaman. Langit menatap istrinya lama saat merapikan pakaian kesatuannya.


"jaga kesehatan, sayang" usap pipi Langit, Zivannya tersenyum memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi. "jangan matikan ponsel lama-lama" ingatkan Langit, Zivannya mengangguk.

__ADS_1


"kalo suaminya ngomong, nggak mau lihat" tatap Langit, Zivannya tersenyum menatap balik suaminya itu. "Miss U more baby" senyum Langit, Zivannya mengangguk mengusap sudut matanya yang sudah mulai menurunkan airmata tanpa diminta. Langit memeluk tubuh istrinya yang sudah dalam keadaan manja, ia menciumi ubun-ubun kepala istrinya berulang kali.


"udah ah, ilang nanti cantiknya istriku" usap punggung Langit menenangkan istrinya. Zivannya menyeka airmata dengan punggung tangannya dan segera menuju wastafel untuk membasuh parasnya. Langit mengeringkan dengan handuk kecilnya dan memakaikan kacamata coklat milik istrinya.


Mereka segera melangkah keluar kamar dengan jemari tangan yang saling bertautan. Langit tersenyum menatap istrinya "ready, yang" tanya Langit, Zivannya mengangguk. Mereka segera bergabung dengan para abdi negara lain yang juga bersama keluarganya. Langit selalu memegang erat jemari tangan istrinya itu karena ia tahu bahwa ini pertama kalinya dia bertugas jauh dari istrinya dan juga membuat istrinya kuatir.


Langit mengikuti upacara pelepasan sebelum mereka para abdi negara naik ke kapal. Zivannya berdiri di barisan anggota keluarga para abdi negara lain yang juga menunggu. Beberapa gadis yang melepas pujaan hatinya tampak sudah terlihat menghapus airmatanya yang turun dengan sendirinya melihat laki-laki mereka berbaris dengan rapi saat upacara.


Zivannya meraih tissue dari dalam saku rok panjang nya menghapus airmata yang keluar perlahan, ia berdiri tegak menanti suaminya yang sedang melakukan apel sebelum keberangkatan. Langit segera berlari menuju istrinya berada setelah apel selesai. Ia memeluk istrinya yang sudah menunggunya dari tadi. "ijinkan aku untuk bertugas di negeri orang selama sebulan, yang" tatap Langit, Zivannya mengangguk tersenyum. Langit mengecup kening Zivannya lama menautkan kening kedua. "jaga diri. Jangan lupa untuk selalu mengabari" hembus nafas Langit, Zivannya mengangguk tanpa berkata apa-apa.


"pulang segera kak" ujar Zivannya terbata-bata., Langit tersenyum mengangguk memeluk istrinya kembali sebelum meraih tas jinjing yang berada disamping istrinya dari tadi. Zivannya mencium punggung tangan suaminya sebelum Langit benar-benar melangkah meninggalkannya untuk masuk ke dalam kapal. Langit tersenyum melambaikan tangannya melihat istrinya. Zivannya membalas lambaian tangan belahan jiwanya yang akan bertugas kembali.


Hingga kapal mengeluarkan suara menandakan untuk segera berangkat, Zivannya masih belum bergerak bersama dengan keluarga abdi negara lain yang juga melihat kapal bergerak menjauh.


"kamu dimana Zi" tanya Rara melihat ke kiri dan ke kanan tempat dimana para keluarga abdi negara menunggu kapal bergerak.


"didekat mana kamu" tanya Zivannya menoleh ke kanan dan ke kiri.


"aku berada didekat dengan kendaraan kesatuan suamimu yang berderet" jawab Rara


"bentar, kamu disitu aja. Aku sudah melihatnya dari jauh" jawab Zivannya mengerti.


"nggak usah ditutup juga" kata Rara cepat.


"iya, bu. Ini juga masih nyambung" jawab Zivannya, Rara tertawa pelan mendengar gerutuan sahabat baiknya. Ia melambaikan tangan saat melihat Zivannya mendekati nya.


"ya elah, anak ini mewek lagi" usap bahu Rara, Zivannya memasukkan ponsel kedalam tas ranselnya setelah mendapati sahabatnya berdiri dengan garangnya.


"mau ikut ke kostan aku nggak" senyum Rara menaik turunkan alis matanya, Zivannya mengerutkan keningnya sesaat.


"kok kayak kalo aku nawarin ke kostan ku dulu ya waktu kuliah" tanya Zivannya menatap Rara hingga membuat sahabatnya itu tergelak senang memeluk Zivannya erat.


"karena aku menanti kalimat sakral yang selalu kamu lakukan dulu hingga membuatku iri tau, kapan ya aku bisa bilang begitu. Nah sekarang aku sudah lega bisa mengatakannya" senyum Rara bangga. Mereka tersenyum lebar dan melangkah menuju kendaraan Rara.


Hai ... Hai .... Hai ... All readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


Luv .... Luv .... Luv ... U all readers sekebon pisang goreng. Terimakasih banyak semuanya.


Stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2